By Yanti Depe on May 19th, 2009
Berdasarkan berbagai pemikiran dan upaya menjawab tantangan untuk dapat menyediakan wadah bagi semua anak, dan juga karena :
· pendidikan lebih dari sekedar proses akademis. Kapasitas kognisi, afeksi, dan konasi perlu dikembangkan dan kita perlu menggunakan semua kekuatan dan preferensi anak untuk membantunya mencapai aktualisasi diri,
· anak belajar secara modelling,
· memisahkan anak dari lingkungannya = tidak menyiapkannya untuk hidup dalam kehidupan nyata,
· mengabaikan anak yang berbeda bukanlah sebuah kebijaksanaan, dan
· pendidikan inklusi adalah pendekatan yang dapat lebih diterima dari sudut pandang moral dan hak asasi manusia
maka, aplikasi pendidikan inklusi di Bintang Bangsaku berdasarkan pada prinsip sebagai berikut :
– Bermakna dan berdasarkan realita
– Bersifat multi-kultural dan bebas bias
– Terintegrasi dan bertema
– Aktif dan dapat diaplikasi walaupun dalam bentuk simulasi.
– Multimodalitas
– Umpan balik yang positif
– Waktu yang tepat
Sebagai sebuah sistem, Bintang Bangsaku sudah melaksanakan beberapa hal berikut ini untuk menciptakan lingkungan inklusif dan ramah terhadap pembelajaran, sesuai dengan yang disarankan oleh UNESCO (2007) :
1. Kebijakan sekolah dan dukungan administrasi
a. Memiliki visi dan misi yang mengisyaratkan tentang pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan tidak bias.
b. Melaksanakan sosialisasi secara terus menerus kepada orang tua yang menekankan bahwa semua anak akan diterima dengan tangan terbuka dan kelapangan dada.
c. Memiliki dokumen-dokumen penting mengenai pendidikan inklusif untuk anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam.
d. Menjalin hubungan baik dengan berbagai lembaga rujukan.
e. Menunjukkan dengan cara khusus bahwa pengelola sekolah dan guru memahami sifat dan kepentingan pendidikan inklusif.
f. Menyadari dan fleksibel dalam kebijakan sekolah dan pelaksanaannya – baik dalam hal biaya dan jadwal harian demi memperoleh pendidikan yang berkualitas
g. Memberikan keleluasaan kepada guru untuk menggunakan metode pembelajaran yang kreatif, inovatif dalam membantu anak belajar
h. Merespon kebutuhan staf, baik pengajar maupun karyawan operasional
i. Memiliki mekanisme mentoring, pendukung, supervisi bagi setiap orang
2. Lingkungan sekolah
a. Memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam
b. Memiliki lingkungan yang bersih, sehat, dan terbuka
c. Mempunyai persediaan air minum yang bersih, terjamin kesehatannya, dan menyediakan atau menjual makanan yang sehat serta bergizi
d. Mempunyai psikolog dan terapis yang dapat mengidentifikasi kebutuhan dan membantu penanganan semua anak
e. Memiliki tata cara dan prosedur yang sesuai untuk memudahkan seluruh elemen sekolah bekerja sama dalam mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan semua orang
f. Fokus pada kerja tim, bukan pada prestasi individual
g. Menjalin kerja sama dengan dokter anak dan dokter gigi untuk memberikan pemeriksaan kesehatan secara periodik bagi semua anak.
3. Keterampilan, pengetahuan, dan sikap guru
a. Dapat menjelaskan makna pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan dapat memberikan contoh pelaksanaannya.
b. Meyakini bahwa setiap anak, bahkan setiap individu, memiliki hak atas kesempatan yang sama dalam hal belajar.
c. Mengetahui tentang penyakit yang dapat mengakibatkan kelainan fisik, emosi, dan belajar sehingga dapat membantu anak untuk mendapat pelayanan yang tepat.
d. Mempunyai harapan yang tinggi terhadap semua anak dan membantu semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan pendidikannya
e. Menyadari sumber daya yang ada untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus.
f. Mengidentifikasi dan menghindari adanya bias-bias dalam kurikulum, lingkungan sekolah, dan proses pembelajaran.
g. Mampu melakukan berbagai metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
h. Terbuka terhadap perubahan dan mampu melakukan refleksi .
i. Mampu bekerja sama dalam tim.
4. Peningkatan kompetensi guru
a. Mengikuti secara aktif berbagai lokakatya dan pelatihan tentang pengembangan kelas dan sekolah inklusif dan ramah pembelajaran.
b. Memberikan dan berbagai pengalaman dengan orang tua, masyarakat, dan guru-guru dari sekolah lain mengenai pelaksanaan pendidikan inklusi di Bintang Bangsaku.
c. Meningkatkan pengetahuannya dalam memahami berbagai tema yang tercantum di kurikulum sehingga dapat lebih luwes dalam pelaksanaan proses pembelajarannya dan dapat dimengerti oleh semua anak.
d. Memiliki ruang kerja bersama dan kesempatan-kesempatan untuk melakukan case conference sehingga dapat bertukar gagasan
5. Peserta didik
a. Semua peserta didik bersekolah secara reguler
b. Semua anak memiliki akses ke bahan dan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya
c. Semua peserta didik mendapatkan informasi penilaian hasil belajar secara berkala
d. Anak dari beragam latar belakang dan kemampuan mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dan mengekspresikan dirinya di kelas dan di sekolah
e. Semua anak diperhatikan, baik dalam kondisi biasa maupun jika menunjukkan ketidakbiasaan di saat kehadirannya
f. Semua anak berkesempatan untuk mengikuti aktivitas yang diselenggarakan
g. Semua peserta didik berkesempatan untuk mendiskusikan dan menetapkan aturan main di dalam kelas maupun di sekolah.
6. Isi kurikulum dan penilaian
a. Struktur kurikulum memperkenankan metode pembelajaran dan gaya belajar yang berbeda, seperti diskusi, bermain peran, atau permainan.
b. Isi kurikulum memiliki kaitan erat dengan kehidupan sehari-hari semua peserta didik
c. Kurikulum mengintegrasikan baca, tulis, hitung dan kecakapan hidup di seluruh tema
d. Guru dapat menggunakan lingkungan dan sumber daya yang tersedia untuk membantu peserta didik dalam belajar
e. Materi dan media belajar yang bebas bias
f. Kurikulum secara fleksibel dapat dimodifikasi dan diadaptasikan menurut tingkat dan gaya belajar yang berbeda
g. Anak berkesulitan belajar memiliki kesempatan untuk meninjau kembali dan memperbaiki pelajarannya
h. Anak mengembangkan sikap saling menghormati, toleransi, dan etika bermasyarakat
i. Guru menyajikan penilaian yang berupa sensory based description, tidak bersifat interpretatif dan tidak mengandalkan angka atau pelabelan untuk menilai hasil belajar anak.
7. Bidang pelajaran khusus/aktivitas ekstrakurikuler
a. Semua anak yang berkebutuhan khusus memperoleh akses untuk mendapatkan terapi yang sesuai kebutuhannya.
b. Sekolah menghargai dan memberikan kesempatan pada setiap anak untuk mempelajari dan menjalankan agamanya.
c. Sekolah menghargai perbedaan bahasa, suku, dan budaya masing-masing anak.
8. Masyarakat
a. Orang tua dan masyarakat sekitar mengetahui keberadaan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah pembelajaran.
b. Orang tua dan masyarakat dapat mengajukan gagasan mengenai penyempurnaan pelaksanaan pendidikan inklusif.
c. Orang tua menerima informasi mengenai kehadiran dan perkembangan kemampuan masing-masing anaknya.
Selain beberapa rambu yang telah disarankan oleh UNESCO tersebut, ada beberapa rambu pembimbingan yang wajib dihayati oleh para guru Bintang Bangsaku, yaitu :
• Satu Mengajar, Satu Mendampingi di mana salah satu berperan sebagai edukator utama sementara yang lain membantu proses belajar siswa. Sebenarnya simpel, tetapi seringkali jadi terjebak dengan adanya “kasta” yang menghambat seorang asisten mengembangkan kemampuan mengajarnya secara optimal. Agar dapat bekerja sama dengan lebih setara sebaiknya dilakukan diskusi untuk membuat kesepakatan bersama mengenai fungsi dan tugas masing-masing dengan mempertimbangkan kelebihan si edukator utama dan pendampingnya. Model pendekatan Co-Teaching ini merupakan sebuah gabungan kekuatan yang merupakan bentuk kolaborasi antara guru khusus dengan guru wali yang akan sangat membantu proses pembelajaran ABK dalam lingkup kelas reguler untuk mencapai kemampuan bahasa, sosial, akademis yang optimal dan juga menghadapi kehidupan nyata
• Bekerja sama dengan tim, yaitu dengan cara :
• Menggunakan sebanyak-banyaknya referensi dari para guru dan terapis yang terkait, psikolog, dokter anak serta dokter lain yang terlibat.
• Mendiskusikan tujuan pembelajaran siswa yang didampingi pada guru kelas yang bertanggung jawab.
• Mendiskusikan bagaimana mengelola kelas dan pembagian tugas yang paling menghormati kelebihan masing-masing guru.
• Jika ada masalah, wajib menghubungi pihak yang terkait dan mencoba pecahkan masalah tersebut. Jika memang belum dapat selesaikan, wajib menghubungi rantai “komando” berikutnya. Demikian seterusnya sampai masalah selesai.
• Beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum memulai pendampingan di kelas :
• Pelajari dengan seksama kurikulum dan perangkat lain yang sudah berlaku dan menjadi SOP di sekolah
• Pelajari dan pahami rutinitas harian, baik dalam kelas maupun di sekolah
• Perhatikan detail segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan fisik kelas dan sekolah
• Perhatikan dan taati aturan main di sekolah (tata tertib)
• Gunakan sebuah daftar untuk melihat apakah seluruh lingkungan, baik fisik maupun sosial, sudah teramati dan dipelajari dengan baik.
• Beberapa langkah yang harus dilakukan saat pendampingan di kelas :
- Guru adalah menjadi model perilaku, penggunaan bahasa, dan kode etik bagi siswa-siswanya, di manapun dan kapanpun.
- Tetap tenang walaupun sedang bergejolak.
- Menunjukkan rasa hormat pada siswa, orang tua, sesama guru, dan para pihak yang terkait/berkepentingan dengan sekolah.
- Berusaha untuk dapat selalu rapi , sistematis, dan terorganisir dalam bekerja. Hal ini menghindarkan Anda dari masalah-masalah yang tidak perlu.
- Menunjukkan rasa bersyukur atas segala yang diperoleh dan optimis akan apa yang akan diperoleh.
- Menggunakan reward, bukan hukuman, yaitu menghargai perilaku baik yang ditunjukkan oleh semua pihak
- Mendiskusikan pada guru yang menjadi penanggung jawab kelas mengenai aturan main, jadwal, rencana modifikasi perilaku, dan bersama-sama meng-evaluasi kemajuan perkembangan siswa
- Jika diijinkan, libatkan teman-teman sekelas untuk membantu siswa yang berkebutuhan khusus
– Berpasangan (peer tutoring)
– Tim (collaborative team)
• Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan perilaku positif siswa:
• Tegas dan tidak emosional
• Menggunakan suara/intonasi rendah
• Menggambarkan/contohkan perilaku yang ingin anda lihat dari siswa anda
• Menggunakan kata “mulai” bukan “berhenti”
• Menggunakan kata “Mau … Ya … dulu” bukan “Jangan!”
• Satu permintaan dulu diselesaikan, baru yang berikutnya
• Menggunakan teguran di balik penghargaan
• Konsisten
• Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan saat menghadapi konflik:
• Mengamati dan putuskan kapan waktu yang tepat untuk intervensi. Ajukan pertanyaan pada diri sendiri : Ada apa? Siapa saja yang terlibat? Apa yang saya tahu tentang mereka? Seberapa membahayakan konflik yang sedang terjadi? Apakah intervensi saya akan membuat mereka merasa terancam?
• Tetap tenang dan sabar. Tugas Anda adalah meredakan konflik, bukan menyelesaikan atau menambah konflik.
• Menggali akar masalah konflik
• Jika memungkinkan, pisahkan dari penonton. Jika tidak, lakukan sesuatu yang memecah perhatian penonton dan secara perlahan-lahan tetapkan batas area konflik.
• Mengajak siswa untuk menumpahkan perasaannya menggunakan kata-kata, jika masih non verbal, ijinkan ia menumpahkan perasaannya dengan caranya sendiri selama tidak melukai dirinya atau orang lain.
• Mendorong siswa untuk menemukan pemecahan masalahnya sendiri.
• Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan komunikasi yang interaktif dan positif:
• Membangun hubungan yang positif
• Mendorong bukan mengendalikan
• Memanggil nama kesukaan siswa, bukan pilihan guru
• Berbicara secara santun
• Menggunakan pertanyaan untuk melibatkan siswa, bukan menggunakan kalimat perintah
• Menggunakan contoh-contoh dari pengalaman siswa, bukan pengalaman guru karena guru bukan yang terbaik, hanya sedang menuju menjadi lebih baik.
• Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan jika siswa marah pada guru:
• Tetap tenang
• Bertindak secara asertif, bukan agresif
• Mengetahui apa yang menjadi masalahnya
• Mengklarifikasikan dugaan guru tersebut
• Menawarkan untuk berbicara, sekarang atau nanti tetap harus dibicarakan
• Membantu siswa untuk tetap membuka diri dalam bernegosiasi
• Tetap mengatakan bahwa guru percaya bahwa siswa dapat mengungkapkan perasaannya dengan cara yang lebih baik
• Harapkan yang terbaik
• Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga profesionalisme:
• Memperhatikan cara berpakaian
• Menunjukkan komitmen Anda untuk membantu proses perkembangan Anak
• Memperhatikan cara Anda berkomunikasi, baik itu pilihan kata, intonasi suara, maupun bahasa tubuh yang Anda tampilkan
• Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga rahasia siswa:
• Ketika di luar sekolah, jangan pernah ungkapkan nama dan mengkaitkannya dengan “Murid saya”
• Jika ada yang bertanya, persilakan ia untuk berhubungan langsung dengan pihak yang berwenang (guru kelas, koordinator guru, koordinator program, atau pimpinan sekolah) … Ingat tentang rantai “komando”
• Jangan pernah menjadikan informasi tentang siswa sebagai bahan gosip atau canda.
• Kenali masing-masing siswa dengan baik agar tidak terjadi kekeliruan.
Sementara itu, sebagai sebuah lembaga pendidikan anak usia dini yang bersifat inklusif dan ramah anak, Bintang Bangsaku, telah menerapkan beberapa hal berikut ini berdasarkan pada prinsip pembelajaran berbasis pada kinerja otak :
1. Melatih anak untuk berpikir secara terorganisasi (Langrehr, 2006), yaitu dengan cara mengenalkan anak bagaimana :
a. Mengamati sifat
b. Mengamati persamaan
c. Mengamati perbedaan
d. Mengelompokkan hal-hal yang serupa
e. Mengenali bagian yang tidak termasuk dalam suatu kategori
f. Membandingkan
g. Memilah berbagai hal menjadi kategori
h. Mengatur berbagai hal menurut ukuran, bentuk, warna, aroma, posisi, dan lain-lain
i. Mengatur berbagai hal menurut waktu
j. Menggeneralisasikan contoh
k. Meringkas secara verbal
l. Meringkas secara visual
m. Membuat keputusan
n. Mengenali hubungan sebab akibat
2. Melakukan berbagai teknik pengajaran yang terstruktur dan dapat memenuhi kebutuhan masing-masing anak, sesuai dengan preferensi indera, preferensi kognitif, maupun berbagai potensi kecerdasannya.
3. Mengedepankan rasa nyaman, aman, dan kehangatan serta kematangan dan keterampilan fungsi motorik dibandingkan dengan upaya pembelajaran yang cenderung ke arah pengembangan kognitif.
4. Memperhatikan kebutuhan ruang masing-masing anak untuk dapat bergerak bebas dalam proses pembelajarannya.
5. Meminimalisir adanya pelabelan atau interpretasi subjektif atas perilaku yang ditunjukkan oleh peserta didik dengan cara menggunakan sensory based report.
6. Memprioritaskan penguasaan bahasa ibu sebelum pelatihan bahasa asing karena seluruh peserta didik Bintang Bangsaku bukan berasal dari kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar.
Yanti D.P.
Share on Facebook
Recent Comments