Archive for the ‘Anak Berkebutuhan Khusus’ Category

dari Bintang untuk Bangsaku

By Yanti Depe on January 21st, 2010

cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________

Stimulasi  yang  tepat  atau  sesuai  dengan  perkembangan  anak  akan  merangsang anak untuk  belajar,  menumbuhkan  rasa ingin tahu, dan mengaktifkan  fungsi-fungsi otaknya. Berdasarkan pada pemahaman tersebut, gambaran mengenai bagaimana sebenarnya seorang anak belajar dan bagaimana pengaruh kinerja otak dalam proses pembelajarannya perlu dipahami secara utuh agar sekolah dapat menyediakan sarana prasarana, menyusun kurikulum, memilih teknik pembelajaran, menetapkan peraturan, menyesuaikan sistem administrasi demi memenuhi kebutuhan semua pihak.

Sementara itu, pemahaman mengenai inklusifitas akan meletakkan dasar yang netral dan tidak bias bagi pendidik maupun kepala sekolah sebagai unsur penting dalam pengambilan kebijakan sistem ketika akan menentukan bagaimana manajemen sekolah maupun manajemen kelas dijalankan.  Manfaat yang tampak dalam keseharian di Bintang Bangsaku dapat menjadi pijakan pertama dalam upaya menggugah kesadaran bahwa dalam lingkungan masyarakat inklusif kita harus siap untuk mengubah dan menyesuaikan sistem, lingkungan, dan aktivitas, serta mempertimbangkan kebutuhan semua orang.

Sistem PAUD Inklusi di Bintang Bangsaku yang dengan menggunakan pola B-bIO mentransformasi setiap elemen yang terkait dengan berdasarkan pada kesadaran, keterbukaan, ketersinambungan, keterbangunan, keterhayatan, dan keintegrasian.  Gerak dari sebuah sistem organisasi yang harmonis sesuai dengan standar tingkat pencapaian perkembangan dalam proses pembelajaran; standar penyediaan dan pengelolaan pendidik maupun tenaga kependidikan; serta standar sarana prasarana, pengelolaan, dan pendanaan.

Keenam kunci awesome dalam B-bIO tersebut memang sederhana pada penampilannya, tapi di balik itu mungkin tersimpan banyak aspek yang masih bisa digali. Contohnya untuk kunci pertama yang disebut dengan aware atau sadar. Aplikasi aware yang paling utama dalam sebuah sistem pembelajaran adalah penggunaan asesmen yang tepat agar guru dapat mengetahui gambaran besar mengenai kondisi siswanya.  Sedangkan secara umum, asesmen pada dasarnya dapat dilakukan oleh tenaga profesional, kader, orangtua ataupun pendamping anak di pusat-pusat pelayanan kesehatan, posyandu, sekolah ataupun dalam lingkungan keluarga.

Dengan desain pembelajaran yang matang, selaras dan memahami latar belakang anak maka akan tercipta sebuah bangunan kecerdasan dengan aksi refleksi yang terlatih juga terkonstruksi dengan irama dan harmoni yang indah sesuai dengan karakter yang terbangun sendiri oleh anak sesuai ketertarikannya. Sudah menjadi tugas para pembimbing, guru, pengasuh, konselor, dan orang-orang dewasa lain agar anak dapat membangunnya secara partisipatoris tanpa harus dipaksakan karena kemampuan mencerna dan menerima informasi tiap anak, bahkan yang normal sekali pun,  pasti berbeda-beda meski hanya beberapa millisecond, sebuah konsekuensi dari kinerja hamparan jejaring sel otak maupun sel-sel saraf lain yang terus berinteraksi dan berkembang menjadi cetak biru bagi olah pikir dan rasa dalam memahami sesuatu agar dapat memutuskan bentuk perilaku yang tepat.

Secara praktis, beberapa program kerja yang dapat dilakukan untuk membantu tugas guru, pendamping, pengasuh, konselor, maupun orang-orang dewasa lain yang secara praktis bersama anak-anak, baik yang normal maupun berkebutuhan khusus, untuk berproses mencapai eksistensi diri masing-masing maupun transformasi system pendidikan dalam masyarakat agar menjadi lebih mengendepankan kombinasi antara kebugaran fisik, kenyamanan emosi, keharmonisan hubungan social, keteraturan logika, dan kedalaman makna adalah sebagai berikut:

  1. mengingat acuan perkembangan anak usia dini masih mengacu pada literatur asing, sehingga ada kemungkinan tidak semuanya sesuai dengan tingkat perkembangan anak Indonesia. Setiap anak di setiap negara bahkan setiap daerah memiliki kultur dan budaya yang spesifik. Oleh karena itu langkah pertama dalam proyek penyusunan system PAUD berbasis asesmen ini maka perlu dilakukan kajian perkembangan anak Indonesia, baik yang bersifat umum maupun spesifik untuk setiap daerah agar dapat mejadi acuan standar perkembangan anak usia dini di Indonesia, standar proses pembelajaran, dan standar penilaian untuk tingkat PAUD.
  2. Mengingat pemahaman dan keterampilan praktisi PAUD mengenai sistem pendidikan inklusi masih terbatas, alangkah baiknya instansi yang terkait dengan penyelenggaraan lembaga PAUD menyelenggarakan pembekalan terstruktur dan berkesinambungan
  3. Mengingat kecenderungan masyarakat yang lebih memilih adanya segregasi berdasarkan pada perbedaan nyata yang menimbulkan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu, maka sebaiknya sosialisasi mengenai sistem pendidikan inklusi kepada masyarakat umum ditingkatkan, antara lain melalui seminar, pelatihan, serta media massa.

___________________________________

salam, Yanti D.P.

Aplikasi praktis sistem PAUD Inklusi ala Bintang Bangsaku

By Yanti Depe on January 21st, 2010

cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________
Secara praktis,  sistem PAUD Inklusi yang diterapkan oleh Bintang Bangsaku dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Komponen Peserta Didik:
    1. Pembagian kelompok berdasarkan pada usia kronologis untuk anak normal dan pada usia mental untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) sehingga ada sebuah instrumen asesmen standar yang digunakan untuk mengetahui tingkat perkembangan masing-masing anak saat pertama kali mengikuti program pembelajaran.  Bintang Bangsaku juga menggunakan beberapa instrumen lain yang biasa digunakan untuk mengetahui tingkat kesulitan yang dialami oleh ABK dalam proses pembelajarannya. Hasil dari asesmen ini yang akan menjadi referensi utama bagi guru dalam penyusunan desain pembelajaran yang khas untuk masing-masing anak.
    2. Kapasitas kelas perlu dibatasi demi terwujudnya dinamika kelas yang mendorong pertumbuhkembangan masing-masing peserta didik, yaitu :

(1)   untuk usia 2 – 4 tahun, dibatasi hanya 9 anak dengan dibimbing oleh 2 atau lebih guru,

(2)   untuk usia 4 – 5 tahun, dibatasi hanya 8 anak dengan dibimbing oleh 1 atau lebih guru,

(3)   untuk usia 5 – 6 tahun, dibatasi hanya 12 anak dengan dibimbing oleh 1 atau lebih guru.

  1. Komponen Kurikulum, berpedoman bahwa program pembelajaran harus terstruktur dan dapat memenuhi kebutuhan masing-masing anak dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut ini, yaitu:
    1. Desain kurikulum berdasarkan pada azas :

(1)   Pemanfaatan Kinerja Sistem Aktivasi Retikular, yaitu mempertahankan perhatian dengan cara mengkaitkan materi atau keterampilan yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari.

(2)   Pemanfaatan Kinerja Otak Emosi, yaitu dengan memberi umpan balik yang positif, spesifik, tepat,  dan nyaman.

(3)   Pemanfaatan Kinerja Peta Koneksi, yaitu menggunakan pra-pemaparan, memanfaatkan materi/ keterampilan yang sebelumnya, melatih pemecahan masalah secara mandiri, serta mendorong pembelajar untuk menetapkan tujuan belajar yang konkret, spesifik, dan mempunyai rentang waktu tertentu.

(4)   Pemanfaatan Kinerja Siklus Otak, yaitu: menggunakan aktivitas yang bervariasi dalam suatu rentang waktu, menjaga agar suasana tetap hidup dan tidak monoton, mengijinkan anak untuk beristirahat, dan mendorong pembelajar untuk turut berbagi pengetahuan maupun keterampilannya.

Kesesuaian ini didasarkan pada berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa otak anak sudah terikat kuat dengan 80 persen dari segala sesuatu yang pernah ia ketahui dan semua pertumbuhan neural berikutnya dibangun dari jalur-jalur tersebut (Dennison, 2008). Artinya, bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Perkembangan dan kebutuhan otak tersebut yang menyebabkan masa kanak-kanak dari usia 0 – 8 tahun diistilahkan sebagai periode emas dan hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan otak anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan.

  1. Silabus disusun berdasarkan indikator dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan dari Departemen Pendidikan Nasional yang telah dimodifikasi menjadi lebih terperinci agar dapat diadaptasikan dengan kondisi siswa yang beragam. Indikator-indikator tersebut kemudian diolah dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan pencapaiannya sehingga menjadi sebuah matriks target pencapaian.  Matriks tersebut yang menjadi landasan dalam perencanaan pembelajaran untuk setiap semester, bulan, minggu, bahkan harian.
  2. Materi dalam kurikulum memiliki kaitan erat dengan kehidupan sehari-hari semua peserta didik yang mengintegrasikan baca, tulis, hitung dan kecakapan hidup di seluruh tema materi dan saling berhubungan satu sama lainnya.
  3. Alur maupun skenario dari kegiatan pembelajaran disusun dengan mempertimbangkan berbagai karakteristik dasar dari kinerja otak

Secara khusus, alur dalam desain kegiatan pembelajaran menggunakan awesome sebagai pedomannya. Melalui proses pembelajaran yang dialami selama 90 menit, anak akan menyadari apa yang ia pelajari melalui berlatih, bereksperimen, dan mengenal lebih jauh ketika panca inderanya diberikan peluang untuk mengenal lingkungan dan dirinya sebagai satu kesatuan dalam proses belajar di mana anak membangun pengalaman secara otomatis sehingga terintegrasi ke dalam dirinya.

Jika hal demikian dapat berlangsung terus-menerus selama proses tumbuh kembangnya maka langkah-langkah ini akan secara sadar masuk ke dalam benaknya secara otomatis bahkan ketika menghadapi sesuatu yang baru karena semuanya sudah terangkum dalam bawah sadarnya. Secara terperinci, penjelasan masing-masing konsep dari awesome dalam desain pembelajaran adalah sebagai berikut:

(1) Aware.  Konsep aware merupakan kesadaran awal. Materi belajar akan lebih mudah dipelajari jika siswa telah menyadari apa yang akan dipelajarinya. Kesadaran siswa dapat dibangun pada kegiatan pra-paparan yang dikerjakan di rumah serta diskusi yang disampaikan guru sebelum dan setelah kegiatan belajar.

(2)   Expose yang berarti memberikan ragam stimulus optimal pada seluruh indra sensori siswa yang merangsang munculnya seluruh kemampuan anak sebagai modal belajarnya. Karenanya aktivitas belajar sehari-hari haruslah melibatkan tidak hanya kemampuan verbal atau koginitif tapi juga motorik halus dan kasar.

(3)   Synchronize Banyak penelitian dalam pendidikan yang telah dengan sangat meyakinkan menunjukkan bahwa proses belajar akan lebih mudah dan efektif jika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Misalnya, alih-alih menggunakan papan kancing untuk melatih motorik halus anak lebih baik melatih anak mengkancingkan bajunya sendiri. Karena kegiatan itu tidak hanya melatih motorik halus, tapi juga sekaligus melatih kemandirian bahkan dengan bonus belajar matematika, dengan menghitung jumlah kancing bajunya yang harus dipasangnya.

(4)   Construct . Semua aktivitas, tata ruang kelas, mainan yang disediakan, alat bantu belajar yang digunakan bahkan instruksi yangn diberikan dalam proses belajar disiapkan untuk anak dan dirancang dengan tujuan yang jelas dengan hasil yang dapat diukur. Kegiatan yang dirancang juga haruslah meliputi lingkup belajar anak seperti sains, bahasa dan matematika. Dengan kata lain kegiatan haruslah tersusun sistematis dengan capaian yang terarah.

(5)   Automize . Konsep ini diaplikasikan pada pelaksanaan kegiatan rutin di sekolah seperti cuci tangan sebelum makan, membereskan mainannya sendiri dan lain sebagainya, sedang untu guru berupa peraturan di sekolah. Tujuannya agar anak dan seluruh elemen sekolah terbiasa pada kebiasaan-kebiasaan baik, sehingga perilaku positip menjadi hal spontan yang dilakukan siswa dan guru dalam keseharian.

(6)   Integrated. Konsep ini teraplikasi dalam lingkungan belajar yang inklusi. Tidak hanya menggabungkan anak berkebutuhan khusus dengan anak normal dalam satu ruang belajar namun juga menciptakan atmosfer yang terpadu, memenuhi kebutuhan dan melibatkan semua anggota kelas

  1. Secara khusus, bagi ABK yang dari hasil asesmennya ternyata memerlukan pendekatan yang berbeda maka akan dibuatkan suatu program pendidikan yang sifatnya individual.
  2. Media belajar, baik yang berupa lembar kerja maupun alat peraga, diupayakan sendiri pengadaannya demi memenuhi beragam kebutuhan.
  3. Interpretasi subjektif diminimalisir dengan menggunakan sensory based report berdasarkan pemantauan secara terus menerus, dalam berbagai konteks, dan berdasarkan apa yang dapat dikerjakan dan dihasilkan anak secara terus menerus bersamaan dengan kegiatan pembelajaran. Berbagai teknik dan instrumen asesmen, seperti catatan anekdot (anecdotal record), catatan narrative (narrative record), catatan cepat (running record), sample kegiatan (event sampling), dan dengan portofolio digunakan untuk memantau perkembangan anak.
  4. Proses modifikasi perilaku diberlakukan dengan cara kontrak belajar yang berdasarkan pada prinsip token ekonomi.
  5. Komponen Sarana & Prasarana dikelola dengan memperhatikan kebutuhan ruang masing-masing anak untuk dapat bergerak bebas dan dirancang sedemikian rupa agar dapat menimbulkan kesan yang tidak monoton, aman, dan memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam.
  6. Komponen Pengelolaan Organisasi menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas yang dilakukan dengan cara:
    1. Berpedoman pada visi dan misi yang mengisyaratkan tentang pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan tidak bias.  Visi, misi, dan tujuan lembaga dijadikan cita-cita dan upaya bersama agar mampu memberikan inspirasi, motivasi dan kekuatan pada semua pihak yang berkepentingan.
    2. Mematuhi sistem dan prosedur kerja yang jelas dan tidak saling tumpang tindih sesuai dengan struktur organisasi dan maksud jabatan, di mana elemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan wajib untuk:

(1) Secara pribadi menguasai keenam kunci dari awesome, yaitu AWare (spending ten minutes in silence and see the potential), Expose (involve all the sensory), Synchronize (feel the body, touch the emotion, hear the thought, make the connection), cOnstruct (build the experience and be talented), autoMize (skip the thinking part and be spontaneous), intEgrate (blend it all and become one with The Source)

(2)   melaksanakan pendidikan inklusif dan ramah terhadap pembelajar

(3)   mengidentifikasi dan menghindari adanya bias-bias dalam kurikulum, lingkungan sekolah, dan proses pembelajaran

(4)   mengikuti secara aktif berbagai lokakarya, pelatihan, dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi

(5)   fokus pada kerja tim bukan prestasi individual

  1. Memiliki program kerja yang menunjukkan adanya kemauan untuk terus berkembang dan meningkatkan kemampuan organisasi untuk memenuhi kebutuhannya maupun kebutuhan seluruh elemen pendukungnya.  Salah satu bentuk program kerja yang terlihat nyata adalah memfasilitasi peningkatan kemampuan karyawan melalui pendidikan lanjutan yang sesuai dengan arah pengembangan karirnya.
  2. Komponen Pendanaan dikelola dengan pedoman:
    1. Dana yang diperoleh dari orang tua siswa hanya digunakan untuk biaya operasional. Biaya investasi, diperoleh dengan menggunakan berbagai macam cara untuk dapat memperoleh dana, salah satunya adalah dengan menyenggarakan berbagai workshop untuk umum.
    2. Seluruh transaksi keuangan dibukukan secara terpadu, cermat dan transparan untuk menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program kerja tahunan dan dilaporkan kepada pihak-pihak yang berwenang secara jujur.
  3. Hubungan dengan masyarakat dilakukan menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak yang terkait dengan mengupayakan adanya pertemuan rutin orang tua murid, pelatihan-pelatihan yang terbuka untuk umum, dan juga dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, yaitu dengan diterbitkannya berbagai artikel tentang PAUD di website sekolah.  Keberadaan website tersebut juga sangat bermanfaat untuk mensosialisasikan aplikasi pendidikan inklusif di tingkat PAUD.

___________________________________

salam, Yanti D.P.

Sistem PAUD Inklusi ala Sekolah Bintang Bangsaku

By Yanti Depe on January 21st, 2010

cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________
Perjalanan panjang selama beberapa tahun untuk mencari formula inklusifitas di tingkat PAUD adalah proses yang menuntut totalitas dari seluruh elemen sekolah untuk menjawab berbagai tantangan yang ada. Modal utama dari pelaksanaan pendidikan inklusi, yaitu nilai yang berlaku universal, adalah hal penting yang harus dihayati bersama sebelum melangkah menempuh perjalanan panjang mewujudkan konsep yang idealis tersebut.  Keberpihakan pada prinsip bahwa sekolah adalah bagian dari sistem sosial kemasyarakatan merupakan syarat utama bagi pengampu kebijakan.  Loyalitas dari seluruh pihak yang terkait sangat diperlukan dalam proses perjuangan yang sangat melelahkan.

Sungguh sebuah perjalanan yang penuh tantangan untuk sampai pada titik di mana sistem PAUD inklusif benar-benar dapat mewujudkan diri dalam bentuk kebijakan sekolah berdasarkan pada prinsip awesome yang secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. menyadari (aware) bahwa anak dari beragam latar belakang dan kemampuan mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dan mengekspresikan dirinya di kelas dan di sekolah.  Sejauh ini sudah lebih dari 80 peserta didik berkebutuhan khusus, baik dari kondisi fisik, kognitif, emosi, maupun sosial ekonomi,  yang pernah dan sedang menempuh proses pembelajaran bersama anak-anak yang dikategorikan normal.
  2. membuka (expose) kesempatan sebesar-besarnya bagi setiap anak untuk dapat menjadi dirinya sendiri dan sekaligus sebagai bagian dari kelompoknya
  3. menyelaraskan (synchonize) seluruh program kegiatan dengan berbagai kebutuhan yang sangat beragam dan khas yang dimiliki oleh setiap anak
  4. menyediakan lingkungan pengalaman (construct) yang kondusif bagi pengoptimalisasian proses tumbuh kembang anak sesuai dengan kecepatan perkembangannya masing-masing
  5. membiasakan (automize) terciptanya hubungan yang wajar, manusiawi, dan personal yang dapat terinternalisasi secara positif dalam membangun karakter anak Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab
  6. mengintegrasikan (integrate) keberagaman dalam kebersamaan yang harmonis demi terwujudnya sebuah sistem sosial yang saling menghargai keunikan masing-masing dan mendukung tercapainya eksistensi semua pihak

Kebijakan tersebut berada dalam 6 jalur eksistensi (excistence track) yang dijabarkan sebagai berikut :

  1. jalur yang menggunakan berbagai sarana fisik yang memperhatikan kebutuhan ruang untuk dapat bergerak bebas dan dapat menimbulkan kesan yang tidak monoton, aman, dan memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam dalam pencapaian target-target kesehatan, kekuatan, dan keterampilan maupun koordinasi tubuh/ fisik
  2. jalur yang menggunakan umpan balik yang positif, spesifik, tepat, dan nyaman dalam pencapaian target-target perkembangan identifikasi, ekspresi, dan kontrol emosi yang bersifat intrapersonal
  3. jalur yang memanfaatkan jejaring sosial dalam pencapaian target-target perkembangan kompetensi sosial yang meliputi beradaptasi dengan lingkungan, berkomunikasi secara efektif, dan keterampilan lain yang mendukung  dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat interpersonal
  4. jalur yang memanfaatkan materi/ keterampilan yang telah dikuasai, proses pemecahan masalah secara mandiri, serta tujuan belajar yang konkret, spesifik, dan mempunyai rentang waktu tertentu dalam pencapaian target-target perkembangan logika – kognitif yang mengintegrasikan kemampuan bahasa (lisan dan tulisan), logika matematika (bentuk, bilangan, ukuran, pola, estimasi, statistik dan geometri), dan kecakapan pemecahan masalah pada seluruh program yang saling berhubungan satu sama lainnya
  5. jalur yang memanfaatkan keindahan alam, keharmonisan hubungan antar berbagai hal, keunikan dari masing-masing benda, proses, maupun peristiwa, serta kebebasan berekspresi dalam pencapaian target-target perkembangan imajinasi dalam seni
  6. jalur yang memanfaatkan nilai-nilai universal dalam berhubungan dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan YME dalam pencapaian target-target perkembangan moral – spiritual.

Dalam desain dan pelaksanaannya, ke enam jalur tersebut diperkaya oleh beberapa elemen di luar lingkup sekolah untuk dapat benar-benar menuju proses pencapaian sebuah mahakarya, yaitu eksistensi sebagai manusia yang secara sehat dapat berfungsi normatif, baik  sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakat.  Beberapa elemen yang paling mempengaruhi proses desain maupun pelaksanaan program di jalur-jalur tersebut adalah sebagai berikut:

  1. norma budaya setempat maupun secara global
  2. kekayaan alam di lingkungan sekitar, baik yang bersentuhan secara langsung maupun tidak langsung
  3. perangkat-perangkat hukum yang berlaku positif
  4. kemajuan ilmu dan teknologi
  5. keberadaan pakar yang kompeten di berbagai bidang terkait
  6. kisah-kisah praktis yang dapat menjadi aspirasi

___________________________________

salam, Yanti D.P.

PAUD Inklusi sebagai Perjalanan Inovasi Bintang Bangsaku

By Yanti Depe on January 21st, 2010

cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________

Walaupun berbekal dengan ketiga prinsip yang mendasari pendidikan inklusi, harus diakui bahwa terdapat beberapa tantangan dalam melaksanakan model pendidikan ideal yang mengakui pluralitas perbedaan individual dan memanfaatkannya secara positif sebagai sumber untuk belajar. Tantangan pertama adalah adanya kebijakan lokal (bukan perangkat hukum yang berlaku secara nasional) yang masih terkesan memarginalkan anak yang dinilai tidak mampu secara akademis. Tantangan ke dua adalah kenyataan bahwa masyarakat yang cenderung ke arah segregasi demi eksklusifitas dan citra diri. Sementara tantangan terakhir adanya faktor sumber daya, baik yang berupa sarana prasana fisik, perangkat kurikulum, dan tenaga kependidikan, yang memang masih belum dapat memenuhi tuntutan pendidikan inklusi yang sangat idealis.

Secara khusus, ketiadaan pedoman kurikulum inklusi untuk tingkat kanak-kanak dan minimnya kompetensi maupun loyalitas pendidik terasa sangat berat dan menyulitkan dalam operasionalisasi konsep pendidikan inklusif. Berat karena banyak kesalahan yang terjadi saat penanganan ABK dan sulit karena tidak ada pedoman dalam perencanaan maupun pelaksanaan program pendidikan yang dapat memenuhi beragam kebutuhan peserta didik.

Walau berat dan sulit, Bintang Bangsaku, sejak masih bernama Sanggar Kreativitas Bobo Penjernihan di tahun 2002, bertekad untuk dapat mencoba melangkah untuk menempuh perjalanan panjang inovasi demi mewujudkan PAUD berkualitas yang menjadi hak bagi semua kalangan. Inovasi yang ditujukan pada penemuan bentuk program pendidikan inklusif yang dapat dilaksanakan di tingkat taman kanak-kanak secara tepat.

Perjalanan inovasi dimulai dengan berbekal perangkat kurikulum standar yang ditetapkan pemerintah untuk taman kanak-kanak reguler. Pada tahun 2004, pengelolaan sekolah sebagai suatu sistem organisasi pendidikan yang terpadu diperbaiki dengan berbekal pedoman penyelenggaraan pendidikan terpadu untuk tingkat sekolah dasar yang diterbitkan oleh direktorat PLB di tahun 2004. Setelah tahun 2004, program belajar mulai mengadaptasi berbagai pendekatan baru dalam pembelajaran.

Ketiadaan pedoman dan minimnya kompetensi, menjadikan proses selama tujuh tahun menjadi sekolah inklusi dengan segala suka dukanya sebagai periode belajar bagi Bintang Bangsaku sampai pada akhirnya menemukan Brain-based Integrated Outline (B-bIO) sebagai sebuah pendekatan yang digunakan sebagai pola dalam sistem pendidikan anak usia dini. B-bIO ditemukan berdasarkan pada pengalaman dalam menggunakan beragam model pendekatan populer di dunia pendidikan yang terbukti berbasis pada kinerja otak. B-bIO merupakan pengembangan irisan-irisan proses pemerolehan pengetahuan pada orang dewasa maupun proses pembelajaran yang berlangsung pada anak-anak yang membentuk sebuah pola pada sistem pencapaian eksistensi diri yang bersifat horizontal sekaligus transedental dengan mengacu pada prinsip kerja otak.

Pendekatan B-bIO dibuat untuk memudahkan semua pengguna dalam mengembangkan lingkungan belajar yang sesuai dengan kinerja otak. Secara sistem, B-bIO menggunakan penggerak utama yang dinamakan Awesome, yaitu aware, expose, sinchronize, construct, automize, dan integrate. Pada tataran aplikasi, pola tersebut terbukti bermanfaat secara timbal balik bagi seluruh elemen yang terkait dalam proses pembelajaran.

Pola B-bIO sangat sesuai untuk praktek pendidikan bersifat inklusif yang berpegang pada prinsip bahwa inti dari keberhasilan proses pembelajaran adalah strategi dalam menerima dan menjalin komunikasi dan relasi personal tanpa mendiskriminasikan predikat yang disandang. Strategi yang pada B-bIO secara singkat dijelaskan bahwa penggerak awesome berproses pada guru dalam upayanya mencapai eksistensi diri dan sekaligus berproses bersama siswa maupun seluruh elemen sekolah dalam sebuah relasi personal yang harmonis untuk dapat menciptakan satu atau lebih puncak-puncak keberhasilan dalam hidup yang bermakna.

Strategi pembelajaran yang menggunakan pola B-bIO tersebut dilakukan oleh Bintang Bangsaku yang selama 7 (tujuh) tahun terakhir ini tidak hanya menerima anak-anak biasa dari keluarga yang normal, tetapi juga menerima anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu maupun anak-anak penyandang predikat “Anak Berkebutuhan Khusus” yang sifatnya permanen, mulai dari tunarungu, low vision, down syndrome, bahkan sampai brain damage atau cerebral palsy. Strategi yang relatif berhasil mentransformasi berbagai elemen sekolah untuk menjadi lebih mengedepankan rasa cinta dan kemampuan berlogika. Transformasi yang diperlukan dalam upaya memenuhi kebutuhan semua pembelajar, baik itu siswa reguler, ABK, bahkan sampai pada guru, karyawan, kepala sekolah, orang tua, maupun masyarakat umum.

___________________________________

salam, Yanti D.P.

Mengenal Pendidikan Inklusi

By Yanti Depe on January 21st, 2010

cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________

Manusia sejak lahir dikaruniai potensi sosialitas, artinya setiap individu memiliki kemampuan untuk dapat bergaul dan tidak dapat mencapai apa yang diinginkannya seorang diri. Kehadiran manusia lain di hadapannya bukan saja penting untuk mencapai tujuan hidupnya, tetapi juga merupakan sarana untuk pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya.

Sehubungan dengan potensi dan kebutuhan sosial tersebut, dunia mencanangkan pendidikan ideal yang mengakui pluralitas perbedaan individual dan memanfaatkannya secara positif sebagai sumber untuk belajar. Sebuah pencanangan yang dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat memang terdapat keragaman, baik kondisi fisik, lingkungan sosial, tingkat ketahanan ekonomi, kemampuan intelektual, penggunaan bahasa, keyakinan agama, dan lain sebagainya. Implikasi dari pencanangan ini adalah semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), berhak mendapatkan layanan pendidikan secara memadai.

Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan/ penyimpangan (fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional) dalam proses pertumbuhkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain yang seusia sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Dengan demikian, meskipun seorang anak mengalami kelainan/ penyimpangan tertentu, tetapi jika tidak signifikan dan tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus maka anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus.

Ada bermacam-macam jenis anak dengan kebutuhan khusus, tetapi khusus untuk keperluan pendidikan inklusi, anak dengan kebutuhan khusus akan dikelompokkan menjadi 9 jenis yang paling sering dijumpai di sekolah-sekolah reguler. Jika di luar 9 jenis tersebut masih dijumpai di sekolah, maka guru dapat bekerjasama dengan pihak lain yang relevan untuk menanganinya, seperti anak-anak autis, anak korban narkoba, anak yang memiliki penyakit kronis, dan lain-lain.

Terkait dengan kebutuhan model pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan menyelenggarakan pendidikan yang tidak diskriminatif, maka model pendidikan inklusi menjadi pilihan. Tentunya inklusif dapat diterjemahkan dalam arti luas, tidak sekedar menggabungkan antara ABK dengan anak normal, tetapi memfasilitasi kebutuhan anak sesuai kebutuhan kekhususannya, baik aspek fisik, emosi sosial, juga perbedaan latar belakang budaya, agama, dan bahasa.

Keberhasilan sistem pendidikan inklusi akan sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan pihak-pihak yang terkait dalam proses pembelajaran. Pada dasarnya masing-masing individu, tanpa terkecuali, memilki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dengan menyadari prinsip tersebut, masing-masing individu diharapkan menyadari bahwa inti dari keberhasilan proses pembelajaran adalah strategi dalam menerima dan menjalin relasi personal di mana hubungan antar pribadi terjalin tanpa mendiskriminasikan predikat yang disandang oleh masing-masing pihak.

Strategi yang cukup umum dipakai adalah relasi collaborative consultation. Dalam Mangunsong (1996) dikatakan bahwa pendekatan collaborative consultation penekanan utamanya adalah kesamaan (mutuality) dan timbal balik (resiprocity), artinya membagi tanggung jawab dan kekuasaan yang seimbang dan terpadu. Tidak ada pihak yang merasa lebih bertanggung jawab, lebih ahli, atau lebih diuntungkan dalam menentukan atau menjalankan program bersama. Dalam pelaksanaannya, guru kelas berkolaborasi dengan berbagai profesi yang terkait, misalnya psikolog, terapis, atau dokter sehingga dapat mengidentifikasikan dan memfasilitasi beragamnya kebutuhan anak dengan tepat. Tentunya program ini akan berhasil jika didukung kerja sama yang efektif dengan oleh seluruh siswa dan orang tuanya.

Pada kenyataannya, di Indonesia, walaupun sudah hampir 20 tahun sejak “Pendidikan Untuk Semua” dicanangkan di Bangkok, namun ABK tetap sering kali dipandang tidak memungkinkan mendapatkan kesempatan yang sama dengan anak normal, salah satunya dalam akses pendidikan. Padahal, sebenarnya jika dengan berbekal prinsip dasar pendidikan inklusi bahwa pendidikan adalah hak setiap orang, setiap anak memiliki keunikannya masing-masing, dan meyakini bahwa memisahkan ABK dari teman-temannya yang normal mengingkari kedua prinsip tersebut, maka pandangan tentang ABK tersebut dapat ditepiskan.

___________________________________

salam, Yanti D.P.

B-bIO dan Inklusi di SBB

By Yanti Depe on January 9th, 2010

B-bIO (Brain-based Integrated Outline) merupakan sebuah pola dalam sistem pencapaian eksistensi diri yang bersifat horizontal sekaligus transedental dengan mengacu pada prinsip kerja otak. B-bIO juga merupakan pengembangan irisan-irisan proses pemerolehan pengetahuan pada orang dewasa maupun proses pembelajaran yang berlangsung pada anak-anak.

Secara sistem, B-bIO menggunakan penggerak utama yang dinamakan Awesome, yaitu aware, expose, sinchronize, construct, automize, dan integrate. Pada lingkup pendidikan, penggerak tersebut berproses pada guru dalam upayanya mencapai eksistensi diri dan sekaligus berproses bersama siswa maupun seluruh elemen sekolah untuk dapat menciptakan satu atau lebih puncak-puncak keberhasilan dalam hidup yang bermakna.

Pada tataran aplikasi, pola tersebut terbukti bermanfaat secara timbal balik bagi seluruh elemen yang terkait dalam proses pembelajaran, khususnya pada praktek pendidikan bersifat inklusif yang berpegang pada prinsip bahwa inti dari keberhasilan proses pembelajaran adalah strategi dalam menerima dan menjalin komunikasi dan relasi personal tanpa mendiskrimasikan predikat yang disandang.

Strategi pembelajaran yang menggunakan pola B-bIO tersebut dilakukan oleh Sekolah Bintang Bangsaku selama 7 (tujuh) tahun terakhir ini. Strategi tersebut relatif berhasil mentransformasi berbagai elemen yang terkait dengan proses pembelajaran di lingkup sekolah untuk menjadi lebih mengedepankan rasa cinta dan kemampuan berlogika. Transformasi yang diperlukan dalam upaya memenuhi kebutuhan semua pembelajar, baik itu siswa-siswa reguler, siswa yang berkebutuhan khusus, bahkan sampai pada guru, karyawan, kepala sekolah, orang tua, maupun masyarakat umum.

Manfaat yang tampak dalam keseharian di Bintang Bangsaku dapat menjadi pijakan pertama dalam upaya menggugah kesadaran bahwa dalam lingkungan masyarakat inklusif bahwa kita harus siap untuk mengubah dan menyesuaikan sistem, lingkungan, dan aktivitas, serta mempertimbangkan kebutuhan semua orang.

Salam, Yanti D.P.

Pendidikan Inklusi (terjemahan)

By Yanti Depe on January 3rd, 2010

Inklusi dan MI

Dalam lingkungan pendidikan inklusif, belajar dipusatkan pada kekuatan, kebutuhan, dan minat setiap murid.

Setiap individu dapat memiliki satu atau lebih kecerdasan , sehingga membutuhkan metode belajar dan pemahaman yang beragam. Sehingga penting bagi setiap pendidik untuk memahami esensi dari kecerdasan jamak ini untuk perkembangan anak dan kemajuan akademisnya, karena setiap anak memiliki potensi dan kapasitas yang berbeda-beda.

Pandangan ini perlu dicermati, sehingga pendidik dapat membantu murid-muridnya untuk mencapai yang terbaik.

Teori Kecerdasan Jamak (MI) yang diterangkan oleh Howard Gardner (1983) memberikan pedoman untuk memahami berbagai macam kecerdasan yang ada, antara lain linguistik, logika/matematika, spatial (ruang, daya bayang 3 dimensi), musikalitas, jasmani-kinestetik, intrapersonal, interpersonal, dan Kecerdasan naturalistik

Kecerdasan Jamak didasarkan pada fakta bahwa kecerdasan bukanlah suatu unsur tunggal yang merupakan “warisan” orang tua.

Manusia pada umumnya lahir dalam kondisi “penuh”, dan dapat dilatih untuk mempelajari segala hal, membuktikan bahwa manusia dapat belajar dalam metode atau lingkungan yang sesuai.

Menurut teori tersebut, kecerdasan terdiri dari berbagai unsur yang saling mandiri, dan setiap kecerdasan memiliki kekuatan dan keterbatasannya masing-masing, di mana tujuh Kecerdasan tersebut memungkinkan tidak hanya satu, tetapi tujuh metode belajar yang berbeda.

Pemikiran ini kemudian berkembang menjadi suatu pendekatan baru yang lebih dapat mengakomodir kebutuhan dan kapasitas murid yang berbeda-beda dalam satu lingkungan kelas.

Teori Kecerdasan Jamak ini juga mengarahkan pada “kemampuan paduan pengajaran”, yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan di mana murid-murid dengan berbagai macam variasi dapat belajar dan berproses untuk mencapai prestrasi bersama-sama.

Inti dari metode ini lebih menekankan pada penghargaan dan pemahaman terhadap adanya keanekaragaman dalam hidup.

Kecerdasan Jamak Howard Gardner
1. Kecerdasan Linguistik, terkait dengan keahlian dalam membaca, menulis, mendengarkan, berbicara
2. Kecerdasan Logika-Matematika, terkait dengan keahlian menyelesaikan persoalan logika, teka-teki, puzzle, mendapatkan bukti-bukti, melakukan perhitungan
3. Kecerdasan Spatial, terkait dengan keahlian daya ruang 3 dimensi, menentukan jarak dalam satu lingkungan, menentukan posisi benda
4. Kecerdasan Musikal, terkait dengan memainkan alat musik, menciptakan suatu nada, bernyanyi, atau mengarahkan nada. Lebih lanjut, Gardner yakin bahwa mekanik mesin dan ahli jantung memiliki jenis Kecerdasan ini tingkat tinggi karena mereka melakukan diganosis dengan mendengarkan secara cermat pola suara yang timbul (suara mesin mobil atau detak jantung).
5. Kecerdasan Jasmani-Kinestetik, terkait dengan keahlian menggunakan badan atau anggota badan untuk melakukan gerakan-gerakan terlatih tertentu atau melakukan kegiatan untuk maksud tertentu (contoh : penari, atlit, ahli bedah)
6. Kecerdasan Intrapersonal, terkait dengan keahlian dalam memahami diri sendiri, dan mendapatkan pencerahan atau ide-ide berdasarkan hasil pemikiran, tindakan, atau aktivitas emosional.
7. Fungsi Interpersonal, terkait dengan keahlian dalam memahami orang lain, dan hubungan antar individu, memiliki ketrampilan sosial yang tinggi (psikolog, guru, dan politikus pada umumnya memiliki jenis Kecerdasan ini dalam tingkat yang tinggi)
8. Kecerdasan Naturalistik, terkait dengan keahlian untuk memahami dan bekerja dengan efektif dalam lingkungan natural.

Realita Tentang Pendidikan Inklusif

Segregasi tidak bekerja. Anak-anak yang dipisahkan berdasarkan ras, kemampuan, atau karakteristik lain, pendidikan terpisah bukanlah pendidikan yang sama. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak belajar sebanyak ataujustru lebih di kelas yang inklusif.

Semua anak mempunyai hak untuk berada bersama anak-anak lain sebaya mereka. Seorang anak penyandang cacat tidak harus bisa mencapai performa di tingkat kelas atau bertindak persis sama seperti anak-anak lain di kelas mereka untuk mendapatkan manfaat dari menjadi bagian dari pendidikan reguler.

Orang tua telah dan terus menjadi kekuatan pendorong bagi pendidikan inklusif. Hasil terbaik terjadi ketika orangtua anak-anak penyandang cacat dan profesional bekerja sama. Kerjasama yang efektif terjadi ketika ada kolaborasi, komunikasi dan, terutama, KEPERCAYAAN antara orangtua dan profesional.

Apa Artinya Menjadi Inklusif?

Pendidikan inklusif didasarkan pada gagasan sederhana bahwa setiap anak dan keluarga dinilai layak sama dan kesempatan yang sama dan pengalaman. Pendidikan inklusif adalah tentang anak-anak penyandang cacat – apakah cacat ringan atau berat, tersembunyi atau jelas – berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari, sama seperti mereka akan jika ketidakmampuan mereka tidak hadir. Ini tentang membangun persahabatan, keanggotaan dan memiliki peluang yang sama seperti orang lain.

Inklusi adalah menyediakan bantuan anak-anak perlu untuk belajar dan berpartisipasi dalam cara yang bermakna. Kadang-kadang, bantuan dari teman atau guru-guru terbaik. Lain kali, bahan yang dirancang khusus atau teknologi dapat membantu. Kuncinya adalah hanya memberikan bantuan sebanyak yang diperlukan.

Pendidikan inklusif adalah hak anak, bukan hak istimewa. Para Penyandang Cacat Individu dengan Undang-Undang Pendidikan dengan jelas menyatakan bahwa semua anak-anak penyandang cacat harus dididik dengan anak-anak cacat non-usia mereka sendiri dan memiliki akses ke kurikulum pendidikan umum.

Manfaat Pendidikan Inklusif

Semua orang tua menginginkan anak-anak mereka untuk diterima oleh rekan-rekan mereka, memiliki teman-teman dan menjalani hidup “biasa”. Pengaturan inklusif dapat membuat visi ini menjadi kenyataan bagi banyak anak-anak cacat.

Ketika anak-anak menghadiri kelas-kelas yang mencerminkan persamaan dan perbedaan dari orang-orang di dunia nyata, mereka belajar untuk menghargai keberagaman. Menghormati dan pengertian ketika anak-anak tumbuh kemampuan yang berbeda dan budaya bermain dan belajar bersama.

Sekolah merupakan tempat penting bagi anak-anak untuk mengembangkan persahabatan dan belajar keterampilan sosial. Anak-anak dengan dan tanpa cacat belajar dengan dan dari satu sama lain dalam kelas-kelas inklusif.

Dalam kelas inklusif, anak-anak dengan dan tanpa cacat diharapkan untuk belajar membaca, menulis dan melakukan matematika. Dengan harapan yang lebih tinggi dan instruksi yang baik anak-anak cacat belajar keterampilan akademik.

Karena filsafat pendidikan inklusif ini bertujuan untuk membantu semua anak-anak belajar, semua orang di kelas manfaat. Anak-anak belajar dengan langkah mereka sendiri dan gaya dalam lingkungan belajar yang kondusif.

http://www.pbs.org/parents/inclusivecommunities/inclusive_education2.html

Bintang Bangsaku, Inklusi, dan BBL

By Yanti Depe on November 22nd, 2009

Kebijakan untuk menjadikan TK Bintang Bangsaku sebagai sebuah institusi pendidikan anak usia dini yang bersifat inklusif merupakan kelanjutan dari idealisme awal dari para pendiri sejak masih bernama Sanggar Kreativitas Bobo Cabang Penjernihan di tahun 2002. Idealisme yang tetap kami pertahankan sampai sekarang, yaitu “Pendidikan untuk Semua”.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, Bintang Bangsaku tidak hanya menerima anak-anak biasa dari keluarga yang normal, tetapi juga menerima anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu maupun anak-anak penyandang predikat “Anak Berkebutuhan Khusus” yang sifatnya permanen, mulai dari tunarungu, low vision, down syndrome, bahkan sampai brain damage atau cerebral palsy. Tidak hanya itu, pintu gerbang Bintang Bangsaku juga terbuka lebar-lebar untuk anak-anak jalanan. Mereka, kami ajak bermain sembari menanamkan nilai-nilai moral dan etika dalam hidup bermasyarakat.

Saat ini, perjuangan kami untuk dapat membimbing anak-anak khusus tersebut tidaklah seberat tahun-tahun pertama. Pada saat itu, selain harus menghadapi si anak khusus, kami juga harus dapat menyakinkan orang tua siswa yang lain untuk juga dapat menerima anak-anak tersebut.

Tidak sedikit orang tua yang mendatangi penulis dan mengancam mengeluarkan anaknya jika si khusus masih tetap ditempatkan di kelas yang sama. Tidak jarang juga orang tua yang mengajukan kekhawatirannya mengenai perilaku si khusus yang mungkin akan ”menular” pada anaknya. Menular di sini dalam arti ditiru oleh anak-anak lain. Penulis, yang waktu itu sebagai kepala sanggar, mengatakan pada mereka bahwa SKB Penjernihan (sekarang TK Bintang Bangsaku) tidak pernah mengeluarkan siswa dengan alasan apa pun.

Saya jelaskan pada para orang tua bahwa dengan kehadiran si khusus, anak-anak yang normal justru berlatih nyata untuk dapat berempati dan mengasihi tanpa syarat. Mereka belajar membimbing. Mereka belajar berbagi. Mereka juga belajar mengalah. Sementara untuk si khusus, keberadaan mereka bersama teman-teman sebaya akan sangat membantu motivasinya untuk belajar bersosialisasi agar dapat diterima oleh teman-temannya. Pada orang tua murid tersebut, penulis juga menjelaskan bahwa dinamika yang terjadi di kelas menunjukkan bahwa rasa aman dan kehangatan sangat mewarnai suasana belajar. Si autis jadi bisa ikut bermain, si disphasia/aphasia mencoba untuk berkomunikasi dengan keterbatasan bahasanya, di speech delay dapat berbicara dengan normal, si ADHD/ADD dapat diingatkan untuk tidak sibuk, si down syndrome mulai belajar makan dan minum sendiri. Sementara anak-anak yang lain sibuk menjadi pengawal atau pembimbing si khusus.

Penulis memahami bahwa untuk memaknai, menghayati, dan menindaklanjuti kenyataan bahwa sekolah dengan pendekatan yang inklusif dapat menghasilkan lulusan yang berkarakter kuat memang tidaklah mudah. Diperlukan adanya kesadaran bahwa dalam lingkungan masyarakat inklusif, kita harus siap untuk mengubah dan menyesuaikan sistem, lingkungan, dan aktivitas yang berkaitan dengan semua orang lain serta mempertimbangkan kebutuhan semua orang.

Salah satu komponen dalam sistem yang menjadi kendala adalah tidak adanya metode atau program yang sangat lengkap sehingga cocok bagi semua peserta didik atau semua guru reguler ataupun guru pendidikan kebutuhan khusus. Sebenarnya, metode atau program tersebut merupakan kewajiban dan kebebasan profesional dari setiap guru dan guru pendidikan kebutuhan khusus untuk menciptakan dan mengembangkan khasanahnya sendiri untuk dipergunakan dalam membuat dan merevisi. Kewajiban dan kebebasan yang menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan sensitivitas dari seluruh elemen yang mendukung sekolah sebagai suatu sistem organisasi pembelajar yang terdiri dari berbagai macam komponen.

Salah satu inovasi pembelajaran yang dapat membantu guru-guru yang belum memiliki pengetahuan yang khusus mengenai pendidikan inklusi agar dapat keluar dari kebingungannya adalah dengan pembelajaran yang berdasarkan pada kinerja otak (Brain Based Learning/BBL), di mana pemahaman mengenai bagaimana cara otak manusia bekerja menjadi dasar bagi penyusunan kurikulum, metode pembelajaran, media dan sumber belajar, bahkan juga menjadi dasar bagi sistem penilaian hasil belajar peserta didik.

Pendekatan BBL sangat mudah dilakukan dan sekaligus sangat lentur, karena prinsipnya yang sederhana, yaitu semua manusia adalah pembelajar yang alami. Selain fleksibilitas tersebut, sistem pembelajaran BBL dapat menjadi pilihan karena pada dasarnya hampir semua sistem pembelajaran yang selama ini dikenal dapat secara efektif mengoptimalkan kemampuan belajar peserta didik ternyata dapat terjadi karena apa yang dilakukan sudah sesuai dengan tuntutan dari kinerja otak manusia.

Contohnya, pendekatan experiential learning (EL), yang mengutamakan adanya pengalaman langsung pada si pembelajar untuk dapat memahami suatu materi baru, dapat berhasil karena pada dasarnya otak manusia bersifat plastis dan selalu berubah peta jalur jejaringnya sejauh intensitas pengalamannya. Pendekatan Problem Based Learning (PBL) yang menekankan terjadinya proses tantangan untuk memecahkan masalah secara kolaboratif maupun individual, bagi otak seperti sedang melakukan senam aerobik (Jensen, 2009). Proses pemecahan masalah akan menyebabkan pembentukan sinaps, mengaktifkan neurotransmitter, dan meningkatkan aliran darah. Konsekuensinya, pendekatan dengan sistem PBL akan menyebabkan proses terjadinya penambahan jalur dalam jejaring neuron dalam otak. Selain EL dan PBL, pendekatan hypnoteaching yang dikenalkan oleh pakar Neuro Linguistic Programme (NLP) sejalan dengan kenyataan bahwa seluruh proses berpikir, emosi, dan bahkan spiritual terletak pada upayanya dalam memanfaatkan berbagai gelombang yang ditimbulkan oleh kinerja dari masing-masing jejaring peta neuron tersebut. Mirip dengan hypnoteaching, pendekatan terbaru yang disebut Power Teaching dengan Micro Lecturer ternyata dapat berhasil karena memanfaatkan Basic Rest Activity Cycle yang terdapat di otak manusia.

Beragam pendekatan yang ternyata berujung pemanfaatan kinerja otak untuk mengefektifkan proses pembelajaran, menimbulkan keyakinan pada diri penulis bahwa pemahaman mengenai diri pembelajar dapat dijembatani melalui pemahaman mengenai kinerja otak manusia. Pemahaman tersebut yang menjadi dasar dalam menyusun program pendidikan yang fleksibel sehingga dapat sesuai untuk masing-masing peserta didik, baik secara individual maupun kelompok, dan baik yang berkebutuhan khusus maupun yang normal.

Berdasarkan pada pemahaman tersebut, gambaran mengenai bagaimana sebenarnya seorang anak belajar dan bagaimana pengaruh kinerja otak dalam proses pembelajarannya perlu dipahami secara utuh dan mendalam agar sekolah benar-benar dapat menyediakan sarana prasarana, menyusun kurikulum, memilih teknik pembelajaran, menetapkan peraturan, menyesuaikan sistem administrasi demi memenuhi kebutuhan semua pihak. Sementara itu, pemahaman mengenai inklusifitas akan meletakkan dasar yang netral dan tidak bias bagi pendidik maupun kepala sekolah sebagai unsur penting dalam pengambilan kebijakan sistem ketika akan menentukan bagaimana manajemen sekolah maupun manajemen kelas dijalankan.

Berdasarkan berbagai pemikiran dan upaya menjawab tantangan untuk dapat menyediakan wadah bagi ramah pembelajaran bagi semua kalangan, maka, aplikasi pendidikan inklusi berdasarkan pada prinsip kerja otak di Bintang Bangsaku adalah sebagai berikut: bermakna dan berdasarkan realita, aktif, menyenangkan, dan dapat diaplikasi walaupun dalam bentuk simulasi; multimodalitas, terintegrasi dan bertema; bersifat multi-kultural dan bebas bias; menggunakan umpan balik yang positif; memperhitungkan waktu yang tepat, sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan masing-masing anak. Sementara itu, secara umum, sebagai sebuah sistem, sebaiknya sekolah berpegang pada beberapa pedoman berikut ini untuk menciptakan lingkungan inklusif dan menggunakan pembelajaran yang berbasis kinerja otak, yaitu ;

• Kebijakan sekolah dan dukungan administrasi yang memiliki visi dan misi yang mengisyaratkan tentang pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan tidak bias sehingga anak dari beragam latar belakang dan kemampuan mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar serta mengekspresikan dirinya di kelas maupun di sekolah.

• Kurikulum secara fleksibel dapat dimodifikasi dan diadaptasikan menurut tingkat dan gaya belajar yang berbeda.

• Lingkungan sekolah yang memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam dan memberikan berbagai pengalaman dengan orang tua, masyarakat, dan guru-guru dari sekolah lain.

• Orang tua dan masyarakat sekitar mengetahui keberadaan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah pembelajaran serta dapat mengajukan gagasan.

• Guru dan karyawan menghayati beberapa rambu, yaitu :

1. Bekerja sama dengan tim, yaitu dengan cara: menggunakan sebanyak-banyaknya referensi dari para guru dan terapis yang terkait, psikolog, dokter anak serta dokter lain yang terlibat; mendiskusikan tujuan pembelajaran siswa dan manajemen kelas dengan pihak terkait.

2. Beberapa hal yang harus dilakukan saat perencanaan: mempelajari dengan seksama kurikulum dan perangkat lain yang sudah berlaku dan menjadi SOP di sekolah serta memahami rutinitas harian, baik dalam kelas maupun di sekolah; memperhatikan detail segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan fisik kelas dan sekolah

3. Beberapa hal yang harus dilakukan saat pelaksanaan: menunjukkan rasa hormat pada siswa, orang tua, sesama guru, dan para pihak yang terkait/berkepentingan dengan sekolah; berusaha untuk dapat selalu sistematis, dan terorganisir dalam bekerja; menggunakan reward, bukan hukuman, yaitu menghargai perilaku baik yang ditunjukkan oleh semua pihak; jika diijinkan, libatkan teman-teman sekelas untuk membantu siswa yang berkebutuhan khusus; membangun hubungan yang positif, mendorong bukan mengendalikan; menggunakan pertanyaan untuk melibatkan siswa, bukan menggunakan kalimat perintah; menggunakan contoh-contoh dari pengalaman siswa, bukan pengalaman guru karena guru bukan yang terbaik, hanya sedang menuju menjadi lebih baik.

Salam,

Yanti D.P.

Deteksi Dini Gangguan Belajar pada Anak-Anak

By Yanti Depe on November 18th, 2009

Ada orang tua yang bingung karena anaknya masih belum dapat berbicara secara lancar di usianya yang 2 tahun, ada juga yang bingung karena anaknya tidak bisa duduk tenang, ada juga yang bingung karena anaknya selalu menangis jika bertemu dengan orang asing …

Jangankan orang tua, kemampuan guru untuk dapat membantu mengindentifikasi apakah muridnya termasuk yang berkebutuhan khusus ternyata juga masih jauh dari harapan … Bahkah saat saya mengikuti workshop yang diadakan oleh Dikdas Kecamatan Tanah Abang, ada seorang guru yang menanyakan “Inklusi itu sistem administrasi yang baru, ya?” dan banyak yang berkomentar “Wah, muridku banyak yang termasuk ADHD nih, soalnya nggak bisa duduk diam …”

Waduh …

Terus terang saya bukan termasuk kelompok orang yang gampang me-label (men-cap) kemampuan seorang anak namun juga tidak menggampangkan kondisi si anak pula.  Akibatnya, lumayan juga besarnya kekecewaan saya ketika mengikuti kedua workshop yang sudah saya sebutkan di awal karena kedua pembicara seringkali memberikan sinyal bahwa 1 tanda muncul di perilaku anak maka kita sudah harus waspada dengan kemungkinan gejala autis atau ADHD atau ADD atau Tuna Laras atau jenis-jenis kekhususan lainnya …  Padahal, hadirnya 1 tanda bisa merujuk pada banyak hal …

Sama seperti kalau badan kita hangat, mungkin saja karena flu, mungkin karena DB, mungkin karena badan kita terlalu lelah …

Nah untuk anak tidak bisa duduk diam, sebagian besar kasus yang saya temukan adalah karena kebosanan yang menerpa … bukan karena si anak menderita ADHD atau Autisme …

Sementara untuk anak yang jarang berbicara dan seringkali terlihat asyik sendiri, sebagian besar kasus yang saya temukan adalah karena minimnya komunikasi dengan anak, terlalu banyak menonton TV, terlalu banyak mainan yang bersifat individual, kebingungan bahasa (sekolah internasional tetapi orang rumah berbahasa Indonesia atau bahkan berbahasa daerah) …

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai hal tersebut, saya hanya mengajak Anda untuk mengikuti seminar tentang Deteksi Dini Gangguan Belajar pada Anak-anak yang akan memberikan pengantar bagi kita semua untuk dapat mengenali tanda-tanda gangguan belajar pada anak-anak secara ilmiah langsung dari ahlinya, yaitu ibu Rosana Dewi Yunita, M.Si. Psikolog yang merupakan dosen dan sekaligus praktisi dalam psikologi anak, keluarga, serta pendidikan.

Seminar akan diadakan pada tanggal 5 Desember 2009, pukul 09:00 – 11:00 WIB, di Bintang Bangsaku, Jl. Penjernihan I Raya No 30 PU, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Biaya : Rp 25.000,00/orang

Fasilitas : Makalah, Snack, dan Sertifikat.  Selain itu, seluruh peserta seminar maupun workshop yang diadakan oleh Schema maupun Bintang Bangsaku akan memperoleh lebih dari 2000 ebook mengenai anak, keluarga, dan pendidikan …

Contact :
- Sekolah Bintang Bangsaku : 021-571 95 25
- SCHEMA : 021-77 88 34 33
- Pipit : 0813 89 58 89 90

Pengertian Tunagrahita

By Yanti Depe on November 11th, 2009

1. Menurut American on Mental Deficiency (AAMD)

  • American Association on Mental Deficiency (AAMD) dalam B3PTKSM, (p. 20) mendefinisikan retardasi mental/tunagrahita sebagai kelainan: yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes individual; yang muncul sebelum usia 16 tahun; dan menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.
  • Menurut AAMD, definisi tunagrahita, adalah : yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes, yang muncul sebelum usia 16 tahun, dan yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.

2. Menurut Japan League for Mentally Retarded

  • Japan League for Mentally Retarded (1992: p.22) dalam B3PTKSM (p. 20-22), mendefinisikan retardasi mental/tunagrahita ialah fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 ke bawah berdasarkan tes intelegensi baku; kekurangan dalam perilaku adaptif; dan terjadi pada masa perkembangan, yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.
  • Menurut Menurut Japan League for Mentally Retarded, sebagai berikut : Fungsi intelektualnya lamban (IQ 70 ke bawah) berdasarkan tes intelegensi baku; Kekurangan dalam perilaku adaptif; dan Terjadi pada masa perkembangan (antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun)

3. Menurut The New Zealand Society for the Intellectually Handicapped

  • The New Zealand Society for the Intellectually Handicapped menyatakan tentang tunagrahita adalah bahwa seseorang dikatakan tunagrahita apabila kecerdasannya jelas-jelas di bawah rata-rata dan berlangsung pada masa perkembangan serta terhambat dalam adaptasi tingkah laku terhadap lingkungan sosialnya.

4. Menurut American Association on Mental Retardation (AAMR)

  • Definisi tunagrahita yang dipublikasikan oleh American Association on Mental Retardation (AAMR). Di awal tahun 60-an, tunagrahita merujuk pada keterbatasan fungsi intelektual umum. Keterbatasan ini ditunjukkan dengan skor IQ dua Standar Deviasi di bawah rata-rata.
  • Definisi tunagrahita yang dipublikasikan tahun 1992 oleh AAMR merujuk pada keterbatasan fungsi intelektual umum dan keterbatasan pada keterampilan adaptif. Keterampilan adaptif mencakup area : komunikasi, merawat diri, home living, keterampilan sosial, bermasyarakat, mengontrol diri, functional academics, waktu luang, dan kerja. Menurut definisi ini, ketunagrahitaan muncul sebelum usia 18 tahun.

5. Menurut WHO, seseorang yang tunagrahita harus memiliki dua komponen esensial, yaitu :

  • fungsi intelektual secara nyata di bawah rata-rata
  • adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tututan yang berlaku dalam masyarakat,

Fitri Nurjana – Mahasiswa PLB UNJ – Pembimbing Bintang Bangsaku