cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________
Perjalanan panjang selama beberapa tahun untuk mencari formula inklusifitas di tingkat PAUD adalah proses yang menuntut totalitas dari seluruh elemen sekolah untuk menjawab berbagai tantangan yang ada. Modal utama dari pelaksanaan pendidikan inklusi, yaitu nilai yang berlaku universal, adalah hal penting yang harus dihayati bersama sebelum melangkah menempuh perjalanan panjang mewujudkan konsep yang idealis tersebut.  Keberpihakan pada prinsip bahwa sekolah adalah bagian dari sistem sosial kemasyarakatan merupakan syarat utama bagi pengampu kebijakan.  Loyalitas dari seluruh pihak yang terkait sangat diperlukan dalam proses perjuangan yang sangat melelahkan.

Sungguh sebuah perjalanan yang penuh tantangan untuk sampai pada titik di mana sistem PAUD inklusif benar-benar dapat mewujudkan diri dalam bentuk kebijakan sekolah berdasarkan pada prinsip awesome yang secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. menyadari (aware) bahwa anak dari beragam latar belakang dan kemampuan mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dan mengekspresikan dirinya di kelas dan di sekolah.  Sejauh ini sudah lebih dari 80 peserta didik berkebutuhan khusus, baik dari kondisi fisik, kognitif, emosi, maupun sosial ekonomi,  yang pernah dan sedang menempuh proses pembelajaran bersama anak-anak yang dikategorikan normal.
  2. membuka (expose) kesempatan sebesar-besarnya bagi setiap anak untuk dapat menjadi dirinya sendiri dan sekaligus sebagai bagian dari kelompoknya
  3. menyelaraskan (synchonize) seluruh program kegiatan dengan berbagai kebutuhan yang sangat beragam dan khas yang dimiliki oleh setiap anak
  4. menyediakan lingkungan pengalaman (construct) yang kondusif bagi pengoptimalisasian proses tumbuh kembang anak sesuai dengan kecepatan perkembangannya masing-masing
  5. membiasakan (automize) terciptanya hubungan yang wajar, manusiawi, dan personal yang dapat terinternalisasi secara positif dalam membangun karakter anak Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab
  6. mengintegrasikan (integrate) keberagaman dalam kebersamaan yang harmonis demi terwujudnya sebuah sistem sosial yang saling menghargai keunikan masing-masing dan mendukung tercapainya eksistensi semua pihak

Kebijakan tersebut berada dalam 6 jalur eksistensi (excistence track) yang dijabarkan sebagai berikut :

  1. jalur yang menggunakan berbagai sarana fisik yang memperhatikan kebutuhan ruang untuk dapat bergerak bebas dan dapat menimbulkan kesan yang tidak monoton, aman, dan memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam dalam pencapaian target-target kesehatan, kekuatan, dan keterampilan maupun koordinasi tubuh/ fisik
  2. jalur yang menggunakan umpan balik yang positif, spesifik, tepat, dan nyaman dalam pencapaian target-target perkembangan identifikasi, ekspresi, dan kontrol emosi yang bersifat intrapersonal
  3. jalur yang memanfaatkan jejaring sosial dalam pencapaian target-target perkembangan kompetensi sosial yang meliputi beradaptasi dengan lingkungan, berkomunikasi secara efektif, dan keterampilan lain yang mendukung  dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat interpersonal
  4. jalur yang memanfaatkan materi/ keterampilan yang telah dikuasai, proses pemecahan masalah secara mandiri, serta tujuan belajar yang konkret, spesifik, dan mempunyai rentang waktu tertentu dalam pencapaian target-target perkembangan logika – kognitif yang mengintegrasikan kemampuan bahasa (lisan dan tulisan), logika matematika (bentuk, bilangan, ukuran, pola, estimasi, statistik dan geometri), dan kecakapan pemecahan masalah pada seluruh program yang saling berhubungan satu sama lainnya
  5. jalur yang memanfaatkan keindahan alam, keharmonisan hubungan antar berbagai hal, keunikan dari masing-masing benda, proses, maupun peristiwa, serta kebebasan berekspresi dalam pencapaian target-target perkembangan imajinasi dalam seni
  6. jalur yang memanfaatkan nilai-nilai universal dalam berhubungan dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan YME dalam pencapaian target-target perkembangan moral – spiritual.

Dalam desain dan pelaksanaannya, ke enam jalur tersebut diperkaya oleh beberapa elemen di luar lingkup sekolah untuk dapat benar-benar menuju proses pencapaian sebuah mahakarya, yaitu eksistensi sebagai manusia yang secara sehat dapat berfungsi normatif, baik  sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakat.  Beberapa elemen yang paling mempengaruhi proses desain maupun pelaksanaan program di jalur-jalur tersebut adalah sebagai berikut:

  1. norma budaya setempat maupun secara global
  2. kekayaan alam di lingkungan sekitar, baik yang bersentuhan secara langsung maupun tidak langsung
  3. perangkat-perangkat hukum yang berlaku positif
  4. kemajuan ilmu dan teknologi
  5. keberadaan pakar yang kompeten di berbagai bidang terkait
  6. kisah-kisah praktis yang dapat menjadi aspirasi

___________________________________

salam, Yanti D.P.

Share this post

Leave a Reply