Posts Tagged ‘inklusi’

PAUD Inklusi sebagai Perjalanan Inovasi Bintang Bangsaku

By Yanti Depe on January 21st, 2010

cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________

Walaupun berbekal dengan ketiga prinsip yang mendasari pendidikan inklusi, harus diakui bahwa terdapat beberapa tantangan dalam melaksanakan model pendidikan ideal yang mengakui pluralitas perbedaan individual dan memanfaatkannya secara positif sebagai sumber untuk belajar. Tantangan pertama adalah adanya kebijakan lokal (bukan perangkat hukum yang berlaku secara nasional) yang masih terkesan memarginalkan anak yang dinilai tidak mampu secara akademis. Tantangan ke dua adalah kenyataan bahwa masyarakat yang cenderung ke arah segregasi demi eksklusifitas dan citra diri. Sementara tantangan terakhir adanya faktor sumber daya, baik yang berupa sarana prasana fisik, perangkat kurikulum, dan tenaga kependidikan, yang memang masih belum dapat memenuhi tuntutan pendidikan inklusi yang sangat idealis.

Secara khusus, ketiadaan pedoman kurikulum inklusi untuk tingkat kanak-kanak dan minimnya kompetensi maupun loyalitas pendidik terasa sangat berat dan menyulitkan dalam operasionalisasi konsep pendidikan inklusif. Berat karena banyak kesalahan yang terjadi saat penanganan ABK dan sulit karena tidak ada pedoman dalam perencanaan maupun pelaksanaan program pendidikan yang dapat memenuhi beragam kebutuhan peserta didik.

Walau berat dan sulit, Bintang Bangsaku, sejak masih bernama Sanggar Kreativitas Bobo Penjernihan di tahun 2002, bertekad untuk dapat mencoba melangkah untuk menempuh perjalanan panjang inovasi demi mewujudkan PAUD berkualitas yang menjadi hak bagi semua kalangan. Inovasi yang ditujukan pada penemuan bentuk program pendidikan inklusif yang dapat dilaksanakan di tingkat taman kanak-kanak secara tepat.

Perjalanan inovasi dimulai dengan berbekal perangkat kurikulum standar yang ditetapkan pemerintah untuk taman kanak-kanak reguler. Pada tahun 2004, pengelolaan sekolah sebagai suatu sistem organisasi pendidikan yang terpadu diperbaiki dengan berbekal pedoman penyelenggaraan pendidikan terpadu untuk tingkat sekolah dasar yang diterbitkan oleh direktorat PLB di tahun 2004. Setelah tahun 2004, program belajar mulai mengadaptasi berbagai pendekatan baru dalam pembelajaran.

Ketiadaan pedoman dan minimnya kompetensi, menjadikan proses selama tujuh tahun menjadi sekolah inklusi dengan segala suka dukanya sebagai periode belajar bagi Bintang Bangsaku sampai pada akhirnya menemukan Brain-based Integrated Outline (B-bIO) sebagai sebuah pendekatan yang digunakan sebagai pola dalam sistem pendidikan anak usia dini. B-bIO ditemukan berdasarkan pada pengalaman dalam menggunakan beragam model pendekatan populer di dunia pendidikan yang terbukti berbasis pada kinerja otak. B-bIO merupakan pengembangan irisan-irisan proses pemerolehan pengetahuan pada orang dewasa maupun proses pembelajaran yang berlangsung pada anak-anak yang membentuk sebuah pola pada sistem pencapaian eksistensi diri yang bersifat horizontal sekaligus transedental dengan mengacu pada prinsip kerja otak.

Pendekatan B-bIO dibuat untuk memudahkan semua pengguna dalam mengembangkan lingkungan belajar yang sesuai dengan kinerja otak. Secara sistem, B-bIO menggunakan penggerak utama yang dinamakan Awesome, yaitu aware, expose, sinchronize, construct, automize, dan integrate. Pada tataran aplikasi, pola tersebut terbukti bermanfaat secara timbal balik bagi seluruh elemen yang terkait dalam proses pembelajaran.

Pola B-bIO sangat sesuai untuk praktek pendidikan bersifat inklusif yang berpegang pada prinsip bahwa inti dari keberhasilan proses pembelajaran adalah strategi dalam menerima dan menjalin komunikasi dan relasi personal tanpa mendiskriminasikan predikat yang disandang. Strategi yang pada B-bIO secara singkat dijelaskan bahwa penggerak awesome berproses pada guru dalam upayanya mencapai eksistensi diri dan sekaligus berproses bersama siswa maupun seluruh elemen sekolah dalam sebuah relasi personal yang harmonis untuk dapat menciptakan satu atau lebih puncak-puncak keberhasilan dalam hidup yang bermakna.

Strategi pembelajaran yang menggunakan pola B-bIO tersebut dilakukan oleh Bintang Bangsaku yang selama 7 (tujuh) tahun terakhir ini tidak hanya menerima anak-anak biasa dari keluarga yang normal, tetapi juga menerima anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu maupun anak-anak penyandang predikat “Anak Berkebutuhan Khusus” yang sifatnya permanen, mulai dari tunarungu, low vision, down syndrome, bahkan sampai brain damage atau cerebral palsy. Strategi yang relatif berhasil mentransformasi berbagai elemen sekolah untuk menjadi lebih mengedepankan rasa cinta dan kemampuan berlogika. Transformasi yang diperlukan dalam upaya memenuhi kebutuhan semua pembelajar, baik itu siswa reguler, ABK, bahkan sampai pada guru, karyawan, kepala sekolah, orang tua, maupun masyarakat umum.

___________________________________

salam, Yanti D.P.

Inklusi dan MI

By Yanti Depe on January 9th, 2010

Dalam lingkungan pendidikan inklusif, belajar dipusatkan pada kekuatan, kebutuhan, dan minat setiap murid.

Setiap individu dapat memiliki satu atau lebih kecerdasan , sehingga membutuhkan metode belajar dan pemahaman yang beragam. Sehingga penting bagi setiap pendidik untuk memahami esensi dari kecerdasan jamak ini untuk perkembangan anak dan kemajuan akademisnya, karena setiap anak memiliki potensi dan kapasitas yang berbeda-beda.

Pandangan ini perlu dicermati, sehingga pendidik dapat membantu murid-muridnya untuk mencapai yang terbaik.

Teori Kecerdasan Jamak (MI) yang diterangkan oleh Howard Gardner (1983) memberikan pedoman untuk memahami berbagai macam kecerdasan yang ada, antara lain linguistik, logika/matematika, spatial (ruang, daya bayang 3 dimensi), musikalitas, jasmani-kinestetik, intrapersonal, interpersonal, dan Kecerdasan naturalistik

Kecerdasan Jamak didasarkan pada fakta bahwa kecerdasan bukanlah suatu unsur tunggal yang merupakan “warisan” orang tua.

Manusia pada umumnya lahir dalam kondisi “penuh”, dan dapat dilatih untuk mempelajari segala hal, membuktikan bahwa manusia dapat belajar dalam metode atau lingkungan yang sesuai.

Menurut teori tersebut, kecerdasan terdiri dari berbagai unsur yang saling mandiri, dan setiap kecerdasan memiliki kekuatan dan keterbatasannya masing-masing, di mana tujuh Kecerdasan tersebut memungkinkan tidak hanya satu, tetapi tujuh metode belajar yang berbeda.

Pemikiran ini kemudian berkembang menjadi suatu pendekatan baru yang lebih dapat mengakomodir kebutuhan dan kapasitas murid yang berbeda-beda dalam satu lingkungan kelas.

Teori Kecerdasan Jamak ini juga mengarahkan pada “kemampuan paduan pengajaran”, yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan di mana murid-murid dengan berbagai macam variasi dapat belajar dan berproses untuk mencapai prestrasi bersama-sama.

Inti dari metode ini lebih menekankan pada penghargaan dan pemahaman terhadap adanya keanekaragaman dalam hidup.

Kecerdasan Jamak Howard Gardner
1. Kecerdasan Linguistik, terkait dengan keahlian dalam membaca, menulis, mendengarkan, berbicara
2. Kecerdasan Logika-Matematika, terkait dengan keahlian menyelesaikan persoalan logika, teka-teki, puzzle, mendapatkan bukti-bukti, melakukan perhitungan
3. Kecerdasan Spatial, terkait dengan keahlian daya ruang 3 dimensi, menentukan jarak dalam satu lingkungan, menentukan posisi benda
4. Kecerdasan Musikal, terkait dengan memainkan alat musik, menciptakan suatu nada, bernyanyi, atau mengarahkan nada. Lebih lanjut, Gardner yakin bahwa mekanik mesin dan ahli jantung memiliki jenis Kecerdasan ini tingkat tinggi karena mereka melakukan diganosis dengan mendengarkan secara cermat pola suara yang timbul (suara mesin mobil atau detak jantung).
5. Kecerdasan Jasmani-Kinestetik, terkait dengan keahlian menggunakan badan atau anggota badan untuk melakukan gerakan-gerakan terlatih tertentu atau melakukan kegiatan untuk maksud tertentu (contoh : penari, atlit, ahli bedah)
6. Kecerdasan Intrapersonal, terkait dengan keahlian dalam memahami diri sendiri, dan mendapatkan pencerahan atau ide-ide berdasarkan hasil pemikiran, tindakan, atau aktivitas emosional.
7. Fungsi Interpersonal, terkait dengan keahlian dalam memahami orang lain, dan hubungan antar individu, memiliki ketrampilan sosial yang tinggi (psikolog, guru, dan politikus pada umumnya memiliki jenis Kecerdasan ini dalam tingkat yang tinggi)
8. Kecerdasan Naturalistik, terkait dengan keahlian untuk memahami dan bekerja dengan efektif dalam lingkungan natural.

Yanti D.P. (Bintang Bangsaku)

B-bIO dan Inklusi di SBB

By Yanti Depe on January 9th, 2010

B-bIO (Brain-based Integrated Outline) merupakan sebuah pola dalam sistem pencapaian eksistensi diri yang bersifat horizontal sekaligus transedental dengan mengacu pada prinsip kerja otak. B-bIO juga merupakan pengembangan irisan-irisan proses pemerolehan pengetahuan pada orang dewasa maupun proses pembelajaran yang berlangsung pada anak-anak.

Secara sistem, B-bIO menggunakan penggerak utama yang dinamakan Awesome, yaitu aware, expose, sinchronize, construct, automize, dan integrate. Pada lingkup pendidikan, penggerak tersebut berproses pada guru dalam upayanya mencapai eksistensi diri dan sekaligus berproses bersama siswa maupun seluruh elemen sekolah untuk dapat menciptakan satu atau lebih puncak-puncak keberhasilan dalam hidup yang bermakna.

Pada tataran aplikasi, pola tersebut terbukti bermanfaat secara timbal balik bagi seluruh elemen yang terkait dalam proses pembelajaran, khususnya pada praktek pendidikan bersifat inklusif yang berpegang pada prinsip bahwa inti dari keberhasilan proses pembelajaran adalah strategi dalam menerima dan menjalin komunikasi dan relasi personal tanpa mendiskrimasikan predikat yang disandang.

Strategi pembelajaran yang menggunakan pola B-bIO tersebut dilakukan oleh Sekolah Bintang Bangsaku selama 7 (tujuh) tahun terakhir ini. Strategi tersebut relatif berhasil mentransformasi berbagai elemen yang terkait dengan proses pembelajaran di lingkup sekolah untuk menjadi lebih mengedepankan rasa cinta dan kemampuan berlogika. Transformasi yang diperlukan dalam upaya memenuhi kebutuhan semua pembelajar, baik itu siswa-siswa reguler, siswa yang berkebutuhan khusus, bahkan sampai pada guru, karyawan, kepala sekolah, orang tua, maupun masyarakat umum.

Manfaat yang tampak dalam keseharian di Bintang Bangsaku dapat menjadi pijakan pertama dalam upaya menggugah kesadaran bahwa dalam lingkungan masyarakat inklusif bahwa kita harus siap untuk mengubah dan menyesuaikan sistem, lingkungan, dan aktivitas, serta mempertimbangkan kebutuhan semua orang.

Salam, Yanti D.P.

Pendidikan Inklusi (terjemahan)

By Yanti Depe on January 3rd, 2010

Inklusi dan MI

Dalam lingkungan pendidikan inklusif, belajar dipusatkan pada kekuatan, kebutuhan, dan minat setiap murid.

Setiap individu dapat memiliki satu atau lebih kecerdasan , sehingga membutuhkan metode belajar dan pemahaman yang beragam. Sehingga penting bagi setiap pendidik untuk memahami esensi dari kecerdasan jamak ini untuk perkembangan anak dan kemajuan akademisnya, karena setiap anak memiliki potensi dan kapasitas yang berbeda-beda.

Pandangan ini perlu dicermati, sehingga pendidik dapat membantu murid-muridnya untuk mencapai yang terbaik.

Teori Kecerdasan Jamak (MI) yang diterangkan oleh Howard Gardner (1983) memberikan pedoman untuk memahami berbagai macam kecerdasan yang ada, antara lain linguistik, logika/matematika, spatial (ruang, daya bayang 3 dimensi), musikalitas, jasmani-kinestetik, intrapersonal, interpersonal, dan Kecerdasan naturalistik

Kecerdasan Jamak didasarkan pada fakta bahwa kecerdasan bukanlah suatu unsur tunggal yang merupakan “warisan” orang tua.

Manusia pada umumnya lahir dalam kondisi “penuh”, dan dapat dilatih untuk mempelajari segala hal, membuktikan bahwa manusia dapat belajar dalam metode atau lingkungan yang sesuai.

Menurut teori tersebut, kecerdasan terdiri dari berbagai unsur yang saling mandiri, dan setiap kecerdasan memiliki kekuatan dan keterbatasannya masing-masing, di mana tujuh Kecerdasan tersebut memungkinkan tidak hanya satu, tetapi tujuh metode belajar yang berbeda.

Pemikiran ini kemudian berkembang menjadi suatu pendekatan baru yang lebih dapat mengakomodir kebutuhan dan kapasitas murid yang berbeda-beda dalam satu lingkungan kelas.

Teori Kecerdasan Jamak ini juga mengarahkan pada “kemampuan paduan pengajaran”, yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan di mana murid-murid dengan berbagai macam variasi dapat belajar dan berproses untuk mencapai prestrasi bersama-sama.

Inti dari metode ini lebih menekankan pada penghargaan dan pemahaman terhadap adanya keanekaragaman dalam hidup.

Kecerdasan Jamak Howard Gardner
1. Kecerdasan Linguistik, terkait dengan keahlian dalam membaca, menulis, mendengarkan, berbicara
2. Kecerdasan Logika-Matematika, terkait dengan keahlian menyelesaikan persoalan logika, teka-teki, puzzle, mendapatkan bukti-bukti, melakukan perhitungan
3. Kecerdasan Spatial, terkait dengan keahlian daya ruang 3 dimensi, menentukan jarak dalam satu lingkungan, menentukan posisi benda
4. Kecerdasan Musikal, terkait dengan memainkan alat musik, menciptakan suatu nada, bernyanyi, atau mengarahkan nada. Lebih lanjut, Gardner yakin bahwa mekanik mesin dan ahli jantung memiliki jenis Kecerdasan ini tingkat tinggi karena mereka melakukan diganosis dengan mendengarkan secara cermat pola suara yang timbul (suara mesin mobil atau detak jantung).
5. Kecerdasan Jasmani-Kinestetik, terkait dengan keahlian menggunakan badan atau anggota badan untuk melakukan gerakan-gerakan terlatih tertentu atau melakukan kegiatan untuk maksud tertentu (contoh : penari, atlit, ahli bedah)
6. Kecerdasan Intrapersonal, terkait dengan keahlian dalam memahami diri sendiri, dan mendapatkan pencerahan atau ide-ide berdasarkan hasil pemikiran, tindakan, atau aktivitas emosional.
7. Fungsi Interpersonal, terkait dengan keahlian dalam memahami orang lain, dan hubungan antar individu, memiliki ketrampilan sosial yang tinggi (psikolog, guru, dan politikus pada umumnya memiliki jenis Kecerdasan ini dalam tingkat yang tinggi)
8. Kecerdasan Naturalistik, terkait dengan keahlian untuk memahami dan bekerja dengan efektif dalam lingkungan natural.

Realita Tentang Pendidikan Inklusif

Segregasi tidak bekerja. Anak-anak yang dipisahkan berdasarkan ras, kemampuan, atau karakteristik lain, pendidikan terpisah bukanlah pendidikan yang sama. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak belajar sebanyak ataujustru lebih di kelas yang inklusif.

Semua anak mempunyai hak untuk berada bersama anak-anak lain sebaya mereka. Seorang anak penyandang cacat tidak harus bisa mencapai performa di tingkat kelas atau bertindak persis sama seperti anak-anak lain di kelas mereka untuk mendapatkan manfaat dari menjadi bagian dari pendidikan reguler.

Orang tua telah dan terus menjadi kekuatan pendorong bagi pendidikan inklusif. Hasil terbaik terjadi ketika orangtua anak-anak penyandang cacat dan profesional bekerja sama. Kerjasama yang efektif terjadi ketika ada kolaborasi, komunikasi dan, terutama, KEPERCAYAAN antara orangtua dan profesional.

Apa Artinya Menjadi Inklusif?

Pendidikan inklusif didasarkan pada gagasan sederhana bahwa setiap anak dan keluarga dinilai layak sama dan kesempatan yang sama dan pengalaman. Pendidikan inklusif adalah tentang anak-anak penyandang cacat – apakah cacat ringan atau berat, tersembunyi atau jelas – berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari, sama seperti mereka akan jika ketidakmampuan mereka tidak hadir. Ini tentang membangun persahabatan, keanggotaan dan memiliki peluang yang sama seperti orang lain.

Inklusi adalah menyediakan bantuan anak-anak perlu untuk belajar dan berpartisipasi dalam cara yang bermakna. Kadang-kadang, bantuan dari teman atau guru-guru terbaik. Lain kali, bahan yang dirancang khusus atau teknologi dapat membantu. Kuncinya adalah hanya memberikan bantuan sebanyak yang diperlukan.

Pendidikan inklusif adalah hak anak, bukan hak istimewa. Para Penyandang Cacat Individu dengan Undang-Undang Pendidikan dengan jelas menyatakan bahwa semua anak-anak penyandang cacat harus dididik dengan anak-anak cacat non-usia mereka sendiri dan memiliki akses ke kurikulum pendidikan umum.

Manfaat Pendidikan Inklusif

Semua orang tua menginginkan anak-anak mereka untuk diterima oleh rekan-rekan mereka, memiliki teman-teman dan menjalani hidup “biasa”. Pengaturan inklusif dapat membuat visi ini menjadi kenyataan bagi banyak anak-anak cacat.

Ketika anak-anak menghadiri kelas-kelas yang mencerminkan persamaan dan perbedaan dari orang-orang di dunia nyata, mereka belajar untuk menghargai keberagaman. Menghormati dan pengertian ketika anak-anak tumbuh kemampuan yang berbeda dan budaya bermain dan belajar bersama.

Sekolah merupakan tempat penting bagi anak-anak untuk mengembangkan persahabatan dan belajar keterampilan sosial. Anak-anak dengan dan tanpa cacat belajar dengan dan dari satu sama lain dalam kelas-kelas inklusif.

Dalam kelas inklusif, anak-anak dengan dan tanpa cacat diharapkan untuk belajar membaca, menulis dan melakukan matematika. Dengan harapan yang lebih tinggi dan instruksi yang baik anak-anak cacat belajar keterampilan akademik.

Karena filsafat pendidikan inklusif ini bertujuan untuk membantu semua anak-anak belajar, semua orang di kelas manfaat. Anak-anak belajar dengan langkah mereka sendiri dan gaya dalam lingkungan belajar yang kondusif.

http://www.pbs.org/parents/inclusivecommunities/inclusive_education2.html

Bintang Bangsaku, Inklusi, dan BBL

By Yanti Depe on November 22nd, 2009

Kebijakan untuk menjadikan TK Bintang Bangsaku sebagai sebuah institusi pendidikan anak usia dini yang bersifat inklusif merupakan kelanjutan dari idealisme awal dari para pendiri sejak masih bernama Sanggar Kreativitas Bobo Cabang Penjernihan di tahun 2002. Idealisme yang tetap kami pertahankan sampai sekarang, yaitu “Pendidikan untuk Semua”.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, Bintang Bangsaku tidak hanya menerima anak-anak biasa dari keluarga yang normal, tetapi juga menerima anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu maupun anak-anak penyandang predikat “Anak Berkebutuhan Khusus” yang sifatnya permanen, mulai dari tunarungu, low vision, down syndrome, bahkan sampai brain damage atau cerebral palsy. Tidak hanya itu, pintu gerbang Bintang Bangsaku juga terbuka lebar-lebar untuk anak-anak jalanan. Mereka, kami ajak bermain sembari menanamkan nilai-nilai moral dan etika dalam hidup bermasyarakat.

Saat ini, perjuangan kami untuk dapat membimbing anak-anak khusus tersebut tidaklah seberat tahun-tahun pertama. Pada saat itu, selain harus menghadapi si anak khusus, kami juga harus dapat menyakinkan orang tua siswa yang lain untuk juga dapat menerima anak-anak tersebut.

Tidak sedikit orang tua yang mendatangi penulis dan mengancam mengeluarkan anaknya jika si khusus masih tetap ditempatkan di kelas yang sama. Tidak jarang juga orang tua yang mengajukan kekhawatirannya mengenai perilaku si khusus yang mungkin akan ”menular” pada anaknya. Menular di sini dalam arti ditiru oleh anak-anak lain. Penulis, yang waktu itu sebagai kepala sanggar, mengatakan pada mereka bahwa SKB Penjernihan (sekarang TK Bintang Bangsaku) tidak pernah mengeluarkan siswa dengan alasan apa pun.

Saya jelaskan pada para orang tua bahwa dengan kehadiran si khusus, anak-anak yang normal justru berlatih nyata untuk dapat berempati dan mengasihi tanpa syarat. Mereka belajar membimbing. Mereka belajar berbagi. Mereka juga belajar mengalah. Sementara untuk si khusus, keberadaan mereka bersama teman-teman sebaya akan sangat membantu motivasinya untuk belajar bersosialisasi agar dapat diterima oleh teman-temannya. Pada orang tua murid tersebut, penulis juga menjelaskan bahwa dinamika yang terjadi di kelas menunjukkan bahwa rasa aman dan kehangatan sangat mewarnai suasana belajar. Si autis jadi bisa ikut bermain, si disphasia/aphasia mencoba untuk berkomunikasi dengan keterbatasan bahasanya, di speech delay dapat berbicara dengan normal, si ADHD/ADD dapat diingatkan untuk tidak sibuk, si down syndrome mulai belajar makan dan minum sendiri. Sementara anak-anak yang lain sibuk menjadi pengawal atau pembimbing si khusus.

Penulis memahami bahwa untuk memaknai, menghayati, dan menindaklanjuti kenyataan bahwa sekolah dengan pendekatan yang inklusif dapat menghasilkan lulusan yang berkarakter kuat memang tidaklah mudah. Diperlukan adanya kesadaran bahwa dalam lingkungan masyarakat inklusif, kita harus siap untuk mengubah dan menyesuaikan sistem, lingkungan, dan aktivitas yang berkaitan dengan semua orang lain serta mempertimbangkan kebutuhan semua orang.

Salah satu komponen dalam sistem yang menjadi kendala adalah tidak adanya metode atau program yang sangat lengkap sehingga cocok bagi semua peserta didik atau semua guru reguler ataupun guru pendidikan kebutuhan khusus. Sebenarnya, metode atau program tersebut merupakan kewajiban dan kebebasan profesional dari setiap guru dan guru pendidikan kebutuhan khusus untuk menciptakan dan mengembangkan khasanahnya sendiri untuk dipergunakan dalam membuat dan merevisi. Kewajiban dan kebebasan yang menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan sensitivitas dari seluruh elemen yang mendukung sekolah sebagai suatu sistem organisasi pembelajar yang terdiri dari berbagai macam komponen.

Salah satu inovasi pembelajaran yang dapat membantu guru-guru yang belum memiliki pengetahuan yang khusus mengenai pendidikan inklusi agar dapat keluar dari kebingungannya adalah dengan pembelajaran yang berdasarkan pada kinerja otak (Brain Based Learning/BBL), di mana pemahaman mengenai bagaimana cara otak manusia bekerja menjadi dasar bagi penyusunan kurikulum, metode pembelajaran, media dan sumber belajar, bahkan juga menjadi dasar bagi sistem penilaian hasil belajar peserta didik.

Pendekatan BBL sangat mudah dilakukan dan sekaligus sangat lentur, karena prinsipnya yang sederhana, yaitu semua manusia adalah pembelajar yang alami. Selain fleksibilitas tersebut, sistem pembelajaran BBL dapat menjadi pilihan karena pada dasarnya hampir semua sistem pembelajaran yang selama ini dikenal dapat secara efektif mengoptimalkan kemampuan belajar peserta didik ternyata dapat terjadi karena apa yang dilakukan sudah sesuai dengan tuntutan dari kinerja otak manusia.

Contohnya, pendekatan experiential learning (EL), yang mengutamakan adanya pengalaman langsung pada si pembelajar untuk dapat memahami suatu materi baru, dapat berhasil karena pada dasarnya otak manusia bersifat plastis dan selalu berubah peta jalur jejaringnya sejauh intensitas pengalamannya. Pendekatan Problem Based Learning (PBL) yang menekankan terjadinya proses tantangan untuk memecahkan masalah secara kolaboratif maupun individual, bagi otak seperti sedang melakukan senam aerobik (Jensen, 2009). Proses pemecahan masalah akan menyebabkan pembentukan sinaps, mengaktifkan neurotransmitter, dan meningkatkan aliran darah. Konsekuensinya, pendekatan dengan sistem PBL akan menyebabkan proses terjadinya penambahan jalur dalam jejaring neuron dalam otak. Selain EL dan PBL, pendekatan hypnoteaching yang dikenalkan oleh pakar Neuro Linguistic Programme (NLP) sejalan dengan kenyataan bahwa seluruh proses berpikir, emosi, dan bahkan spiritual terletak pada upayanya dalam memanfaatkan berbagai gelombang yang ditimbulkan oleh kinerja dari masing-masing jejaring peta neuron tersebut. Mirip dengan hypnoteaching, pendekatan terbaru yang disebut Power Teaching dengan Micro Lecturer ternyata dapat berhasil karena memanfaatkan Basic Rest Activity Cycle yang terdapat di otak manusia.

Beragam pendekatan yang ternyata berujung pemanfaatan kinerja otak untuk mengefektifkan proses pembelajaran, menimbulkan keyakinan pada diri penulis bahwa pemahaman mengenai diri pembelajar dapat dijembatani melalui pemahaman mengenai kinerja otak manusia. Pemahaman tersebut yang menjadi dasar dalam menyusun program pendidikan yang fleksibel sehingga dapat sesuai untuk masing-masing peserta didik, baik secara individual maupun kelompok, dan baik yang berkebutuhan khusus maupun yang normal.

Berdasarkan pada pemahaman tersebut, gambaran mengenai bagaimana sebenarnya seorang anak belajar dan bagaimana pengaruh kinerja otak dalam proses pembelajarannya perlu dipahami secara utuh dan mendalam agar sekolah benar-benar dapat menyediakan sarana prasarana, menyusun kurikulum, memilih teknik pembelajaran, menetapkan peraturan, menyesuaikan sistem administrasi demi memenuhi kebutuhan semua pihak. Sementara itu, pemahaman mengenai inklusifitas akan meletakkan dasar yang netral dan tidak bias bagi pendidik maupun kepala sekolah sebagai unsur penting dalam pengambilan kebijakan sistem ketika akan menentukan bagaimana manajemen sekolah maupun manajemen kelas dijalankan.

Berdasarkan berbagai pemikiran dan upaya menjawab tantangan untuk dapat menyediakan wadah bagi ramah pembelajaran bagi semua kalangan, maka, aplikasi pendidikan inklusi berdasarkan pada prinsip kerja otak di Bintang Bangsaku adalah sebagai berikut: bermakna dan berdasarkan realita, aktif, menyenangkan, dan dapat diaplikasi walaupun dalam bentuk simulasi; multimodalitas, terintegrasi dan bertema; bersifat multi-kultural dan bebas bias; menggunakan umpan balik yang positif; memperhitungkan waktu yang tepat, sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan masing-masing anak. Sementara itu, secara umum, sebagai sebuah sistem, sebaiknya sekolah berpegang pada beberapa pedoman berikut ini untuk menciptakan lingkungan inklusif dan menggunakan pembelajaran yang berbasis kinerja otak, yaitu ;

• Kebijakan sekolah dan dukungan administrasi yang memiliki visi dan misi yang mengisyaratkan tentang pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan tidak bias sehingga anak dari beragam latar belakang dan kemampuan mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar serta mengekspresikan dirinya di kelas maupun di sekolah.

• Kurikulum secara fleksibel dapat dimodifikasi dan diadaptasikan menurut tingkat dan gaya belajar yang berbeda.

• Lingkungan sekolah yang memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam dan memberikan berbagai pengalaman dengan orang tua, masyarakat, dan guru-guru dari sekolah lain.

• Orang tua dan masyarakat sekitar mengetahui keberadaan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah pembelajaran serta dapat mengajukan gagasan.

• Guru dan karyawan menghayati beberapa rambu, yaitu :

1. Bekerja sama dengan tim, yaitu dengan cara: menggunakan sebanyak-banyaknya referensi dari para guru dan terapis yang terkait, psikolog, dokter anak serta dokter lain yang terlibat; mendiskusikan tujuan pembelajaran siswa dan manajemen kelas dengan pihak terkait.

2. Beberapa hal yang harus dilakukan saat perencanaan: mempelajari dengan seksama kurikulum dan perangkat lain yang sudah berlaku dan menjadi SOP di sekolah serta memahami rutinitas harian, baik dalam kelas maupun di sekolah; memperhatikan detail segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan fisik kelas dan sekolah

3. Beberapa hal yang harus dilakukan saat pelaksanaan: menunjukkan rasa hormat pada siswa, orang tua, sesama guru, dan para pihak yang terkait/berkepentingan dengan sekolah; berusaha untuk dapat selalu sistematis, dan terorganisir dalam bekerja; menggunakan reward, bukan hukuman, yaitu menghargai perilaku baik yang ditunjukkan oleh semua pihak; jika diijinkan, libatkan teman-teman sekelas untuk membantu siswa yang berkebutuhan khusus; membangun hubungan yang positif, mendorong bukan mengendalikan; menggunakan pertanyaan untuk melibatkan siswa, bukan menggunakan kalimat perintah; menggunakan contoh-contoh dari pengalaman siswa, bukan pengalaman guru karena guru bukan yang terbaik, hanya sedang menuju menjadi lebih baik.

Salam,

Yanti D.P.

Aplikasi Pendidikan Inklusi di TK Bintang Bangsaku.

By Yanti Depe on May 19th, 2009

Berdasarkan berbagai pemikiran dan upaya menjawab tantangan untuk dapat menyediakan wadah bagi semua anak, dan juga karena :

· pendidikan lebih dari sekedar proses akademis. Kapasitas kognisi, afeksi, dan konasi perlu dikembangkan dan kita perlu menggunakan semua kekuatan dan preferensi anak untuk membantunya mencapai aktualisasi diri,

· anak belajar secara modelling,

· memisahkan anak dari lingkungannya = tidak menyiapkannya untuk hidup dalam kehidupan nyata,

· mengabaikan anak yang berbeda bukanlah sebuah kebijaksanaan, dan

· pendidikan inklusi adalah pendekatan yang dapat lebih diterima dari sudut pandang moral dan hak asasi manusia

maka, aplikasi pendidikan inklusi di Bintang Bangsaku berdasarkan pada prinsip sebagai berikut :

Bermakna dan berdasarkan realita

Bersifat multi-kultural dan bebas bias

Terintegrasi dan bertema

Aktif dan dapat diaplikasi walaupun dalam bentuk simulasi.

Multimodalitas

Umpan balik yang positif

Waktu yang tepat


Sebagai sebuah sistem, Bintang Bangsaku sudah melaksanakan beberapa hal berikut ini untuk menciptakan lingkungan inklusif dan ramah terhadap pembelajaran, sesuai dengan yang disarankan oleh UNESCO (2007) :

1. Kebijakan sekolah dan dukungan administrasi

a. Memiliki visi dan misi yang mengisyaratkan tentang pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan tidak bias.

b. Melaksanakan sosialisasi secara terus menerus kepada orang tua yang menekankan bahwa semua anak akan diterima dengan tangan terbuka dan kelapangan dada.

c. Memiliki dokumen-dokumen penting mengenai pendidikan inklusif untuk anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam.

d. Menjalin hubungan baik dengan berbagai lembaga rujukan.

e. Menunjukkan dengan cara khusus bahwa pengelola sekolah dan guru memahami sifat dan kepentingan pendidikan inklusif.

f. Menyadari dan fleksibel dalam kebijakan sekolah dan pelaksanaannya – baik dalam hal biaya dan jadwal harian demi memperoleh pendidikan yang berkualitas

g. Memberikan keleluasaan kepada guru untuk menggunakan metode pembelajaran yang kreatif, inovatif dalam membantu anak belajar

h. Merespon kebutuhan staf, baik pengajar maupun karyawan operasional

i. Memiliki mekanisme mentoring, pendukung, supervisi bagi setiap orang

2. Lingkungan sekolah

a. Memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam

b. Memiliki lingkungan yang bersih, sehat, dan terbuka

c. Mempunyai persediaan air minum yang bersih, terjamin kesehatannya, dan menyediakan atau menjual makanan yang sehat serta bergizi

d. Mempunyai psikolog dan terapis yang dapat mengidentifikasi kebutuhan dan membantu penanganan semua anak

e. Memiliki tata cara dan prosedur yang sesuai untuk memudahkan seluruh elemen sekolah bekerja sama dalam mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan semua orang

f. Fokus pada kerja tim, bukan pada prestasi individual

g. Menjalin kerja sama dengan dokter anak dan dokter gigi untuk memberikan pemeriksaan kesehatan secara periodik bagi semua anak.

3. Keterampilan, pengetahuan, dan sikap guru

a. Dapat menjelaskan makna pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan dapat memberikan contoh pelaksanaannya.

b. Meyakini bahwa setiap anak, bahkan setiap individu, memiliki hak atas kesempatan yang sama dalam hal belajar.

c. Mengetahui tentang penyakit yang dapat mengakibatkan kelainan fisik, emosi, dan belajar sehingga dapat membantu anak untuk mendapat pelayanan yang tepat.

d. Mempunyai harapan yang tinggi terhadap semua anak dan membantu semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan pendidikannya

e. Menyadari sumber daya yang ada untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus.

f. Mengidentifikasi dan menghindari adanya bias-bias dalam kurikulum, lingkungan sekolah, dan proses pembelajaran.

g. Mampu melakukan berbagai metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.

h. Terbuka terhadap perubahan dan mampu melakukan refleksi .

i. Mampu bekerja sama dalam tim.

4. Peningkatan kompetensi guru

a. Mengikuti secara aktif berbagai lokakatya dan pelatihan tentang pengembangan kelas dan sekolah inklusif dan ramah pembelajaran.

b. Memberikan dan berbagai pengalaman dengan orang tua, masyarakat, dan guru-guru dari sekolah lain mengenai pelaksanaan pendidikan inklusi di Bintang Bangsaku.

c. Meningkatkan pengetahuannya dalam memahami berbagai tema yang tercantum di kurikulum sehingga dapat lebih luwes dalam pelaksanaan proses pembelajarannya dan dapat dimengerti oleh semua anak.

d. Memiliki ruang kerja bersama dan kesempatan-kesempatan untuk melakukan case conference sehingga dapat bertukar gagasan

5. Peserta didik

a. Semua peserta didik bersekolah secara reguler

b. Semua anak memiliki akses ke bahan dan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya

c. Semua peserta didik mendapatkan informasi penilaian hasil belajar secara berkala

d. Anak dari beragam latar belakang dan kemampuan mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dan mengekspresikan dirinya di kelas dan di sekolah

e. Semua anak diperhatikan, baik dalam kondisi biasa maupun jika menunjukkan ketidakbiasaan di saat kehadirannya

f. Semua anak berkesempatan untuk mengikuti aktivitas yang diselenggarakan

g. Semua peserta didik berkesempatan untuk mendiskusikan dan menetapkan aturan main di dalam kelas maupun di sekolah.

6. Isi kurikulum dan penilaian

a. Struktur kurikulum memperkenankan metode pembelajaran dan gaya belajar yang berbeda, seperti diskusi, bermain peran, atau permainan.

b. Isi kurikulum memiliki kaitan erat dengan kehidupan sehari-hari semua peserta didik

c. Kurikulum mengintegrasikan baca, tulis, hitung dan kecakapan hidup di seluruh tema

d. Guru dapat menggunakan lingkungan dan sumber daya yang tersedia untuk membantu peserta didik dalam belajar

e. Materi dan media belajar yang bebas bias

f. Kurikulum secara fleksibel dapat dimodifikasi dan diadaptasikan menurut tingkat dan gaya belajar yang berbeda

g. Anak berkesulitan belajar memiliki kesempatan untuk meninjau kembali dan memperbaiki pelajarannya

h. Anak mengembangkan sikap saling menghormati, toleransi, dan etika bermasyarakat

i. Guru menyajikan penilaian yang berupa sensory based description, tidak bersifat interpretatif dan tidak mengandalkan angka atau pelabelan untuk menilai hasil belajar anak.

7. Bidang pelajaran khusus/aktivitas ekstrakurikuler

a. Semua anak yang berkebutuhan khusus memperoleh akses untuk mendapatkan terapi yang sesuai kebutuhannya.

b. Sekolah menghargai dan memberikan kesempatan pada setiap anak untuk mempelajari dan menjalankan agamanya.

c. Sekolah menghargai perbedaan bahasa, suku, dan budaya masing-masing anak.

8. Masyarakat

a. Orang tua dan masyarakat sekitar mengetahui keberadaan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah pembelajaran.

b. Orang tua dan masyarakat dapat mengajukan gagasan mengenai penyempurnaan pelaksanaan pendidikan inklusif.

c. Orang tua menerima informasi mengenai kehadiran dan perkembangan kemampuan masing-masing anaknya.

Selain beberapa rambu yang telah disarankan oleh UNESCO tersebut, ada beberapa rambu pembimbingan yang wajib dihayati oleh para guru Bintang Bangsaku, yaitu :

Satu Mengajar, Satu Mendampingi di mana salah satu berperan sebagai edukator utama sementara yang lain membantu proses belajar siswa. Sebenarnya simpel, tetapi seringkali jadi terjebak dengan adanya “kasta” yang menghambat seorang asisten mengembangkan kemampuan mengajarnya secara optimal. Agar dapat bekerja sama dengan lebih setara sebaiknya dilakukan diskusi untuk membuat kesepakatan bersama mengenai fungsi dan tugas masing-masing dengan mempertimbangkan kelebihan si edukator utama dan pendampingnya. Model pendekatan Co-Teaching ini merupakan sebuah gabungan kekuatan yang merupakan bentuk kolaborasi antara guru khusus dengan guru wali yang akan sangat membantu proses pembelajaran ABK dalam lingkup kelas reguler untuk mencapai kemampuan bahasa, sosial, akademis yang optimal dan juga menghadapi kehidupan nyata

Bekerja sama dengan tim, yaitu dengan cara :

Menggunakan sebanyak-banyaknya referensi dari para guru dan terapis yang terkait, psikolog, dokter anak serta dokter lain yang terlibat.

Mendiskusikan tujuan pembelajaran siswa yang didampingi pada guru kelas yang bertanggung jawab.

Mendiskusikan bagaimana mengelola kelas dan pembagian tugas yang paling menghormati kelebihan masing-masing guru.

Jika ada masalah, wajib menghubungi pihak yang terkait dan mencoba pecahkan masalah tersebut. Jika memang belum dapat selesaikan, wajib menghubungi rantai “komando” berikutnya. Demikian seterusnya sampai masalah selesai.

Beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum memulai pendampingan di kelas :

Pelajari dengan seksama kurikulum dan perangkat lain yang sudah berlaku dan menjadi SOP di sekolah

Pelajari dan pahami rutinitas harian, baik dalam kelas maupun di sekolah

Perhatikan detail segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan fisik kelas dan sekolah

Perhatikan dan taati aturan main di sekolah (tata tertib)

Gunakan sebuah daftar untuk melihat apakah seluruh lingkungan, baik fisik maupun sosial, sudah teramati dan dipelajari dengan baik.

Beberapa langkah yang harus dilakukan saat pendampingan di kelas :

- Guru adalah menjadi model perilaku, penggunaan bahasa, dan kode etik bagi siswa-siswanya, di manapun dan kapanpun.

- Tetap tenang walaupun sedang bergejolak.

- Menunjukkan rasa hormat pada siswa, orang tua, sesama guru, dan para pihak yang terkait/berkepentingan dengan sekolah.

- Berusaha untuk dapat selalu rapi , sistematis, dan terorganisir dalam bekerja. Hal ini menghindarkan Anda dari masalah-masalah yang tidak perlu.

- Menunjukkan rasa bersyukur atas segala yang diperoleh dan optimis akan apa yang akan diperoleh.

- Menggunakan reward, bukan hukuman, yaitu menghargai perilaku baik yang ditunjukkan oleh semua pihak

- Mendiskusikan pada guru yang menjadi penanggung jawab kelas mengenai aturan main, jadwal, rencana modifikasi perilaku, dan bersama-sama meng-evaluasi kemajuan perkembangan siswa

- Jika diijinkan, libatkan teman-teman sekelas untuk membantu siswa yang berkebutuhan khusus

Berpasangan (peer tutoring)

Tim (collaborative team)

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan perilaku positif siswa:

Tegas dan tidak emosional

Menggunakan suara/intonasi rendah

Menggambarkan/contohkan perilaku yang ingin anda lihat dari siswa anda

Menggunakan kata “mulai” bukan “berhenti”

Menggunakan kata “Mau … Ya … dulu” bukan “Jangan!”

Satu permintaan dulu diselesaikan, baru yang berikutnya

Menggunakan teguran di balik penghargaan

Konsisten

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan saat menghadapi konflik:

Mengamati dan putuskan kapan waktu yang tepat untuk intervensi. Ajukan pertanyaan pada diri sendiri : Ada apa? Siapa saja yang terlibat? Apa yang saya tahu tentang mereka? Seberapa membahayakan konflik yang sedang terjadi? Apakah intervensi saya akan membuat mereka merasa terancam?

Tetap tenang dan sabar. Tugas Anda adalah meredakan konflik, bukan menyelesaikan atau menambah konflik.

Menggali akar masalah konflik

Jika memungkinkan, pisahkan dari penonton. Jika tidak, lakukan sesuatu yang memecah perhatian penonton dan secara perlahan-lahan tetapkan batas area konflik.

Mengajak siswa untuk menumpahkan perasaannya menggunakan kata-kata, jika masih non verbal, ijinkan ia menumpahkan perasaannya dengan caranya sendiri selama tidak melukai dirinya atau orang lain.

Mendorong siswa untuk menemukan pemecahan masalahnya sendiri.

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan komunikasi yang interaktif dan positif:

Membangun hubungan yang positif

Mendorong bukan mengendalikan

Memanggil nama kesukaan siswa, bukan pilihan guru

Berbicara secara santun

Menggunakan pertanyaan untuk melibatkan siswa, bukan menggunakan kalimat perintah

Menggunakan contoh-contoh dari pengalaman siswa, bukan pengalaman guru karena guru bukan yang terbaik, hanya sedang menuju menjadi lebih baik.

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan jika siswa marah pada guru:

Tetap tenang

Bertindak secara asertif, bukan agresif

Mengetahui apa yang menjadi masalahnya

Mengklarifikasikan dugaan guru tersebut

Menawarkan untuk berbicara, sekarang atau nanti tetap harus dibicarakan

Membantu siswa untuk tetap membuka diri dalam bernegosiasi

Tetap mengatakan bahwa guru percaya bahwa siswa dapat mengungkapkan perasaannya dengan cara yang lebih baik

Harapkan yang terbaik

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga profesionalisme:

Memperhatikan cara berpakaian

Menunjukkan komitmen Anda untuk membantu proses perkembangan Anak

Memperhatikan cara Anda berkomunikasi, baik itu pilihan kata, intonasi suara, maupun bahasa tubuh yang Anda tampilkan

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga rahasia siswa:

Ketika di luar sekolah, jangan pernah ungkapkan nama dan mengkaitkannya dengan “Murid saya”

Jika ada yang bertanya, persilakan ia untuk berhubungan langsung dengan pihak yang berwenang (guru kelas, koordinator guru, koordinator program, atau pimpinan sekolah) … Ingat tentang rantai “komando”

Jangan pernah menjadikan informasi tentang siswa sebagai bahan gosip atau canda.

Kenali masing-masing siswa dengan baik agar tidak terjadi kekeliruan.

Sementara itu, sebagai sebuah lembaga pendidikan anak usia dini yang bersifat inklusif dan ramah anak, Bintang Bangsaku, telah menerapkan beberapa hal berikut ini berdasarkan pada prinsip pembelajaran berbasis pada kinerja otak :

1. Melatih anak untuk berpikir secara terorganisasi (Langrehr, 2006), yaitu dengan cara mengenalkan anak bagaimana :

a. Mengamati sifat

b. Mengamati persamaan

c. Mengamati perbedaan

d. Mengelompokkan hal-hal yang serupa

e. Mengenali bagian yang tidak termasuk dalam suatu kategori

f. Membandingkan

g. Memilah berbagai hal menjadi kategori

h. Mengatur berbagai hal menurut ukuran, bentuk, warna, aroma, posisi, dan lain-lain

i. Mengatur berbagai hal menurut waktu

j. Menggeneralisasikan contoh

k. Meringkas secara verbal

l. Meringkas secara visual

m. Membuat keputusan

n. Mengenali hubungan sebab akibat

2. Melakukan berbagai teknik pengajaran yang terstruktur dan dapat memenuhi kebutuhan masing-masing anak, sesuai dengan preferensi indera, preferensi kognitif, maupun berbagai potensi kecerdasannya.

3. Mengedepankan rasa nyaman, aman, dan kehangatan serta kematangan dan keterampilan fungsi motorik dibandingkan dengan upaya pembelajaran yang cenderung ke arah pengembangan kognitif.

4. Memperhatikan kebutuhan ruang masing-masing anak untuk dapat bergerak bebas dalam proses pembelajarannya.

5. Meminimalisir adanya pelabelan atau interpretasi subjektif atas perilaku yang ditunjukkan oleh peserta didik dengan cara menggunakan sensory based report.

6. Memprioritaskan penguasaan bahasa ibu sebelum pelatihan bahasa asing karena seluruh peserta didik Bintang Bangsaku bukan berasal dari kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar.

Yanti D.P.

Tantangan Dalam Mewujudkan Pendidikan Inklusi

By Yanti Depe on May 19th, 2009

Walaupun inklusi memberikan pengayaan bagi semua yang terlibat, penting untuk tidak mengesampingkan tantangan-tantangan yang mungkin kita hadapi. Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Singal dan Rouse dalam EENET asia Newsletter 2007, ditemukan bahwa :

Sekolah-sekolah meyakini bahwa mereka berhak menggunakan label “inklusif” karena telah melibatkan siswa-siswa yang biasanya ditolak masuk ke sekolah umum dan membuat serangkaian tindakan untuk memenuhi kebutuhan individu

Ketika para kepala sekolah sudah familiar dengan istilah “pendidikan inklusif”, kebanyakan guru masih belum mengenalinya

Orang-orang menganggap pendidikan inklusif dibentuk oleh pengaruh Barat

Perubahan telah didorong oleh pemerintah dan orang tua, guru jarang dilibatkan dan suara anak sama sekali diabaikan

Keputusan-keputusan untuk melibatkan anak-anak diatur oleh isu-isu seperti derajad dan sifat kecacatan, tingkat kecerdasan, dan penyimpangan perilaku.

Guru-guru sedikit sekali mengalami pelatihan formal atau bahkan tidak sama sekali untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan anak dengan kemampuan yang berbeda dan guru juga hanya membuat perubahan kecil terhadap metode pengajaran mereka.

Selain penemuan tersebut, secara pribadi, penulis juga melihat dan mengalami adanya beberapa tantangan lain, yaitu :

Kebijakan-kebijakan lokal, baik yang tertulis maupun tidak tertulis, terkesan memarginalkan kelompok anak yang dinilai tidak mampu secara akademis. Hal ini penulis temukan dari berbagai macam hal, salah satunya adalah tes seleksi masuk ke sekolah-sekolah dasar, baik yang secara resmi dilaporkan sebagai tes seleksi maupun yang disebut dengan “psikotes”. Penulis dapat memaklumi keputusan untuk melaksanakan tes penyaringan ini sehubungan dengan ketatnya persaian pasar di bidang penyedia jasa pendidikan, belum lagi dengan pembagian “kasta” sekolah berdasarkan kualitasnya, baik oleh pemerintah secara langsung (dengan adanya kelompok sekolah regule, percontohan, unggulan, nasional, bahkan internasional) atau oleh masyarakat secara tidak langsung (sekolah-sekolah favorit yang terkenal dengan prestasi siswa-siswanya di bidang akademis).

Kecenderungan masyarakat luas yang terbagi menjadi dua kelompok besar, kelompok yang sangat eksklusif dan kelompok yang berpegang pada nilai-nilai universal. Kelompok eksklusif dapat dilihat dari menjamurnya sekolah-sekolah yang “konon” berbasis agama, sekolah yang ber”label” internasional, dan juga menjamurnya homeschooling. Kelompok yang seperti ini akan sulit dimasuki oleh anak-anak berkebutuhan khusus. Pengalaman membuktikan bahwa hanya dengan dana yang jumlahnya berkali lipat maka ABK dapat diterima oleh sekolah-sekolah eksklusif tersebut.

Selain kedua kelompok tersebut, pandangan masyarakat terhadap pendidikan inklusif sendiri masih terkesan merendahkan potensi ABK sehingga pilihan untuk tidak mengirimkan anak belajar masih banyak diambil oleh orang tua ABK. Tidak hanya karena merendahkan, keputusan untuk tidak menyekolahkan anak pun seringkali disebabkan oleh ketidakmampuan orang tua untuk menerima kekhususan anaknya. Pilihan mengirimkan ke SLB adalah pilihan yang terakhir karena banyak orang tua yang menganggap bahwa pendidikan SLB tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh orang tuanya.

Faktor sumber daya, baik yang berupa sarana prasana fisik, perangkat kurikulum, dan tenaga kependidikan, yang masih belum dapat memenuhi tuntutan fleksibilitas dari idealismenya pendidikan inklusi, merupakan salah satu faktor yang paling sering dikemukakan oleh pihak sekolah. Penemuan penulis ini hampir sama dengan yang diungkapkan oleh Singal dan Rouse yang telah disebutkan sebelumnya. Faktor aksesibilitas fisik yang berarti bahwa setiap orang memiliki akses yang sama pada lingkungan sekolah, pada media pembelajaran, dan pada proses interaksi antara berbagai elemen sekolah masih jauh dari ideal. Jangankan sekolah, fasilitas umum di masyarakat juga masih sangat terbatas.

Faktor kebiasaan dari teknik, metode, bahkan pendekatan dalam proses belajar mengajar juga menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh pendidik yang ingin melaksanakan pendidikan inklusif. Berbagai standar dan kelaziman yang selama ini sudah dilaksanakan dinilai relatif membelenggu tercapainya fleksibitas kurikulum, yang tentunya berefek pada kompetensi standar yang ditargetkan, indikator-indikator maupun hasil belajar yang ingin dicapai, teknik pengajaran, pemilihan media belajar, alokasi waktu pengajaran, dan tentunya sampai pada penilaian dari hasil belajar siswa. Padahal, fleksibilitas kurikulum yang disebabkan oleh pembelajaran yang berbasis pada kebutuhan siswa adalah tuntutan utama dari pendidikan inklusif.

Berbagai tantangan di atas memang terjadi, dan harus dihadapi dengan bijaksana. Menentang dan melawan arus bukanlah keputusan yang baik, karena pada dasarnya sekolah, khususnya taman kanak-kanak, yang merupakan salah satu jenjang pendidikan formal, adalah bagian dari suatu sistem sosial di masyarakat.

Adaptasi dan modifikasi sistem pengajaran, manajemen kelas, sistem sekolah, atau bahkan struktur kurikulum merupakan salah satu jalan keluar yang bijak karena tidak merubah sistem secara drastis. Ada beberapa modal yang dapat digunakan untuk melakukan hal ini, yaitu :

1. Nilai-nilai moral yang bersifat universal, yang benar-benar secara hakiki ada dalam setiap manusia, yaitu tidak ada satupun manusia yang terlahir tanpa makna hidup di mana tidak ada satupun manusia di dunia ini yang benar-benar bisa hidup sendiri tanpa keberadaan mahluk atau ciptaan Tuhan yang lainnya. Bagaimanapun juga, menerima dan mengasih jauh lebih bermoral dibandingkan dengan mengesampingkan dan meninggalkan anak.

2. Aspirasi, yaitu dengan cara memaknai beberapa contoh praktek pendidikan inklusi yang telah berjalan dengan baik. Walaupun tidak semudah yang disangka, namun dari mengamati dan menganalisa model yang telah berjalan akan memudah pendidik untuk melakukan langkah-langkah inovasi berikut :

3. Pakar, yaitu dengan cara meminta pendapat atau bahkan berbagi pengalaman dengan pakar dari berbagai bidang ilmu, karena pendidikan inklusi adalah wujud dari harmonisasi berbagai bidang, mulai dari neurosains, kedokteran, psikologi, pedagogi, sosiologi, arsitektur, dan lain sebagainya. Keterbukaan terhadap masukan adalah hal yang sangat penting jika ingin melaksanakan model pendidikan inklusi yang memenuhi kebutuhan semua siswa atau bahkan semua elemen-elemen organisasi sekolah dalam kapasitasnya sebagai bagian dari sistem sosial.

Yanti D.P.

PENDIDIKAN INKLUSI – PENDIDIKAN YANG LUAR BIASA

By Yanti Depe on May 19th, 2009

Selain memiliki mesin biologis yang sangat luar biasa, manusia sejak lahir dikaruniai potensi sosialitas, artinya setiap individu mempunyai kemungkinan untuk dapat bergaul, yang didalamnya ada kesediaan untuk memberi dan menerima. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkannya seorang diri. Kehadiran manusia lain dihadapannya bukan saja penting untuk mencapai tujuan hidupnya, tetapi juga merupakan sarana untuk pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya. Melalui pendidikan dapat dikembangkan keseimbangan antara aspek individual dan aspek sosial manusia, artinya individualitas manusia dapat dikembangkan dengan belajar dari orang lain, mengidintifikasikan sifat-sifat yang dikagumi dari orang lain untuk dimilikinya, serta menolak sifat-sifat yang tidak dicocokinya.

Sehubungan dengan potensi dan kebutuhan sosial tersebut, dunia sedang mencanangkan pendidikan yang ideal untuk anak-anak berkebutuhan khusus ini yaitu melalui inklusi. Tuntutan penyelenggaraan pendidikan inklusif itu sendiri semakin nyata terutama sejak diadakannya konvensi dunia tentang hak anak pada tahun 1989 dan konferensi dunia tentang pendidikan tahun 1991 di Bangkok yang menghasilkan deklarasi ”education for all – ”pendidikan untuk semua”. Implikasi dari pernyataan ini mengikat bagi semua anggota konferensi agar semua anak tanpa terkecuali (termasuk anak berkebutuhan khusus) mendapatkan layanan pendidikan secara memadai.

Sebagai tindak lanjut Deklarasi Bangkok, pada tahun 1994 diselenggarakan konvensi pendidikan di Salamanca Spanyol yang mencetuskan perlunya pendidikan inklusif yang selanjutnya dikenal dengan ’The Salamanca Statement on Inclusive Education’. Dokumen ini mengakui hak asasi dari semua anak-anak untuk pendidikan yang inklusif. 193 negara telah menandatangani Konvensi tentang Hak-hak Anak dan juga telah setuju untuk terikat dengan isi dari konvensi ini.

Beberapa negara telah membuat kemajuan yang signifikan terbukti dari cara setiap negara mempromosikan pendidikan inklusif dalam perundang-undangan nasional mereka, contohnya termasuk Kanada, Siprus, Denmark, Islandia, India, Luksemburg, Malta, Belanda, Norwegia, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, Uganda, Inggris, Amerika Serikat, dan Italia.

Prinsip sekolah untuk semua menawarkan satu sikap alternatif, yaitu inklusi semua siswa dengan mengakui pluralitas perbedaan individual dan memanfaatkan secara positif perbedaan-perbedaan ini sebagai sumber untuk belajar dan pemahaman bersama di dalam kelas. Tidak ada metode atau program yang sangat lengkap sehingga cocok bagi semua siswa atau semua guru reguler ataupun guru pendidikan kebutuhan khusus di lapangan. Sebaliknya ini merupakan kewajiban dan kebebasan profesional dari setiap guru dan guru pendidikan kebutuhan khusus untuk menciptakan dan mengembangkan khasanahnya sendiri dalam berbagai metode, program, pengetahuan dan keterampilan yang dapat dipergunakannya untuk membuat dan merevisi kurikulum untuk individu siswanya maupun kelasnya.

Yanti D.P.

PENDIDIKAN INKLUSIF

By Yanti Depe on February 8th, 2009

Prof. Dr. Mulyono Abdurrahman

Universitas Negeri Jakarta

PENGERTIAN PENDIDIKAN INKLUSIF

  1. Pendidikan inklusif adalah penggabungan pendidikan regular dan pendidikan khusus ke dalam satu sistem persekolahan yang dipersatukan untuk mempertemukan perbedaan kebutuhan semua siswa.
  2. Pendidikan inklusif bukan sekedar metode atau pendekatan pendidikan melainkan suatu bentuk implementasi filosofi yang mengakui kebhinekaan antar manusia yang mengemban misi tunggal untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik dalam rangka meningkatkan kualitas pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa.

ELEMEN-ELEMEN DASAR PENDIDIKAN INKLUSIF

§ Sikap guru yang positif terhadap keragaman.

§ Interaksi promotif dalam pembelajaran koperatif.

§ Pengembangan kompetensi akademik yang seimbang dengan kompetensi sosial.

§ Konsultasi kolaboratif antar profesional.

§ Hidup dan belajar dalam masyarakat.

§ Hubungan kemitraan antara sekolah dengan keluarga.

§ Belajar dan berpikir independen.

§ Belajar sepanjang hayat.

Read & Comment ›››

Landasan Yuridis Pendidikan Inklusi

By Yanti Depe on February 5th, 2009

1. UUD 1945 (amandemen)

Pasal 31

  • ayat (1) : “Setiap warga negara berhak mendapatpendidikan”
  • ayat (2) : “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”

2. UU No. 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional :

Pasal 3

  • Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pasal 5

  • Ayat (1) : Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu
  • Ayat (2) : Warga negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus
  • Ayat (3) : Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus
  • Ayat (4) : Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.

Pasal 32

  • ayat (1) : Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik,emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
  • ayat (2): Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.

3. UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Pasal 48

  • Pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 (sembilan) tahun untuk semua anak.

Pasal 49

  • Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan.

Yanti D.P.