B-bIO berproses pada si guru … membentuk lingkaran di masing2 level untuk memperbesar (dan meninggikan) spiral existensi dirinya. Sementara itu, si guru juga sebaiknya mengkondisikan step by step B-bIO dalam desain, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajarannya, sehingga secara tidak langsung dapat membiasakan anak untuk menjalani hidup bukan seperti air mengalir yang tak tentu arahnya, melainkan menuju ke satu titik yang berbuah manis, atau kalau dalam konsep B-bIO secara general disebut dengan penciptaan sebuah (atau lebih) masterpiece.
Proses di dalam diri bersifat horisontal dan vertikal, yang secara bersamaan, berproses dengan murid/orang lain dalam bentuk siklus.
Ada 6 kunci dalam B-bIO yang sebenarnya merupakan sistem penggerak bagi setiap individu dalam mencapai perwujudan potensi terbaik kebermaknaan hidupnya di dunia ini.
Berikut ini penjelasanku mengenai aplikasi B-bIO khusus dalam dunia pendidikan.
Kunci pertama adalah Aware, atau sadar. Aplikasi aware, paling sederhana adalah misalnya dengan asesmen yang berguna bagi guru untuk menyadari kondisi siswanya. Sementara untuk pengkondisian pada siswa adalah dengan diadakannya kegiatan pengantar menuju materi yang sebenarnya. Kalau di Bintang Bangsaku, berupa tugas rumah yang berupa visualisasi singkat mengenai pelajaran di keesokan harinya
Kunci ke dua adalah Expose, atau membuka. Aplikasi kunsi expose, bagi guru, ia harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melihat secara detail dengan menggunakan semua panca inderanya secara bersih, bebas dari labelling. Kalau di Bintang Bangsaku, kami menyebutkannya dengan sensory based interaction, yang wujudnya dalam bentuk rencana instruksi pembelajaran, komunikasi sehari-hari, dan juga report. Sementara aplikasi dalam siswa, ia dihadapkan pada kegiatan yang melibatkan seluruh panca inderanya dalam kurun waktu kurang lebih 90 menit dalam lingkungan yang bersifat multi-modalitas.
Kunci ke tiga adalah kunci Synchronize di mana guru harus bisa memaknai materi pelajaran hari itu dalam kaitan dengan kepentingan hidupnya pribadi, kepentingan siswa, dan juga kepentingan para stakeholder. Sementara untuk pengkondisian pada siswa, mereka diajak untuk mengkaitkan seluruh materi/keterampilan dengan perasaan, pikiran, dan perilakunya untuk dapat memahami sejauh mana hal (materi/keterampilan) tersebut dapat digunakan dalam kehidupannya sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkup masyarakat umum
Kunci ke empat adalah Construct, di mana guru sendiri harus membekali diri dengan berbagai pengalaman hidup yang berkaitan dengan materi/keterampilan yang akan ditransfer. Sementara dalam pengkondisian bagi siswa, mereka berhadapan dengan pengalaman (baik fisik, emosi, sosial, maupun kognitif dan moral) yang sudah dirancang oleh guru agar siswa dapat benar-benar memahami (bukan hanya sekedar mengetahui dan terampil) dalam bidang/materi yang sedang diajarkan.
Pada kunci ke lima, yaitu Automize, berbekal seluruh pengalaman, maka guru dapat “menunjukkan” secara pasti bagaimana materi tersebut “hidup” dalam diri si guru sehingga siswa (dalam alam bawah sadarnya) bisa melihat secara langsung bagaimana materi tersebut dapat sangat berguna bagi peningkatan kualitas hidupnya. Sementara dalam pengkondisian untuk siswa, karena 99% pembelajaran berlangsung secara tidak sadar, maka model yang di”tangkap” dari gurunya yang akan diinternalisasi ke dalam dirinya sendiri.
Pada tahap kunci ke enam, yaitu Integrate, guru sendiri sudah dapat dengan fasih bercerita dan menunjukkan betapa bermaknanya pembelajaran materi terkait, baik untuk dirinya, siswanya, maupun pihak-pihak lain yang terkait. Sementara pada siswa, mereka benar-benar dapat merasakan “nafas” yang sama dengan gurunya, dan dapat me”rasa”kan bahwa materi tersebut benar-benar dapat menjembatani kepentingan dirinya dalam menuju ke-eksistensi-an dirinya.
Nah kira-kira seperti itu. Ke-enam kunci itu disingkat dengan AWESOME.
salam hangat,
Yanti D.P.
PS:
OOT sedikit, jika seandainya pemikiran ini pada akhirnya di-klaim sebagai plagiat atau bahkan justru dimanfaatkan (red” di-klaim kepemilikan ide ini) oleh orang2/pihak2 yang tidak menghormati adanya proses berpikir yang lumayan panjang … yah biarkan saja …
Ilmu untuk dibagikan, bukan untuk dimiliki, dan Gusti Allah mboten sare tuh …
Recent Comments