cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM
_______________________________________________________
Walaupun berbekal dengan ketiga prinsip yang mendasari pendidikan inklusi, harus diakui bahwa terdapat beberapa tantangan dalam melaksanakan model pendidikan ideal yang mengakui pluralitas perbedaan individual dan memanfaatkannya secara positif sebagai sumber untuk belajar. Tantangan pertama adalah adanya kebijakan lokal (bukan perangkat hukum yang berlaku secara nasional) yang masih terkesan memarginalkan anak yang dinilai tidak mampu secara akademis. Tantangan ke dua adalah kenyataan bahwa masyarakat yang cenderung ke arah segregasi demi eksklusifitas dan citra diri. Sementara tantangan terakhir adanya faktor sumber daya, baik yang berupa sarana prasana fisik, perangkat kurikulum, dan tenaga kependidikan, yang memang masih belum dapat memenuhi tuntutan pendidikan inklusi yang sangat idealis.
Secara khusus, ketiadaan pedoman kurikulum inklusi untuk tingkat kanak-kanak dan minimnya kompetensi maupun loyalitas pendidik terasa sangat berat dan menyulitkan dalam operasionalisasi konsep pendidikan inklusif. Berat karena banyak kesalahan yang terjadi saat penanganan ABK dan sulit karena tidak ada pedoman dalam perencanaan maupun pelaksanaan program pendidikan yang dapat memenuhi beragam kebutuhan peserta didik.
Walau berat dan sulit, Bintang Bangsaku, sejak masih bernama Sanggar Kreativitas Bobo Penjernihan di tahun 2002, bertekad untuk dapat mencoba melangkah untuk menempuh perjalanan panjang inovasi demi mewujudkan PAUD berkualitas yang menjadi hak bagi semua kalangan. Inovasi yang ditujukan pada penemuan bentuk program pendidikan inklusif yang dapat dilaksanakan di tingkat taman kanak-kanak secara tepat.
Perjalanan inovasi dimulai dengan berbekal perangkat kurikulum standar yang ditetapkan pemerintah untuk taman kanak-kanak reguler. Pada tahun 2004, pengelolaan sekolah sebagai suatu sistem organisasi pendidikan yang terpadu diperbaiki dengan berbekal pedoman penyelenggaraan pendidikan terpadu untuk tingkat sekolah dasar yang diterbitkan oleh direktorat PLB di tahun 2004. Setelah tahun 2004, program belajar mulai mengadaptasi berbagai pendekatan baru dalam pembelajaran.
Ketiadaan pedoman dan minimnya kompetensi, menjadikan proses selama tujuh tahun menjadi sekolah inklusi dengan segala suka dukanya sebagai periode belajar bagi Bintang Bangsaku sampai pada akhirnya menemukan Brain-based Integrated Outline (B-bIO) sebagai sebuah pendekatan yang digunakan sebagai pola dalam sistem pendidikan anak usia dini. B-bIO ditemukan berdasarkan pada pengalaman dalam menggunakan beragam model pendekatan populer di dunia pendidikan yang terbukti berbasis pada kinerja otak. B-bIO merupakan pengembangan irisan-irisan proses pemerolehan pengetahuan pada orang dewasa maupun proses pembelajaran yang berlangsung pada anak-anak yang membentuk sebuah pola pada sistem pencapaian eksistensi diri yang bersifat horizontal sekaligus transedental dengan mengacu pada prinsip kerja otak.
Pendekatan B-bIO dibuat untuk memudahkan semua pengguna dalam mengembangkan lingkungan belajar yang sesuai dengan kinerja otak. Secara sistem, B-bIO menggunakan penggerak utama yang dinamakan Awesome, yaitu aware, expose, sinchronize, construct, automize, dan integrate. Pada tataran aplikasi, pola tersebut terbukti bermanfaat secara timbal balik bagi seluruh elemen yang terkait dalam proses pembelajaran.
Pola B-bIO sangat sesuai untuk praktek pendidikan bersifat inklusif yang berpegang pada prinsip bahwa inti dari keberhasilan proses pembelajaran adalah strategi dalam menerima dan menjalin komunikasi dan relasi personal tanpa mendiskriminasikan predikat yang disandang. Strategi yang pada B-bIO secara singkat dijelaskan bahwa penggerak awesome berproses pada guru dalam upayanya mencapai eksistensi diri dan sekaligus berproses bersama siswa maupun seluruh elemen sekolah dalam sebuah relasi personal yang harmonis untuk dapat menciptakan satu atau lebih puncak-puncak keberhasilan dalam hidup yang bermakna.
Strategi pembelajaran yang menggunakan pola B-bIO tersebut dilakukan oleh Bintang Bangsaku yang selama 7 (tujuh) tahun terakhir ini tidak hanya menerima anak-anak biasa dari keluarga yang normal, tetapi juga menerima anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu maupun anak-anak penyandang predikat “Anak Berkebutuhan Khusus” yang sifatnya permanen, mulai dari tunarungu, low vision, down syndrome, bahkan sampai brain damage atau cerebral palsy. Strategi yang relatif berhasil mentransformasi berbagai elemen sekolah untuk menjadi lebih mengedepankan rasa cinta dan kemampuan berlogika. Transformasi yang diperlukan dalam upaya memenuhi kebutuhan semua pembelajar, baik itu siswa reguler, ABK, bahkan sampai pada guru, karyawan, kepala sekolah, orang tua, maupun masyarakat umum.
___________________________________
salam, Yanti D.P.
Recent Comments