Posts Tagged ‘brain-based learning’

Bintang Bangsaku, Inklusi, dan BBL

By Yanti Depe on November 22nd, 2009

Kebijakan untuk menjadikan TK Bintang Bangsaku sebagai sebuah institusi pendidikan anak usia dini yang bersifat inklusif merupakan kelanjutan dari idealisme awal dari para pendiri sejak masih bernama Sanggar Kreativitas Bobo Cabang Penjernihan di tahun 2002. Idealisme yang tetap kami pertahankan sampai sekarang, yaitu “Pendidikan untuk Semua”.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, Bintang Bangsaku tidak hanya menerima anak-anak biasa dari keluarga yang normal, tetapi juga menerima anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu maupun anak-anak penyandang predikat “Anak Berkebutuhan Khusus” yang sifatnya permanen, mulai dari tunarungu, low vision, down syndrome, bahkan sampai brain damage atau cerebral palsy. Tidak hanya itu, pintu gerbang Bintang Bangsaku juga terbuka lebar-lebar untuk anak-anak jalanan. Mereka, kami ajak bermain sembari menanamkan nilai-nilai moral dan etika dalam hidup bermasyarakat.

Saat ini, perjuangan kami untuk dapat membimbing anak-anak khusus tersebut tidaklah seberat tahun-tahun pertama. Pada saat itu, selain harus menghadapi si anak khusus, kami juga harus dapat menyakinkan orang tua siswa yang lain untuk juga dapat menerima anak-anak tersebut.

Tidak sedikit orang tua yang mendatangi penulis dan mengancam mengeluarkan anaknya jika si khusus masih tetap ditempatkan di kelas yang sama. Tidak jarang juga orang tua yang mengajukan kekhawatirannya mengenai perilaku si khusus yang mungkin akan ”menular” pada anaknya. Menular di sini dalam arti ditiru oleh anak-anak lain. Penulis, yang waktu itu sebagai kepala sanggar, mengatakan pada mereka bahwa SKB Penjernihan (sekarang TK Bintang Bangsaku) tidak pernah mengeluarkan siswa dengan alasan apa pun.

Saya jelaskan pada para orang tua bahwa dengan kehadiran si khusus, anak-anak yang normal justru berlatih nyata untuk dapat berempati dan mengasihi tanpa syarat. Mereka belajar membimbing. Mereka belajar berbagi. Mereka juga belajar mengalah. Sementara untuk si khusus, keberadaan mereka bersama teman-teman sebaya akan sangat membantu motivasinya untuk belajar bersosialisasi agar dapat diterima oleh teman-temannya. Pada orang tua murid tersebut, penulis juga menjelaskan bahwa dinamika yang terjadi di kelas menunjukkan bahwa rasa aman dan kehangatan sangat mewarnai suasana belajar. Si autis jadi bisa ikut bermain, si disphasia/aphasia mencoba untuk berkomunikasi dengan keterbatasan bahasanya, di speech delay dapat berbicara dengan normal, si ADHD/ADD dapat diingatkan untuk tidak sibuk, si down syndrome mulai belajar makan dan minum sendiri. Sementara anak-anak yang lain sibuk menjadi pengawal atau pembimbing si khusus.

Penulis memahami bahwa untuk memaknai, menghayati, dan menindaklanjuti kenyataan bahwa sekolah dengan pendekatan yang inklusif dapat menghasilkan lulusan yang berkarakter kuat memang tidaklah mudah. Diperlukan adanya kesadaran bahwa dalam lingkungan masyarakat inklusif, kita harus siap untuk mengubah dan menyesuaikan sistem, lingkungan, dan aktivitas yang berkaitan dengan semua orang lain serta mempertimbangkan kebutuhan semua orang.

Salah satu komponen dalam sistem yang menjadi kendala adalah tidak adanya metode atau program yang sangat lengkap sehingga cocok bagi semua peserta didik atau semua guru reguler ataupun guru pendidikan kebutuhan khusus. Sebenarnya, metode atau program tersebut merupakan kewajiban dan kebebasan profesional dari setiap guru dan guru pendidikan kebutuhan khusus untuk menciptakan dan mengembangkan khasanahnya sendiri untuk dipergunakan dalam membuat dan merevisi. Kewajiban dan kebebasan yang menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan sensitivitas dari seluruh elemen yang mendukung sekolah sebagai suatu sistem organisasi pembelajar yang terdiri dari berbagai macam komponen.

Salah satu inovasi pembelajaran yang dapat membantu guru-guru yang belum memiliki pengetahuan yang khusus mengenai pendidikan inklusi agar dapat keluar dari kebingungannya adalah dengan pembelajaran yang berdasarkan pada kinerja otak (Brain Based Learning/BBL), di mana pemahaman mengenai bagaimana cara otak manusia bekerja menjadi dasar bagi penyusunan kurikulum, metode pembelajaran, media dan sumber belajar, bahkan juga menjadi dasar bagi sistem penilaian hasil belajar peserta didik.

Pendekatan BBL sangat mudah dilakukan dan sekaligus sangat lentur, karena prinsipnya yang sederhana, yaitu semua manusia adalah pembelajar yang alami. Selain fleksibilitas tersebut, sistem pembelajaran BBL dapat menjadi pilihan karena pada dasarnya hampir semua sistem pembelajaran yang selama ini dikenal dapat secara efektif mengoptimalkan kemampuan belajar peserta didik ternyata dapat terjadi karena apa yang dilakukan sudah sesuai dengan tuntutan dari kinerja otak manusia.

Contohnya, pendekatan experiential learning (EL), yang mengutamakan adanya pengalaman langsung pada si pembelajar untuk dapat memahami suatu materi baru, dapat berhasil karena pada dasarnya otak manusia bersifat plastis dan selalu berubah peta jalur jejaringnya sejauh intensitas pengalamannya. Pendekatan Problem Based Learning (PBL) yang menekankan terjadinya proses tantangan untuk memecahkan masalah secara kolaboratif maupun individual, bagi otak seperti sedang melakukan senam aerobik (Jensen, 2009). Proses pemecahan masalah akan menyebabkan pembentukan sinaps, mengaktifkan neurotransmitter, dan meningkatkan aliran darah. Konsekuensinya, pendekatan dengan sistem PBL akan menyebabkan proses terjadinya penambahan jalur dalam jejaring neuron dalam otak. Selain EL dan PBL, pendekatan hypnoteaching yang dikenalkan oleh pakar Neuro Linguistic Programme (NLP) sejalan dengan kenyataan bahwa seluruh proses berpikir, emosi, dan bahkan spiritual terletak pada upayanya dalam memanfaatkan berbagai gelombang yang ditimbulkan oleh kinerja dari masing-masing jejaring peta neuron tersebut. Mirip dengan hypnoteaching, pendekatan terbaru yang disebut Power Teaching dengan Micro Lecturer ternyata dapat berhasil karena memanfaatkan Basic Rest Activity Cycle yang terdapat di otak manusia.

Beragam pendekatan yang ternyata berujung pemanfaatan kinerja otak untuk mengefektifkan proses pembelajaran, menimbulkan keyakinan pada diri penulis bahwa pemahaman mengenai diri pembelajar dapat dijembatani melalui pemahaman mengenai kinerja otak manusia. Pemahaman tersebut yang menjadi dasar dalam menyusun program pendidikan yang fleksibel sehingga dapat sesuai untuk masing-masing peserta didik, baik secara individual maupun kelompok, dan baik yang berkebutuhan khusus maupun yang normal.

Berdasarkan pada pemahaman tersebut, gambaran mengenai bagaimana sebenarnya seorang anak belajar dan bagaimana pengaruh kinerja otak dalam proses pembelajarannya perlu dipahami secara utuh dan mendalam agar sekolah benar-benar dapat menyediakan sarana prasarana, menyusun kurikulum, memilih teknik pembelajaran, menetapkan peraturan, menyesuaikan sistem administrasi demi memenuhi kebutuhan semua pihak. Sementara itu, pemahaman mengenai inklusifitas akan meletakkan dasar yang netral dan tidak bias bagi pendidik maupun kepala sekolah sebagai unsur penting dalam pengambilan kebijakan sistem ketika akan menentukan bagaimana manajemen sekolah maupun manajemen kelas dijalankan.

Berdasarkan berbagai pemikiran dan upaya menjawab tantangan untuk dapat menyediakan wadah bagi ramah pembelajaran bagi semua kalangan, maka, aplikasi pendidikan inklusi berdasarkan pada prinsip kerja otak di Bintang Bangsaku adalah sebagai berikut: bermakna dan berdasarkan realita, aktif, menyenangkan, dan dapat diaplikasi walaupun dalam bentuk simulasi; multimodalitas, terintegrasi dan bertema; bersifat multi-kultural dan bebas bias; menggunakan umpan balik yang positif; memperhitungkan waktu yang tepat, sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan masing-masing anak. Sementara itu, secara umum, sebagai sebuah sistem, sebaiknya sekolah berpegang pada beberapa pedoman berikut ini untuk menciptakan lingkungan inklusif dan menggunakan pembelajaran yang berbasis kinerja otak, yaitu ;

• Kebijakan sekolah dan dukungan administrasi yang memiliki visi dan misi yang mengisyaratkan tentang pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan tidak bias sehingga anak dari beragam latar belakang dan kemampuan mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar serta mengekspresikan dirinya di kelas maupun di sekolah.

• Kurikulum secara fleksibel dapat dimodifikasi dan diadaptasikan menurut tingkat dan gaya belajar yang berbeda.

• Lingkungan sekolah yang memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam dan memberikan berbagai pengalaman dengan orang tua, masyarakat, dan guru-guru dari sekolah lain.

• Orang tua dan masyarakat sekitar mengetahui keberadaan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah pembelajaran serta dapat mengajukan gagasan.

• Guru dan karyawan menghayati beberapa rambu, yaitu :

1. Bekerja sama dengan tim, yaitu dengan cara: menggunakan sebanyak-banyaknya referensi dari para guru dan terapis yang terkait, psikolog, dokter anak serta dokter lain yang terlibat; mendiskusikan tujuan pembelajaran siswa dan manajemen kelas dengan pihak terkait.

2. Beberapa hal yang harus dilakukan saat perencanaan: mempelajari dengan seksama kurikulum dan perangkat lain yang sudah berlaku dan menjadi SOP di sekolah serta memahami rutinitas harian, baik dalam kelas maupun di sekolah; memperhatikan detail segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan fisik kelas dan sekolah

3. Beberapa hal yang harus dilakukan saat pelaksanaan: menunjukkan rasa hormat pada siswa, orang tua, sesama guru, dan para pihak yang terkait/berkepentingan dengan sekolah; berusaha untuk dapat selalu sistematis, dan terorganisir dalam bekerja; menggunakan reward, bukan hukuman, yaitu menghargai perilaku baik yang ditunjukkan oleh semua pihak; jika diijinkan, libatkan teman-teman sekelas untuk membantu siswa yang berkebutuhan khusus; membangun hubungan yang positif, mendorong bukan mengendalikan; menggunakan pertanyaan untuk melibatkan siswa, bukan menggunakan kalimat perintah; menggunakan contoh-contoh dari pengalaman siswa, bukan pengalaman guru karena guru bukan yang terbaik, hanya sedang menuju menjadi lebih baik.

Salam,

Yanti D.P.

Pengalaman Workshop Brain Base Learning

By Yanti Depe on November 17th, 2009

Arifah Handayani: Pengalaman Workshop Brain Base Learning

Asli sudah lewat empat hari dari workshop Brain Base Learning saya masih harus mengumpulkan pemahaman untuk dituliskan kembali dalam note. Apakah BBL begitu sulit sehingga berat memahaminya..?? Bohong kalau saya katakan memahami BBL itu mudah, nyatanya untuk workshop kali ini saya harus konsentrasi ekstra. Tapi masalah terbesar sama sekali bukan karena sulit atau rumit. Ini lebih karena BBL begitu kompleks sekaligus luas, sehingga bisa ditilik dari beragam sudut pandang, yang semua bisa dijabarkan menjadi sebuah note. Maka kesulitan terbesarnya adalah menjabarkan dalam bentuk sederhana dan aplikatif .

Tapi biarlah saya coba menuliskannya bukan sebagai teori, note ini menggambarkan kesan yang saya peroleh setelah workshop BBL.

Alhamdulillah, saya ikut workshop BBL setelah terlebih dulu membaca dan memahami beberapa materi yang terkait seperti Multiple Intelegence , Quantum Learning , Quantum Ikhlas , Hypnoparenting dan ESQ . Semua bercerita tentang hebatnya seorang manusia jika mampu mengeksplorasi semua kekuatan yang terdapat dalam dirinya. Saat dia telah berhasil membuka akses langsung akal-hati-jiwa dan mengkoneksikannya dalam jalur pribadi bebas hambatan dengan The Source, Sang Maha Pencipta. Desain luar biasa produk pasti sukses anti gagal dariNya.

Apa hubungannya semua itu dengan BBL..?? Mba Yanti DP, Kepala Sekolah Bintang Bangsaku yang Agustus lalu menyabet predikat KepSek PAUD Teladan Nasional mengungkapkan, semua proses itu, ZMP, Ikhlas, God Spot, Quantum Learning, MI dan seterusnya, terjadi di otak, dan BBL menginklusi semua itu. Bahwa setiap yang memiliki jiwa, dia pasti punya potensi untuk dikembangkan, lepas dari gangguan, fisik, mental, emosi bahkan keterbatasan otak itu sendiri. Maka Sekolah Bintang Bangsaku menghadirkan Kelas Inklusi dengan BBL, untuk anak usia dini 3 – 6 tahun menembus semua keterbatasan yang ada .

Hal yang paling membekas di benak saya, bahkan nyaris membuat saya menitikkan air mata haru adalah slide tentang kegiatan kelas di mana anak yang lebih normal menjadi shadow teacher untuk teman-temanya yang kurang beruntung. Betapa BBL mampu melejitkan potensi tiap anak normal mulai umur 3 tahun hingga mereka dapat menjadi tangan kanan gurunya bertanggung jawab mengawal satu orang ABK dalam sebuah kegiatan outing. Tak heran ada sebuah kelas inklusi di Sekolah Bintang Bangsaku yang memiliki 8 murid ditangani hanya 1 orang guru, padahal ada 4 anak ABK di kelas itu. Bagaimana mungkin..?? Jelas mungkin karena di kelas itu juga ada 4 shadow teacher. Allahu Akbar..!!

So, the biggest question is… seperti apa sih bentuk dan aplikasi Brain Base Learning hingga bisa memberi hasil yang sedahsyat itu. Anak 3 tahun yang biasanya belum mandiri, jadi mampu menjadi seorang shadow teacher untuk seorang ABK. Bayangkan jika kita lewat pendidikan di rumah mampu memberi pendekatan BBL pada anak-anak kita yang rata-rata dalam kondisi normal, bukankah hasilnya akan sangat menjanjikan. Insya Allah satu generasi yang sangat solid dan unggul, kelak juga mampu menciptakan masyarakat inklusi yang membawa better world and brighter future.

Mba Yanti DP, dengan gamblang membuka rahasia BBL lewat gambar berikut…

Dalam gambar ini termuat modalitas belajar yang ada di setiap otak manusia. Betapa otak bekerja sesuai dengan kebutuhan jiwa seorang manusia, di mana semua motivasi untuk maju jadi lebih baik dapat dibangkitkan. Asalkan sentralnya sudah diaktifkan secara spritual dan emosional
.

Setiap lapisannya adalah ‘gerbang’ untuk memasukkan informasi baik berupa data maupun kegiatan apapun ke dalam otak. Terdapat di dalamnya modalitas belajar dan pendekatan Multiple Intelegence
. Lebih dari itu BBL juga memperhatikan karakter tiap individu , juga cara berpikirnya . Keseluruhan kerja otak dapat dilihat dari body movement dan behavior setiap individu.

Dalam Quantum Learning dikatakan semua orang punya kemampuan belajar dengan cepat asalkan teaching style = learning style. Maka seorang guru yang mengajar dengan pendekatan BBL, harus berusaha menangkap informasi cara kerja otak para peserta didiknya dan membuat Teaching Plan yang paling sesuai untuk kelasnya dengan memanfaatkan Reticular Activating System .

Dalam BBL dikatakan gerbang tol masuknya informasi ada di Reticular Activating System, yaitu pusat ketertarikan/perhatian dan motivasi yang menghubungkan modalitas belajar seorang peserta didik dengan ‘soul’nya. Artinya guru tersebut harus membuat teaching plan yang mampu menarik keluar soul setiap siswa melalui kegiatan belajar yang dapat mengaktivasi semua modalitas otaknya.

Pasti akan timbul ungkapan susah banget untuk menerapkan BBL ini… Tentu saja bukan hal yang sederhana, para guru/ortu dituntut untuk mengaktivasi seluruh kemampuan otaknya sendiri guna mampu menciptakan teaching plan yang menggunakan BBL.

Istilah Mba Yanti DP, seorang pendidik harus sudah menyelesaikan lingkaran Brain Basenya sendiri untuk mampu membuka komunikasi dengan Brain Base siswanya. Dalam BBL setiap Guru perlu melandasi modalitas mengajarnya dengan proses pemahaman ke dalam dirinya. Untuk mampu berkomunikasi menggunakan bain base, maka guru/ortu perlu memahami kebutuhan dasar/emosi setiap individu yang berhubungan dengan otaknya.

Ada tujuh lapis kebutuhan dasar/emosi yang terdapat dalam diri setiap manusia terkait dengan kemampuan bekerja otak. Namun untuk mengisi bejana otak siswa setidaknya terpenuhi kebutuhan di lapisan 1 2 dan 3 di sekolah maupun di rumah.

1. Safety : Perasaan aman – timbul dari tercukupinya kebutuhan primer setiap manusia, sandang, pangan, papan dan jauh dari bahaya yang mengancam dirinya.
2. Love and sense of belonging : Rasa Dicintai, memiliki dan dimiliki – seseorang harus merasa disayang , juga merasa menjadi bagian utuh dalam kelompok. Tidak dibedakan atau dibandingkan dengan individu lain.
3. Self Esteem : Harga diri – Self respect/pride : Seseorang yang memiliki rasa respek terhadap dirinya, akan lebih mampu mengembangkan setiap potensinya. Penting untuk menghargai setiap anak/siswa apa adanya, dengan keyakinan setiap manusia diberiNya kelebihan masing-masing dan lewat kelebihan itu setiap orang akan mampu bermanfaat bagi dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Setiap guru/ortu harus memberikan stimulasi yang tepat hingga stiap individu terpacu untuk mengeluarkan the best of themselves.

Lapisan selanjutnya mungkin harus dikupas lewat workshop/ seminar motivasi dan konsep diri…

Demikian sebagian kecil informasi yang dapat saya sampaikan dari hasil workshop BBL di Sekolah Bintang Bangsaku. Sebenarnya masih ada info tentang Pemanfaatan Peta Koneksi dan Siklus Otak dalam pembuatan Teaching Plan. Mungkin lain waktu disambung lagi.

Get Smarter Everyday…

P. S jika ada yang salah mohon dikoreksi dan dimaafkan

aplikasi BBL dalam lembar kerja

By Yanti Depe on November 16th, 2009

secara mendasar, apa yang ditangkap oleh pandangan kiri akan diolah oleh otak bagian kiri, demikian juga dengan yang kanan (posisi lateral) …

namun, apa yang ditangkap oleh kedua mata (posisi medial) dengan baik akan diolah secara bersilangan …

mengapa? karena otak akan melakukan pengolahan data secara spesifik sesuai dengan jenis data dan alur masuknya …

untuk ilustrasi … jika kita ibaratkan lembar kerja itu adalah papan iklan yang diletakkan di pinggir jalan tol, yang membuat kita hanya bisa melirik sepintas tanpa memfokuskan pandangan, maka informasi yang berkaitan dengan logika dan hal-hal ilmiah lainnya sebaiknya diletakkan di sebelah kiri agar tertangkap dan langsung diolah oleh bagian kiri otak yang mempunyai karakteristik dominansi di ranah logika, analitis, serta pengolahan data dan fakta yang tepat …

sementara jika iklan itu berusaha menawarkan benda atau jasa yang berkaitan dengan gaya hidup, kenyamanan, maka sebaiknya diletakkan di sebelah kanan jalan agar langsung diolah oleh otak kanan yang berpreferensi pada estetika …

jika produk atau jasa yang ditawarkan merupakan gabungan dari keduanya … letakkan di tengah (misalnya di jembatan penyeberangan …) karena data dari sudut pandang medial akan diolah oleh kedua belahan otak sehingga data akan dipertimbangkan dari segi logika maupun estetika …

Nah …

implikasinya jika dikaitkan dengan lembar kerja yang akan diberikan di kelas …

kertas ataupun media belajar tidak bisa diletakkan di kiri maupun di kanan siswa, karena waktu yang relatif panjang akan membuat konsentrasi pandangan yang terjadi di kelas lebih bebas dibandingkan dengan di jalan tol …

artinya … secara bersamaan lembar kerja tersebut akan diolah dari sudut pandang logika maupun estetika …

konsekuensinya … agar bisa menarik perhatian/minat siswa, maka lembar kerja tersebut harus dapat memenuhi kebutuhan dari masing-masing belahan otak secara bersamaan, yaitu data yang tepat dan akurat namun sekaligus berkaitan dengan kehidupan dan estetika seseorang …

jika lembar kerja hanya berupa data dalam bentuk angka atau tulisan, maka hanya otak kiri yang mengolah sementara otak kanan berusaha memenuhi kebutuhannya dengan cara mencari-cari kenyamanan di tempat lain (ngalamun, mencoret-coret kertas dengan gambar, mencari penyelamatan/contekan, dlsb)

sebaliknya jika lembar kerja hanya berupa stimulasi keindahan maka secara otomatis otak kiri akan berupaya memenuhi kebutuhannya dengan berbagai cara, misalnya mencari-cari makna dari stimulus tersebut, memikirkan berbagai langkah yang akan diambil setelah tugas terselesaikan, dan lain sebagainya …

secara sederhana,
jika dikaitkan dengan metode mind mapping … keberhasilan metode tersebut sungguh sangat dimengerti, stimulasi yang berupa estetika (gambar) maupun data (kata maupun angka) disajikan bersamaan dan berpusat di tengah kertas …

sementara di sisi lain, seberapa banyak siswa yang mengalami kebosanan akut saat berada di dalam kelas atau keengganan yang luar biasa saat harus menyelesaikan pr hanya karena data yang ditangkap oleh mata ternyata melulu berupa angka atau huruf?

sudah jelas atau masih bingung?

hmm … kalau masih … kapan-kapan ikut pelatihannya saja ya ….

salam,

Yanti D.P.
Bintang Bangsaku

Prinsip Dasar Pembelajaran Berbasis Otak

By Yanti Depe on November 13th, 2009

Otak adalah organ tubuh paling kompleks yang kita miliki. Otak mengandung 100 miliar sel. Ketika dihubungkan bersama-sama jumlah koneksi sel otak kita dapat diestimasi menjadi 100 triliun, melebihi estimasi jumlah atom di alam semesta yang telah dikenal.

Konon, pada usia tujuh tahun, otak anak sudah terikat kuat dengan 80 persen dari segala sesuatu yang pernah ia ketahui. Semua pertumbuhan neural berikutnya dibangun dari jalur-jalur tersebut (Dennison, 2008) Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Oleh sebab itu masa kanak-kanak dari usia 0 – 8 tahun disebut masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan otak anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan.

a. Pemanfaatan RAS
Otak menggunakan metode pemrosesan berganda dalam menggabungkan pola, mengubah makna, dan menyeleksi pengalaman hidup sehari-hari dari berbagai petunjuk yang sangat banyak. Ketika menerima stimulus, otak yang mirip jejaring, beroperasi secara simultan melakukan proses komunikasi dari sel ke sel yang diaktifkan guna memproses semua hal seperti warna, gerakan, bentuk, bau, bunyi, rasa, bahkan perasaan.
Ada dua macam sel otak, yaitu glial yang berfungsi sebagai sel pendukung dan neuron yang berfungsi melakukan pemrosesan informasi (Pasiak, 2008). Tidak ada neuron yang merupakan titik terakhir karena fungsinya yang bertindak sebagai jalur penghubung informasi. Bahkan satu neuron dapat terhubung dengan lebih dari seribu sampai sepuluh ribu sel yang lainnya (Jensen, 2008)
Untuk mengatur proses tersebut, ada sebuah sistem dasar dalam kinerja otak, yaitu sistem aktivasi retikular, yang menjadi pintu gerbang masuknya berbagai stimulus dari indera (Ginnis, 2009). SAR menentukan apa yang penting dari seluruh data yang datang, baik eksternal maupun internal, untuk dikirimkan melalui serebral korteks. Dengan kata lain ia menentukan apa yang menarik perhatian kita. Ia menentukan apa yang disaring di dalam atau luar “kesadaran”.
SAR akan siap menerima informasi yang baru atau tidak biasa, yang membantu memenuhi kebutuhan fisik atau psikologis yang dapat “dirasakan”, atau yang berkaitan dengan pilihan yang kita buat. Secara fundamental, perhatian berdasarkan pada apa yang kita pandang akan memenuhi kebutuhan kita atau relevan dengan tujuan kita pada satu saat tertentu.

Implikasi dari kenyataan tersebut bagi proses pembelajaran adalah peserta didik akan lebih termotivasi, terlibat, dan terbuka jika mereka menganggap pembelajaran yang sedang berlangsung adalah penting untuk dirinya. Konsekuensinya, seorang guru harus bisa :
a. Memberikan kesegaran dan variasi untuk mempertahankan perhatian
b. Memahami bahwa otak memberikan prioritas pertama untuk kebutuhan pokok
c. Menyajikan gambaran besar dari pelajaran, apa yang dikandungnya, dan bagaimana kecocokannya dengan materi sebelumnya, dan apa kepentingannya untuk di masa mendatang.
d. Memberikan ruang bagi tujuan personal masing-masing peserta didik dalam materi pelajaran yang sedang berlangsung, atau dengan kata lain kaitkan materi atau keterampilan tersebut dengan kehidupan sehari-harinya.

b. Pemanfaatan Otaknya Otak
Sebelum anak berusia empat tahun, otak primitif dan otak limbik sudah 80% termielinasi. Setelah umur 6 – 7 tahun mielinasi bergeser ke otak pikir. Pada akar dari mana otak baru tumbuh, area emosional terjalin melalui begitu banyak sirkuit yang berhubungan ke seluruh bagian neurokorteks. Ini memberi pusat-pusat emosi kekuatan yang besar untuk mempengaruhi fungsi dari bagian lain dari otak-termasuk pusat otak untuk pikiran. Selain emosi, dorongan untuk mencari makna (SQ) juga menjadi daya penggerak. Dorongan yang seringkali diistilahkan dengan adanya daya hidup, kebutuhan untuk mencari makna atas setiap peristiwa yang terjadi dalam setiap langkah kehidupan, setia tarikan nafas dan bahwa detak jantung.
Secara anatomi, bagian-bagian tersebut dijelaskan oleh Lee (2006) sebagai berikut:
1. Otak “Reptilia”, batang otak, merupakan bagian yang mengatur insting dasar, sangat berperan dalam proses penyembuhan alami. Letaknya di bawah menghubungkan batang otak ke tulang belakang yang bertanggungjawab atas sistem saraf otonom yang berfungsi dalam menjaga kehidupan tubuh, termasuk pernapasan, pencernaan, dan sirkulasi.
2. Otak “Mamalia”, sistem limbik, yaitu bagian yang mengatur emosi, terletak di tengah. Fungsinya adalah menyimpan “Long Term Memory” atau memori yang tersimpan untuk jangka waktu lama dan ada emosi yang terkait dengannya. Bahaudin (2007) bahkan menambahkan bahwa hasil penelitian otak pada dekade 90-an menunjukkan bahwa otak emosional (limbic system) ternyata memiliki kecerdasan sendiri dan mempunyai peran sentral dalam menentukan kualitas hidup seseorang, termasuk di dalamnya adalah menentukan efektivitas proses belajar. Bagian ini seringkali disebut juga dengan otaknya otak.
3. Otak “Primata” Besar atau Neo Mamalia atau Cortex Cerebri, merupakan pusat sensasi, pusat motoris, pusat berpikir, dan pusat penalaran. Atau dengan kata lain, bagian ini memainkan peranan sangat penting dalam berpikir rasional. Jika kerja sama antara seluruh sel saraf dalam bagian ini berlangsung baik, maka fungsi kognitif pemiliknya akan menunjukkan fungsi normal. Secara umum, bagian otak ini yang biasa dikenal dengan belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Walaupun masih menjadi perdebatan, namun pengetahuan bahwa belahan otak kiri memproses secara logika matematika sementara belahan otak kanan memproses dengan menggunakan kaidah bahasa.
Ada beberapa cara guru untuk memanfaatkan kecenderungan tersebut, yaitu dengan :
1. Mengekspresikan keyakinan akan kemampuannya dalam menolong anak
2. Mengekspresikan keyakinannya akan kemampuan si anak
3. Memberi sinyal non-verbal yang konsisten dengan yang dikatakan, intonasi suara, pandangan mata, dan tingkat energi
4. Memberi umpan balik yang spesifik dan cukup
5. Mendorong peningkatan dengan melalui tantangan yang sekiranya bisa diselesaikan oleh anak.

c. Pemanfaatan Peta Koneksi
Koneksi antara sel-sel yang tercipta sebagai hasil dari pengalaman membentuk peta kognitif yang sifatnya sangat personal. Pembelajaran terjadi ketika peta-peta ini atau jaringan-jaringan itu saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Semakin terkoneksi jaringan-jaringan tersebut maka semakin besar pemaknaan yang diperoleh seseorang dari proses pembelajarannya. Itulah sebabnya kenapa konsep-konsep yang sama sekali baru pada awalnya sulit sekali untuk dicerna; jaringan yang sudah ada perlu waktu untuk berekspansi guna mendukung asosiasi baru tersebut (Jensen, 2008). Dengan demikian, pembelajaran, jika ditinjau dari bidang neurosains, merupakan modifikasi respons terhadap rangsangan sepanjang waktu (Dennison, 2008).
Konsekuensi logis dari pentingnya koneksi-koneksi tersebut terjalin, maka, menurut Ginnis (2007), seorang guru akan menghadapi tiga tugas utama, yaitu :
1. Mendorong koneksi baru syaraf melalui tantangan yang menciptakan tingkat stimulasi tinggi terhadap perkembangan akson.
2. Memperkuat koneksi yang telah ada dengan mengulang-ulang peristiwa atau keterampilan dengan berbagai cara.
3. Mendorong peserta didik untuk menata ulang jaringan koneksi yang telah ada dengan cara mengoreksi kesalahan, memperbaiki konsep, melengkapi pemahaman, atau mengasah keterampilan.
Tugas yang terakhir yang biasanya paling sulit dilakukan karena anak sudah terlanjur berada dalam comfort zone-nya. Walaupun demikian, penataan ulang tersebut dimungkinkan jika dilakukan dengan berdasarkan pemahaman bahwa pembelajaran seluruh otak merupakan antarhubungan yang spontan, berkaitan dengan peristiwa-peristiwa belajar, yang berhubungan dengan semua pusat di otak. Ini melibatkan proses pikiran, emosi, dan jasmani yang menghasilkan perubahan permanen dalam keterampilan, sikap, dan perilaku, karena pembelajaran semacam itu tidak dangkal tetapi sepenuhnya diinternalisasi.
Menurut Ginnis (2007), ada beberapa pedoman yang merupakan kunci untuk pembentukan konsep dan pemahaman yang terinternalisasi, yaitu :
1. Dorong peserta didik untuk menemukan dan mengerjakan hal-hal untuk mereka sendiri
2. Dorong peserta didik untuk menyampaikan ide
3. Sudut pandang dan cara yang berbeda bisa bertemu pada tujuan yang sama
4. Sediakan umpan balik yang interaktif, spesifik, langsung, dan menyenangkan.
Selain pedoman dari Ginnis tersebut, Jensen menambahkan bahwa untuk memanfaatkan kinerja dari peta koneksi maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu :
1. menggunakan pra-pemaparan untuk memancing korteks otak bekerja, yaitu mendeteksi dan menciptakan pola makna dari materi yang akan dipelajari dengan dunia personal si pembelajar yang unik. Pra-pemaparan yang paling optimal adalah yang menggunakan stimulus visual, misalnya dengan menggunakan peta pikiran maupun latihan visualisasi.
2. meningkatkan proses pembelajaran dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan (materi/keterampilan) yang sebelumnya, karena ketika pengetahuan lama diaktifkan maka otak cenderung untuk membangun jembatan makna dengan membuat koneksi antara kedua pengetahuan tersebut.
3. tujuan belajar yang baik adalah jika diciptakan oleh pembelajar, konkret, spesifik, mempunyai rentang waktu tertentu, dapat diukur melalui self asessment, dan dapat disesuaikan/dikaji ulang oleh si pembelajar secara periodik.
4. melatih pemecahan masalah secara mandiri

d. Pemanfaatan Siklus
Kinerja kedua belah otak secara terus menerus akan mengalami siklus kerja, yaitu jika selama kurang lebih 90 menit otak kanan aktif bekerja maka otak kiri akan lebih banyak berada pada posisi beristirahat, demikian juga sebaliknya. Kata istirahat yang sudah tercantum di atas bukan berarti bahwa otak sama sekali tidak bekerja, hanya saja prosesnya lebih lambat. Penjelasan mengenai hal ini dapat diperoleh dengan mengetahui bahwa kinerja otak yang dalam hal ini adalah interkoneksi antar sel menyebabkan adanya yang disebut dengan gelombang otak dan dapat dilihat dari rekaman EEG.
Ada empat jenis gelombang otak : pertama, Beta (12 – 38 Hz). Pada kondisi gelombang beta yang dominan, seseorang berada dalam kesadaran penuh dengan pikiran sadar yang sangat dominan sehingga dia mampu mengerjakan beberapa kegiatan dalam waktu yang bersamaan seperti mengendarai mobil sampil bernyanyi dan mendengarkan musik. Kondisi beta akan secara otomatis berganti ke gelombang Alpha setelah otak bekerja keras selama 7 – 10 menit. Kedua, Alpha (8 – 12 Hz) di mana seseorang dalam keadaan rileks dan fokus pada satu kegiatan saja. Kondisi Alpha-Beta adalah kondisi manusia sehari-hari jika berada dalam kesadaran.
Gelombang ketiga adalah Theta (4 – 8 Hz), yaitu kondisi tidur dan bermimpi. Kondisi theta juga dapat dicapai jika menggunakan hipnosis dalam tingkatan sedang. Pada kondisi ini seseorang akan bisa diajak untuk mengingat sampai pada saat ia masih berada dalam janin. Sementara gelombang terakhir adalah Delta (0,5 – 4 Hz) di mana seseorang berada dalam kondisi tidur yang sangat pulas tanpa mimpi ataua berada dalam kondisi di hipnotis dengan tingkatan yang dalam. Pada kondisi di hipnotis dalam, seseorang dapat diajak untuk mengingat kehidupannya sebelum kelahirannya yang sekarang (past life regression).
Pengetahuan baru yang diperoleh pada saat otak berada dalam gelombang alpha maupun beta baru akan diperkuat pada saat tidur (dalam kondisi theta – delta) dan dimasukkan dalam ingatan jangka panjang jika otak menyimpulkan bahwa pengetahuan tersebut memang layak untuk disimpan demi kebutuhan di masa yang akan datang.
Selain fakta mengenai keberadaan gelombang otak, tubuh manusia secara umum juga mempunyai siklus aktivitas istirahat dasar yang sifatnya harian dan mingguan. Kenyataan bahwa siklus tubuh harian yang tidak tepat 24 jam sebagaimana waktu standar, maka konsekuensinya adalah kondisi prima seseorang akan bergeser minimal beberapa menit setiap harinya. Sementara konsekuensi dari siklus mingguan adalah adanya batas toleransi tubuh untuk bekerja keras, yaitu selama 7 hari.
Dengan mempertimbangkan keberadaan siklus tersebut maka implikasinya bagi proses pembelajaran adalah adanya beberapa strategi yang perlu dilakukan untuk dapat mengelola kondisi pembelajaran secara produktif, yaitu :
1. gunakan aktivitas yang bervariasi dalam suatu rentang waktu
2. menjaga agar suasana tetap hidup dan tidak monoton
3. bentuk ikatan sosial yang positif
4. menyediakan lingkungan yang aman secara emosional
5. gunakan media yang bersifat multimodalitas
6. berlatih untuk fokus dengan visualisasi, auditory, atau dengan sensory lainnya
7. mendorong pembelajar untuk mengajar

“Menuangkan Pembelajaran Berbasis Kinerja Otak dalam Rencana Kegiatan PAUD dan SD”

By Yanti Depe on November 11th, 2009

“Menuangkan Pembelajaran Berbasis Kinerja Otak dalam Rencana Kegiatan PAUD dan SD”

Review :

Banyaknya bukti yang sekarang muncul mengenai belajar dan perkembangan otak menghasilkan suatu gerakan menuju praktik pendidikan yang mendukung pemahaman intuitif sebelumnya tentang belajar melalui keterlibatan langsung dengan aktivitas. Beberapa riset sudah menunjukkan bahwa janin yang masih berada dalam kandungan pun sudah belajar secara intens mengenai dunia di luar. Ketika dilahirkan ia secara otomatis memodifikasi struktur neurologis dan lain-lainnya untuk merespons berbagai data yang diperolehnya dari lingkungan. Itulah sebabnya beberapa penelitian mengatakan bahwa pada saat dilahirkan bayi kehilangan sejumlah sel dalam otaknya karena hanya neuron yang dirangsang sajalah yang akan bertahan hidup (Jensen, 2008).

Koneksi antara sel-sel yang tercipta sebagai hasil dari pengalaman membentuk peta kognitif yang sifatnya sangat personal. Pembelajaran terjadi ketika peta-peta ini atau jaringan-jaringan itu saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Semakin terkoneksi jaringan-jaringan tersebut maka semakin besar pemaknaan yang diperoleh seseorang dari proses pembelajarannya. Itulah sebabnya kenapa konsep-konsep yang sama sekali baru pada awalnya sulit sekali untuk dicerna; jaringan yang sudah ada perlu waktu untuk berekspansi guna mendukung asosiasi baru tersebut (Jensen, 2008). Dengan demikian, pembelajaran, jika ditinjau dari bidang neurosains, merupakan modifikasi respons terhadap rangsangan sepanjang waktu (Dennison, 2008).

Apa saja yang akan diperoleh dengan mengikuti workshop ini?
1. Standar kompetensi terbaru
2. Tahap-tahap perkembangan anak dari berbagai teori
3. Alur pembuatan program pendidikan anak usia dini

Pembicara :
Yanti Dewi Purwanti, S.Psi (Kepala Sekolah Berprestasi/Berdedikasi Tingkat Nasional, Tahun 2009, Kelompok TK)

Waktu :
14 November 2009 pukul 09:00 – 17:00 wib di Bintang Bangsaku (Benhil – Jakpus)
21 November 2009 pukul 09.00 – 17.00 WIB di Schema (Depok – Jabar)

Biaya : Rp 100.000,00/orang (Diskon per 3 orang dari lembaga yang sama, cukup membayar Rp 250.000,00)

Fasilitas : Makalah, Snack, Makan Siang, dan Sertifikat

Seluruh peserta seminar maupun workshop yang diadakan oleh Schema maupun Bintang Bangsaku akan memperoleh lebih dari 2000 ebook mengenai anak, keluarga, dan pendidikan …

Sasaran : Orang tua dan Praktisi Pendidikan

Catatan :
- Peserta dibatasi maks. 25 orang
- Pendaftaran ditutup H-1

Pembayaran : Cash or Transfer
- Cash : Sekolah Bintang Bangsaku
- Cash : SCHEMA
- Transfer via Niaga Cab. Pondok Indah : 017-0133-6011-30
(a.n. Irma Sukma Dewi)
- Transfer via BCA Cab. Cilandak KKO : 733-0745-65-1
(a.n. Irma Sukma Dewi)

Contact :
- Sekolah Bintang Bangsaku : 021-571 95 25
- SCHEMA : 021-77 88 34 33
- Pipit : 0813 89 58 89 90

profil pembicara

Nama : Yanti Dewi Purwanti

Pendidikan : S1 Psikologi UGM

Jabatan : Kepala Sekolah Bintang Bangsaku

Prestasi :

  • Peringkat I Kepala Sekolah Berprestasi (Taman Kanak-Kanak) Tingkat Kecamatan Tanah Abang 2009
  • Peringkat I Kepala Sekolah Berprestasi (Taman Kanak-Kanak) Tingkat Kota Administratif Jakarta Pusat 2009
  • Peringkat I Kepala Sekolah Berprestasi (Taman Kanak-Kanak) Tingkat Propinsi DKI Jakarta 2009
  • Peringkat I Kepala Sekolah Berprestasi (Taman Kanak-Kanak) Tingkat Nasional, 2009

Pelatihan / Seminar :

a. sebagai pelatih/penyaji/narasumber

  1. 2009    Prinsip dasar Brain Based Learning dalam PAUD
  2. 2009    Pengelolaan PAUD Inklusi
  3. 2009     Menuangkan Brain Based Learning dalam Rencana Belajar PAUD
  4. 2009 Pencapaian Titik Hening
  5. 2009    The Miracle’s of Our Children’s Brain
  6. 2009    Planting The Good Seed
  7. 2009    Brain Gym
  8. 2009    Seni Hipnosis dalam Bidang Pendidikan (Hipnoteaching)
  9. 2009    Strategi Membantu Anak dalam Memahami Pelajaran
  10. 2009    Pendampingan Anak Khusus
  11. 2008    Team Building untuk Staf Penelitian Litbang Kompas (Tim yang Bervisi)
  12. 2009    Pengelolaan PAUD Inklusi
  13. 2009    Menciptakan Kelas Inklusif dan Ramah Terhadap Peserta Didik
  14. 2008    Sistem Pendidikan Nasional
  15. 2007    Pendidikan Anak Usia Dini
  16. 2007    Kiat-Kiat Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah Dasar
  17. 2009    Successful Teaching (conference)
  18. 2007   “Roda Cerdas Keliling Kota”

b. sebagai peserta

  1. 2009     Brain Gym 101
  2. 2009     “Bisa ngga sih, guru jadi tempat curhat?”
  3. 2009    Unleash your Teaching POWER
  4. 2009    Hypnotherapy Klinis
  5. 2009     Hypnoteaching with NLP
  6. 2009    Teaching Spirit
  7. 2009 Psychology of Teaching
  8. 2009    Pelatihan Intensif Pendamping Anak Berkebutuhan Khusus
  9. 2009    Seminar Sekolah Inklusi
  10. 2008    One – Day Workshop Kenali Diri Melalui Analisa Tulisan Tangan
  11. 2008    Intervensi untuk Remaja Asperger Syndrome : Cerita Sosial dan Modifikasi Perilaku
  12. 2008    Program Modifikasi Perilaku untuk Meningkatkan Motivasi Belajar pada Anak Underachiever
  13. 2008    Belajar Melalui Tari untuk Anak Usia Dini : di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar
  14. 2007    Mengenal Anak Berkesulitan Belajar dan Gaya Belajarnya
  15. 2007    Deteksi Dini Autisme di Sekolah dan Pengenalan Berbagai Jenis Terapinya
  16. 2007    Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk Anak
  17. 2007    Mengenal Proses Belajar Mengajar & Permasalahan Siswa Sekolah Dasar
  18. 2007    Mengenali Arah Kembang Karir Anak Sejak Dini
  19. 2007    Sekolah Nasional Bertaraf Internasional
  20. 2004    Seminar Bergerak, Bertutur dan Belajar Suatu Pendekatan Fisioterapi dan Terapi Wicara
  21. 2004    Workshop Merakit PC dan atau Demo Membangun Jaringan Wifi
  22. 2004    What you can do when your child or your student shows hyperactive behavior?
  23. 2004    “Menyongsong Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Kecerdasan Jamak di Masa Depan”
  24. 2004    Seminar The Rainbow Class “Torey Hayden’s Experiences in Teaching Children with Special Needs”
  25. 2003    Program Pengembangan Eksekutif “Manajemen Keuangan untuk Eksekutif Non Keuangan Bidang Jasa”
  26. 2003    Working with children with special needs
  27. 2003     Who am I at PRH
  28. 2002     Outing Plus at  SKB Penjernihan
  29. 2001     Personality Plus at Gramedia Magazine Group
  30. 2000    Newborn at Gramedia Magazine Group

Daftar Tulisan tentang SBB

  1. Mengapa SBB tidak Punya Sudut Kegiatan?
  2. Laskar Pelangi
  3. Pendekatan Pembelajaran SBB
  4. Badai Psti Berlalu
  5. Memilih Sekolah
  6. Indahnya Berbagi
  7. Doa, Rutinitas, dan Bahasa
  8. Contoh Rencana Aktivitas TK-B

Daftar Tulisan tentang Anak

  1. Teknik Meredakan Emosi Anak
  2. Beberapa Prinsip Percakapan dengan Anak
  3. Mengatur Uang Saku
  4. Menanamkan Kedisiplinan pada Anak
  5. Salah Siapa?
  6. Sehat dan Normal, Salah Satu Syarat Masuk SD
  7. Bersekolah di Usia yang Masih Sangat Muda
  8. Mengajarkan Matematika
  9. Domestic Violence
  10. Konsultasi Belajar
  11. Hati-hati Memilih Sekolah dan Buku Pelajaran
  12. Memahami Anak
  13. Ketika Anak Berselisih
  14. Pelajaran Membaca dan Menulis di TK
  15. Anak Berkebutuhan Khusus
  16. Untuk anak berusia 2 tahun
  17. Tentang Membaca, lagi
  18. Menghapal Perkalian
  19. Mengenai Bahasa Inggris
  20. Menulis
  21. Minggu Pertama di SD
  22. Bagi Waktu
  23. Kita dan Konsistensi
  24. Tentang Pornografi
  25. Pendidikan Etika
  26. Dasar-dasar menjadi Orang Tua yang Efektif
  27. Hati
  28. Ekspresi Emosi
  29. Pola Emosi
  30. Anak saya termasuk berkebutuhan khusus?

Daftar Tulisan bidang Psikologi

  1. “Konsep Diri Perempuan Marginal”, in Jurnal Psikologi, Psychology Faculty, Gadjah Mada University
  2. Konsep Diri Positif dan Konsep Diri Negatif
  3. Konsep Diri
  4. Aspek-aspek dalam Konsep Diri
  5. Perkembangan Konsep Diri
  6. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Konsep Diri
  7. Sekilas Psikologi

Daftar Tulisan bidang Pendidikan

  1. Lembaga TK dalam Sisdiknas
  2. Kriteria Lembaga Pendidikan yang Tepat
  3. Landasan Dasar PAUD
  4. Outbound Training? Mengapa menggunakan tanda Tanya?
  5. Prinsip Penggalian Tema
  6. Online Learning
  7. Pelatihan Guru PAUD