A.  Kesimpulan

1.   Pada ketiga dokumen, yaitu Kurikulum 2004 Standar Kompetensi   TK/RA versi Puskur dan versi Direktorat TK/SD serta Menu Pembelajaran Generik terdapat 6 (enam) aspek perkembangan yang sama substansinya, yaitu Moral dan Nilai-nilai Agama; Sosial, Emosional dan Kemandirian; Berbahasa; Kognitif; Fisik/ motorik; dan  Seni.    Namun   ada    sedikit   perbedaan   pada  pengelompokan  aspek perkembangan.  Aspek perkembangan  dikelompokkan  menjadi dua kelompok. Pada dokumen versi Puskur, aspek perkembangan Moral dan Nilai-nilai Agama; Sosial, Emosional dan Kemandirian dikelompokkan  ke dalam Pembentukan Perilaku dan    Pembiasaan.         Sedangkan     versi  Direktorat   TK/SD    kedua  aspek perkembangan tersebut dikelompokkan ke dalam Bidang Pengembangan Pembiasaan. Aspek perkembangan berbahasa, kognitif, fisik/motorik, dan seni pada kedua dokumen (versi Puskur dan Direktorat) dikelompokkan  ke dalam Kemampuan Dasar. Secara substansi aspek perkembangan pada Menu Pembelajaran Generik sama dengan aspek perkembangan pada Kurikulum 2004 Standar Kompetensi (dokumen  versi Puskur  dan      versi Direktorat  TK/SD),  tetapi  ada perbedaan dalam perumusan kemampuan, yaitu pada Menu Pembelajaran Generik hanya ada indikator kemampuan yang sudah disusun secara bergradasi sesuai dengan usia perkembangan anak (lahir s.d. 6 tahun) pada masing-masing bidang pengembangan.  Sedangkan pada Kurikulum 2004 terdapat kompetensi dasar, hasil belajar, dan indikator. Di samping itu, pada menu pembelajaran generik juga  memuat  program  layanan  kesehatan  dan gizi anak  dini usia (lahir  – 6 tahun) yang mencakup Gizi Seimbang dan Deteksi Dini Pertumbuhan Anak.

2.   Urutan  kompetensi  pada  Kurikulum  2004  Standar  Kompetensi  TK/RA  belum tersusun secara gradual (berurutan) sesuai tahapan perkembangan anak khususnya dalam  bidang  kognitif,  sains,  matematika  dan  seni.  Disamping  itu  juga  belum sesuai   dengan   landasan   teoritis   (landasan   psikologis),   terutama   dalam   hal penyusunan gradasi perkembangan dan lingkup perkembangan.

3.   Dalam Standar Kompetensi TK/RA terdapat tumpang tindih (overlapping) antara kompetensi      pada    bidang     pengembangan    fisik     motorik     dengan     bidang pengembangan seni.

4.   Kompetensi (indikator) anak usia dini pada dokumen Menu Pembelajaran Generik dari  Direktorat  PAUD  sudah  tersusun  secara  gradual  berdasarkan  usia  anak. Namun belum tersusun sesuai dengan aspek perkembangan dan tahapan perkembangan pada setiap bidang pengembangan.

5.  Dokumen Kurikulum 2004 Standar Kompetensi dari direktorat TK SD, belum diungkapkan konsep yang lengkap tentang bidang pengembangan yang mencakup pengertian, tujuan, ruang lingkup dan struktur kompetensi pada masing-masing bidang   pengembangan.   Demikian   juga   yang   dikeluarkan   oleh   Puskur   dan direktorat PAUD.

6.   Pengelompokan    kompetensi    pada     seluruh     naskah     (3     naskah)     belum menggambarkan lingkup aspek perkembangan pada setiap bidang pengembangan. Misalnya: dalam bidang pengembangan  kemampuan berbahasa, hanya terdapat 1 (satu) kompetensi  dasar yang meliputi  aspek-aspek  perkembangan  yang banyak. Hal  ini  tidak  sesuai  dengan  hakikat  kurikulum  berbasis  kompetensi  khususnya dalam  pengertian kompetensi sehingga bisa terukur.

7.   Bidang  pengembangan  jasmani  (motorik  kasar)  secara  konseptual,  seharusnya berada  dalam  bidang  pengembangan  tersendiri  seperti  GBPKB  TK  tahun  1994 tidak digabung atau dicampuradukkan.

8.   Beberapa  komponen  dari  8  SNP  telah  disusun  dalam  bentuk  kerangka  dasar kurikulum PAUD namun masih perlu disempurnakan.

9.   Terlalu   banyak   format   penilaian   sehingga   membingungkan   para  praktisi   di lapangan.

B.  Rekomendasi

1.   Jangka Pendek

a.   Naskah akademik PAUD seharusnya disusun dalam naskah tersendiri sehingga menjadi landasan yang kuat untuk pengembangan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan untuk PAUD.

b.   Perlu segera dituntaskan naskah SKAU (SKL PAUD) dan SIP (SI PAUD) yang didasarkan pada landasan akademik (landasan teoritis) & hasil kajian lapangan.

c.   Perlu dilakukannya riset perkembangan anak usia dini Indonesia sebagai acuan empirik dalam menyusun SKAU dan SIP.

d.   Perlu dilakukan revisi terhadap kerangka dasar kurikulum PAUD dan judulnya sebaiknya  diubah  menjadi  Panduan/Pedoman  Penyelenggaraan  PAUD sesuai dengan isinya.

e.   Dokumen   Standar   Perkembangan   Anak   Lahir   –  6  Tahun   PAUD   perlu diperbaikai   secara  menyeluruh   dan  disesuaikan   dengan  naskah  akademik (tinjauan teoritik).

f.    Dokumen pedoman pengembangan  silabus untuk PAUD seharusnya  menjadi bagian dari dokumen standar proses pembelajaran yang mencakup (1) perencanaan proses pembelajaran, yang meliputi pengembangan tema dan jaringannya,     penyusunan  silabus  pembelajaran    dengan    menggunakan pendekatan  tematik,   dan  menyusun  rencana  pelaksanaan  pembelajaran,  (2) pelaksanaan   proses  pembelajaran   yang  disesuaikan dengan acuan pengembangan proses pengembangan yang dilakukan masing-masing satuan pendidikan anak usia dini, (3) Standar proses pembelajaran TK dapat mengakomodasi dokumen pembelajaran di TK dan dokumen perencanaan dan proses pembelajaran di TK.

2.   Jangka Panjang

a. Perlu adanya buku “INDUK” yang merupakan “blueprint” pengembangan pendidikan  anak usia dini di Indonesia. Buku ini menjadi acuan bagi semua instansi terkait seperti  Direktorat TK SD, Direktorat PAUD, dan Puskur serta Perguruan Tinggi dalam merancang dan mengembangkan PAUD.

b.   Perlu  disusun  tahapan  perkembangan  anak  mulai  dari  usia  lahir  sampai  8 (delapan)  tahun  sebagai  dasar  penentuan  SK dan KD  untuk  SD kelas  awal sehingga ada kesinambungan kompetensi antara TB/KB, TK/RA.

c.   Perlu  dikembangkan  komponen  Standar  Nasional  Pendidikan  untuk   PAUD yang didasarkan pada naskah akademik (misalnya   standar proses, pengelolaan & penilaian).

d.   Perlu dikembangkan  model-model  KTSP PAUD  agar dapat  menjadi  pilihan bagi lembaga penyelenggara PAUD.

Share this post

Leave a Reply