Archive for the ‘Brain-based Integrated Outline’ Category

B-bIO in Diagram (draft edition)

By Yanti Depe on January 27th, 2010

These three diagrams are the revision from the original drafts’ version of B-bIO. I’ve revised those original diagrams to simplify the reader to get the idea on how we can use our brain to become truly alive human being as an individual or as a member of the society and create one or more achievements in our life or if we can have a strong commitment then those achievements can become a masterpiece.

The B-bIO show how the brain works in human, not as a mechanistic individual but as a spiritual human being that driven by the soul, which is connected directly to The Source, using the “awesome keys”.

Read & Comment ›››

Implementasi Brain-based Integrated Outline di PAUD

By Yanti Depe on January 25th, 2010

Tantangan :

  1. kebijakan lokal (bukan perangkat hukum yang berlaku secara nasional) yang masih terkesan memarginalkan anak yang dinilai tidak mampu secara akademis.
  2. kenyataan bahwa masyarakat cenderung ke arah segregasi demi eksklusifitas dan citra diri
  3. faktor sumber daya, baik berupa sarana prasana fisik, perangkat kurikulum, dan tenaga kependidikan, yang memang masih belum dapat memenuhi tuntutan pendidikan inklusi yang sangat idealis.

Modal :

  1. Relasi personal
  2. Collaborative consultation ; Kesamaan (mutuality) dan Timbal Balik (reciprocity) Read & Comment ›››

Brain-based Integrated Outline

By Yanti Depe on January 25th, 2010

Wheel of Will

  • hakikat diri sebagai mahluk pribadi (afeksi, kognisi, dan konasi), sosial, dan spiritual yang memiliki tujuan hidup dan berkomitmen menjalankan kehidupan

Awesome Keys

  • kunci-kunci penggerak komitmen yang didasari niat (intensi) untuk mencapai tujuan
  • terdiri dari AWare, Expose, Synchonize, cOnstruct, autoMize, integratE

Existence Tracks

  • jalur-jalur eksistensi diri yang dipilih, baik secara sadar maupun tidak sadar, dan berlangsung seumur hidup
  • terdiri dari Fisik, Emosi, Sosial, Logika-Kognitif, Seni-Natural, Moral-Spiritual Read & Comment ›››

dari Bintang untuk Bangsaku

By Yanti Depe on January 21st, 2010

cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________

Stimulasi  yang  tepat  atau  sesuai  dengan  perkembangan  anak  akan  merangsang anak untuk  belajar,  menumbuhkan  rasa ingin tahu, dan mengaktifkan  fungsi-fungsi otaknya. Berdasarkan pada pemahaman tersebut, gambaran mengenai bagaimana sebenarnya seorang anak belajar dan bagaimana pengaruh kinerja otak dalam proses pembelajarannya perlu dipahami secara utuh agar sekolah dapat menyediakan sarana prasarana, menyusun kurikulum, memilih teknik pembelajaran, menetapkan peraturan, menyesuaikan sistem administrasi demi memenuhi kebutuhan semua pihak.

Sementara itu, pemahaman mengenai inklusifitas akan meletakkan dasar yang netral dan tidak bias bagi pendidik maupun kepala sekolah sebagai unsur penting dalam pengambilan kebijakan sistem ketika akan menentukan bagaimana manajemen sekolah maupun manajemen kelas dijalankan.  Manfaat yang tampak dalam keseharian di Bintang Bangsaku dapat menjadi pijakan pertama dalam upaya menggugah kesadaran bahwa dalam lingkungan masyarakat inklusif kita harus siap untuk mengubah dan menyesuaikan sistem, lingkungan, dan aktivitas, serta mempertimbangkan kebutuhan semua orang.

Sistem PAUD Inklusi di Bintang Bangsaku yang dengan menggunakan pola B-bIO mentransformasi setiap elemen yang terkait dengan berdasarkan pada kesadaran, keterbukaan, ketersinambungan, keterbangunan, keterhayatan, dan keintegrasian.  Gerak dari sebuah sistem organisasi yang harmonis sesuai dengan standar tingkat pencapaian perkembangan dalam proses pembelajaran; standar penyediaan dan pengelolaan pendidik maupun tenaga kependidikan; serta standar sarana prasarana, pengelolaan, dan pendanaan.

Keenam kunci awesome dalam B-bIO tersebut memang sederhana pada penampilannya, tapi di balik itu mungkin tersimpan banyak aspek yang masih bisa digali. Contohnya untuk kunci pertama yang disebut dengan aware atau sadar. Aplikasi aware yang paling utama dalam sebuah sistem pembelajaran adalah penggunaan asesmen yang tepat agar guru dapat mengetahui gambaran besar mengenai kondisi siswanya.  Sedangkan secara umum, asesmen pada dasarnya dapat dilakukan oleh tenaga profesional, kader, orangtua ataupun pendamping anak di pusat-pusat pelayanan kesehatan, posyandu, sekolah ataupun dalam lingkungan keluarga.

Dengan desain pembelajaran yang matang, selaras dan memahami latar belakang anak maka akan tercipta sebuah bangunan kecerdasan dengan aksi refleksi yang terlatih juga terkonstruksi dengan irama dan harmoni yang indah sesuai dengan karakter yang terbangun sendiri oleh anak sesuai ketertarikannya. Sudah menjadi tugas para pembimbing, guru, pengasuh, konselor, dan orang-orang dewasa lain agar anak dapat membangunnya secara partisipatoris tanpa harus dipaksakan karena kemampuan mencerna dan menerima informasi tiap anak, bahkan yang normal sekali pun,  pasti berbeda-beda meski hanya beberapa millisecond, sebuah konsekuensi dari kinerja hamparan jejaring sel otak maupun sel-sel saraf lain yang terus berinteraksi dan berkembang menjadi cetak biru bagi olah pikir dan rasa dalam memahami sesuatu agar dapat memutuskan bentuk perilaku yang tepat.

Secara praktis, beberapa program kerja yang dapat dilakukan untuk membantu tugas guru, pendamping, pengasuh, konselor, maupun orang-orang dewasa lain yang secara praktis bersama anak-anak, baik yang normal maupun berkebutuhan khusus, untuk berproses mencapai eksistensi diri masing-masing maupun transformasi system pendidikan dalam masyarakat agar menjadi lebih mengendepankan kombinasi antara kebugaran fisik, kenyamanan emosi, keharmonisan hubungan social, keteraturan logika, dan kedalaman makna adalah sebagai berikut:

  1. mengingat acuan perkembangan anak usia dini masih mengacu pada literatur asing, sehingga ada kemungkinan tidak semuanya sesuai dengan tingkat perkembangan anak Indonesia. Setiap anak di setiap negara bahkan setiap daerah memiliki kultur dan budaya yang spesifik. Oleh karena itu langkah pertama dalam proyek penyusunan system PAUD berbasis asesmen ini maka perlu dilakukan kajian perkembangan anak Indonesia, baik yang bersifat umum maupun spesifik untuk setiap daerah agar dapat mejadi acuan standar perkembangan anak usia dini di Indonesia, standar proses pembelajaran, dan standar penilaian untuk tingkat PAUD.
  2. Mengingat pemahaman dan keterampilan praktisi PAUD mengenai sistem pendidikan inklusi masih terbatas, alangkah baiknya instansi yang terkait dengan penyelenggaraan lembaga PAUD menyelenggarakan pembekalan terstruktur dan berkesinambungan
  3. Mengingat kecenderungan masyarakat yang lebih memilih adanya segregasi berdasarkan pada perbedaan nyata yang menimbulkan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu, maka sebaiknya sosialisasi mengenai sistem pendidikan inklusi kepada masyarakat umum ditingkatkan, antara lain melalui seminar, pelatihan, serta media massa.

___________________________________

salam, Yanti D.P.

Aplikasi praktis sistem PAUD Inklusi ala Bintang Bangsaku

By Yanti Depe on January 21st, 2010

cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________
Secara praktis,  sistem PAUD Inklusi yang diterapkan oleh Bintang Bangsaku dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Komponen Peserta Didik:
    1. Pembagian kelompok berdasarkan pada usia kronologis untuk anak normal dan pada usia mental untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) sehingga ada sebuah instrumen asesmen standar yang digunakan untuk mengetahui tingkat perkembangan masing-masing anak saat pertama kali mengikuti program pembelajaran.  Bintang Bangsaku juga menggunakan beberapa instrumen lain yang biasa digunakan untuk mengetahui tingkat kesulitan yang dialami oleh ABK dalam proses pembelajarannya. Hasil dari asesmen ini yang akan menjadi referensi utama bagi guru dalam penyusunan desain pembelajaran yang khas untuk masing-masing anak.
    2. Kapasitas kelas perlu dibatasi demi terwujudnya dinamika kelas yang mendorong pertumbuhkembangan masing-masing peserta didik, yaitu :

(1)   untuk usia 2 – 4 tahun, dibatasi hanya 9 anak dengan dibimbing oleh 2 atau lebih guru,

(2)   untuk usia 4 – 5 tahun, dibatasi hanya 8 anak dengan dibimbing oleh 1 atau lebih guru,

(3)   untuk usia 5 – 6 tahun, dibatasi hanya 12 anak dengan dibimbing oleh 1 atau lebih guru.

  1. Komponen Kurikulum, berpedoman bahwa program pembelajaran harus terstruktur dan dapat memenuhi kebutuhan masing-masing anak dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut ini, yaitu:
    1. Desain kurikulum berdasarkan pada azas :

(1)   Pemanfaatan Kinerja Sistem Aktivasi Retikular, yaitu mempertahankan perhatian dengan cara mengkaitkan materi atau keterampilan yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari.

(2)   Pemanfaatan Kinerja Otak Emosi, yaitu dengan memberi umpan balik yang positif, spesifik, tepat,  dan nyaman.

(3)   Pemanfaatan Kinerja Peta Koneksi, yaitu menggunakan pra-pemaparan, memanfaatkan materi/ keterampilan yang sebelumnya, melatih pemecahan masalah secara mandiri, serta mendorong pembelajar untuk menetapkan tujuan belajar yang konkret, spesifik, dan mempunyai rentang waktu tertentu.

(4)   Pemanfaatan Kinerja Siklus Otak, yaitu: menggunakan aktivitas yang bervariasi dalam suatu rentang waktu, menjaga agar suasana tetap hidup dan tidak monoton, mengijinkan anak untuk beristirahat, dan mendorong pembelajar untuk turut berbagi pengetahuan maupun keterampilannya.

Kesesuaian ini didasarkan pada berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa otak anak sudah terikat kuat dengan 80 persen dari segala sesuatu yang pernah ia ketahui dan semua pertumbuhan neural berikutnya dibangun dari jalur-jalur tersebut (Dennison, 2008). Artinya, bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Perkembangan dan kebutuhan otak tersebut yang menyebabkan masa kanak-kanak dari usia 0 – 8 tahun diistilahkan sebagai periode emas dan hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan otak anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan.

  1. Silabus disusun berdasarkan indikator dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan dari Departemen Pendidikan Nasional yang telah dimodifikasi menjadi lebih terperinci agar dapat diadaptasikan dengan kondisi siswa yang beragam. Indikator-indikator tersebut kemudian diolah dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan pencapaiannya sehingga menjadi sebuah matriks target pencapaian.  Matriks tersebut yang menjadi landasan dalam perencanaan pembelajaran untuk setiap semester, bulan, minggu, bahkan harian.
  2. Materi dalam kurikulum memiliki kaitan erat dengan kehidupan sehari-hari semua peserta didik yang mengintegrasikan baca, tulis, hitung dan kecakapan hidup di seluruh tema materi dan saling berhubungan satu sama lainnya.
  3. Alur maupun skenario dari kegiatan pembelajaran disusun dengan mempertimbangkan berbagai karakteristik dasar dari kinerja otak

Secara khusus, alur dalam desain kegiatan pembelajaran menggunakan awesome sebagai pedomannya. Melalui proses pembelajaran yang dialami selama 90 menit, anak akan menyadari apa yang ia pelajari melalui berlatih, bereksperimen, dan mengenal lebih jauh ketika panca inderanya diberikan peluang untuk mengenal lingkungan dan dirinya sebagai satu kesatuan dalam proses belajar di mana anak membangun pengalaman secara otomatis sehingga terintegrasi ke dalam dirinya.

Jika hal demikian dapat berlangsung terus-menerus selama proses tumbuh kembangnya maka langkah-langkah ini akan secara sadar masuk ke dalam benaknya secara otomatis bahkan ketika menghadapi sesuatu yang baru karena semuanya sudah terangkum dalam bawah sadarnya. Secara terperinci, penjelasan masing-masing konsep dari awesome dalam desain pembelajaran adalah sebagai berikut:

(1) Aware.  Konsep aware merupakan kesadaran awal. Materi belajar akan lebih mudah dipelajari jika siswa telah menyadari apa yang akan dipelajarinya. Kesadaran siswa dapat dibangun pada kegiatan pra-paparan yang dikerjakan di rumah serta diskusi yang disampaikan guru sebelum dan setelah kegiatan belajar.

(2)   Expose yang berarti memberikan ragam stimulus optimal pada seluruh indra sensori siswa yang merangsang munculnya seluruh kemampuan anak sebagai modal belajarnya. Karenanya aktivitas belajar sehari-hari haruslah melibatkan tidak hanya kemampuan verbal atau koginitif tapi juga motorik halus dan kasar.

(3)   Synchronize Banyak penelitian dalam pendidikan yang telah dengan sangat meyakinkan menunjukkan bahwa proses belajar akan lebih mudah dan efektif jika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Misalnya, alih-alih menggunakan papan kancing untuk melatih motorik halus anak lebih baik melatih anak mengkancingkan bajunya sendiri. Karena kegiatan itu tidak hanya melatih motorik halus, tapi juga sekaligus melatih kemandirian bahkan dengan bonus belajar matematika, dengan menghitung jumlah kancing bajunya yang harus dipasangnya.

(4)   Construct . Semua aktivitas, tata ruang kelas, mainan yang disediakan, alat bantu belajar yang digunakan bahkan instruksi yangn diberikan dalam proses belajar disiapkan untuk anak dan dirancang dengan tujuan yang jelas dengan hasil yang dapat diukur. Kegiatan yang dirancang juga haruslah meliputi lingkup belajar anak seperti sains, bahasa dan matematika. Dengan kata lain kegiatan haruslah tersusun sistematis dengan capaian yang terarah.

(5)   Automize . Konsep ini diaplikasikan pada pelaksanaan kegiatan rutin di sekolah seperti cuci tangan sebelum makan, membereskan mainannya sendiri dan lain sebagainya, sedang untu guru berupa peraturan di sekolah. Tujuannya agar anak dan seluruh elemen sekolah terbiasa pada kebiasaan-kebiasaan baik, sehingga perilaku positip menjadi hal spontan yang dilakukan siswa dan guru dalam keseharian.

(6)   Integrated. Konsep ini teraplikasi dalam lingkungan belajar yang inklusi. Tidak hanya menggabungkan anak berkebutuhan khusus dengan anak normal dalam satu ruang belajar namun juga menciptakan atmosfer yang terpadu, memenuhi kebutuhan dan melibatkan semua anggota kelas

  1. Secara khusus, bagi ABK yang dari hasil asesmennya ternyata memerlukan pendekatan yang berbeda maka akan dibuatkan suatu program pendidikan yang sifatnya individual.
  2. Media belajar, baik yang berupa lembar kerja maupun alat peraga, diupayakan sendiri pengadaannya demi memenuhi beragam kebutuhan.
  3. Interpretasi subjektif diminimalisir dengan menggunakan sensory based report berdasarkan pemantauan secara terus menerus, dalam berbagai konteks, dan berdasarkan apa yang dapat dikerjakan dan dihasilkan anak secara terus menerus bersamaan dengan kegiatan pembelajaran. Berbagai teknik dan instrumen asesmen, seperti catatan anekdot (anecdotal record), catatan narrative (narrative record), catatan cepat (running record), sample kegiatan (event sampling), dan dengan portofolio digunakan untuk memantau perkembangan anak.
  4. Proses modifikasi perilaku diberlakukan dengan cara kontrak belajar yang berdasarkan pada prinsip token ekonomi.
  5. Komponen Sarana & Prasarana dikelola dengan memperhatikan kebutuhan ruang masing-masing anak untuk dapat bergerak bebas dan dirancang sedemikian rupa agar dapat menimbulkan kesan yang tidak monoton, aman, dan memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam.
  6. Komponen Pengelolaan Organisasi menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas yang dilakukan dengan cara:
    1. Berpedoman pada visi dan misi yang mengisyaratkan tentang pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan tidak bias.  Visi, misi, dan tujuan lembaga dijadikan cita-cita dan upaya bersama agar mampu memberikan inspirasi, motivasi dan kekuatan pada semua pihak yang berkepentingan.
    2. Mematuhi sistem dan prosedur kerja yang jelas dan tidak saling tumpang tindih sesuai dengan struktur organisasi dan maksud jabatan, di mana elemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan wajib untuk:

(1) Secara pribadi menguasai keenam kunci dari awesome, yaitu AWare (spending ten minutes in silence and see the potential), Expose (involve all the sensory), Synchronize (feel the body, touch the emotion, hear the thought, make the connection), cOnstruct (build the experience and be talented), autoMize (skip the thinking part and be spontaneous), intEgrate (blend it all and become one with The Source)

(2)   melaksanakan pendidikan inklusif dan ramah terhadap pembelajar

(3)   mengidentifikasi dan menghindari adanya bias-bias dalam kurikulum, lingkungan sekolah, dan proses pembelajaran

(4)   mengikuti secara aktif berbagai lokakarya, pelatihan, dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi

(5)   fokus pada kerja tim bukan prestasi individual

  1. Memiliki program kerja yang menunjukkan adanya kemauan untuk terus berkembang dan meningkatkan kemampuan organisasi untuk memenuhi kebutuhannya maupun kebutuhan seluruh elemen pendukungnya.  Salah satu bentuk program kerja yang terlihat nyata adalah memfasilitasi peningkatan kemampuan karyawan melalui pendidikan lanjutan yang sesuai dengan arah pengembangan karirnya.
  2. Komponen Pendanaan dikelola dengan pedoman:
    1. Dana yang diperoleh dari orang tua siswa hanya digunakan untuk biaya operasional. Biaya investasi, diperoleh dengan menggunakan berbagai macam cara untuk dapat memperoleh dana, salah satunya adalah dengan menyenggarakan berbagai workshop untuk umum.
    2. Seluruh transaksi keuangan dibukukan secara terpadu, cermat dan transparan untuk menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program kerja tahunan dan dilaporkan kepada pihak-pihak yang berwenang secara jujur.
  3. Hubungan dengan masyarakat dilakukan menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak yang terkait dengan mengupayakan adanya pertemuan rutin orang tua murid, pelatihan-pelatihan yang terbuka untuk umum, dan juga dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, yaitu dengan diterbitkannya berbagai artikel tentang PAUD di website sekolah.  Keberadaan website tersebut juga sangat bermanfaat untuk mensosialisasikan aplikasi pendidikan inklusif di tingkat PAUD.

___________________________________

salam, Yanti D.P.

Sistem PAUD Inklusi ala Sekolah Bintang Bangsaku

By Yanti Depe on January 21st, 2010

cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________
Perjalanan panjang selama beberapa tahun untuk mencari formula inklusifitas di tingkat PAUD adalah proses yang menuntut totalitas dari seluruh elemen sekolah untuk menjawab berbagai tantangan yang ada. Modal utama dari pelaksanaan pendidikan inklusi, yaitu nilai yang berlaku universal, adalah hal penting yang harus dihayati bersama sebelum melangkah menempuh perjalanan panjang mewujudkan konsep yang idealis tersebut.  Keberpihakan pada prinsip bahwa sekolah adalah bagian dari sistem sosial kemasyarakatan merupakan syarat utama bagi pengampu kebijakan.  Loyalitas dari seluruh pihak yang terkait sangat diperlukan dalam proses perjuangan yang sangat melelahkan.

Sungguh sebuah perjalanan yang penuh tantangan untuk sampai pada titik di mana sistem PAUD inklusif benar-benar dapat mewujudkan diri dalam bentuk kebijakan sekolah berdasarkan pada prinsip awesome yang secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. menyadari (aware) bahwa anak dari beragam latar belakang dan kemampuan mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dan mengekspresikan dirinya di kelas dan di sekolah.  Sejauh ini sudah lebih dari 80 peserta didik berkebutuhan khusus, baik dari kondisi fisik, kognitif, emosi, maupun sosial ekonomi,  yang pernah dan sedang menempuh proses pembelajaran bersama anak-anak yang dikategorikan normal.
  2. membuka (expose) kesempatan sebesar-besarnya bagi setiap anak untuk dapat menjadi dirinya sendiri dan sekaligus sebagai bagian dari kelompoknya
  3. menyelaraskan (synchonize) seluruh program kegiatan dengan berbagai kebutuhan yang sangat beragam dan khas yang dimiliki oleh setiap anak
  4. menyediakan lingkungan pengalaman (construct) yang kondusif bagi pengoptimalisasian proses tumbuh kembang anak sesuai dengan kecepatan perkembangannya masing-masing
  5. membiasakan (automize) terciptanya hubungan yang wajar, manusiawi, dan personal yang dapat terinternalisasi secara positif dalam membangun karakter anak Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab
  6. mengintegrasikan (integrate) keberagaman dalam kebersamaan yang harmonis demi terwujudnya sebuah sistem sosial yang saling menghargai keunikan masing-masing dan mendukung tercapainya eksistensi semua pihak

Kebijakan tersebut berada dalam 6 jalur eksistensi (excistence track) yang dijabarkan sebagai berikut :

  1. jalur yang menggunakan berbagai sarana fisik yang memperhatikan kebutuhan ruang untuk dapat bergerak bebas dan dapat menimbulkan kesan yang tidak monoton, aman, dan memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam dalam pencapaian target-target kesehatan, kekuatan, dan keterampilan maupun koordinasi tubuh/ fisik
  2. jalur yang menggunakan umpan balik yang positif, spesifik, tepat, dan nyaman dalam pencapaian target-target perkembangan identifikasi, ekspresi, dan kontrol emosi yang bersifat intrapersonal
  3. jalur yang memanfaatkan jejaring sosial dalam pencapaian target-target perkembangan kompetensi sosial yang meliputi beradaptasi dengan lingkungan, berkomunikasi secara efektif, dan keterampilan lain yang mendukung  dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat interpersonal
  4. jalur yang memanfaatkan materi/ keterampilan yang telah dikuasai, proses pemecahan masalah secara mandiri, serta tujuan belajar yang konkret, spesifik, dan mempunyai rentang waktu tertentu dalam pencapaian target-target perkembangan logika – kognitif yang mengintegrasikan kemampuan bahasa (lisan dan tulisan), logika matematika (bentuk, bilangan, ukuran, pola, estimasi, statistik dan geometri), dan kecakapan pemecahan masalah pada seluruh program yang saling berhubungan satu sama lainnya
  5. jalur yang memanfaatkan keindahan alam, keharmonisan hubungan antar berbagai hal, keunikan dari masing-masing benda, proses, maupun peristiwa, serta kebebasan berekspresi dalam pencapaian target-target perkembangan imajinasi dalam seni
  6. jalur yang memanfaatkan nilai-nilai universal dalam berhubungan dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan YME dalam pencapaian target-target perkembangan moral – spiritual.

Dalam desain dan pelaksanaannya, ke enam jalur tersebut diperkaya oleh beberapa elemen di luar lingkup sekolah untuk dapat benar-benar menuju proses pencapaian sebuah mahakarya, yaitu eksistensi sebagai manusia yang secara sehat dapat berfungsi normatif, baik  sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakat.  Beberapa elemen yang paling mempengaruhi proses desain maupun pelaksanaan program di jalur-jalur tersebut adalah sebagai berikut:

  1. norma budaya setempat maupun secara global
  2. kekayaan alam di lingkungan sekitar, baik yang bersentuhan secara langsung maupun tidak langsung
  3. perangkat-perangkat hukum yang berlaku positif
  4. kemajuan ilmu dan teknologi
  5. keberadaan pakar yang kompeten di berbagai bidang terkait
  6. kisah-kisah praktis yang dapat menjadi aspirasi

___________________________________

salam, Yanti D.P.

PAUD Inklusi sebagai Perjalanan Inovasi Bintang Bangsaku

By Yanti Depe on January 21st, 2010

cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________

Walaupun berbekal dengan ketiga prinsip yang mendasari pendidikan inklusi, harus diakui bahwa terdapat beberapa tantangan dalam melaksanakan model pendidikan ideal yang mengakui pluralitas perbedaan individual dan memanfaatkannya secara positif sebagai sumber untuk belajar. Tantangan pertama adalah adanya kebijakan lokal (bukan perangkat hukum yang berlaku secara nasional) yang masih terkesan memarginalkan anak yang dinilai tidak mampu secara akademis. Tantangan ke dua adalah kenyataan bahwa masyarakat yang cenderung ke arah segregasi demi eksklusifitas dan citra diri. Sementara tantangan terakhir adanya faktor sumber daya, baik yang berupa sarana prasana fisik, perangkat kurikulum, dan tenaga kependidikan, yang memang masih belum dapat memenuhi tuntutan pendidikan inklusi yang sangat idealis.

Secara khusus, ketiadaan pedoman kurikulum inklusi untuk tingkat kanak-kanak dan minimnya kompetensi maupun loyalitas pendidik terasa sangat berat dan menyulitkan dalam operasionalisasi konsep pendidikan inklusif. Berat karena banyak kesalahan yang terjadi saat penanganan ABK dan sulit karena tidak ada pedoman dalam perencanaan maupun pelaksanaan program pendidikan yang dapat memenuhi beragam kebutuhan peserta didik.

Walau berat dan sulit, Bintang Bangsaku, sejak masih bernama Sanggar Kreativitas Bobo Penjernihan di tahun 2002, bertekad untuk dapat mencoba melangkah untuk menempuh perjalanan panjang inovasi demi mewujudkan PAUD berkualitas yang menjadi hak bagi semua kalangan. Inovasi yang ditujukan pada penemuan bentuk program pendidikan inklusif yang dapat dilaksanakan di tingkat taman kanak-kanak secara tepat.

Perjalanan inovasi dimulai dengan berbekal perangkat kurikulum standar yang ditetapkan pemerintah untuk taman kanak-kanak reguler. Pada tahun 2004, pengelolaan sekolah sebagai suatu sistem organisasi pendidikan yang terpadu diperbaiki dengan berbekal pedoman penyelenggaraan pendidikan terpadu untuk tingkat sekolah dasar yang diterbitkan oleh direktorat PLB di tahun 2004. Setelah tahun 2004, program belajar mulai mengadaptasi berbagai pendekatan baru dalam pembelajaran.

Ketiadaan pedoman dan minimnya kompetensi, menjadikan proses selama tujuh tahun menjadi sekolah inklusi dengan segala suka dukanya sebagai periode belajar bagi Bintang Bangsaku sampai pada akhirnya menemukan Brain-based Integrated Outline (B-bIO) sebagai sebuah pendekatan yang digunakan sebagai pola dalam sistem pendidikan anak usia dini. B-bIO ditemukan berdasarkan pada pengalaman dalam menggunakan beragam model pendekatan populer di dunia pendidikan yang terbukti berbasis pada kinerja otak. B-bIO merupakan pengembangan irisan-irisan proses pemerolehan pengetahuan pada orang dewasa maupun proses pembelajaran yang berlangsung pada anak-anak yang membentuk sebuah pola pada sistem pencapaian eksistensi diri yang bersifat horizontal sekaligus transedental dengan mengacu pada prinsip kerja otak.

Pendekatan B-bIO dibuat untuk memudahkan semua pengguna dalam mengembangkan lingkungan belajar yang sesuai dengan kinerja otak. Secara sistem, B-bIO menggunakan penggerak utama yang dinamakan Awesome, yaitu aware, expose, sinchronize, construct, automize, dan integrate. Pada tataran aplikasi, pola tersebut terbukti bermanfaat secara timbal balik bagi seluruh elemen yang terkait dalam proses pembelajaran.

Pola B-bIO sangat sesuai untuk praktek pendidikan bersifat inklusif yang berpegang pada prinsip bahwa inti dari keberhasilan proses pembelajaran adalah strategi dalam menerima dan menjalin komunikasi dan relasi personal tanpa mendiskriminasikan predikat yang disandang. Strategi yang pada B-bIO secara singkat dijelaskan bahwa penggerak awesome berproses pada guru dalam upayanya mencapai eksistensi diri dan sekaligus berproses bersama siswa maupun seluruh elemen sekolah dalam sebuah relasi personal yang harmonis untuk dapat menciptakan satu atau lebih puncak-puncak keberhasilan dalam hidup yang bermakna.

Strategi pembelajaran yang menggunakan pola B-bIO tersebut dilakukan oleh Bintang Bangsaku yang selama 7 (tujuh) tahun terakhir ini tidak hanya menerima anak-anak biasa dari keluarga yang normal, tetapi juga menerima anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu maupun anak-anak penyandang predikat “Anak Berkebutuhan Khusus” yang sifatnya permanen, mulai dari tunarungu, low vision, down syndrome, bahkan sampai brain damage atau cerebral palsy. Strategi yang relatif berhasil mentransformasi berbagai elemen sekolah untuk menjadi lebih mengedepankan rasa cinta dan kemampuan berlogika. Transformasi yang diperlukan dalam upaya memenuhi kebutuhan semua pembelajar, baik itu siswa reguler, ABK, bahkan sampai pada guru, karyawan, kepala sekolah, orang tua, maupun masyarakat umum.

___________________________________

salam, Yanti D.P.

Mengenal Pendidikan Inklusi

By Yanti Depe on January 21st, 2010

cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________

Manusia sejak lahir dikaruniai potensi sosialitas, artinya setiap individu memiliki kemampuan untuk dapat bergaul dan tidak dapat mencapai apa yang diinginkannya seorang diri. Kehadiran manusia lain di hadapannya bukan saja penting untuk mencapai tujuan hidupnya, tetapi juga merupakan sarana untuk pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya.

Sehubungan dengan potensi dan kebutuhan sosial tersebut, dunia mencanangkan pendidikan ideal yang mengakui pluralitas perbedaan individual dan memanfaatkannya secara positif sebagai sumber untuk belajar. Sebuah pencanangan yang dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat memang terdapat keragaman, baik kondisi fisik, lingkungan sosial, tingkat ketahanan ekonomi, kemampuan intelektual, penggunaan bahasa, keyakinan agama, dan lain sebagainya. Implikasi dari pencanangan ini adalah semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), berhak mendapatkan layanan pendidikan secara memadai.

Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan/ penyimpangan (fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional) dalam proses pertumbuhkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain yang seusia sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Dengan demikian, meskipun seorang anak mengalami kelainan/ penyimpangan tertentu, tetapi jika tidak signifikan dan tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus maka anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus.

Ada bermacam-macam jenis anak dengan kebutuhan khusus, tetapi khusus untuk keperluan pendidikan inklusi, anak dengan kebutuhan khusus akan dikelompokkan menjadi 9 jenis yang paling sering dijumpai di sekolah-sekolah reguler. Jika di luar 9 jenis tersebut masih dijumpai di sekolah, maka guru dapat bekerjasama dengan pihak lain yang relevan untuk menanganinya, seperti anak-anak autis, anak korban narkoba, anak yang memiliki penyakit kronis, dan lain-lain.

Terkait dengan kebutuhan model pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan menyelenggarakan pendidikan yang tidak diskriminatif, maka model pendidikan inklusi menjadi pilihan. Tentunya inklusif dapat diterjemahkan dalam arti luas, tidak sekedar menggabungkan antara ABK dengan anak normal, tetapi memfasilitasi kebutuhan anak sesuai kebutuhan kekhususannya, baik aspek fisik, emosi sosial, juga perbedaan latar belakang budaya, agama, dan bahasa.

Keberhasilan sistem pendidikan inklusi akan sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan pihak-pihak yang terkait dalam proses pembelajaran. Pada dasarnya masing-masing individu, tanpa terkecuali, memilki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dengan menyadari prinsip tersebut, masing-masing individu diharapkan menyadari bahwa inti dari keberhasilan proses pembelajaran adalah strategi dalam menerima dan menjalin relasi personal di mana hubungan antar pribadi terjalin tanpa mendiskriminasikan predikat yang disandang oleh masing-masing pihak.

Strategi yang cukup umum dipakai adalah relasi collaborative consultation. Dalam Mangunsong (1996) dikatakan bahwa pendekatan collaborative consultation penekanan utamanya adalah kesamaan (mutuality) dan timbal balik (resiprocity), artinya membagi tanggung jawab dan kekuasaan yang seimbang dan terpadu. Tidak ada pihak yang merasa lebih bertanggung jawab, lebih ahli, atau lebih diuntungkan dalam menentukan atau menjalankan program bersama. Dalam pelaksanaannya, guru kelas berkolaborasi dengan berbagai profesi yang terkait, misalnya psikolog, terapis, atau dokter sehingga dapat mengidentifikasikan dan memfasilitasi beragamnya kebutuhan anak dengan tepat. Tentunya program ini akan berhasil jika didukung kerja sama yang efektif dengan oleh seluruh siswa dan orang tuanya.

Pada kenyataannya, di Indonesia, walaupun sudah hampir 20 tahun sejak “Pendidikan Untuk Semua” dicanangkan di Bangkok, namun ABK tetap sering kali dipandang tidak memungkinkan mendapatkan kesempatan yang sama dengan anak normal, salah satunya dalam akses pendidikan. Padahal, sebenarnya jika dengan berbekal prinsip dasar pendidikan inklusi bahwa pendidikan adalah hak setiap orang, setiap anak memiliki keunikannya masing-masing, dan meyakini bahwa memisahkan ABK dari teman-temannya yang normal mengingkari kedua prinsip tersebut, maka pandangan tentang ABK tersebut dapat ditepiskan.

___________________________________

salam, Yanti D.P.

Usulan Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Asesmen

By Yanti Depe on January 20th, 2010

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun.  PAUD dilakukan melalui pemberian rangsangan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.  Pada dasarnya PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar pertumbuhan dan perkembangan fisik (perkembangan motorik halus dan motorik kasar), kecerdasan (misalnya: daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), serta sosioemosional (sikap dan perilaku).

Hal penting yang perlu dilakukan agar PAUD dapat berlangsung dengan optimal salah satunya adalah penyusunan program yang terstruktur dan efektif. Salah satu yang telah diupayakan oleh pemerintah/penyelenggara PAUD adalah penyusunan kurikulum. Penyusunan kurikulum di mana intinya adalah pemberian rangsangan tersebut memerlukan fleksibilitas, kreativitas, dan sensitivitas dari seluruh elemen.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan pendidikan anak usia dini, pemerintah sudah mengembangkan Kurikulum PAUD dan perangkatnya yang dijadikan acuan bagi penyelenggaraan PAUD. Kurikulum PAUD disusun berdasarkan landasan teoritik, yuridis, dan empiric. Saat ini Standar Nasional Pendidikan untuk PAUD sebagai acuan penyusunan KTSP telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 58 Tahun 2009, namun terlihat bahwa perangkat kurikulum, terutama indikator-indikator dalam standar kompetensi nasional, yang dapat mengakomodasi kebutuhan spesifik peserta didik masih belum sempurna.

Pada dasarnya, tidak ada satu cara yang paling benar dalam penyusunan kurikulum, terutama yang dapat digunakan oleh setiap siswa, hal ini karena setiap anak yang berbeda bisa membutuhkan teknik pembelajaran yang berbeda pula, namun pemahaman mengenai tahap-tahap dan elemen-elemen penting dalam perkembangan akan menjadi modal bagi guru dalam melakukan proses pembelajaran (Eisenberg, Murkoff, dan Hathaway, 1998) serta akan membantu  penyempurnaan perangkat kurikulum yang diharapkan meminimalisasikan kelemahan yang ada.

Demi penyempurnaan perangkat kurikulum tersebut, salah satu upaya penting dalam pemahaman dan penyusunan dapat diperoleh dari metode asesmen, yang dalam lingkup PAUD merupakan upaya penjaringan yang dilaksanakan secara komprehensif untuk memperoleh gambaran tentang pertumbuhan dan perkembangan serta mengetahui faktor resiko yang mungkin akan terjadi pada anak, baik itu resiko fisik, biomedik ataupun psikososial.

Dengan demikian, proyek ini hendak menyusun sistem PAUD yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah Indonesia.  Sistem PAUD yang akan disusun merupakan sistem pembelajaran anak usia dini di mana kurikulum yang digunakan berbasis asesmen, yang merupakan aplikasi Brain-based Integrated Outline (B-bIO).  B-bIO merupakan pengembangan irisan-irisan proses pemerolehan pengetahuan pada orang dewasa maupun proses pembelajaran yang berlangsung pada anak. Secara sistem, B-bIO menggunakan penggerak utama yang dinamakan Awesome, yaitu aware, expose, sinchronize, construct, automize, dan integrate. Kunci pertama yang disebut dengan aware adalah sadar. Aplikasi aware yang paling utama dalam system pembelajaran adalah dengan menggunakan asesmen yang tepat agar guru dapat mengetahui gambaran besar mengenai kondisi siswanya.  Sedangkan secara umum, asesmen pada dasarnya dapat dilakukan oleh tenaga profesional, kader, orangtua ataupun pendamping anak di pusat-pusat pelayanan kesehatan, posyandu, sekolah ataupun dalam lingkungan keluarga.

Khusus untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan belajar anak usia dini digunakan Asesmen Otentik. Melalui pemantauan secara terus menerus, dalam berbagai konteks, dan berdasarkan apa yang dapat dikerjakan dan dihasilkan anak, guru dan orangtua dapat memberi bantuan belajar yang pas sehingga anak dapat belajar secara optimal. Oleh karena itu asesmen otentik dilakukan secara terus menerus bersamaan dengan kegiatan pembelajaran. Hasil karya anak, hasil pengamatan guru, dan informasi dari orangtua diperlukan untuk memotret perkembangan belajar anak. Berbagai teknik dan instrumen asesmen, seperti catatan anekdot (anecdotal record), catatan narrative (narrative record), catatan cepat (running record), sample kegiatan (event sampling), dan dengan portofolio digunakan untuk memantau perkembangan anak.

Asesmen untuk pemantauan perkembangan tersebut akan disusun berdasarkan pada tingkat pencapaian yang menggambarkan pertumbuhan dan perkembangan anak pada rentang usia tertentu, yang merupakan integrasi aspek pemahaman nilai-nilai agama dan moral, fisik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional. Hal ini dilakukan berdasarkan asumsi bahwa perkembangan anak berlangsung secara unik dan berkesinambungan yang berarti bahwa tingkat perkembangan yang dicapai pada suatu tahap diharapkan meningkat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif pada tahap selanjutnya.

Walaupun setiap anak adalah unik, karena perkembangan anak berbeda satu sama lain yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, namun perkembangan anak tetap mengikuti pola yang umum. Sehubungan dengan asumsi tersebut, maka dalam asesmen yang mendasari kurikulum PAUD akan mengacu pada tingkat pencapaian perkembangan yang berdasarkan kelompok usia anak: 0 – <2 tahun; 2 – <4 tahun; dan 4 – ≤6 tahun. Pengelompokan usia 0 – <1 tahun dilakukan dalam rentang tiga bulanan karena pada tahap usia ini, perkembangan anak berlangsung sangat pesat. Pengelompokan usia 1 – <2 tahun dilakukan dalam rentang enam bulanan karena pada tahap usia ini, perkembangan anak berlangsung tidak sepesat usia sebelumnya. Untuk kelompok usia selanjutnya, pengelompokan dilakukan dalam rentang waktu per tahun.

Berkaitan dengan proyek penyusunan model PAUD ini, maka metode yang digunakan untuk penyusunan asesmen adalah gabungan antara metode kuantitatif (survey) dengan kualitiatif (studi kasus, wawancara, observasi serta evaluasi yang berkesinambungan). Gabungan metode tersebut akan membuat data yang ada lebih komprehensif dan meminimalisasi ketidakcermatan dalam mendekteksi perkembangan pada anak usia dini. Kecermatan yang diharapkan akan membuat program PAUD Indonesia menjadi lebih akurat serta lebih cermat dalam deteksi dini gangguan perkembangan yang dialami anak bangsanya sendiri.

Acuan perkembangan anak usia dini masih mengacu pada literatur asing, sehingga ada kemungkinan tidak semuanya sesuai dengan tingkat perkembangan anak Indonesia. Setiap anak di setiap negara bahkan setiap daerah memiliki kultur dan budaya yang spesifik. Teori ekologis memperkuat hal itu, di mana pola pikir dan perilaku anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan spesifiknya. Anak-anak di daerah pantai di Papua umumnya sudah biasa main air dan berenang di laut sejak kecil. Anak-anak di hutan pedalaman lebih mengenal berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Oleh karena itu langkah pertama dalam proyek penyusunan system PAUD berbasis asesmen ini maka perlu dilakukan kajian perkembangan anak Indonesia, baik yang bersifat umum maupun spesifik untuk setiap daerah agar dapat mejadi acuan standar perkembangan anak usia dini di Indonesia.

Setelah kajian tersebut selesai dilakukan dan instrumen asesmen perkembangan anak Indonesia dapat tersusun dengan baik untuk menentukan standar perkembangan akhir usia, maka langkah selanjutnya adalah menyusun sistem PAUD berbasis asesmen yang menggunakan pola B-bIO berpenggerak awesome (aware, expose, sinchronize, construct, automize, dan integrate).  Sistem PAUD yang berdasarkan pada kesadaran, keterbukaan, ketersinambungan, keterbangunan, keterhayatan, dan keintegrasian dalam standar dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan target tingkat pencapaian perkembangan; standar penyediaan dan pengelolaan pendidik maupun tenaga kependidikan; serta standar sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.

Secara praktis, penyusunan sistem PAUD tersebut akan dilakukan dengan melakukan beberapa program kerja berikut ini:

  1. Menetapkan visi dan misi yang menjamin ketersediaan lingkungan belajar yang kondusif demi terlaksananya proses pembelajaran yang tepat untuk anak-anak usia dini dari semua kalangan agar dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki.
  2. Mendesain  kebijakan kesiswaan, yaitu dengan:
    1. menetapkan kebijakan mengenai sasaran peserta didik, termasuk hak dan kewajibannya,
    2. menetapkan pembagian kelompok belajar berdasarkan usia maupun kapasitas,
  3. Mendesain kurikulum dan kegiatan belajar mengajar dengan melakukan langkah-langkah berikut:
    1. memodifikasi indikator dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan yang tercantum pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional agar dapat menjadi lebih terperinci, sesuai dengan instrumen asesmen yang berhasil disusun.
    2. mengolah indikator-indikator tersebut menjadi sebuah matriks target pencapaian yang menjadi landasan dalam perencanaan pembelajaran.
    3. mengkaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari semua peserta didik.
    4. membuat desain pembelajaran dengan memanfaatkan kinerja Sistem Aktivasi Retikular, Otak Emosi, Peta Koneksi, dan Siklus Otak, di mana jika diperlukan, juga membuat suatu program pendidikan individual bagi ABK.
    5. membuat contoh media belajar, baik yang berupa lembar kerja maupun alat peraga, yang memenuhi beragam kebutuhan.
    6. membuat desain sensory based report sebagai alat asesmen keberhasilan belajar.
    7. membuat desain modifikasi perilaku dengan berprinsip token ekonomi.
  4. Mempersiapkan pendidik dan tenaga kependidikan, yaitu:
    1. membuat desain sistem seleksi dalam merekrut pendidik maupun tenaga kependidikan
    2. membuat desain peningkatan kemampuan karyawan melalui pendidikan lanjutan yang sesuai dengan arah pengembangan karirnya
  5. Membuat desain sarana dan prasarana, yaitu  merancang lingkungan pembelajaran yang memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam
  6. Memperluas jaringan hubungan masyarakat, yaitu dengan menjalin kerja sama dengan beberapa pihak yang berkompeten, misalnya dengan dokter, psikolog, terapis, dan sekolah inklusi lain serta membuat website sekolah yang juga merupakan alat sosialisasi sistem PAUD berbasis asesmen

Sistem PAUD berbasis asesmen yang menggunakan pola B-bIO tersebut sebenarnya telah dilakukan selama 7 (tujuh) tahun di KB & TK Bintang Bangsaku, Jakarta Pusat.  Pembelajaran ini telah berhasil mengantarkan lebih dari 400 anak, baik normal maupun ABK, ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi tanpa mengorbankan tugas-tugas perkembangan pada masa kanak-kanak.  Keberhasilan yang telah diperoleh tersebut dapat menjadi pijakan bagi pengembangan asesmen secara nasional untuk penyempurnaan sistem PAUD di Indonesia.

Yanti D.P.

Otak manusia: belajar dari orang lain

By Yanti Depe on January 19th, 2010

Berbagai penelitian telah mengungkapkan bahwa dibandingkan dengan otak mamalia lain, otak manusia yang baru lahir memiliki dua fitur yang luar biasa.

Pertama, ia sudah memiliki anatomi otak yang kompleks dan unik, memiliki mekanisme inti koordinasi motorik yang secara khusus disesuaikan untuk perilaku-perilaku manusia: berjalan lincah dengan tubuh bipedal; pintar memanipulasi benda-benda; dan mengkomunikasikan pikirannya pada orang lain dengan menggunakan perubahan wajah, vokal, serta ekspresi gestural yang sesuai dengan kondisi emosi, minat dan tujuannya.

Kedua, sejalan dengan prinsip bahwa semakin lama spesies mamalia hidup dan belajar dari pengalaman, maka semakin besar pula korteks serebral otak-depan, maka bisa dikatakan bahwa korteks manusia sangat besar, bahkan sudah dalam tahap setengah sempurna pada saat lahir.

Selain itu, tempo berhentinya perkembangan juga sangat lambat, atau bisa dikatakan tidak pernah berhenti. Selama beberapa bulan setelah lahir, jaringannya terus berubah. Beberapa dari jaringan dan jalur akson bahkan berkembang selama puluhan tahun, seiring dengan adanya latihan dan pendidikan yang dialami sebagai pengalaman hidup.

Sementara itu, serebelum (otak belakang), juga sangat rumit, belum dewasa saat lahir, dan lambat tempo perkembangannya. Sirkuit yang rumit ini mengatur waktu pengendalian indra secara cepat dan terampil dalam koordinasi gerakan tubuh agar lincah dalam berjalan, berbicara, dan menggunakan kedua tangan dengan pintar. Bagian ini tumbuh seiring pertumbuhan tubuh dalam ukuran dan kekuatan serta semakin sempurna perkembangannya melalui latihan-latihan.

Di bagian lain, pusat emosional yang berada di subkorteks otak maupun korteks limbik sangat erat hubungannya dengan motivasi yang bergantung pada kualitas komunikasi dengan orang lain dan dengan kepentingan maupun perasaan yang berkecamuk di dalam otak mereka.

Beberapa fakta di atas menunjukkan bahwa hasil penelitian tersebut telah memberikan isyarat pada kita bahwa “otak” tidak melulu tentang kognitif.

Kita sebaiknya mulai memahami bahwa otak manusia dilahirkan dan dipersiapkan untuk belajar dalam kesadaran serta kearifan masyarakat.

salam, Yanti D.P.