Archive for the ‘Ortu’ Category

Talk and share “Excellent Guide for Our Kids”

By Yanti Depe on February 5th, 2010

Ingin anak anda cerdas dan bahagia?

Orangtua dan pendidik adalah pendamping dalam masa perkembangan anak-anak. Komunikasi yang efektif akan meningkatkan kemampuan emosi sosial anak. Kinerja otak yang optimal akan menghasilkan perkembangan anak yang maksimal. Akan tetapi hal tersebut tidak akan berlangsung jika tidak ada kesadaran orangtua dan pendidik untuk melakukan evaluasi, apakah komunikasi yang berjalan selama ini sudah efektif? Bagaimana mengatasi masalah-masalah yang sering terjadi pada masa anak-anak? apakah kinerja otak anak kita sudah maksimal? Bagaimana caranya agar kinerja otak anak optimal??

Schema present :

Talk and share “ Excellent Guide for Our Kids”
Sabtu, 20 Februari 2010
09.00 wib – 15.00 wib
Auditorium Pusat Studi Jepang
Universitas Indonesia, Depok

Read & Comment ›››

Posted in

Sharing tentang Hypnoparenting

By Yanti Depe on February 5th, 2010

Untuk siapa saja yang penasaran sama yang namanya Hypnoparenting dan NLP (Neuro Linguistic Programming)

Ada satu lagi sahabat yang berbaik hati untuk datang dan berbagi ilmu maupun pengalamannya di acara seminar/sharing ortu bulanan Sekolah Bintang Bangsaku

Siapa orangnya?

Namanya Fanny Herdina, M.Si, Psi, CHt (alumnus Psikologi UGM (S1) dan Psikologi UI (S2))

tahu dong kompetensinya seperti apa … kalau penasaran, add aja ibu Fanny di FB … ada koq orangnya …

Read & Comment ›››

Posted in

Tanya Jawab Pendidikan Seks

By Yanti Depe on January 16th, 2010
1. Mulai usia berapa sebaiknya?

Sejak anak mulai menanyakan dan sudah dapat berkomunikasi secara lisan. Gunakan gambar-gambar yang ilmiah sebagai dasar untuk menjelaskan ada anak. Hindari menggunakan istilah-istilah yang tidak jelas.

Jika anak sudah bertanya mengenai perilaku seks, jelaskan dari sudut pandang ilmiah, ke-Tuhan-an, dan kemanusiaan. Hindari penjelasan yang salah atau bahkan menakut-nakuti karena akan berefek pada keyakinan anak mengenai perilaku seksual di masa dewasanya.

2. Sampai umur berapa saya masih boleh cium, peluk, dll pada anak?

Boleh sampai kapanpun, namun tetap harus ingat bahwa ada 3 daerah sensitif yang “selalu” mencari kenikmatan dengan caranya sendiri-sendiri, yaitu mulut (plus bibir), anus, dan alat kelamin.

Jadi, kalau mau mencium di bibir, yang hanya sekilas info saja.

Kalau mau membersihkan anus dan alat kelamin, pastikan anak tidak “berubah” ekspresinya … dan sebisa mungkin latih anak untuk dapat membersihkan dan merawat sendiri, ortu hanya mendampingi.

3. Sampai usia berapa anak boleh dimandikan oleh ortu?

Sampai anak dapat berkomunikasi lisan secara baik. Hindari mandi bersama yang berbeda jenis kelaminnya, terutama pada anak yang sudah mulai memahami perbedaan identitas jenis kelamin. Latih kemandirian anak, orang tua hanya mendampingi untuk memberi pengarahan.

4. Bagaimana dengan kami yang tidurnya bersama-sama?

Usahakan untuk meletakkan anak di dekat ortu yang sama jenis kelaminnya dan jika hendak berhubungan suami istri sebaiknya mencari waktu yang benar2 tepat untuk menghindari kasus terpergok.

5. Kalau terlanjur kepergok?

Usahakan untuk tetap tenang dan bersikap wajar. Jika kamar terpisah, maka tegur anak karena tidak meminta izin sebelum masuk kamar. Jika kamar tidak terpisah, cukup hentikan apa yang sedang dilakukan.

6. Boleh nggak kalau hanya bermesraan saja?

Kalau sudah siap dengan pertanyaan-pertanyaan anak, silakan saja. Kalau belum siap, usahakan untuk melakukan kemesraan itu sewajar dan seadil mungkin (antara pasangan dengan anak).

Tolong diingat bahwa perilaku seks tidak hanya berarti penetrasi atau hal2 heboh lainnya, namun semua perilaku yang membangkitkan passion.

Tolong diingat juga bahwa anak balita sedang tahap modelling, dan yang mendasari perilaku menirunya bukan dari apa yang dilakukan oleh orang lain tetapi ekspresi/reaksi yang ditunjukkan.

Contoh sederhana, anak melihat ibunya mengernyitkan dahi ketika memakan sayuran, maka anak akan mengasumsikan bahwa makan sayuran tidak menyenangkan, akibatnya, anak juga tidak mau makan sayuran.

7. Bagaimana dengan penyimpangan seks? Apakah anak kita beresiko untuk jadi waria kalau ortunya berteman baik dengan waria?

Khusus untuk waria dan homoseksual, menurut pengalaman, ada 2 kemungkinan utama seseorang menjadi seperti itu. Pertama karena masalah hormon, yang membuat individu itu sendiri juga merasa tidak nyaman dan berusaha untuk benar2 berubah secara fisik (melalui operasi). Ke-2 karena masalah ekonomi, di mana satu2nya cara yang terpikir untuk memperoleh uang adalah dengan berperan sebagai lawan jenisnya.

Penyimpangan seks yang lain, biasanya disebabkan oleh kemungkinan ke-3 dan 4. Kemungkinan ke-3 adalah pengaruh pengalaman traumatis (diperkosa). Sementara kemungkinan terakhir adalah pengaruh lingkungan (model).

Jika hal pertama (hormonal) yang terjadi, satu2nya jalan adalah dengan terapi medis.

Jika hal ke-dua (ekonomi) yang terjadi, banyak jalan untuk mengembalikan kesadarannya, terutama dengan memperlihatkan bahwa banyak jalan lain untuk memperoleh uang tanpa berperan sebagai lawan jenis. Untuk menghindari terjadinya perilaku menyimpang adalah dengan memperkaya perbendaharaan profesi terhadap anak, sehingga sejak kecil ia sudah memiliki banyak referensi pekerjaan yang dapat dilakukannya kelak.

Jika hal ke-tiga (trauma) yang terjadi, jalan yang terbaik adalah dengan terapi psikologis dengan dukungan lingkungan yang kondusif. Untuk menghindari terjadinya peristiwa traumatis, hendaknya orang tua memperhatikan lingkungan sosial di sekitar anak. Banyak kasus traumatis yang terjadi justru dimulai oleh orang-orang terdekat.

Jika hal ke-empat (model) yang terjadi, perubahan perilaku menyimpang dilakukan dengan cara terapi psikologis dalam dukungan lingkungan yang kondusif. Untuk menghindari terjadinya modelling yang salah, hendaknya dalam keluarga, ada contoh/model perilaku, terutama ortu, yang sesuai peran jenis yang telah menjadi norma masyarakat pada umumnya. Bagaimanapun juga ibu adalah contoh bagi anak perempuannya dan ayah adalah contoh bagi anak laki-lakinya. Jika salah satu ortu tidak dapat hadir, usahakan lingkaran luar (keluarga besar, guru, tetangga, dll) secara konsisten (walaupun tidak harus setiap hari) dapat hadir dalam kehidupan si anak.

8. Anak saya sejak kecil lebih tomboy dari anak-anak lain, apakah dibiarkan saja atau harus saya paksa supaya mau berpakaian seperti anak perempuan lainnya?

Dikatakan tomboy hanya karena lincah dan tidak mau pakai rok khan ya? Kalau hanya karena itu, tidak perlu khawatir. Biarkan saja.

Bagaimana kita mau mengatakan bahwa anak perempuan harus pakai rok sementara sehari-hari dia lihat perempuan2 yang menggunakan celana panjang? Bagaimana kita mau mengatakan bahwa anak laki-laki harus pakai celana jika setiap kali dia melihat ayahnya mengganti celana dengan sarung ketika mau sholat?

Bagaimana kita mau mengatakan bahwa anak perempuan harus kalem kalau sehari-hari dia lihat ibunya, pembantunya, dan orang2 di tv melakukan berbagai kegiatan sekaligus untuk pekerjaan domestik?

Pastikan saja bahwa ayah dan ibunya saling mencintai. Ayahnya yang laki-laki menikahi ibunya yang perempuan. Dan ibunya yang perempuan menikahi ayahnya yang laki-laki. Jika itu dilakukan dengan baik, percaya lah, akan ada laki-laki yang tepat untuk anak ibu.

9. Beberapa kali saya melihat anak saya masturbasi, bagaimana cara menyikapinya?

Perilaku anak yang memainkan alat kelaminnya sebenarnya tidak berkonotasi/berarti sama dengan orang dewasa. Perbuatan ini tidak dilakukan atas dorongan untuk menyalurkan keinginan berhubungan seksual melainkan salah satu fase yang normal pada usia 4 – 6 tahun. Beberapa hal yang mungkin terjadi :
a. anak secara tidak sengaja menemukan kenikmatan ketika sedangmembersihkan alat kelaminnya
b. anak secara tidak sengaja menemukan video/adegan yang memperlihatkan perilaku masturbasi dan menangkap ekspresi positif yang ingin dialaminya juga
c. anak secara tidak sengaja menemukan ortunya sedang berhubungan suami istri

Cara menyikapinya:
a. tetap bersikap tenang dan wajar
b. alihkan perhatiannya ke aktivitas lain
c. jelaskan beberapa hal penting mengenai kesehatan dan fungsi alat kelamin dari sudut pandang ilmiah, ke-Tuhan-an (aturan agama), dan kemanusiaan (kehormatan dan sosialisasi)
d. tegur jika langka a – c telah dilakukan

10. Bagaimana menjelaskan pada anak bahwa saya tidak sholat ketika sedang menstruasi?

Gunakan dalil-dalil sebagaimana yang telah digariskan oleh agama, jika terbiasa sholat bersama, maka jelaskan dan tunjukkan pada anak bahwa ibunya tetap berdoa walaupun sedang tidak sholat pada saat itu sembari mendampingi anak untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan yang sudah ditetapkan.

11. Bagaimana kalo si anak dah terlanjur nonton vcd porno ato acr tv yg menampilkan kemolekan tubuh?

Jika sudah seperti itu yang bisa kita lakukan adalah memberikan penjelasan terhadap apa yang sudah dilihat anak dengan mengajaknya ngobrol, setelah itu gantilah memori anak yang lama dengan menunjukan kepadanya hal2 yang baik.

Prinsip yang dipakai adalah prinsip menjernihkan kopi dalam gelas. Jika kita mau menjernihkan kopi tanpa menumpahkan kopinya, maka kita tuangkan air jernih sejumlah air kopi ke dalam gelas itu. Maka dengan sendirinya kopi akan keluar dan gelas terisi air jernih.

Nah, jika kita terus menerus memperlihatkan kpd anak hal2 yg baik, maka lama2 ingatan anak tentang vcd porno akan tergantikan dengan yang baik…

Jika info anak datang dari mata, maka gantilah dengan info dari mata pula.
Jika dari telinga, maka gantilah dari telinga pula.

Mata dan telinga adalah jendela informasi yang akan masuk ke hati yg selanjutnya mempengaruhi perilaku…

12. Tempat tinggal kami di rumah susun, jadi seringkali istri ganti baju di depan anak2, karena keterbatasan ruang. Bagaimana mengatasinya?

Orang tua harus rela berkorban demi anaknya, intinya. So, mudah saja mengatasi hal ini.

Biasakan orang tua berganti baju di kamar mandi. Mungkin awalnya agak ribet, karena harus bawa baju bersih ke kamar mandi segala, dsb. Tapi kalau sudah dibiasakan akan menjadi ringan.

Termasuk berhati-hatilah pada saat mau berhubungan dengan pasangan. Pastikan semuanya aman terkendali :) ….

13. Bagaimana mengawasi anak agar tidak nonton acara tv yang kadang tidak pantas di tonton anak-anak, misalnya gosip, sinetron dewasa, acara kriminal, dsb?

Sekali lagi orang tua harus berkorban. Dampingi anak saat menonton tv dan berikan penjelasan tiap anak bertanya. Jika tiba-tiba ada gambar yang tidak pantas di tv segera ganti chanelnya. Rangsang anak untuk berpikir saat menonton tv, karena dengan berpikir maka otak akan berkembang.

Ada kasus juga saat anak sedang nonton kartun, tiba-tiba ibunya mengganti chanel untuk nonton gosip. Nah, ini harus dihindari, karena jangan sampai kita memuaskan kebutuhan kita tapi mengorbankan psikologis anak.

14. Bagaimana meminimalkan pengaruh buruk teman atau saudara sebaya yang dekat dengan anak kita? Anak kita jadi berbicara jelek dan berperilaku buruk.

Kalau memungkinkan bicarakan dengan orang tuanya agar menasehati dan mendidik anaknya. Kalau gagal, jauhkan anak dengan teman tersebut semaksimal mungkin. Pilihkan teman2 yang baik.

Salah satu caranya bisa dengan mengumpulkan teman2 di lingkungan tempat tinggal nya untuk bermain di rumahnya. Biarkan mereka bermain dengan anak kita. Dengan begitu kita lebih mudah mengontrol anak2 kita, sekaligus anak2 juga senang….

Salam, Yanti D.P.

Dulu dan sekarang

By Yanti Depe on January 14th, 2010

beberapa komentar, baik di notes bintang bangsaku maupun di wall rekan lain yang kebetulan memutuskan untuk share tulisan yang saya buat tadi pagi serta beberapa message di inbox, menyebutkan bahwa duluuuuuu ibunya masuk SD juga belum berusia 7 tahun dan baik-baik saja sampai sekarang …

hmm …

saya sendiri juga masuk SD sebelum usia 7 koq, dan saya survive sampai sekarang … hehehe …

nah, apakah berarti teori perkembangan otak itu yang salah atau saya yang salah tafsir sehingga tidak ada resiko yang perlu dipertimbangkan jika anak masuk SD sebelum berusia 7 tahun …

sebagai teori yang datangnya dari pemikiran manusia, maka berbagai bagan itu berhak untuk salah dan wajib di-kritisi …

namun, sebelum mencari pembenaran yang cenderung menyalahkan atau tidak mengindahkan teori tersebut, mari kita kembali melihat dan mencermati sekolah-sekolah di sekitar kita sekarang ini beserta seluruh elemen di dalamnya …

mulai dari yang paling inti, yaitu kurikulum yang mengandung standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator keberhasilan belajar, waktu pencapaian, serta prosedur penilaiannya …

secara sederhana … dan paling mudah karena saya tidak yakin bahwa kita semua punya kurikulum dari tahun 1964, 1968, 1974, 1984, 1994, 2004, dan 2006/2007 …

bisa kita ingat bahwa jaman dulu, waktu kita masih kelas 1 SD, masih banyak di antara kita yang belum bisa membaca … masih ingat buku pelajarannya? tulisannya besar-besar dan kalimatnya sederhana …

coba ingat-ingat … jaman dulu, materinya sangat sederhana, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari bahkan yang namanya matematika masih pakai ndol-ndol atau pakai lidi …

sekarang?

coba lihat materi dan juga buku-buku pelajarannya … mantap khan?

itu baru dari urusan kurikulumnya …

dan kita akan fokus di kurikulum itu saja ya …

fakta yang ditemukan oleh ahli-ahli neurologi yang menyatakan bahwa pada saat lahir otak bayi mengandung 100 sampai 200 milyar neuron atau sel syaraf yang siap melakukan sambungan antar sel.

sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia telah terjadi ketika usia 4 tahun, 80% telah terjadi ketika berusia 8 tahun, dan mencapai titik kulminasi 100% ketika anak berusia 8 sampai 18 tahun.

para ahli sepakat bahwa periode keemasan tersebut hanya berlangsung satu kali sepanjang rentang kehidupan manusia

nah …

masalahnya … seperti yang dikatakan oleh Prof Suharyadi dari UI bahwa otak belakanglah yang menentukan kecerdasan seseorang … terutama untuk anak usia 7 tahun ke bawah ya …

maksudnya?

otak belakang meliputi jembatan Varol (pons Varolii), sumsum lanjutan (medula oblongata), dan otak kecil (serebelum).

ketiga bagian ini membentuk batang otak.

penjelasan singkat tentang masing2 bagian adalah sebagai berikut: (semoga tidak membuat yang baca jadi gegar otak … hihihi)

jembatan Varol berisi serabut saraf yang menghubungkan lobus kiri dan kanan otak kecil, serta menghubungkan otak kecil dengan otak besar

sumsum lanjutan berperan sebagai pusat pengatur pernapasan, refleks fisiologi, seperti detak jantung, tekanan udara, suhu tubuh, pelebaran atau penyempitan pembuluh darah, gerak alat pencernaan, dan sekrresi kelenjar pencernaan, serta mengatur gerak refleks, seperti batuk, bersin, dan berkedip

otak kecil adalah untuk mengatur sikap atau posisi tubuh, keseimbangan, dan koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar.

lah … apa hubungannya semua itu?

woooooooooooo … hubungannya ke mana-mana … hehehe …

lha itu jadi dasar untuk semuanya je …cek gambar ini ya … R-system = Reflect System


pasti sudah pada tahu apa fungsi sistem limbik, belahan otak kanan, otak kiri, dan seterusnya yang ada di bagan …

nah …

kelihatan banget khan ya … ketika beban materi (seperti yang sekarang dihadapi oleh anak-anak kita) yang notabene sangat kognitif dan mengedepankan proses ekspresi dalam bentuk bahasa lisan secara logis, linier (searah), rasional, sistematis, dan detail … maka hasilnya GUBRAK!

lha bagian otak yang berfungsi untuk hal itu malah belum berkembang dengan baik pada usia di bawah 7 tahun …

bandingkan dengan jaman kita dulu … kelas 1 SD adalah masa-masa awal kita belajar membaca, belajar berhitung menggunakan potongan2 lidi, belajar menulis satu dua kata, belajar menyanyi dengan menggunakan notasi yang benar, belajar menggambar dengan komposisi yang proporsional …

tas kita berat, tapi isinya bukan buku, melainkan bekal makanan dan minuman, atau bahkan mainan … (minimal itu pengalaman saya yang sekolah di pelosok sana)

nah …

kalau kita lihat lagi gambar di atas … apa artinya?

untuk usia 7 tahun ke bawah, pembelajaran yang terbaik adalah yang mengedepankan kenyamanan fisik (r-system), emosi (limbic), dan kesempatan untuk berimajinasi (right brain) …

tanpa adanya kenyamanan untuk berimajinasi, maka otak akan memerintahkan tubuh bertindak atas dasar pencarian kenyamanan emosi … terjadilah yang judulnya ngambek, mogok, malas, membangkang, dlsb …

tanpa adanya kenyamanan untuk emosi, maka otak akan memerintahkan tubuh bertindak atas dasar pencarian kenyaman fisik (pertahanan tubuh) … terjadilah yang judulnya badan panas, perut melilit, muntah2, dlsn …

tanpa adanya kenyamanan fisik, maka otak akan memerintahkan tubuh untuk berhenti!

nah lho …

jadi … kembali lagi …

lain dulu lain sekarang …

andaikan kelas 1 SD masih seperti dulu … maka tanpa keraguan saya tidak akan khawatir jika ada anak di bawah umur yang masuk ke SD

sayangnya … SD sekarang tidak seperti SD yang dulu …

SD sekarang sarat materi, yang sayangnya, walaupun beban kurikulum semakin berat tetap saja kualitas HDI kita termasuk di bagian bontot …

lha … landasannya saja error … apa yang mau diharapkan?

jadi gimana? mau ikutan error?

salam, Yanti D.P.

Kenapa Tujuh Tahun?

By Yanti Depe on January 13th, 2010

oke … kita lihat gambarnya yah …

terlihat jelas bahwa perkembangan yang disebutkan dalam grafik tersebut dimulai sejak bayi lahir, kecuali untuk perkembangan motorik dan perkembangan bahasa yang sudah dimulai sejak janin …

over mass production sel2 otak terjadi pada bagian yang berwarna merah tua dan semakin lama semakin berkurang jumlahnya (ditunjukkan dengan warna yang semakin memudar)

apakah pemudaran ini pasti akan seperti itu dan berlangsung seterusnya?

jawabannya bisa ya dan bisa tidak … ya berkurang dengan cepat jika anak tidak memperoleh stimulasi yang merangsang seluruh panca inderanya dengan tepat, dan bisa tidak berkurang dengan cepat jika anak memperoleh stimulasi yang tepat …

dari mana stimulasi itu?

ya dari lingkungannya … terutama di mana anak menghabiskan sebagian besar waktunya … karena bagi otak, proses belajar (berkembang) berlangsung setiap sepersekian detik pengalaman hidup …

coba perhatikan gambarnya lagi … walaupun tidak selalu seperti itu, namun yang paling akhir masa kritisnya adalah masa perkembangan keterampilan sosial dengan sebaya, yaitu pada usia antara 6 – 7 tahun …

nah … kira-kira sudah bisa menjawabkah? kenapa sebaiknya masuk SD di usia 7 tahun?

kalau belum … mari kita melihat kondisi2 sekolah yang ada di sekitar kita …

jika kita masukkan anak ke SD pada usia 6 tahun, maka ia masih berada pada tahap kritis keterampilan sosial … padahal … ketika di SD biasa, bersosialisasi di dalam kelas adalah perilaku yang tidak diijinkan …

jika kita masukkan anak ke SD pada usia 5 tahun, maka selain masih tertatih-tatih dalam keterampilan sosial, ia baru saja melewati (atau malah masih berada pada) masa kritis dalam perkembangan motorik (kekuatan dan keterampilan fisik) … padahal … ketika di SD biasa, bergerak di dalam kelas adalah hal yang tabu kecuali diijinkan oleh gurunya … dan ketika di SD biasa, menulis adalah sebuah keharusan sementara perkembangan anak masih belum matang …

jika kita masukkan anak ke SD pada usia 4 tahun … coba lihat … perkembangan apa saja yang diterabas?

salam, Yanti D.P.

Anak TK Boleh Diajari Membaca

By Yanti Depe on January 13th, 2010

hmm … soal membaca untuk anak TK, atau lebih tepatnya anak pra sekolah … saya sebenarnya pernah menulis tentang hal ini, cuma lupa adanya di mana … di notes FB, di blog, atau menjawab di forum lain …

well … perkembangan bahasa anak itu luar biasa, bahkan dimulai sejak dari janin, sekitar 10 minggu sebelum dilahirkan, yaitu saat ia mulai merespon suara-suara ibu, itu sebabnya anak biasanya dapat tenang dari tantrumnya ketika mendengar suara ibunya dan didekap dengan lembut … (berasa masih di dalam perut ibu tuh)

nah, perkembangan bahasa sangat berkaitan dengan banyak hal, termasuk di antaranya adalah kesiapan membaca …

lha, berarti dari dalam janin sudah bisa diajarkan membaca?

ya belum tho ya, khan belum bisa melihat … hehehe … sampai usianya di 6 bulan adalah kesempatan emas untuk memperkenalkan berbagai macam bahasa

dan sampai usianya 4/5 tahun adalah kesempatan emas untuk mengajarkan grammar … (salah satu alasan mengapa native speaker biasanya jauh lebih bagus grammar-nya dibandingkan dengan orang yang baru belajar bahasa asing setelah dewasa) …

ok … balik lagi ke membaca …

jadi sebenarnya membaca bisa diajarkan setelah melihat?

jawabannya … iya … (khusus tuna netra akan saya bahas lain kali ya)

penjelasan sederhananya begini …

sejak dalam janin, anak mulai belajar membedakan berbagai suara (kata-kata dalam bahasa lisan) dan efeknya terhadap emosi ibu

ketika lahir, terjadi over mass production atas perkembangan sel otak sampai sekitar usia 6 bulan – 4 tahun (berbeda-beda untuk setiap jenis kebutuhan, misalnya bahasa, angka, konsep, dll, lihat grafik di bawah ya)


nah … jika pada saat keemasan itu anak diperdengarkan dengan banyak suara (kata-kata dalam bahasa lisan) maka kosa katanya akan meningkat dengan pesat, walaupun dia sendiri belum bisa mengucapkan kata-kata secara tepat sampai sekitar usia 2 tahun-an …

nah … kekayaan perbendaharaan kata itu, yang akan menjadi modal bagi kita untuk mengenalkan anak cara mengkomunikasikannya dalam bentuk tulisan … jadi jangan harap kalau lingkungannya terdiri dari orang-orang yang pendiam (alias jarang sekali berbicara pada anak) maka anak kita akan cepat bisa membaca …

karena bagaimanapun juga … setiap kata yang kita ucapkan adalah sekumpulan huruf yang terangkai dengan baik dan disepakati maknanya oleh banyak orang …

rangkaian huruf itu, untuk anak-anak yang logikanya belum sampai ke “1 + 1 = 2″, akan sama artinya dengan “bentuk apel = kata apel”

artinya, ketika kita mengajarkan anak balita yang logika matematikanya belum berkembang baik (belum paham identifikasi, klasifikasi, dan urutan), maka kita tidak mengajarkan dengan model “m e me” atau “j a ja” atau “m e … me … j a …. ja ….. jadi me … ja …”

kita mengajarkan anak untuk mengenalkan kata itu secara utuh bersamaan dengan benda nyata (minimal replika atau gambar)

“Ini (tunjuk dan ajak sentuh bendanya) meja, m e j a, meja”

Nah … seperti yang biasa saya katakan … bermain itulah belajar dan sebaliknya belajar itulah bermain bagi anak-anak …

maka … syarat utama untuk mengajarkan anak membaca adalah sesuai dengan persyaratan bermain, yaitu menyenangkan dan suka rela …

selain itu … sejalan dengan maunya otak yang mengolah masukan dari “dunia” luar jika telah melewati ribuan pusat penerima rangsang, maka proses bermainnya harus eksploratif dan memanfaatkan keseluruhan panca indera …

jadi …jawaban saya untuk pertanyaan dalam judul artikel “Anak TK Tidak Boleh Diajari Membaca?” adalah “Boleh, asal caranya tepat, menyenangkan, sukarela, dan eksploratif”

segitu dulu ya …

salam, Yanti D.P.

home (based) education

By Yanti Depe on January 12th, 2010

Hmm … apa bedanya home schooling dengan home (based) education?

sama-sama home (rumah), sama-sama berupaya untuk menyediakan pendidikan bagi anak di rumah, bahkan kalau mencari di google, aplikasinya akan sama …

lha terus bedanya apa dong?

simple banget … lihat artinya schooling dan bedakan dengan education …

sebenarnya, jika dilihat secara sistem, maka sekolah sendiri merupakan salah satu elemen dari sistem pendidikan …

secara umum (dilihat dari jenisnya sebagai kata benda), school lebih berkonotasi ke organisasi/institusi yang secara operasional berfungsi untuk mendidik, sementara education lebih ke proses dalam aktivitas mendidik …

secara khusus, untuk kasus di Indonesia, anak-anak yang mengikuti home schooling tetap memerlukan ijazah yang diakui oleh pemerintah untuk membuktikan kompetensinya … sementara anak-anak yang mengikuti home (based) education tidak memerlukan ijazah tersebut karena proses pembelajarannya bisa di mana pun dengan siapa pun dengan tetap berjalan di jalur inti …

contoh sederhananya begini, dalam home schooling, maka keberadaan pihak luar adalah sebagai supporting (tambahan) karena yang utama berasal dari rumah, baik kurikulum, guru, maupun penilaiannya …

sementara dalam kurikulum home (based) education, maka keberadaan pihak luar adalah sebagai partner karena walaupun intinya di rumah, tetapi pelaksanaannya bisa bekerja sama dengan siapa pun dan di mana pun … karena penekanannya adalah integrasi kurikulum, guru, maupun penilaiannya dari berbagai pihak

artinya …

seorang ibu yang menginginkan anaknya mengikuti home schooling harus menyiapkan kurikulum (yang biasanya juga pada akhirnya mengikuti program belajaryang sudah dibuat oleh pihak lain/membeli), menyiapkan diri secara konsisten sebagai seorang guru yang handal (yang biasanya juga berakhir dengan pemanggilan guru2 yang berkompeten untuk mengajar sesuai dengan kurikulum yang telah disiapkan), dan juga harus terlatih untuk dapat memberikan penilaian secara obyektif

anak-anak home schooling sudah tidak perlu berangkat sekolah, karena jika dilakukan dengan tepat dan berada di jalur (administrasi) yang benar, maka ia dapat memiliki selembar ijazah untuk membuktikan kompetensinya jika ia hendak melanjutkan proses belajarnya ke institusi yang formal

sementara

jika seorang ibu menginginkan anaknya mengikuti home (based) education, maka ia harus menyiapkan visi dan misi yang jelas, yang akan memudahkannya mencari pihak2 berkompeten dalam membantu proses pendidikan si anak … ia tidak perlu melakukannya sendiri … yang terutama … ia tidak perlu membuat kurikulumnya sendiri …

anak-anak home (based) education memungkinkan anak yang bersekolah formal memperoleh pemenuhan kebutuhannya di rumah … karena pada kenyataannya, masih banyak sekolah yang seperti pabrik …

hmmm

itu dulu ya … maaf kalau masih membingungkan …

salam, Yanti D.P.

tentang mogok sekolah

By Yanti Depe on January 10th, 2010

hmm … ada banyak hal yang menyebabkan anak mogok sekolah … yang dapat menebak dengan persis alasannya hanya si anak, teman-temannya, dan gurunya …

jadi kalau saya ditanya, bingung deh jawabnya … hehehe

tetapi secara umum, bisa disebutkan beberapa alasan yang “mungkin” jadi penyebab anak tidak mau sekolah selain karena sakit:

1. kebosanan yang akut atas kegiatan di sekolah dan kebetulan “rumah” menjadi surga permainan, biasanya karena ada stimulus:
a. salah satu ortu yang biasanya bekerja, pada hari2 tersebut tidak bekerja
b. ada kerabat yang datang ke rumah
c. ada mainan baru yang tidak bisa dibawa ke sekolah
d. ada video/film yang sedang jadi obsesi, yang tentu saja tidak bisa dilakukan di sekolah
e. stimulus yang diberikan sekolah tidak tepat sasaran

2. konflik yang tidak teramati oleh guru, biasanya karena ada kejadian seperti:
a. terjadi “kelompok” permainan dan si anak tidak terpilih sebagai anggota
b. terjadi perebutan “kekuasaan” atas mainan, media belajar, atau bahkan perhatian guru,
c. terjadi perubahan formasi guru/asisten, dan guru/asisten yang baru tersebut “salah” dalam “menangani” si anak

3. upaya anak untuk mendapat perhatian ortu, biasanya karena ada kejadian seperti:
a. janji ortu yang tidak ditepati
b. ortu yang “sangat” sibuk bekerja dan hanya menegur jika anak berbuat “salah” sehingga anak merasa “perlu” untuk berbuat salah
c. ortu/keluarga besar sedang fokus pada hal lain, misalnya adik baru, pindah rumah, pindah kerja, dll sehingga anak merasa “perlu” untuk melakukan sesuatu yang “luar biasa”
ada beberapa hal yang biasa kami lakukan di SBB jika menemukan anak yang tidak masuk sekolah, mungkin bisa direfleksikan sendiri, apa yang ortu bisa lakukan …

1. mencatat ketidakhadiran anak dan berusaha mengingat kejadian2 khusus yang terjadi pada hari terakhir dia masuk
2. menanyakan alasan ketidakhadiran pada teman-teman sekelasnya dan pada ortu yang bersangkutan
3. menelpon si anak untuk menyelidiki alasannya dengan urutan sebagai berikut: menanyakan kabar, menanyakan permainannya selama beberapa hari di rumah, menanyakan bedanya main di rumah dengan main di sekolah, cerita tentang kegiatan2 menyenangkan yang sudah dilakukan selama si anak tidak masuk, dan terakhir bertanya kapan akan bergabung kembali ke sekolah
a. jika telpon berhasil, maka pada hari pertama sekolah, guru akan berdiskusi dari hati ke hati mengenai masalah yang sebenarnya, jika masalahnya berkaitan dengan kelas, maka guru akan mendorong si anak untuk bercerita pada teman2nya. Cerita itu dijadikan modal diskusi dan menentukan aturan main baru yang harus disepakati oleh seluruh anggota kelas.
b. jika telpon tidak berhasil, maka secara berkala guru akan datang ke rumah si anak untuk melakukan proses yang sama, bedanya sekarang dengan cara tatap muka dan sekaligus “memindahkan” kegiatan belajar di rumah …

secara khusus, mungkin kunci AWESOME dalam B-bIO bisa membantu ortu, yaitu :
1. AWare; menyadari “keunikan” masing2 anak,
2. Expose; membuka “hati” untuk bisa menerima “keunikan” tersebut,
3. Synchronize, menyelaraskan hati (ortu dan anak) dengan cara berkomunikasi secara positif,
4. cOnstruct; membangun pengalaman yang dapat memenuhi kebutuhan belajar anak (baik untuk perkembangan pikiran, perasaan, maupun perilaku),
5. autoMize; memanfaatkan intuisi yang dimiliki oleh anak sebagai mahluk pribadi maupun sosial pada anak sehingga dapat membangkitkan keinginan yang tidak disadari oleh anak (bersosialisasi sambil belajar untuk menambah ilmu dan mengasah keterampilan), dan akhirnya
6. integratE; mengintegrasikan kebutuhan belajar dalam kehidupan sehari-hari keluarga …

secara praktis, mungkin bisa baca dari notes dari Pak Subhan yang berjudul Mogok Sekolah, Tak Perlu Marah di http://www.facebook.com/note.php?note_id=239420818589

salam, Yanti D.P.

PAUD/PG?

By Yanti Depe on January 9th, 2010

Aslinya …

PAUD = Pendidikan Anak Usia Din = untuk anak usia 0 – 8 tahun
Play Group = Kelompok Bermain = biasanya untuk usia 2 – 4 tahun

jadi, PG/KB adalah bagian dari PAUD, yang terdiri dari Babies, Toddler, dan preschooler

Mana yang lebih efektif dan efisien?

jika sekolah tersebut membedakan PAUD dan TK, bukannya KB dan TK, jelas sekali bahwa sekolah tidak punya landasan konsep/teori/perundang-undangan yang benar, sehingga, bisa dikatakan bahwa sekolah berlangsung tanpa landasar yang benar.

jika anak dimasukkan ke sekolah, yang mengerti konsep PAUD-pun tidak, bisa dipastikan bahwa pembelajaran yang berlangsung tidak akan tepat, bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi dari tingkat perkembangan maupun kebutuhan anak

jika pembelajaran berlangsung tidak tepat, justru di usia 8 – 12 tahun (satu tahap setelah tahap usia anak-anak dini) si anak akan mengalami kebosanan yang akut, biasanya ditunjukkan dengan penurunan prestasi belajar, keengganan mengerjakan tugas rumah, keengganan untuk belajar, pemberontakan kecil2an, dlsb

Mana yang paling efektif dan efisien?

anak sebenarnya tidak perlu dikirim ke TK, KB, PG, maupun lembaga PAUD yang lainnya karena pendidikan yang terbaik datangnya dari ortu dan lingkungan sosial di sekitar rumah, jika dan hanya jika :
1. ortu bisa konsisten
2. ortu memahami perkembangan anak
3. ortu memiliki wawasan pengetahuan yang luas
4. ortu memiliki pengetahuan mengenai proses pembelajaran

salam,

Yanti D.P. (Bintang Bangsaku)

antara Ortu – Guru dan B-bIO

By Yanti Depe on January 3rd, 2010

Orang tua selalu saja berusaha dan mengakses informasi tentang anak dengan harapan yang pada dasarnya bisa dikatakan baik, mungkin sudah mulai memberikan perlakuan kepada anaknya sejak dalam kandungan seperti memperdengarkan musik klasik, mengajaknya berkonversasi, menepuk perut ibu, maupun hingga kedua orangtuanya tidak boleh ini dan itu.

Meski kadang aneh dan lucu namun itu semua adalah harapan untuk menjadikan onggokan daging dan darah itu menjadi sesuatu yang bermakna, mandiri, dan menjadi manusia yang sejuta harap serta cita akan ditumpukan kepadanya.

Namun apakah semua pengorbanan dan perlakuan tersebut pas dan bisa diterima, ada banyak kata sakti dan bijak untuk menjawabnya memang bahwa manusia dilahirkan sesuai titahnya, dan akan berkembang sesuai dengan lingkungan dan pendidikan yang diterimanya, jika itu gagalpun nantinya masih ada kata sakti yaitu setelah dewasa dia akan bisa menemukan dirinya sendiri.

Memang terlepas dari semuanya sebagai individu dan mahluk sosial seseorang akan memiliki nilai yang dibangunnya sendiri, namun jangan lupa ketika nilai-nilai itu dibangun membutuhkan pondasi dasar yang kuat seperti penerimaan, aware, bla.. bla.. bla, tentunya tanpa meninggalkan sesuatu yang sangat berarti yaitu eksistensi dirinya sendiri.

Di mana nilai-nilai universal kemanusiaan memang harus ditanamkan secara indah sehingga bisa diterima dengan wajar, seirama dengan perkembangan kemanusiaannya.

Bukan soal ketika lulusan sekolah ini akan menjadi orang seperti anu, dan lulusan sekolah itu akan menjadi seseorang dengan kepintaran tertentu. Semuanya bisa dilakukan dengan mudah, meski harus dibayar dengan pengorbanan tertentu.

Adalah menjadi tugas para pembimbing dan guru agar peserta didik dapat menemukan kebenaran secara partisipatoris, tanpa harus dipaksakan karena kemampuan mencerna dan menerima informasi tiap individu kadang berbeda meski hanya beberapa milisecond.

Dari hamparan 400 trilyun simpul syaraf yang harus berinteraksi dan berkembang sejak usia 3 tahun, meski semuanya memiliki namun ada banyak variabel yang ikut serta didalamnya. Hingga tahun ke lima adalah masa emas dimana informasi yang diterima dan diolah seakan menjadi template (cetak biru) bagi olah berpikir dan memahami sesuatu seterusnya.

Dengan konstruksi pengajaran yang matang, selaras dan memahami latar belakang anak maka akan bisa menghindari trauma-trauma pada trilyunan syaraf tersebut, untuk terciptanya sebuah bangunan kecerdasan dengan aksi refleksi yang terlatih juga terkonstruksi dengan irama dan harmoni yang indah dan perspektif matang sesuai dengan karakter yang nanti akan dibangun sendiri oleh peserta didik sesuai ketertarikannya sendiri-sendiri.

Bagaimanapun juga ‘masa-masa emas’ umur anak hingga 8 tahun memang harus diisi dengan pembelajaran-pembelajaran yang secara sadar tidak menumpas kreatifitas pengembangan diri anak sehingga terjadi hentakan pada reaksi milyaran syaraf-syaraf halus di kepalanya yang akan dibawanya sampai mati.

Anak sebagai subjek dan pembimbing sebagai pemberi stimulan maupun respon yang bisa dipertanggungjawabkan, seyogyanya memang harus digarisbawahi bahkan ada kontrak belajar bagi anak secara jelas untuk menciptakan nuansa atau setidaknya sesuatu yang didapatkan oleh anak adalah sesuatu yang bisa dipakai untuk kehidupannya.

Disini pulalah kehati-hatian ekstra dalam kunci constructnya mbak Depe itu harus mutlak dipahami untuk dilaksanakan.

Bukan hanya memahami latar belakang karakter, atau kecenderungan anak sebagaimana yang dilontarakan oleh Alfred Adler tentang anak kembar, anak sulung, anak bungsu dll, namun juga pemahaman akan serious, conscientious, directive, goal-oriented, aggressive, rule-conscious, exacting, conservative, organized, responsible, jealous, fearful, high achieving, competitive, high in self-esteem, dan anxious, dimana mungkin setiap individu memiliki memilikinya.

Juga aspek-aspek dari Ki Hadjar Dewantara yang kondang dengan “Niteni, Niroake lan Nambahake” – menandai, meniru, dan menambahkan – sangat perlu diperhatikan, mungkin agak abstrak namun bagaimanapun pendidik dan pembimbing memiliki tempat tertentu di benak masing-masing anak.

Banyak contoh dan metode bagus yang bertebaran di dunia ini, namun tidak tertutup kemungkinan juga inovasi-inovasi baru akan muncul seiring dengan kebutuhan dan perkembangan dunia yang mencengangkan ini, dimana anak-anak baru terlahir dari benih-benih yang semakin hari dibebani banyak persoalan sehingga mungkin bisa mengubah komposisi-komposisi dalam kromosom maupun tentunya memori kolektif yang potensial dibawa oleh janin.

Masih merupakan misteri meskipun semuanya bisa dinafikan dengan reproduksi-reproduksi ilmu pengetahuan dan metode-metode baru untuk menciptakan robot-robot yang diinginkan oleh kekuasaan maupun rejim pendidikan yang selalu saja hadir tanpa permisi.

Ketika menyadari keenam kunci B-Bio tersebut memang diperlukan sosok manusia pembimbing yang berhati nurani, memiliki imajinasi, dan update terhadap perkembangan peserta didiknya. Meski bisa diatasi dengan pengarahan-pengarahan tertentu,

alangkah indahnya ketika semua itu bisa terlaksana bukan hanya ketika anak bernyanyi ‘heli, guk.. guk.. guk…, kemari.. guk.. guk. guk.. ayo lari-lari’ yang dipahami hanyalah bermain dan berlari dengan ‘Heli’ yang bisa ‘guk.. guk .. guk’, namun ada banyak ranah yang bisa di tunjukkan..

hmm.. dan itupun semua tergantung konteks dan suasana saat itu pula yang bisa disikapi dengan arif, bijak dan bermanfaat buat atendan disitu membuka sebuah cakrawala yang luas dibalik ‘Heli’, ‘guk.. guk .. guk’ dan ‘ayo lari-lari.

Di mana pendidik dan masing-masing peserta didik dengan eksistensi dirinya bisa mengejawantah menjadi sesuatu dalam perspektif dan tujuan luhur cita-cita B-bio, baik sadar maupun tidak sadar, namun nyaman, senyaman-nyamannya.

Antok