Archive for the ‘Guru’ Category

Talk and share “Excellent Guide for Our Kids”

By Yanti Depe on February 5th, 2010

Ingin anak anda cerdas dan bahagia?

Orangtua dan pendidik adalah pendamping dalam masa perkembangan anak-anak. Komunikasi yang efektif akan meningkatkan kemampuan emosi sosial anak. Kinerja otak yang optimal akan menghasilkan perkembangan anak yang maksimal. Akan tetapi hal tersebut tidak akan berlangsung jika tidak ada kesadaran orangtua dan pendidik untuk melakukan evaluasi, apakah komunikasi yang berjalan selama ini sudah efektif? Bagaimana mengatasi masalah-masalah yang sering terjadi pada masa anak-anak? apakah kinerja otak anak kita sudah maksimal? Bagaimana caranya agar kinerja otak anak optimal??

Schema present :

Talk and share “ Excellent Guide for Our Kids”
Sabtu, 20 Februari 2010
09.00 wib – 15.00 wib
Auditorium Pusat Studi Jepang
Universitas Indonesia, Depok

Read & Comment ›››

Posted in

Integritas Sebagai Nilai Universal

By Yanti Depe on January 30th, 2010

Dalam bahasa Inggris, kata integrity sering dimaknai dengan honesty atau kejujuran. Integritas merupakan karakteristik yang paling penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.  Berbagai teori kepemimpinan terbaru menawarkan sejumlah karakteristik pemimpin ini yang efektif. Kouzes dan Posner (2007) melakukan survei terhadap lebih dari tujuh puluh lima ribu orang yang berasal dari berbagai kalangan. Pertanyaan yang diajukan dalam survei itu adalah “Sifat atau karakteristik pribadi seperti apa yang anda cari dan kagumi dari pemimpin anda?”

Survei yang dilakukan sebanyak empat kali, tahun 1987,  1995, 2002, dan 2007.  Kouzes dan Posner (2007) secara ajeg menemukan empat karakteristik yang menduduki peringkat tertinggi dari dua puluh karakteristik pemimpin yang dikagumi. Keempat karakteristik itu meliputi: Read & Comment ›››

Bagaimana Agar Orang Lain Meneladani Perilaku Kita?

By Yanti Depe on January 30th, 2010

Agar dapat mencontohkan perilaku yang diharapkan dari orang lain secara efektif, pertama-tama pemimpin harus memahami dengan jelas prinsip-prinsip yang memandu perilakunya. Pemimpin harus menemukan pendirian mereka sendiri, baru kemudian menyuarakan dengan jelas dan tepat nilai-nilai yang dianutnya itu. Oleh karena pemimpin harus memperjuangkan keyakinannya, dengan sendirinya setiap pemimpin harus memiliki keyakinan yang harus diperjuangkan.

Pidato-pidato tentang nilai-nilai bersama saja tidak cukup. Apabila pemimpin ingin menunjukkan betapa sungguh-sungguhnya ia terhadap apa yang ia katakan, perbuatan pemimpin jauh lebih penting dari pada kata-kata yang diucapkan. Kata dan perbuatan harus konsisten. Read & Comment ›››

Apakah Keteladanan Berpengaruh Terhadap Keefektivan Kepemimpinan Kepala Sekolah?

By Yanti Depe on January 30th, 2010

Setiap orang memahami bahwa keteladanan merupakan salah satu karakteristik penting bagi keberhasilan seorang pemimpin. Teori kepemimpinan transformasional, sebuah temuan baru dalam perkembangan teori kepemimpinan, meletakkan keteladanan pada peringkat pertama di antara sejumlah karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Bass dan Riggio (2006) menyatakan bahwa pemimpin tranformasional dicirikan oleh empat komponen yang dikenal dengan “Four I’s”: idealized influenceinspirational motivation, intelectual inspiration, dan individual consideration. “I” pertama, idealized influence atau pengaruh yang ideal, menjabarkan tingkah laku dan pengaruh yang dapat mengembangkan kepercayaan pengikut. Read & Comment ›››

Usulan Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Asesmen

By Yanti Depe on January 20th, 2010

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun.  PAUD dilakukan melalui pemberian rangsangan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.  Pada dasarnya PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar pertumbuhan dan perkembangan fisik (perkembangan motorik halus dan motorik kasar), kecerdasan (misalnya: daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), serta sosioemosional (sikap dan perilaku).

Hal penting yang perlu dilakukan agar PAUD dapat berlangsung dengan optimal salah satunya adalah penyusunan program yang terstruktur dan efektif. Salah satu yang telah diupayakan oleh pemerintah/penyelenggara PAUD adalah penyusunan kurikulum. Penyusunan kurikulum di mana intinya adalah pemberian rangsangan tersebut memerlukan fleksibilitas, kreativitas, dan sensitivitas dari seluruh elemen.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan pendidikan anak usia dini, pemerintah sudah mengembangkan Kurikulum PAUD dan perangkatnya yang dijadikan acuan bagi penyelenggaraan PAUD. Kurikulum PAUD disusun berdasarkan landasan teoritik, yuridis, dan empiric. Saat ini Standar Nasional Pendidikan untuk PAUD sebagai acuan penyusunan KTSP telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 58 Tahun 2009, namun terlihat bahwa perangkat kurikulum, terutama indikator-indikator dalam standar kompetensi nasional, yang dapat mengakomodasi kebutuhan spesifik peserta didik masih belum sempurna.

Pada dasarnya, tidak ada satu cara yang paling benar dalam penyusunan kurikulum, terutama yang dapat digunakan oleh setiap siswa, hal ini karena setiap anak yang berbeda bisa membutuhkan teknik pembelajaran yang berbeda pula, namun pemahaman mengenai tahap-tahap dan elemen-elemen penting dalam perkembangan akan menjadi modal bagi guru dalam melakukan proses pembelajaran (Eisenberg, Murkoff, dan Hathaway, 1998) serta akan membantu  penyempurnaan perangkat kurikulum yang diharapkan meminimalisasikan kelemahan yang ada.

Demi penyempurnaan perangkat kurikulum tersebut, salah satu upaya penting dalam pemahaman dan penyusunan dapat diperoleh dari metode asesmen, yang dalam lingkup PAUD merupakan upaya penjaringan yang dilaksanakan secara komprehensif untuk memperoleh gambaran tentang pertumbuhan dan perkembangan serta mengetahui faktor resiko yang mungkin akan terjadi pada anak, baik itu resiko fisik, biomedik ataupun psikososial.

Dengan demikian, proyek ini hendak menyusun sistem PAUD yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah Indonesia.  Sistem PAUD yang akan disusun merupakan sistem pembelajaran anak usia dini di mana kurikulum yang digunakan berbasis asesmen, yang merupakan aplikasi Brain-based Integrated Outline (B-bIO).  B-bIO merupakan pengembangan irisan-irisan proses pemerolehan pengetahuan pada orang dewasa maupun proses pembelajaran yang berlangsung pada anak. Secara sistem, B-bIO menggunakan penggerak utama yang dinamakan Awesome, yaitu aware, expose, sinchronize, construct, automize, dan integrate. Kunci pertama yang disebut dengan aware adalah sadar. Aplikasi aware yang paling utama dalam system pembelajaran adalah dengan menggunakan asesmen yang tepat agar guru dapat mengetahui gambaran besar mengenai kondisi siswanya.  Sedangkan secara umum, asesmen pada dasarnya dapat dilakukan oleh tenaga profesional, kader, orangtua ataupun pendamping anak di pusat-pusat pelayanan kesehatan, posyandu, sekolah ataupun dalam lingkungan keluarga.

Khusus untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan belajar anak usia dini digunakan Asesmen Otentik. Melalui pemantauan secara terus menerus, dalam berbagai konteks, dan berdasarkan apa yang dapat dikerjakan dan dihasilkan anak, guru dan orangtua dapat memberi bantuan belajar yang pas sehingga anak dapat belajar secara optimal. Oleh karena itu asesmen otentik dilakukan secara terus menerus bersamaan dengan kegiatan pembelajaran. Hasil karya anak, hasil pengamatan guru, dan informasi dari orangtua diperlukan untuk memotret perkembangan belajar anak. Berbagai teknik dan instrumen asesmen, seperti catatan anekdot (anecdotal record), catatan narrative (narrative record), catatan cepat (running record), sample kegiatan (event sampling), dan dengan portofolio digunakan untuk memantau perkembangan anak.

Asesmen untuk pemantauan perkembangan tersebut akan disusun berdasarkan pada tingkat pencapaian yang menggambarkan pertumbuhan dan perkembangan anak pada rentang usia tertentu, yang merupakan integrasi aspek pemahaman nilai-nilai agama dan moral, fisik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional. Hal ini dilakukan berdasarkan asumsi bahwa perkembangan anak berlangsung secara unik dan berkesinambungan yang berarti bahwa tingkat perkembangan yang dicapai pada suatu tahap diharapkan meningkat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif pada tahap selanjutnya.

Walaupun setiap anak adalah unik, karena perkembangan anak berbeda satu sama lain yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, namun perkembangan anak tetap mengikuti pola yang umum. Sehubungan dengan asumsi tersebut, maka dalam asesmen yang mendasari kurikulum PAUD akan mengacu pada tingkat pencapaian perkembangan yang berdasarkan kelompok usia anak: 0 – <2 tahun; 2 – <4 tahun; dan 4 – ≤6 tahun. Pengelompokan usia 0 – <1 tahun dilakukan dalam rentang tiga bulanan karena pada tahap usia ini, perkembangan anak berlangsung sangat pesat. Pengelompokan usia 1 – <2 tahun dilakukan dalam rentang enam bulanan karena pada tahap usia ini, perkembangan anak berlangsung tidak sepesat usia sebelumnya. Untuk kelompok usia selanjutnya, pengelompokan dilakukan dalam rentang waktu per tahun.

Berkaitan dengan proyek penyusunan model PAUD ini, maka metode yang digunakan untuk penyusunan asesmen adalah gabungan antara metode kuantitatif (survey) dengan kualitiatif (studi kasus, wawancara, observasi serta evaluasi yang berkesinambungan). Gabungan metode tersebut akan membuat data yang ada lebih komprehensif dan meminimalisasi ketidakcermatan dalam mendekteksi perkembangan pada anak usia dini. Kecermatan yang diharapkan akan membuat program PAUD Indonesia menjadi lebih akurat serta lebih cermat dalam deteksi dini gangguan perkembangan yang dialami anak bangsanya sendiri.

Acuan perkembangan anak usia dini masih mengacu pada literatur asing, sehingga ada kemungkinan tidak semuanya sesuai dengan tingkat perkembangan anak Indonesia. Setiap anak di setiap negara bahkan setiap daerah memiliki kultur dan budaya yang spesifik. Teori ekologis memperkuat hal itu, di mana pola pikir dan perilaku anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan spesifiknya. Anak-anak di daerah pantai di Papua umumnya sudah biasa main air dan berenang di laut sejak kecil. Anak-anak di hutan pedalaman lebih mengenal berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Oleh karena itu langkah pertama dalam proyek penyusunan system PAUD berbasis asesmen ini maka perlu dilakukan kajian perkembangan anak Indonesia, baik yang bersifat umum maupun spesifik untuk setiap daerah agar dapat mejadi acuan standar perkembangan anak usia dini di Indonesia.

Setelah kajian tersebut selesai dilakukan dan instrumen asesmen perkembangan anak Indonesia dapat tersusun dengan baik untuk menentukan standar perkembangan akhir usia, maka langkah selanjutnya adalah menyusun sistem PAUD berbasis asesmen yang menggunakan pola B-bIO berpenggerak awesome (aware, expose, sinchronize, construct, automize, dan integrate).  Sistem PAUD yang berdasarkan pada kesadaran, keterbukaan, ketersinambungan, keterbangunan, keterhayatan, dan keintegrasian dalam standar dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan target tingkat pencapaian perkembangan; standar penyediaan dan pengelolaan pendidik maupun tenaga kependidikan; serta standar sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.

Secara praktis, penyusunan sistem PAUD tersebut akan dilakukan dengan melakukan beberapa program kerja berikut ini:

  1. Menetapkan visi dan misi yang menjamin ketersediaan lingkungan belajar yang kondusif demi terlaksananya proses pembelajaran yang tepat untuk anak-anak usia dini dari semua kalangan agar dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki.
  2. Mendesain  kebijakan kesiswaan, yaitu dengan:
    1. menetapkan kebijakan mengenai sasaran peserta didik, termasuk hak dan kewajibannya,
    2. menetapkan pembagian kelompok belajar berdasarkan usia maupun kapasitas,
  3. Mendesain kurikulum dan kegiatan belajar mengajar dengan melakukan langkah-langkah berikut:
    1. memodifikasi indikator dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan yang tercantum pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional agar dapat menjadi lebih terperinci, sesuai dengan instrumen asesmen yang berhasil disusun.
    2. mengolah indikator-indikator tersebut menjadi sebuah matriks target pencapaian yang menjadi landasan dalam perencanaan pembelajaran.
    3. mengkaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari semua peserta didik.
    4. membuat desain pembelajaran dengan memanfaatkan kinerja Sistem Aktivasi Retikular, Otak Emosi, Peta Koneksi, dan Siklus Otak, di mana jika diperlukan, juga membuat suatu program pendidikan individual bagi ABK.
    5. membuat contoh media belajar, baik yang berupa lembar kerja maupun alat peraga, yang memenuhi beragam kebutuhan.
    6. membuat desain sensory based report sebagai alat asesmen keberhasilan belajar.
    7. membuat desain modifikasi perilaku dengan berprinsip token ekonomi.
  4. Mempersiapkan pendidik dan tenaga kependidikan, yaitu:
    1. membuat desain sistem seleksi dalam merekrut pendidik maupun tenaga kependidikan
    2. membuat desain peningkatan kemampuan karyawan melalui pendidikan lanjutan yang sesuai dengan arah pengembangan karirnya
  5. Membuat desain sarana dan prasarana, yaitu  merancang lingkungan pembelajaran yang memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam
  6. Memperluas jaringan hubungan masyarakat, yaitu dengan menjalin kerja sama dengan beberapa pihak yang berkompeten, misalnya dengan dokter, psikolog, terapis, dan sekolah inklusi lain serta membuat website sekolah yang juga merupakan alat sosialisasi sistem PAUD berbasis asesmen

Sistem PAUD berbasis asesmen yang menggunakan pola B-bIO tersebut sebenarnya telah dilakukan selama 7 (tujuh) tahun di KB & TK Bintang Bangsaku, Jakarta Pusat.  Pembelajaran ini telah berhasil mengantarkan lebih dari 400 anak, baik normal maupun ABK, ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi tanpa mengorbankan tugas-tugas perkembangan pada masa kanak-kanak.  Keberhasilan yang telah diperoleh tersebut dapat menjadi pijakan bagi pengembangan asesmen secara nasional untuk penyempurnaan sistem PAUD di Indonesia.

Yanti D.P.

Tanya Jawab Pendidikan Seks

By Yanti Depe on January 16th, 2010
1. Mulai usia berapa sebaiknya?

Sejak anak mulai menanyakan dan sudah dapat berkomunikasi secara lisan. Gunakan gambar-gambar yang ilmiah sebagai dasar untuk menjelaskan ada anak. Hindari menggunakan istilah-istilah yang tidak jelas.

Jika anak sudah bertanya mengenai perilaku seks, jelaskan dari sudut pandang ilmiah, ke-Tuhan-an, dan kemanusiaan. Hindari penjelasan yang salah atau bahkan menakut-nakuti karena akan berefek pada keyakinan anak mengenai perilaku seksual di masa dewasanya.

2. Sampai umur berapa saya masih boleh cium, peluk, dll pada anak?

Boleh sampai kapanpun, namun tetap harus ingat bahwa ada 3 daerah sensitif yang “selalu” mencari kenikmatan dengan caranya sendiri-sendiri, yaitu mulut (plus bibir), anus, dan alat kelamin.

Jadi, kalau mau mencium di bibir, yang hanya sekilas info saja.

Kalau mau membersihkan anus dan alat kelamin, pastikan anak tidak “berubah” ekspresinya … dan sebisa mungkin latih anak untuk dapat membersihkan dan merawat sendiri, ortu hanya mendampingi.

3. Sampai usia berapa anak boleh dimandikan oleh ortu?

Sampai anak dapat berkomunikasi lisan secara baik. Hindari mandi bersama yang berbeda jenis kelaminnya, terutama pada anak yang sudah mulai memahami perbedaan identitas jenis kelamin. Latih kemandirian anak, orang tua hanya mendampingi untuk memberi pengarahan.

4. Bagaimana dengan kami yang tidurnya bersama-sama?

Usahakan untuk meletakkan anak di dekat ortu yang sama jenis kelaminnya dan jika hendak berhubungan suami istri sebaiknya mencari waktu yang benar2 tepat untuk menghindari kasus terpergok.

5. Kalau terlanjur kepergok?

Usahakan untuk tetap tenang dan bersikap wajar. Jika kamar terpisah, maka tegur anak karena tidak meminta izin sebelum masuk kamar. Jika kamar tidak terpisah, cukup hentikan apa yang sedang dilakukan.

6. Boleh nggak kalau hanya bermesraan saja?

Kalau sudah siap dengan pertanyaan-pertanyaan anak, silakan saja. Kalau belum siap, usahakan untuk melakukan kemesraan itu sewajar dan seadil mungkin (antara pasangan dengan anak).

Tolong diingat bahwa perilaku seks tidak hanya berarti penetrasi atau hal2 heboh lainnya, namun semua perilaku yang membangkitkan passion.

Tolong diingat juga bahwa anak balita sedang tahap modelling, dan yang mendasari perilaku menirunya bukan dari apa yang dilakukan oleh orang lain tetapi ekspresi/reaksi yang ditunjukkan.

Contoh sederhana, anak melihat ibunya mengernyitkan dahi ketika memakan sayuran, maka anak akan mengasumsikan bahwa makan sayuran tidak menyenangkan, akibatnya, anak juga tidak mau makan sayuran.

7. Bagaimana dengan penyimpangan seks? Apakah anak kita beresiko untuk jadi waria kalau ortunya berteman baik dengan waria?

Khusus untuk waria dan homoseksual, menurut pengalaman, ada 2 kemungkinan utama seseorang menjadi seperti itu. Pertama karena masalah hormon, yang membuat individu itu sendiri juga merasa tidak nyaman dan berusaha untuk benar2 berubah secara fisik (melalui operasi). Ke-2 karena masalah ekonomi, di mana satu2nya cara yang terpikir untuk memperoleh uang adalah dengan berperan sebagai lawan jenisnya.

Penyimpangan seks yang lain, biasanya disebabkan oleh kemungkinan ke-3 dan 4. Kemungkinan ke-3 adalah pengaruh pengalaman traumatis (diperkosa). Sementara kemungkinan terakhir adalah pengaruh lingkungan (model).

Jika hal pertama (hormonal) yang terjadi, satu2nya jalan adalah dengan terapi medis.

Jika hal ke-dua (ekonomi) yang terjadi, banyak jalan untuk mengembalikan kesadarannya, terutama dengan memperlihatkan bahwa banyak jalan lain untuk memperoleh uang tanpa berperan sebagai lawan jenis. Untuk menghindari terjadinya perilaku menyimpang adalah dengan memperkaya perbendaharaan profesi terhadap anak, sehingga sejak kecil ia sudah memiliki banyak referensi pekerjaan yang dapat dilakukannya kelak.

Jika hal ke-tiga (trauma) yang terjadi, jalan yang terbaik adalah dengan terapi psikologis dengan dukungan lingkungan yang kondusif. Untuk menghindari terjadinya peristiwa traumatis, hendaknya orang tua memperhatikan lingkungan sosial di sekitar anak. Banyak kasus traumatis yang terjadi justru dimulai oleh orang-orang terdekat.

Jika hal ke-empat (model) yang terjadi, perubahan perilaku menyimpang dilakukan dengan cara terapi psikologis dalam dukungan lingkungan yang kondusif. Untuk menghindari terjadinya modelling yang salah, hendaknya dalam keluarga, ada contoh/model perilaku, terutama ortu, yang sesuai peran jenis yang telah menjadi norma masyarakat pada umumnya. Bagaimanapun juga ibu adalah contoh bagi anak perempuannya dan ayah adalah contoh bagi anak laki-lakinya. Jika salah satu ortu tidak dapat hadir, usahakan lingkaran luar (keluarga besar, guru, tetangga, dll) secara konsisten (walaupun tidak harus setiap hari) dapat hadir dalam kehidupan si anak.

8. Anak saya sejak kecil lebih tomboy dari anak-anak lain, apakah dibiarkan saja atau harus saya paksa supaya mau berpakaian seperti anak perempuan lainnya?

Dikatakan tomboy hanya karena lincah dan tidak mau pakai rok khan ya? Kalau hanya karena itu, tidak perlu khawatir. Biarkan saja.

Bagaimana kita mau mengatakan bahwa anak perempuan harus pakai rok sementara sehari-hari dia lihat perempuan2 yang menggunakan celana panjang? Bagaimana kita mau mengatakan bahwa anak laki-laki harus pakai celana jika setiap kali dia melihat ayahnya mengganti celana dengan sarung ketika mau sholat?

Bagaimana kita mau mengatakan bahwa anak perempuan harus kalem kalau sehari-hari dia lihat ibunya, pembantunya, dan orang2 di tv melakukan berbagai kegiatan sekaligus untuk pekerjaan domestik?

Pastikan saja bahwa ayah dan ibunya saling mencintai. Ayahnya yang laki-laki menikahi ibunya yang perempuan. Dan ibunya yang perempuan menikahi ayahnya yang laki-laki. Jika itu dilakukan dengan baik, percaya lah, akan ada laki-laki yang tepat untuk anak ibu.

9. Beberapa kali saya melihat anak saya masturbasi, bagaimana cara menyikapinya?

Perilaku anak yang memainkan alat kelaminnya sebenarnya tidak berkonotasi/berarti sama dengan orang dewasa. Perbuatan ini tidak dilakukan atas dorongan untuk menyalurkan keinginan berhubungan seksual melainkan salah satu fase yang normal pada usia 4 – 6 tahun. Beberapa hal yang mungkin terjadi :
a. anak secara tidak sengaja menemukan kenikmatan ketika sedangmembersihkan alat kelaminnya
b. anak secara tidak sengaja menemukan video/adegan yang memperlihatkan perilaku masturbasi dan menangkap ekspresi positif yang ingin dialaminya juga
c. anak secara tidak sengaja menemukan ortunya sedang berhubungan suami istri

Cara menyikapinya:
a. tetap bersikap tenang dan wajar
b. alihkan perhatiannya ke aktivitas lain
c. jelaskan beberapa hal penting mengenai kesehatan dan fungsi alat kelamin dari sudut pandang ilmiah, ke-Tuhan-an (aturan agama), dan kemanusiaan (kehormatan dan sosialisasi)
d. tegur jika langka a – c telah dilakukan

10. Bagaimana menjelaskan pada anak bahwa saya tidak sholat ketika sedang menstruasi?

Gunakan dalil-dalil sebagaimana yang telah digariskan oleh agama, jika terbiasa sholat bersama, maka jelaskan dan tunjukkan pada anak bahwa ibunya tetap berdoa walaupun sedang tidak sholat pada saat itu sembari mendampingi anak untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan yang sudah ditetapkan.

11. Bagaimana kalo si anak dah terlanjur nonton vcd porno ato acr tv yg menampilkan kemolekan tubuh?

Jika sudah seperti itu yang bisa kita lakukan adalah memberikan penjelasan terhadap apa yang sudah dilihat anak dengan mengajaknya ngobrol, setelah itu gantilah memori anak yang lama dengan menunjukan kepadanya hal2 yang baik.

Prinsip yang dipakai adalah prinsip menjernihkan kopi dalam gelas. Jika kita mau menjernihkan kopi tanpa menumpahkan kopinya, maka kita tuangkan air jernih sejumlah air kopi ke dalam gelas itu. Maka dengan sendirinya kopi akan keluar dan gelas terisi air jernih.

Nah, jika kita terus menerus memperlihatkan kpd anak hal2 yg baik, maka lama2 ingatan anak tentang vcd porno akan tergantikan dengan yang baik…

Jika info anak datang dari mata, maka gantilah dengan info dari mata pula.
Jika dari telinga, maka gantilah dari telinga pula.

Mata dan telinga adalah jendela informasi yang akan masuk ke hati yg selanjutnya mempengaruhi perilaku…

12. Tempat tinggal kami di rumah susun, jadi seringkali istri ganti baju di depan anak2, karena keterbatasan ruang. Bagaimana mengatasinya?

Orang tua harus rela berkorban demi anaknya, intinya. So, mudah saja mengatasi hal ini.

Biasakan orang tua berganti baju di kamar mandi. Mungkin awalnya agak ribet, karena harus bawa baju bersih ke kamar mandi segala, dsb. Tapi kalau sudah dibiasakan akan menjadi ringan.

Termasuk berhati-hatilah pada saat mau berhubungan dengan pasangan. Pastikan semuanya aman terkendali :) ….

13. Bagaimana mengawasi anak agar tidak nonton acara tv yang kadang tidak pantas di tonton anak-anak, misalnya gosip, sinetron dewasa, acara kriminal, dsb?

Sekali lagi orang tua harus berkorban. Dampingi anak saat menonton tv dan berikan penjelasan tiap anak bertanya. Jika tiba-tiba ada gambar yang tidak pantas di tv segera ganti chanelnya. Rangsang anak untuk berpikir saat menonton tv, karena dengan berpikir maka otak akan berkembang.

Ada kasus juga saat anak sedang nonton kartun, tiba-tiba ibunya mengganti chanel untuk nonton gosip. Nah, ini harus dihindari, karena jangan sampai kita memuaskan kebutuhan kita tapi mengorbankan psikologis anak.

14. Bagaimana meminimalkan pengaruh buruk teman atau saudara sebaya yang dekat dengan anak kita? Anak kita jadi berbicara jelek dan berperilaku buruk.

Kalau memungkinkan bicarakan dengan orang tuanya agar menasehati dan mendidik anaknya. Kalau gagal, jauhkan anak dengan teman tersebut semaksimal mungkin. Pilihkan teman2 yang baik.

Salah satu caranya bisa dengan mengumpulkan teman2 di lingkungan tempat tinggal nya untuk bermain di rumahnya. Biarkan mereka bermain dengan anak kita. Dengan begitu kita lebih mudah mengontrol anak2 kita, sekaligus anak2 juga senang….

Salam, Yanti D.P.

Dulu dan sekarang

By Yanti Depe on January 14th, 2010

beberapa komentar, baik di notes bintang bangsaku maupun di wall rekan lain yang kebetulan memutuskan untuk share tulisan yang saya buat tadi pagi serta beberapa message di inbox, menyebutkan bahwa duluuuuuu ibunya masuk SD juga belum berusia 7 tahun dan baik-baik saja sampai sekarang …

hmm …

saya sendiri juga masuk SD sebelum usia 7 koq, dan saya survive sampai sekarang … hehehe …

nah, apakah berarti teori perkembangan otak itu yang salah atau saya yang salah tafsir sehingga tidak ada resiko yang perlu dipertimbangkan jika anak masuk SD sebelum berusia 7 tahun …

sebagai teori yang datangnya dari pemikiran manusia, maka berbagai bagan itu berhak untuk salah dan wajib di-kritisi …

namun, sebelum mencari pembenaran yang cenderung menyalahkan atau tidak mengindahkan teori tersebut, mari kita kembali melihat dan mencermati sekolah-sekolah di sekitar kita sekarang ini beserta seluruh elemen di dalamnya …

mulai dari yang paling inti, yaitu kurikulum yang mengandung standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator keberhasilan belajar, waktu pencapaian, serta prosedur penilaiannya …

secara sederhana … dan paling mudah karena saya tidak yakin bahwa kita semua punya kurikulum dari tahun 1964, 1968, 1974, 1984, 1994, 2004, dan 2006/2007 …

bisa kita ingat bahwa jaman dulu, waktu kita masih kelas 1 SD, masih banyak di antara kita yang belum bisa membaca … masih ingat buku pelajarannya? tulisannya besar-besar dan kalimatnya sederhana …

coba ingat-ingat … jaman dulu, materinya sangat sederhana, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari bahkan yang namanya matematika masih pakai ndol-ndol atau pakai lidi …

sekarang?

coba lihat materi dan juga buku-buku pelajarannya … mantap khan?

itu baru dari urusan kurikulumnya …

dan kita akan fokus di kurikulum itu saja ya …

fakta yang ditemukan oleh ahli-ahli neurologi yang menyatakan bahwa pada saat lahir otak bayi mengandung 100 sampai 200 milyar neuron atau sel syaraf yang siap melakukan sambungan antar sel.

sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia telah terjadi ketika usia 4 tahun, 80% telah terjadi ketika berusia 8 tahun, dan mencapai titik kulminasi 100% ketika anak berusia 8 sampai 18 tahun.

para ahli sepakat bahwa periode keemasan tersebut hanya berlangsung satu kali sepanjang rentang kehidupan manusia

nah …

masalahnya … seperti yang dikatakan oleh Prof Suharyadi dari UI bahwa otak belakanglah yang menentukan kecerdasan seseorang … terutama untuk anak usia 7 tahun ke bawah ya …

maksudnya?

otak belakang meliputi jembatan Varol (pons Varolii), sumsum lanjutan (medula oblongata), dan otak kecil (serebelum).

ketiga bagian ini membentuk batang otak.

penjelasan singkat tentang masing2 bagian adalah sebagai berikut: (semoga tidak membuat yang baca jadi gegar otak … hihihi)

jembatan Varol berisi serabut saraf yang menghubungkan lobus kiri dan kanan otak kecil, serta menghubungkan otak kecil dengan otak besar

sumsum lanjutan berperan sebagai pusat pengatur pernapasan, refleks fisiologi, seperti detak jantung, tekanan udara, suhu tubuh, pelebaran atau penyempitan pembuluh darah, gerak alat pencernaan, dan sekrresi kelenjar pencernaan, serta mengatur gerak refleks, seperti batuk, bersin, dan berkedip

otak kecil adalah untuk mengatur sikap atau posisi tubuh, keseimbangan, dan koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar.

lah … apa hubungannya semua itu?

woooooooooooo … hubungannya ke mana-mana … hehehe …

lha itu jadi dasar untuk semuanya je …cek gambar ini ya … R-system = Reflect System


pasti sudah pada tahu apa fungsi sistem limbik, belahan otak kanan, otak kiri, dan seterusnya yang ada di bagan …

nah …

kelihatan banget khan ya … ketika beban materi (seperti yang sekarang dihadapi oleh anak-anak kita) yang notabene sangat kognitif dan mengedepankan proses ekspresi dalam bentuk bahasa lisan secara logis, linier (searah), rasional, sistematis, dan detail … maka hasilnya GUBRAK!

lha bagian otak yang berfungsi untuk hal itu malah belum berkembang dengan baik pada usia di bawah 7 tahun …

bandingkan dengan jaman kita dulu … kelas 1 SD adalah masa-masa awal kita belajar membaca, belajar berhitung menggunakan potongan2 lidi, belajar menulis satu dua kata, belajar menyanyi dengan menggunakan notasi yang benar, belajar menggambar dengan komposisi yang proporsional …

tas kita berat, tapi isinya bukan buku, melainkan bekal makanan dan minuman, atau bahkan mainan … (minimal itu pengalaman saya yang sekolah di pelosok sana)

nah …

kalau kita lihat lagi gambar di atas … apa artinya?

untuk usia 7 tahun ke bawah, pembelajaran yang terbaik adalah yang mengedepankan kenyamanan fisik (r-system), emosi (limbic), dan kesempatan untuk berimajinasi (right brain) …

tanpa adanya kenyamanan untuk berimajinasi, maka otak akan memerintahkan tubuh bertindak atas dasar pencarian kenyamanan emosi … terjadilah yang judulnya ngambek, mogok, malas, membangkang, dlsb …

tanpa adanya kenyamanan untuk emosi, maka otak akan memerintahkan tubuh bertindak atas dasar pencarian kenyaman fisik (pertahanan tubuh) … terjadilah yang judulnya badan panas, perut melilit, muntah2, dlsn …

tanpa adanya kenyamanan fisik, maka otak akan memerintahkan tubuh untuk berhenti!

nah lho …

jadi … kembali lagi …

lain dulu lain sekarang …

andaikan kelas 1 SD masih seperti dulu … maka tanpa keraguan saya tidak akan khawatir jika ada anak di bawah umur yang masuk ke SD

sayangnya … SD sekarang tidak seperti SD yang dulu …

SD sekarang sarat materi, yang sayangnya, walaupun beban kurikulum semakin berat tetap saja kualitas HDI kita termasuk di bagian bontot …

lha … landasannya saja error … apa yang mau diharapkan?

jadi gimana? mau ikutan error?

salam, Yanti D.P.

Kenapa Tujuh Tahun?

By Yanti Depe on January 13th, 2010

oke … kita lihat gambarnya yah …

terlihat jelas bahwa perkembangan yang disebutkan dalam grafik tersebut dimulai sejak bayi lahir, kecuali untuk perkembangan motorik dan perkembangan bahasa yang sudah dimulai sejak janin …

over mass production sel2 otak terjadi pada bagian yang berwarna merah tua dan semakin lama semakin berkurang jumlahnya (ditunjukkan dengan warna yang semakin memudar)

apakah pemudaran ini pasti akan seperti itu dan berlangsung seterusnya?

jawabannya bisa ya dan bisa tidak … ya berkurang dengan cepat jika anak tidak memperoleh stimulasi yang merangsang seluruh panca inderanya dengan tepat, dan bisa tidak berkurang dengan cepat jika anak memperoleh stimulasi yang tepat …

dari mana stimulasi itu?

ya dari lingkungannya … terutama di mana anak menghabiskan sebagian besar waktunya … karena bagi otak, proses belajar (berkembang) berlangsung setiap sepersekian detik pengalaman hidup …

coba perhatikan gambarnya lagi … walaupun tidak selalu seperti itu, namun yang paling akhir masa kritisnya adalah masa perkembangan keterampilan sosial dengan sebaya, yaitu pada usia antara 6 – 7 tahun …

nah … kira-kira sudah bisa menjawabkah? kenapa sebaiknya masuk SD di usia 7 tahun?

kalau belum … mari kita melihat kondisi2 sekolah yang ada di sekitar kita …

jika kita masukkan anak ke SD pada usia 6 tahun, maka ia masih berada pada tahap kritis keterampilan sosial … padahal … ketika di SD biasa, bersosialisasi di dalam kelas adalah perilaku yang tidak diijinkan …

jika kita masukkan anak ke SD pada usia 5 tahun, maka selain masih tertatih-tatih dalam keterampilan sosial, ia baru saja melewati (atau malah masih berada pada) masa kritis dalam perkembangan motorik (kekuatan dan keterampilan fisik) … padahal … ketika di SD biasa, bergerak di dalam kelas adalah hal yang tabu kecuali diijinkan oleh gurunya … dan ketika di SD biasa, menulis adalah sebuah keharusan sementara perkembangan anak masih belum matang …

jika kita masukkan anak ke SD pada usia 4 tahun … coba lihat … perkembangan apa saja yang diterabas?

salam, Yanti D.P.

Anak TK Boleh Diajari Membaca

By Yanti Depe on January 13th, 2010

hmm … soal membaca untuk anak TK, atau lebih tepatnya anak pra sekolah … saya sebenarnya pernah menulis tentang hal ini, cuma lupa adanya di mana … di notes FB, di blog, atau menjawab di forum lain …

well … perkembangan bahasa anak itu luar biasa, bahkan dimulai sejak dari janin, sekitar 10 minggu sebelum dilahirkan, yaitu saat ia mulai merespon suara-suara ibu, itu sebabnya anak biasanya dapat tenang dari tantrumnya ketika mendengar suara ibunya dan didekap dengan lembut … (berasa masih di dalam perut ibu tuh)

nah, perkembangan bahasa sangat berkaitan dengan banyak hal, termasuk di antaranya adalah kesiapan membaca …

lha, berarti dari dalam janin sudah bisa diajarkan membaca?

ya belum tho ya, khan belum bisa melihat … hehehe … sampai usianya di 6 bulan adalah kesempatan emas untuk memperkenalkan berbagai macam bahasa

dan sampai usianya 4/5 tahun adalah kesempatan emas untuk mengajarkan grammar … (salah satu alasan mengapa native speaker biasanya jauh lebih bagus grammar-nya dibandingkan dengan orang yang baru belajar bahasa asing setelah dewasa) …

ok … balik lagi ke membaca …

jadi sebenarnya membaca bisa diajarkan setelah melihat?

jawabannya … iya … (khusus tuna netra akan saya bahas lain kali ya)

penjelasan sederhananya begini …

sejak dalam janin, anak mulai belajar membedakan berbagai suara (kata-kata dalam bahasa lisan) dan efeknya terhadap emosi ibu

ketika lahir, terjadi over mass production atas perkembangan sel otak sampai sekitar usia 6 bulan – 4 tahun (berbeda-beda untuk setiap jenis kebutuhan, misalnya bahasa, angka, konsep, dll, lihat grafik di bawah ya)


nah … jika pada saat keemasan itu anak diperdengarkan dengan banyak suara (kata-kata dalam bahasa lisan) maka kosa katanya akan meningkat dengan pesat, walaupun dia sendiri belum bisa mengucapkan kata-kata secara tepat sampai sekitar usia 2 tahun-an …

nah … kekayaan perbendaharaan kata itu, yang akan menjadi modal bagi kita untuk mengenalkan anak cara mengkomunikasikannya dalam bentuk tulisan … jadi jangan harap kalau lingkungannya terdiri dari orang-orang yang pendiam (alias jarang sekali berbicara pada anak) maka anak kita akan cepat bisa membaca …

karena bagaimanapun juga … setiap kata yang kita ucapkan adalah sekumpulan huruf yang terangkai dengan baik dan disepakati maknanya oleh banyak orang …

rangkaian huruf itu, untuk anak-anak yang logikanya belum sampai ke “1 + 1 = 2″, akan sama artinya dengan “bentuk apel = kata apel”

artinya, ketika kita mengajarkan anak balita yang logika matematikanya belum berkembang baik (belum paham identifikasi, klasifikasi, dan urutan), maka kita tidak mengajarkan dengan model “m e me” atau “j a ja” atau “m e … me … j a …. ja ….. jadi me … ja …”

kita mengajarkan anak untuk mengenalkan kata itu secara utuh bersamaan dengan benda nyata (minimal replika atau gambar)

“Ini (tunjuk dan ajak sentuh bendanya) meja, m e j a, meja”

Nah … seperti yang biasa saya katakan … bermain itulah belajar dan sebaliknya belajar itulah bermain bagi anak-anak …

maka … syarat utama untuk mengajarkan anak membaca adalah sesuai dengan persyaratan bermain, yaitu menyenangkan dan suka rela …

selain itu … sejalan dengan maunya otak yang mengolah masukan dari “dunia” luar jika telah melewati ribuan pusat penerima rangsang, maka proses bermainnya harus eksploratif dan memanfaatkan keseluruhan panca indera …

jadi …jawaban saya untuk pertanyaan dalam judul artikel “Anak TK Tidak Boleh Diajari Membaca?” adalah “Boleh, asal caranya tepat, menyenangkan, sukarela, dan eksploratif”

segitu dulu ya …

salam, Yanti D.P.

home (based) education

By Yanti Depe on January 12th, 2010

Hmm … apa bedanya home schooling dengan home (based) education?

sama-sama home (rumah), sama-sama berupaya untuk menyediakan pendidikan bagi anak di rumah, bahkan kalau mencari di google, aplikasinya akan sama …

lha terus bedanya apa dong?

simple banget … lihat artinya schooling dan bedakan dengan education …

sebenarnya, jika dilihat secara sistem, maka sekolah sendiri merupakan salah satu elemen dari sistem pendidikan …

secara umum (dilihat dari jenisnya sebagai kata benda), school lebih berkonotasi ke organisasi/institusi yang secara operasional berfungsi untuk mendidik, sementara education lebih ke proses dalam aktivitas mendidik …

secara khusus, untuk kasus di Indonesia, anak-anak yang mengikuti home schooling tetap memerlukan ijazah yang diakui oleh pemerintah untuk membuktikan kompetensinya … sementara anak-anak yang mengikuti home (based) education tidak memerlukan ijazah tersebut karena proses pembelajarannya bisa di mana pun dengan siapa pun dengan tetap berjalan di jalur inti …

contoh sederhananya begini, dalam home schooling, maka keberadaan pihak luar adalah sebagai supporting (tambahan) karena yang utama berasal dari rumah, baik kurikulum, guru, maupun penilaiannya …

sementara dalam kurikulum home (based) education, maka keberadaan pihak luar adalah sebagai partner karena walaupun intinya di rumah, tetapi pelaksanaannya bisa bekerja sama dengan siapa pun dan di mana pun … karena penekanannya adalah integrasi kurikulum, guru, maupun penilaiannya dari berbagai pihak

artinya …

seorang ibu yang menginginkan anaknya mengikuti home schooling harus menyiapkan kurikulum (yang biasanya juga pada akhirnya mengikuti program belajaryang sudah dibuat oleh pihak lain/membeli), menyiapkan diri secara konsisten sebagai seorang guru yang handal (yang biasanya juga berakhir dengan pemanggilan guru2 yang berkompeten untuk mengajar sesuai dengan kurikulum yang telah disiapkan), dan juga harus terlatih untuk dapat memberikan penilaian secara obyektif

anak-anak home schooling sudah tidak perlu berangkat sekolah, karena jika dilakukan dengan tepat dan berada di jalur (administrasi) yang benar, maka ia dapat memiliki selembar ijazah untuk membuktikan kompetensinya jika ia hendak melanjutkan proses belajarnya ke institusi yang formal

sementara

jika seorang ibu menginginkan anaknya mengikuti home (based) education, maka ia harus menyiapkan visi dan misi yang jelas, yang akan memudahkannya mencari pihak2 berkompeten dalam membantu proses pendidikan si anak … ia tidak perlu melakukannya sendiri … yang terutama … ia tidak perlu membuat kurikulumnya sendiri …

anak-anak home (based) education memungkinkan anak yang bersekolah formal memperoleh pemenuhan kebutuhannya di rumah … karena pada kenyataannya, masih banyak sekolah yang seperti pabrik …

hmmm

itu dulu ya … maaf kalau masih membingungkan …

salam, Yanti D.P.