Posts Tagged ‘bintang bangsaku’

Bintang Bangsaku, Inklusi, dan BBL

By Yanti Depe on November 22nd, 2009

Kebijakan untuk menjadikan TK Bintang Bangsaku sebagai sebuah institusi pendidikan anak usia dini yang bersifat inklusif merupakan kelanjutan dari idealisme awal dari para pendiri sejak masih bernama Sanggar Kreativitas Bobo Cabang Penjernihan di tahun 2002. Idealisme yang tetap kami pertahankan sampai sekarang, yaitu “Pendidikan untuk Semua”.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, Bintang Bangsaku tidak hanya menerima anak-anak biasa dari keluarga yang normal, tetapi juga menerima anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu maupun anak-anak penyandang predikat “Anak Berkebutuhan Khusus” yang sifatnya permanen, mulai dari tunarungu, low vision, down syndrome, bahkan sampai brain damage atau cerebral palsy. Tidak hanya itu, pintu gerbang Bintang Bangsaku juga terbuka lebar-lebar untuk anak-anak jalanan. Mereka, kami ajak bermain sembari menanamkan nilai-nilai moral dan etika dalam hidup bermasyarakat.

Saat ini, perjuangan kami untuk dapat membimbing anak-anak khusus tersebut tidaklah seberat tahun-tahun pertama. Pada saat itu, selain harus menghadapi si anak khusus, kami juga harus dapat menyakinkan orang tua siswa yang lain untuk juga dapat menerima anak-anak tersebut.

Tidak sedikit orang tua yang mendatangi penulis dan mengancam mengeluarkan anaknya jika si khusus masih tetap ditempatkan di kelas yang sama. Tidak jarang juga orang tua yang mengajukan kekhawatirannya mengenai perilaku si khusus yang mungkin akan ”menular” pada anaknya. Menular di sini dalam arti ditiru oleh anak-anak lain. Penulis, yang waktu itu sebagai kepala sanggar, mengatakan pada mereka bahwa SKB Penjernihan (sekarang TK Bintang Bangsaku) tidak pernah mengeluarkan siswa dengan alasan apa pun.

Saya jelaskan pada para orang tua bahwa dengan kehadiran si khusus, anak-anak yang normal justru berlatih nyata untuk dapat berempati dan mengasihi tanpa syarat. Mereka belajar membimbing. Mereka belajar berbagi. Mereka juga belajar mengalah. Sementara untuk si khusus, keberadaan mereka bersama teman-teman sebaya akan sangat membantu motivasinya untuk belajar bersosialisasi agar dapat diterima oleh teman-temannya. Pada orang tua murid tersebut, penulis juga menjelaskan bahwa dinamika yang terjadi di kelas menunjukkan bahwa rasa aman dan kehangatan sangat mewarnai suasana belajar. Si autis jadi bisa ikut bermain, si disphasia/aphasia mencoba untuk berkomunikasi dengan keterbatasan bahasanya, di speech delay dapat berbicara dengan normal, si ADHD/ADD dapat diingatkan untuk tidak sibuk, si down syndrome mulai belajar makan dan minum sendiri. Sementara anak-anak yang lain sibuk menjadi pengawal atau pembimbing si khusus.

Penulis memahami bahwa untuk memaknai, menghayati, dan menindaklanjuti kenyataan bahwa sekolah dengan pendekatan yang inklusif dapat menghasilkan lulusan yang berkarakter kuat memang tidaklah mudah. Diperlukan adanya kesadaran bahwa dalam lingkungan masyarakat inklusif, kita harus siap untuk mengubah dan menyesuaikan sistem, lingkungan, dan aktivitas yang berkaitan dengan semua orang lain serta mempertimbangkan kebutuhan semua orang.

Salah satu komponen dalam sistem yang menjadi kendala adalah tidak adanya metode atau program yang sangat lengkap sehingga cocok bagi semua peserta didik atau semua guru reguler ataupun guru pendidikan kebutuhan khusus. Sebenarnya, metode atau program tersebut merupakan kewajiban dan kebebasan profesional dari setiap guru dan guru pendidikan kebutuhan khusus untuk menciptakan dan mengembangkan khasanahnya sendiri untuk dipergunakan dalam membuat dan merevisi. Kewajiban dan kebebasan yang menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan sensitivitas dari seluruh elemen yang mendukung sekolah sebagai suatu sistem organisasi pembelajar yang terdiri dari berbagai macam komponen.

Salah satu inovasi pembelajaran yang dapat membantu guru-guru yang belum memiliki pengetahuan yang khusus mengenai pendidikan inklusi agar dapat keluar dari kebingungannya adalah dengan pembelajaran yang berdasarkan pada kinerja otak (Brain Based Learning/BBL), di mana pemahaman mengenai bagaimana cara otak manusia bekerja menjadi dasar bagi penyusunan kurikulum, metode pembelajaran, media dan sumber belajar, bahkan juga menjadi dasar bagi sistem penilaian hasil belajar peserta didik.

Pendekatan BBL sangat mudah dilakukan dan sekaligus sangat lentur, karena prinsipnya yang sederhana, yaitu semua manusia adalah pembelajar yang alami. Selain fleksibilitas tersebut, sistem pembelajaran BBL dapat menjadi pilihan karena pada dasarnya hampir semua sistem pembelajaran yang selama ini dikenal dapat secara efektif mengoptimalkan kemampuan belajar peserta didik ternyata dapat terjadi karena apa yang dilakukan sudah sesuai dengan tuntutan dari kinerja otak manusia.

Contohnya, pendekatan experiential learning (EL), yang mengutamakan adanya pengalaman langsung pada si pembelajar untuk dapat memahami suatu materi baru, dapat berhasil karena pada dasarnya otak manusia bersifat plastis dan selalu berubah peta jalur jejaringnya sejauh intensitas pengalamannya. Pendekatan Problem Based Learning (PBL) yang menekankan terjadinya proses tantangan untuk memecahkan masalah secara kolaboratif maupun individual, bagi otak seperti sedang melakukan senam aerobik (Jensen, 2009). Proses pemecahan masalah akan menyebabkan pembentukan sinaps, mengaktifkan neurotransmitter, dan meningkatkan aliran darah. Konsekuensinya, pendekatan dengan sistem PBL akan menyebabkan proses terjadinya penambahan jalur dalam jejaring neuron dalam otak. Selain EL dan PBL, pendekatan hypnoteaching yang dikenalkan oleh pakar Neuro Linguistic Programme (NLP) sejalan dengan kenyataan bahwa seluruh proses berpikir, emosi, dan bahkan spiritual terletak pada upayanya dalam memanfaatkan berbagai gelombang yang ditimbulkan oleh kinerja dari masing-masing jejaring peta neuron tersebut. Mirip dengan hypnoteaching, pendekatan terbaru yang disebut Power Teaching dengan Micro Lecturer ternyata dapat berhasil karena memanfaatkan Basic Rest Activity Cycle yang terdapat di otak manusia.

Beragam pendekatan yang ternyata berujung pemanfaatan kinerja otak untuk mengefektifkan proses pembelajaran, menimbulkan keyakinan pada diri penulis bahwa pemahaman mengenai diri pembelajar dapat dijembatani melalui pemahaman mengenai kinerja otak manusia. Pemahaman tersebut yang menjadi dasar dalam menyusun program pendidikan yang fleksibel sehingga dapat sesuai untuk masing-masing peserta didik, baik secara individual maupun kelompok, dan baik yang berkebutuhan khusus maupun yang normal.

Berdasarkan pada pemahaman tersebut, gambaran mengenai bagaimana sebenarnya seorang anak belajar dan bagaimana pengaruh kinerja otak dalam proses pembelajarannya perlu dipahami secara utuh dan mendalam agar sekolah benar-benar dapat menyediakan sarana prasarana, menyusun kurikulum, memilih teknik pembelajaran, menetapkan peraturan, menyesuaikan sistem administrasi demi memenuhi kebutuhan semua pihak. Sementara itu, pemahaman mengenai inklusifitas akan meletakkan dasar yang netral dan tidak bias bagi pendidik maupun kepala sekolah sebagai unsur penting dalam pengambilan kebijakan sistem ketika akan menentukan bagaimana manajemen sekolah maupun manajemen kelas dijalankan.

Berdasarkan berbagai pemikiran dan upaya menjawab tantangan untuk dapat menyediakan wadah bagi ramah pembelajaran bagi semua kalangan, maka, aplikasi pendidikan inklusi berdasarkan pada prinsip kerja otak di Bintang Bangsaku adalah sebagai berikut: bermakna dan berdasarkan realita, aktif, menyenangkan, dan dapat diaplikasi walaupun dalam bentuk simulasi; multimodalitas, terintegrasi dan bertema; bersifat multi-kultural dan bebas bias; menggunakan umpan balik yang positif; memperhitungkan waktu yang tepat, sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan masing-masing anak. Sementara itu, secara umum, sebagai sebuah sistem, sebaiknya sekolah berpegang pada beberapa pedoman berikut ini untuk menciptakan lingkungan inklusif dan menggunakan pembelajaran yang berbasis kinerja otak, yaitu ;

• Kebijakan sekolah dan dukungan administrasi yang memiliki visi dan misi yang mengisyaratkan tentang pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan tidak bias sehingga anak dari beragam latar belakang dan kemampuan mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar serta mengekspresikan dirinya di kelas maupun di sekolah.

• Kurikulum secara fleksibel dapat dimodifikasi dan diadaptasikan menurut tingkat dan gaya belajar yang berbeda.

• Lingkungan sekolah yang memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam dan memberikan berbagai pengalaman dengan orang tua, masyarakat, dan guru-guru dari sekolah lain.

• Orang tua dan masyarakat sekitar mengetahui keberadaan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah pembelajaran serta dapat mengajukan gagasan.

• Guru dan karyawan menghayati beberapa rambu, yaitu :

1. Bekerja sama dengan tim, yaitu dengan cara: menggunakan sebanyak-banyaknya referensi dari para guru dan terapis yang terkait, psikolog, dokter anak serta dokter lain yang terlibat; mendiskusikan tujuan pembelajaran siswa dan manajemen kelas dengan pihak terkait.

2. Beberapa hal yang harus dilakukan saat perencanaan: mempelajari dengan seksama kurikulum dan perangkat lain yang sudah berlaku dan menjadi SOP di sekolah serta memahami rutinitas harian, baik dalam kelas maupun di sekolah; memperhatikan detail segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan fisik kelas dan sekolah

3. Beberapa hal yang harus dilakukan saat pelaksanaan: menunjukkan rasa hormat pada siswa, orang tua, sesama guru, dan para pihak yang terkait/berkepentingan dengan sekolah; berusaha untuk dapat selalu sistematis, dan terorganisir dalam bekerja; menggunakan reward, bukan hukuman, yaitu menghargai perilaku baik yang ditunjukkan oleh semua pihak; jika diijinkan, libatkan teman-teman sekelas untuk membantu siswa yang berkebutuhan khusus; membangun hubungan yang positif, mendorong bukan mengendalikan; menggunakan pertanyaan untuk melibatkan siswa, bukan menggunakan kalimat perintah; menggunakan contoh-contoh dari pengalaman siswa, bukan pengalaman guru karena guru bukan yang terbaik, hanya sedang menuju menjadi lebih baik.

Salam,

Yanti D.P.

Aplikasi Pendidikan Inklusi di TK Bintang Bangsaku.

By Yanti Depe on May 19th, 2009

Berdasarkan berbagai pemikiran dan upaya menjawab tantangan untuk dapat menyediakan wadah bagi semua anak, dan juga karena :

· pendidikan lebih dari sekedar proses akademis. Kapasitas kognisi, afeksi, dan konasi perlu dikembangkan dan kita perlu menggunakan semua kekuatan dan preferensi anak untuk membantunya mencapai aktualisasi diri,

· anak belajar secara modelling,

· memisahkan anak dari lingkungannya = tidak menyiapkannya untuk hidup dalam kehidupan nyata,

· mengabaikan anak yang berbeda bukanlah sebuah kebijaksanaan, dan

· pendidikan inklusi adalah pendekatan yang dapat lebih diterima dari sudut pandang moral dan hak asasi manusia

maka, aplikasi pendidikan inklusi di Bintang Bangsaku berdasarkan pada prinsip sebagai berikut :

Bermakna dan berdasarkan realita

Bersifat multi-kultural dan bebas bias

Terintegrasi dan bertema

Aktif dan dapat diaplikasi walaupun dalam bentuk simulasi.

Multimodalitas

Umpan balik yang positif

Waktu yang tepat


Sebagai sebuah sistem, Bintang Bangsaku sudah melaksanakan beberapa hal berikut ini untuk menciptakan lingkungan inklusif dan ramah terhadap pembelajaran, sesuai dengan yang disarankan oleh UNESCO (2007) :

1. Kebijakan sekolah dan dukungan administrasi

a. Memiliki visi dan misi yang mengisyaratkan tentang pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan tidak bias.

b. Melaksanakan sosialisasi secara terus menerus kepada orang tua yang menekankan bahwa semua anak akan diterima dengan tangan terbuka dan kelapangan dada.

c. Memiliki dokumen-dokumen penting mengenai pendidikan inklusif untuk anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam.

d. Menjalin hubungan baik dengan berbagai lembaga rujukan.

e. Menunjukkan dengan cara khusus bahwa pengelola sekolah dan guru memahami sifat dan kepentingan pendidikan inklusif.

f. Menyadari dan fleksibel dalam kebijakan sekolah dan pelaksanaannya – baik dalam hal biaya dan jadwal harian demi memperoleh pendidikan yang berkualitas

g. Memberikan keleluasaan kepada guru untuk menggunakan metode pembelajaran yang kreatif, inovatif dalam membantu anak belajar

h. Merespon kebutuhan staf, baik pengajar maupun karyawan operasional

i. Memiliki mekanisme mentoring, pendukung, supervisi bagi setiap orang

2. Lingkungan sekolah

a. Memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam

b. Memiliki lingkungan yang bersih, sehat, dan terbuka

c. Mempunyai persediaan air minum yang bersih, terjamin kesehatannya, dan menyediakan atau menjual makanan yang sehat serta bergizi

d. Mempunyai psikolog dan terapis yang dapat mengidentifikasi kebutuhan dan membantu penanganan semua anak

e. Memiliki tata cara dan prosedur yang sesuai untuk memudahkan seluruh elemen sekolah bekerja sama dalam mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan semua orang

f. Fokus pada kerja tim, bukan pada prestasi individual

g. Menjalin kerja sama dengan dokter anak dan dokter gigi untuk memberikan pemeriksaan kesehatan secara periodik bagi semua anak.

3. Keterampilan, pengetahuan, dan sikap guru

a. Dapat menjelaskan makna pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan dapat memberikan contoh pelaksanaannya.

b. Meyakini bahwa setiap anak, bahkan setiap individu, memiliki hak atas kesempatan yang sama dalam hal belajar.

c. Mengetahui tentang penyakit yang dapat mengakibatkan kelainan fisik, emosi, dan belajar sehingga dapat membantu anak untuk mendapat pelayanan yang tepat.

d. Mempunyai harapan yang tinggi terhadap semua anak dan membantu semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan pendidikannya

e. Menyadari sumber daya yang ada untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus.

f. Mengidentifikasi dan menghindari adanya bias-bias dalam kurikulum, lingkungan sekolah, dan proses pembelajaran.

g. Mampu melakukan berbagai metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.

h. Terbuka terhadap perubahan dan mampu melakukan refleksi .

i. Mampu bekerja sama dalam tim.

4. Peningkatan kompetensi guru

a. Mengikuti secara aktif berbagai lokakatya dan pelatihan tentang pengembangan kelas dan sekolah inklusif dan ramah pembelajaran.

b. Memberikan dan berbagai pengalaman dengan orang tua, masyarakat, dan guru-guru dari sekolah lain mengenai pelaksanaan pendidikan inklusi di Bintang Bangsaku.

c. Meningkatkan pengetahuannya dalam memahami berbagai tema yang tercantum di kurikulum sehingga dapat lebih luwes dalam pelaksanaan proses pembelajarannya dan dapat dimengerti oleh semua anak.

d. Memiliki ruang kerja bersama dan kesempatan-kesempatan untuk melakukan case conference sehingga dapat bertukar gagasan

5. Peserta didik

a. Semua peserta didik bersekolah secara reguler

b. Semua anak memiliki akses ke bahan dan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya

c. Semua peserta didik mendapatkan informasi penilaian hasil belajar secara berkala

d. Anak dari beragam latar belakang dan kemampuan mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dan mengekspresikan dirinya di kelas dan di sekolah

e. Semua anak diperhatikan, baik dalam kondisi biasa maupun jika menunjukkan ketidakbiasaan di saat kehadirannya

f. Semua anak berkesempatan untuk mengikuti aktivitas yang diselenggarakan

g. Semua peserta didik berkesempatan untuk mendiskusikan dan menetapkan aturan main di dalam kelas maupun di sekolah.

6. Isi kurikulum dan penilaian

a. Struktur kurikulum memperkenankan metode pembelajaran dan gaya belajar yang berbeda, seperti diskusi, bermain peran, atau permainan.

b. Isi kurikulum memiliki kaitan erat dengan kehidupan sehari-hari semua peserta didik

c. Kurikulum mengintegrasikan baca, tulis, hitung dan kecakapan hidup di seluruh tema

d. Guru dapat menggunakan lingkungan dan sumber daya yang tersedia untuk membantu peserta didik dalam belajar

e. Materi dan media belajar yang bebas bias

f. Kurikulum secara fleksibel dapat dimodifikasi dan diadaptasikan menurut tingkat dan gaya belajar yang berbeda

g. Anak berkesulitan belajar memiliki kesempatan untuk meninjau kembali dan memperbaiki pelajarannya

h. Anak mengembangkan sikap saling menghormati, toleransi, dan etika bermasyarakat

i. Guru menyajikan penilaian yang berupa sensory based description, tidak bersifat interpretatif dan tidak mengandalkan angka atau pelabelan untuk menilai hasil belajar anak.

7. Bidang pelajaran khusus/aktivitas ekstrakurikuler

a. Semua anak yang berkebutuhan khusus memperoleh akses untuk mendapatkan terapi yang sesuai kebutuhannya.

b. Sekolah menghargai dan memberikan kesempatan pada setiap anak untuk mempelajari dan menjalankan agamanya.

c. Sekolah menghargai perbedaan bahasa, suku, dan budaya masing-masing anak.

8. Masyarakat

a. Orang tua dan masyarakat sekitar mengetahui keberadaan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah pembelajaran.

b. Orang tua dan masyarakat dapat mengajukan gagasan mengenai penyempurnaan pelaksanaan pendidikan inklusif.

c. Orang tua menerima informasi mengenai kehadiran dan perkembangan kemampuan masing-masing anaknya.

Selain beberapa rambu yang telah disarankan oleh UNESCO tersebut, ada beberapa rambu pembimbingan yang wajib dihayati oleh para guru Bintang Bangsaku, yaitu :

Satu Mengajar, Satu Mendampingi di mana salah satu berperan sebagai edukator utama sementara yang lain membantu proses belajar siswa. Sebenarnya simpel, tetapi seringkali jadi terjebak dengan adanya “kasta” yang menghambat seorang asisten mengembangkan kemampuan mengajarnya secara optimal. Agar dapat bekerja sama dengan lebih setara sebaiknya dilakukan diskusi untuk membuat kesepakatan bersama mengenai fungsi dan tugas masing-masing dengan mempertimbangkan kelebihan si edukator utama dan pendampingnya. Model pendekatan Co-Teaching ini merupakan sebuah gabungan kekuatan yang merupakan bentuk kolaborasi antara guru khusus dengan guru wali yang akan sangat membantu proses pembelajaran ABK dalam lingkup kelas reguler untuk mencapai kemampuan bahasa, sosial, akademis yang optimal dan juga menghadapi kehidupan nyata

Bekerja sama dengan tim, yaitu dengan cara :

Menggunakan sebanyak-banyaknya referensi dari para guru dan terapis yang terkait, psikolog, dokter anak serta dokter lain yang terlibat.

Mendiskusikan tujuan pembelajaran siswa yang didampingi pada guru kelas yang bertanggung jawab.

Mendiskusikan bagaimana mengelola kelas dan pembagian tugas yang paling menghormati kelebihan masing-masing guru.

Jika ada masalah, wajib menghubungi pihak yang terkait dan mencoba pecahkan masalah tersebut. Jika memang belum dapat selesaikan, wajib menghubungi rantai “komando” berikutnya. Demikian seterusnya sampai masalah selesai.

Beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum memulai pendampingan di kelas :

Pelajari dengan seksama kurikulum dan perangkat lain yang sudah berlaku dan menjadi SOP di sekolah

Pelajari dan pahami rutinitas harian, baik dalam kelas maupun di sekolah

Perhatikan detail segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan fisik kelas dan sekolah

Perhatikan dan taati aturan main di sekolah (tata tertib)

Gunakan sebuah daftar untuk melihat apakah seluruh lingkungan, baik fisik maupun sosial, sudah teramati dan dipelajari dengan baik.

Beberapa langkah yang harus dilakukan saat pendampingan di kelas :

- Guru adalah menjadi model perilaku, penggunaan bahasa, dan kode etik bagi siswa-siswanya, di manapun dan kapanpun.

- Tetap tenang walaupun sedang bergejolak.

- Menunjukkan rasa hormat pada siswa, orang tua, sesama guru, dan para pihak yang terkait/berkepentingan dengan sekolah.

- Berusaha untuk dapat selalu rapi , sistematis, dan terorganisir dalam bekerja. Hal ini menghindarkan Anda dari masalah-masalah yang tidak perlu.

- Menunjukkan rasa bersyukur atas segala yang diperoleh dan optimis akan apa yang akan diperoleh.

- Menggunakan reward, bukan hukuman, yaitu menghargai perilaku baik yang ditunjukkan oleh semua pihak

- Mendiskusikan pada guru yang menjadi penanggung jawab kelas mengenai aturan main, jadwal, rencana modifikasi perilaku, dan bersama-sama meng-evaluasi kemajuan perkembangan siswa

- Jika diijinkan, libatkan teman-teman sekelas untuk membantu siswa yang berkebutuhan khusus

Berpasangan (peer tutoring)

Tim (collaborative team)

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan perilaku positif siswa:

Tegas dan tidak emosional

Menggunakan suara/intonasi rendah

Menggambarkan/contohkan perilaku yang ingin anda lihat dari siswa anda

Menggunakan kata “mulai” bukan “berhenti”

Menggunakan kata “Mau … Ya … dulu” bukan “Jangan!”

Satu permintaan dulu diselesaikan, baru yang berikutnya

Menggunakan teguran di balik penghargaan

Konsisten

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan saat menghadapi konflik:

Mengamati dan putuskan kapan waktu yang tepat untuk intervensi. Ajukan pertanyaan pada diri sendiri : Ada apa? Siapa saja yang terlibat? Apa yang saya tahu tentang mereka? Seberapa membahayakan konflik yang sedang terjadi? Apakah intervensi saya akan membuat mereka merasa terancam?

Tetap tenang dan sabar. Tugas Anda adalah meredakan konflik, bukan menyelesaikan atau menambah konflik.

Menggali akar masalah konflik

Jika memungkinkan, pisahkan dari penonton. Jika tidak, lakukan sesuatu yang memecah perhatian penonton dan secara perlahan-lahan tetapkan batas area konflik.

Mengajak siswa untuk menumpahkan perasaannya menggunakan kata-kata, jika masih non verbal, ijinkan ia menumpahkan perasaannya dengan caranya sendiri selama tidak melukai dirinya atau orang lain.

Mendorong siswa untuk menemukan pemecahan masalahnya sendiri.

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan komunikasi yang interaktif dan positif:

Membangun hubungan yang positif

Mendorong bukan mengendalikan

Memanggil nama kesukaan siswa, bukan pilihan guru

Berbicara secara santun

Menggunakan pertanyaan untuk melibatkan siswa, bukan menggunakan kalimat perintah

Menggunakan contoh-contoh dari pengalaman siswa, bukan pengalaman guru karena guru bukan yang terbaik, hanya sedang menuju menjadi lebih baik.

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan jika siswa marah pada guru:

Tetap tenang

Bertindak secara asertif, bukan agresif

Mengetahui apa yang menjadi masalahnya

Mengklarifikasikan dugaan guru tersebut

Menawarkan untuk berbicara, sekarang atau nanti tetap harus dibicarakan

Membantu siswa untuk tetap membuka diri dalam bernegosiasi

Tetap mengatakan bahwa guru percaya bahwa siswa dapat mengungkapkan perasaannya dengan cara yang lebih baik

Harapkan yang terbaik

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga profesionalisme:

Memperhatikan cara berpakaian

Menunjukkan komitmen Anda untuk membantu proses perkembangan Anak

Memperhatikan cara Anda berkomunikasi, baik itu pilihan kata, intonasi suara, maupun bahasa tubuh yang Anda tampilkan

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga rahasia siswa:

Ketika di luar sekolah, jangan pernah ungkapkan nama dan mengkaitkannya dengan “Murid saya”

Jika ada yang bertanya, persilakan ia untuk berhubungan langsung dengan pihak yang berwenang (guru kelas, koordinator guru, koordinator program, atau pimpinan sekolah) … Ingat tentang rantai “komando”

Jangan pernah menjadikan informasi tentang siswa sebagai bahan gosip atau canda.

Kenali masing-masing siswa dengan baik agar tidak terjadi kekeliruan.

Sementara itu, sebagai sebuah lembaga pendidikan anak usia dini yang bersifat inklusif dan ramah anak, Bintang Bangsaku, telah menerapkan beberapa hal berikut ini berdasarkan pada prinsip pembelajaran berbasis pada kinerja otak :

1. Melatih anak untuk berpikir secara terorganisasi (Langrehr, 2006), yaitu dengan cara mengenalkan anak bagaimana :

a. Mengamati sifat

b. Mengamati persamaan

c. Mengamati perbedaan

d. Mengelompokkan hal-hal yang serupa

e. Mengenali bagian yang tidak termasuk dalam suatu kategori

f. Membandingkan

g. Memilah berbagai hal menjadi kategori

h. Mengatur berbagai hal menurut ukuran, bentuk, warna, aroma, posisi, dan lain-lain

i. Mengatur berbagai hal menurut waktu

j. Menggeneralisasikan contoh

k. Meringkas secara verbal

l. Meringkas secara visual

m. Membuat keputusan

n. Mengenali hubungan sebab akibat

2. Melakukan berbagai teknik pengajaran yang terstruktur dan dapat memenuhi kebutuhan masing-masing anak, sesuai dengan preferensi indera, preferensi kognitif, maupun berbagai potensi kecerdasannya.

3. Mengedepankan rasa nyaman, aman, dan kehangatan serta kematangan dan keterampilan fungsi motorik dibandingkan dengan upaya pembelajaran yang cenderung ke arah pengembangan kognitif.

4. Memperhatikan kebutuhan ruang masing-masing anak untuk dapat bergerak bebas dalam proses pembelajarannya.

5. Meminimalisir adanya pelabelan atau interpretasi subjektif atas perilaku yang ditunjukkan oleh peserta didik dengan cara menggunakan sensory based report.

6. Memprioritaskan penguasaan bahasa ibu sebelum pelatihan bahasa asing karena seluruh peserta didik Bintang Bangsaku bukan berasal dari kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar.

Yanti D.P.

Bintang Bangsaku

By Bintang Bangsaku on March 28th, 2008

Aku Bintang Bangsaku, senang bisa jadi bintang.

Bersama teman-teman, bermain riang.  Hore!

Tambah pintar, tambah senang.

Berbudi luhur.

Ayah ibu pasti senang, aku jadi Bintang.

Siapa mau? Siapa suka?

Raih Bintangmu!

Bersinar setiap waktu, Bintang Bangsaku!

Siapa Mau? Siapa Suka?

Raih Bintangmu, belajar jadi bintang, Bintang Bangsaku!