C.  Landasan Empirik

Anak-anak memiliki berbagai kebutuhan mulai dari kebutuhan dasar sampai kebutuhan lanjut, sebagaimana diungkapkan dalam teori Maslow. Anak-anak yang berangkat  ke sekolah  dalam kondisi  kenyang,  cukup tidur dan istirahat,  serta batin yang senang menunjukkan  motivasi belajar yang tinggi, aktif, dan ceria. Sebaliknya anak-anak  yang  ke  sekolah  dalam  kondisi  lapar,  kurang  tidur,  atau  sedang  galau batinnya menunjukkan motivasi yang rendah, tidak aktif, dan pemurung.  Oleh karena itu orangtua,  satuan  PAUD,  dan Pemerintah  perlu  memperhatikan  dan  memastikan bahwa kebutuhan dasar anak terpenuhi. Di satuan PAUD yang memberi jaminan anak- anak memperoleh makanan dan minuman yang cukup dan bergizi menunjuk-kan anak- anak tampak lebih sehat, aktif, dan motivasi belajarnya tinggi.

Berbagai   penelitian   PAUD   telah   dilakukan   untuk   mengungkap   bagaimana pendidikan yang baik bagi anak usia dini. Penelitian Erikson mengungkapkan bahwa perlakuan terhadap anak usia dini memiliki efek jangka panjang. Perlakuan yang baik yang sesuai keinginan anak pada usia satu tahun akan menyebabkan anak berkembang

menjadi orang yang mampu mempercayai  orang lain, dan sebaliknya jika perlakuan tidak menyenangkan akan menyebabkan anak tidak mempercayai orang lain. Banyak kasus   di  TK  di  mana   anak-anak   yang   dicaci   hasil   karyanya   di  depan   kelas menyebabkan  anak-anak  tersebut ngambek tidak mau masuk kelas atau mau masuk kelas tetapi harus ditunggui oleh orangtuanya. Untuk itu pada tahap awal, guru harus mampu  menyakinkan   setiap  anak  bahwa  ia  diterima,  disayangi,  dan  dilindungi sehingga ia merasa aman dan nyaman agar anak dapat mengaktualisasikan potensinya dengan baik.

Stimulasi  yang  tepat  atau  sesuai  dengan  perkembangan  anak  akan  merangsang

anak untuk  belajar,  menumbuhkan  rasa ingin tahu, dan mengaktifkan  fungsi-fungsi otaknya. Di satuan PAUD yang senantiasa menghadirkan obyek belajar yang menarik, seperti anak ayam, anak kucing, menanam biji dan mengamati bagaimana ia tumbuh menjadikan anak-anak bersemangat melakukan kegiatan, banyak bertanya, dan menimbulkan rasa ingin tahu. Sebaliknya jika kegiatan yang sama dan diulang-ulang akan membuat anak cepat bosan dan ingin keluar dari kegiatan yang dilakukan. Oleh karena   itu   kegiatan   yang   konkret,   hands   on,   menarik   dan   menantang   akan menstimulasi anak untuk aktif berpikir dan terlibat.

Bantuan orangtua, terutama ibu dalam kegiatan belajar anak sangat penting bagi pendidikan  anak  usia  dini.  Rene  Spitz  membandingkan  dua  kelompok  anak  yang diasuh di taman pengasuhan anak di penjara dan taman pengasuhan anak hilang dan yatim   piatu.   Kedua   kelompok   mendapat   makanan,   pakaian,   dan   pemeriksaan kesehatan. Perbedaan antara keduanya adalah pada sentuhan kasih sayang ibu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak di panti asuhan yatim piatu dan anak hilang memperlihatkan  perkembangan  fisik, emosi, dan mentalnya kalah jauh dengan anak panti asuhan penjara. Mereka belum bisa berjalan dan berbicara dengan baik pada usia tiga  tahun.  Hal  ini  menunjukkan  bahwa  asuhan,  kasih  sayang,  dan  stimulasi  amat penting bagi perkembangan anak.

Anak-anak dapat belajar kecakapan hidup menuju kemandirian jika dilatih dengan baik. Anak-anak  TK Montessori  di Amerika  Serikat dilatih dengan baik kecakapan hidup  yang  diperlukan  untuk  hidup  sehari-hari.  Anak-anak  belajar  memakai  dan menali sepatu, memakai celana dan baju dengan memasang kancing dan menutup resleting   (zipper).   Mereka   juga  dilatih   makan   dan  minum,   membersihkan   dan merapikan diri serta memakai berbagai peralatan sederhana. Ternyata hasilnya anak- anak cepat mandiri dan mampu menolong dirinya sendiri.

Share this post

Leave a Reply