Ketiga pendekatan tersebut dapat dijelaskan secara global sebagai berikut :

1) Pendekatan Model Pematangan (Maturations Models)

Menurut  pandangan  ini, anak-anak  memiliki  blueprint (cetak biru) pola tingkah laku tertentu.  Perubahan tingkah laku terjadi sebagai hasil dari kematangan psikologis (kesiapan) dan situasi lingkungan yang mengandung tingkah laku tertentu (tugas-tugas perkembangan). Untuk menggunakan model tersebut beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut.

a)  Aspek Administrasi

Lingkungan   ruangan diperhitungkan untuk memberikan mobilitas maksimal bagi perkembangan anak. Pusat-pusat pembelajaran hanya segala sesuatu yang telah dibatasi   (ditentukan) memiliki    dampak   terhadap  perkembangan   anak. Perlengkapan ruangan diisi dengan bahan-bahan multi dimensi yang melayani berbagai kegiatan  ekpresi seperti bahasa, matematika, gerak dan estetika.

b)  Aspek Pendidikan

Aktivitas terdiri dari unit dan tema yang luas yang didasarkan  pada studi minat anak. Anak-anak  bebas memilih aktivitas yang diinginkan.  Penyusunan  aktivitas didasarkan   pada   tema   yang   disusun   melalui   berbagai   permainan.   Strategi pemberian motivasi dilakukan melalui motivasi instrinsik verbal misalnya do’a (harapan). Anak-anak dibentuk dalam suatu kelompok yang heterogen. Pada saat tertentu dilakukan secara homogen berdasarkan pada usia/tahap perkembangan. Susunan kegiatan belajar yang fleksibel dirancang untuk memenuhi kebutuhan dn minat anak-anak. Penjajakan pada kemampuan anak dilakukan melalui observasi secara keseluruhan yang mencakup hal-hal yang bersifat fisik, kognitif dan afektif.

c)   Evaluasi Program

Program dianggap berhasil jika anak-anak memperoleh kemajuan dalam hal fisik, kognitif dan efektif.

2)  Model Aliran Tingkah Laku-Lingkungan

Model ini didasarkan pada teori Skinner, Baer, Bijou dan Bandura. Menurut model tersebut, anak-anak dilahirkan  dengan suatu batu tulis kosong (blank slate), tingkah laku anak yang pasif dibentuk oleh kondisi lingkungan. Perubahan tingkah laku terjadi sebagai hasil dari penguatan peristiwa yang terencana dan yang tidak terencana. Dalam melaksanakan model kurikulum seperti ini pada anak usia dini perlu diperhatikan hal- hal berikut.

a)  Komponen Administratif

Lingkungan ruangan diperhitungkan pada pusat perhatian anak serta menghindari hal-hal yang akan mengganggunya. Daerah antara ruangan dibatasi secara jelas yang seringkali dengan pembatas yang tinggi. Perlengkapan ruangan ditata berdasarkan penajaman  pada  beberapa  pusat  perhatian  serta  terdiri  bahan-bahan  unidimensional model yang menyajikan program tersendiri sesuai sasaran dan melayani satu bentuk kegiatan ekspresi tertentu (misalnya bahasa).

Staf berkedudukan sebagai perencana dan pengendali berbagai situasi lingkungan. Berbagai  aktivitas  yang  dilakukan  orang  dewasa  hampir  seluruhnya  digambarkan sebagai miniatur tingkah laku. Pengajaran dilakukan langsung secara ekspositori pada sejumlah unit kecil dari bahan-bahan materi yang diperoleh dari tugas-tugas besar dan berjenjang (sequensial).

b)  Aktivitas Pendidikan

Berbagai aktivitas yang berorientasi pada tujuan dirancang untuk mencapai pembelajaran budaya secara khusus (biasanya budaya akademik yang alamiah). Materi pembelajaran  yang  sama  seringkali  menjadi  harapan  untuk  dikuasai  oleh  seluruh murid. Berbagai aktivitas dihasilkan oleh bentuk pengajaran langsung yang dilakukan guru,  misalnya  melalui  latihan  atau  drill.  Strategi  pemberian  motivasi  dilakukan dengan menggunakan sistem insentif. Pengelompokan anak disusun berdasarkan kelompok homogen dari segi kemampuan  yang dimiliki anak.

c)   Evaluasi Program

Program dianggap berhasil jika anak-anak memiliki prestasi belajar secara khusus yang   seringkali   bersifat   akademik   seperti   persipan   untuk   mengikuti   sekolah selanjutnya.

3)  Model Interaksi

Model pengembangan kurikulum ini didasarkan pada konsep teori Piaget. Model ini  beranggapan   bahwa  perkembangan   anak  merupakan   hasil  perpaduan   antara heriditas dan pengaruh lingkungan. Perkembangan akan terjadi pada seseorang ketika orang melakukan pengorganisasian diri yang dicapai pada tahap optimal oleh peristiwa yang dieksperientasikan.

a)  Komponen Administratif

Lingkungan  ruangan  dirancang  untuk  memberikan  keuntungan  pada  anak-anak dalam         mencapai             berbagai      aktivitas.      Pusat-pusat   pembelajaran   lebih    dibatasi dibandingkan dengan model pematangan tetapi anak-anak dapat berinteraksi antara berbagai pusat pembelajaran. Perlengkapan pada setiap ruangan terdiri atas berbagai bahan    multi    dimensi yang  dapat    dipergunakan    anak    melakukan  eksplorasi, memecahkan  persoalan  serta  menemukan  berbagai  cara  mengembangkan  gagasan yang bersifat konseptual. Perlengkapan yang disusun harus memenuhi kebutuhan anak pada bahan-bahan kongkrit dan representatif.

Staf bertindak  sebagai  pemerhati  munculnya  berbagai  pengalaman  muncul pada anak pada tahapan perkembangan tertentu. Pada suatu waktu, orang dewasa bertindak aktif  misalnya   memberikan   berbagai   pengalaman   baru  pada  anak  namun  pada kesempatan lain bertindak pasif menunggu anak-anak mencapai tahapan pembelajaran yang stabil. Orang dewasa juga sering menekankan bahasa yang harus dimiliki anak untuk mengembangkan berbagai konsep.

b)  Komponen Pendidikan

Aktivitas pendidikan menekankan pada pembelajaran yang bersifat heuristik, misalnya  strategi  pemecahan  masalah,  elaborasi  keterampilan  dan  teknik  bertanya. Situasi akademik sering dihadirkan melalui suatu unit atau tema. Berbagai rancangan aktivitas pembelajaran ditunjukkan oleh strategi pemecahan masalah, elaborasi keterampilan  dan teknik bertanya. Situasi akademik sering dihadirkan melalui suatu unit  atau  tema.  Berbagai  rancangan  aktivitas  an  dengan  menggunakan   motivasi instriksik, misalnya ‘epistemic curiosity ‘. Pengelompokan anak dilakukan secara heterogen  (kelompok  yang  berbeda)  dari  berbagai  sudut  pandangan.  Anak-anak banyak  bekerja  secara  individual.  Susunan  aktivitas  pembelajaran  anak  dilakukan untuk  mencapai  penguasaan  konsep  yang bersifat  temporal.  Penentuan  batas waktu yang lama pada setiap situasi pembelajaran yang memungkinkan anak melakukan berbagai kegiatan eksploratif.

c) Evaluasi program

Program dianggap berhasil jika anak-anak mencapai kemajuan pada tahap perkembangan  yang  tinggi, misalnya  pengetahuan   fisik,    pengetahuan    logika matematika, pengetahuan pembagian waktu temporal dan pengetahuan sosial.

Share this post

Leave a Reply