6.   Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Ilmu Pendidikan  telah berkembang  pesat dan terspesialisasi;  salah satunya ialah PAUD  yang  membahas  pendidikan  untuk  anak  usia  0-8 tahun.  Anak  usia tersebut dipandang memiliki karakteristik yang berbeda dengan  anak usia di atasnya sehingga pendidikan untuk anak usia tersebut dipandang perlu untuk dikhususkan. PAUD telah berkembang dengan pesat dan mendapat perhatian yang luar biasa terutama di negara- negara maju karena mengembangkan sumberdaya manusia lebih mudah jika dilakukan sejak usia dini.

PAUD adalah ilmu multi dan interdisipliner, artinya tersusun oleh banyak disiplin ilmu yang saling terkait. Ilmu Psikologi perkembangan, ilmu Pendidikan, Neurosains, ilmu Bahasa, ilm Seni, ilmu Gizi, ilmu Biologi perkembangan  anak, dan ilmu-ilmu terkait lainnya saling erintegrasi untuk membahas setiap persoaan PAUD. Untuk mengembangkan   kemampan  intelektual  anak,  diperlukan  berbagai  kegiatan  yang dilandasi dengan ilmu psikologi, ilmu pendidikan, ilmu matematika untuk anak, sains untuk anak, dan seterusnya. Beberapa komponen yang terkait dengan pendidikan anak usia dini adlah sebagai berikut.

a.  Kurikulum PAUD

Kurikulum  PAUD  bertujuan  untuk  mengembangkan  seluruh  potensi  anak  (the whole  child)  agar  kelak  dapat  berfungsi  sebagai  manusia  yang  utuh  seuai  kultur, budaya, dan falsafah suatu bangsa. Anak dapat dipandang sebagai individu yang baru mulai mengenal dunia. Ia belum mengetahui tatakrama, sopan-santun, aturan, norma, etika, dan berbagai hal tentang dunia. Ia juga sedang belajar berkomunikasi  dengan orang lain dan belajar memahami orang lain. Anak perlu dibimbing agar mampu memahami  berbagai  hal  tentang  dunia  dan  isinya.  Ia  juga  perlu  dibimbing  agar memahami berbagai fenomena alam dan dapat melakukan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup di masyarakat. Interaksi anak dengan benda dan dengan orang lain diperlukan untuk belajar agar anak mampu mengembangkan  kepribadian, watak, dan akhlak yang mulia. Usia dini merupakan saat yang amat berharga untuk menenamkan  nilai-nilai  nasionalisme,  kebangsaan,  agama,  etika,  moral,  dan  sosial yang berguna untuk kehidupannya dan strategis bagi pengembangan suatu bangsa.

b.  Pembelajaran PAUD

Pembelajaran bersifat holistik dan terpadu. Pembelajaran mengembangkan semua aspek perkembangan, meliputi (1) moral dan nilai-nilai agama, (2) sosial- emosional, (3) kognitif (intelektual), (4) bahasa, (5) Fisik-motorik, (6) Seni. Pembelajaran bersifat terpadu  yaitu  tidak  mengajarkan  bidang  studi  secara  terpisah.  Satu  kegiatan  dapat menjadi wahana belajar berbagai hal bagi anak. Bermain sambil belajar, dimana esensi bermain  menjiwai  setiap  kegiatan  pembelajaran  amat  penting  bagi  PAUD.  Esensi bermain  meliputi  perasaan  senang,  demokratis,  aktif,  tidak  terpaksa,  dan  merdeka menjadi  jiwa  setiap  kegiatan.  Pembelajaran  hendaknya  disusun  sedemikian  rupa sehingga menyenangkan,  membuat anak tertarik untuk ikut serta, dan tidak terpaksa. Guru memasukkan  unsur-unsur  edukatif  dalam kegiatan  bermain  tersebut,  sehingga anak secara tidak sadar telah belajar berbagai hal.

Materi pembelajaran  PAUD juga amat variatif. Ada pendapat  yang menyatakan bahwa PAUD hanya mengembangkan logika berpikir, berperilaku, dan berkreasi. Adapula yang menyatakan bahwa PAUD juga mempersiapkan anak untuk siap belajar (ready  to  learn);  yaitu  siap  belajar  berhitung,  membaca,  menulis.

Ada  pula  yang menyatakan bahwa materi pembelajaran bebas, yang penting PAUD mengembangkan aspek moral-agama, emosional, sosial, fisik-motorik, kemampuan berbahasa, seni, dan intelektual.  PAUD membimbing anak yang premoral agar berkembang ke arah moral realism dan moral relativism. Pembelajaran membimbing anak dari yang bersifat egosentris-individual,   ke  arah  prososial,   dan  sosial-komunal.   Pembelajaran   juga melatih anak menganal  jati dirinya (self identity),  menghargai  dirinya (self esteem), dan  kemampuan  akan  dirinya  (self  efficacy).  Banyak  pertanyaan  dari  guru  dan orangtua tentang bolehkan mengajarkan anak berhitung, membaca, dan menulis. Bukannya tidak boleh mengajarkan  semua itu, tetapi yang penting ialah anak sudah siap dan guru menggunakan cara-cara yang sesuai untuk belajar anak.

c.  Seting Lingkungan Belajar

Untuk membelajarkan  anak, lingkungan perlu ditata agar kondusif untuk belajar. Penataan  lingkungan  belajar dan fasilitas belajar untuk anak usia dini amat penting

untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak. Di rumah, anak-anak memerlukan mainan yang tidak perlu mahal tetapi baik dan aman untuk belajar anak. Di sekolah anak-anak juga perlu mainan yang aman dan baik untuk belajar. Berbagai alat permainan dan fungsinya bagi PAUD perlu dipahami dan digunakan dengan cara yang benar. Para guru perlu memahami peranan “Pojok Belajar” (Learning Center dan Learning Area), bagaimana cara menyusunnya, apa saja isinya, dan bagaimana penggunaannya.  Penataan  kelas juga amat penting.  Di TK dan SD awal anak-anak belajar dalam kelas dan di luar kelas.  Penataan kelas, isi kelas, dan fungsinya sangat mempengaruhi kegiatan belajar anak.

Halaman sekolah didisain dengan baik agar berfungsi sebagai tempat bermain dan belajar anak. Berbagai jenis alat permainan yang mengembangkan motorik kasar atau otot-otot  besar yang diperlukan  untuk  membentuk  fisik anak   agar tumbuh  dengan baik.             Alat   permainan   untuk   mengembangkan   kemampuan   dasar   anak   seperti kekuatan, ketahanan, keseimbangan, kecekatan/ketangkasan, dan koordinasi sangat diperlukan. Lingkungan belajar juga harus memberi pengalaman belajar yang menarik dan kaya ragam bagi anak. Mengamati perkembangan anak ayam, kucing, atau hewan yang lain amat menarik bagi anak. Demikian pula pengalaman menanam, menyirami, dan memupuk tanaman. Akuarium dan terarium sama menariknya bagi anak dengan pasel  dan  game.  Untuk  itu  guru  dan  orangtua  perlu  memahami  seting  lingkungan belajar anak usia dini.

d.  Asesmen Otentik

Untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan belajar anak usia dini digunakan Asesmen Otentik. Melalui pemantauan secara terus menerus, dalam berbagai konteks, dan berdasarkan apa yang dapat dikerjakan dan dihasilkan anak,   guru dan orangtua dapat memberi bantuan belajar yang pas sehingga anak dapat belajar secara optimal. Oleh karena itu asesmen otentik dilakukan  secara terus menerus bersamaan  dengan kegiatan pembelajaran.  Hasil karya anak, hasil pengamatan guru, dan informasi dari orangtua diperlukan untuk memotret perkembangan belajar anak. Berbagai teknik dan instrumen  asesmen,  seperti  catatan  anekdot  (anecdotal  record),  catatan  narative (narrative record), catatan cepat (running record), sample kegiatan (event sampling), dan dengan portofolio digunakan untuk memantau perkembangan anak.

e.  Pemanfaatan Teknologi

Pemanfaatan  teknologi  untuk optimalisasi  pembelajaran  anak di era global juga disertakan  untuk  membekali  para  calon  guru  bagaimana  menggunakan  teknologi canggih untuk membelajarkan  anak. Salah satu ciri masyarakat  modern ialah melek teknologi. Untuk itu sejak anak-anak mereka perlu diperkenalkan dengan produk teknologi agar        dapat     beradaptasi               secara            aman    dan                    ketertarikan      untuk mengembangkannya   kelas.  TV,  Video,  Radio,  Kalkulator,  Kulkas,  Kompor  gas, Kamera, Dispenser, Mobil, Motor, dan Komputer merupakan barang keseharian yang dijumpai anak. Untuk mengenalkan teknologi kepada anak, sekolah perlu bekerjasama dengan orangtua dan masyarakat di sekitar sekolah. Pengenalan teknologi diharapkan akan  memberi  wawasan  dan  juga  menarik  anak  untuk  mengembangkan  cita-cita (learning to be) untuk menjadi ahli dalam teknologi atau ahli dalam bidang tertentu. Sesuai dengan bakat dan minatnya kelak anak ada yang menjadi ahli pertanian, ahli komputer, ahli radio, ahli motor bakar, dan sebagainya. Produk teknologi, di samping segi positifnya, juga memiliki segi negatif bila tidak digunakan dengan benar. Banyak acara TV, program tayangan dalam bentuk VCD,   DVD program dan internat yang tidak  baik  untuk  anak  usia  dini.  Untuk  itu  guru  dan  orangtua  perlu  memahami

bagaimana cara menggunakan produk teknologi dengan benar agar tidak memberi efek negatif pada anak.

f.   Kerjasama Sekolah-Masyarakat

Institusi  dan  Guru  PAUD  tidak  bias  bekerja  sendiri,  tetapi  harus  menjalin kerjasama  yang  baik  dengan  berbagai  elemen,  baik  dengan  kelompok  profesional PAUD, dengan orangtua anak, dengan doketer atau Puskesmas, Posyandu, dan dengan masyarakat.  Sekolah  amat  terbatas  dalam  memberikan  layanan  pendidikan  kepada anak. Peranan orangtua dan masyarakat di sekitar sekolah maupun secara luas amat diperlukan. Untuk itu kerjasama antar guru di dalam satu sekolah, dalam profesi, dan kerjasama dengan orangtua dan masyarakat sangat diperlukan. Berbagai fasilitas yang ada di masyarakat, seperti kebun, perikanan, pertanian, bengkel, perpustakaan, bank, stasiun kereta api, dan instansi lainnya sangat penting untuk PAUD. PAUD sebaiknya memberi  kaya pengalaman  belajar  pada anak dengan  multikonteks  seperti  tersebut. Trilogi   pendidikan   dari   Ki   Hadjar   Dewantara   menyatakan   bahwa   pendidikan merupakan  tanggungjawab  bersama  antara keluarga,  sekolah,  dan masyarakat.  Oleh karena itu kerjasama yang baik ketiga unsur tersebut dalam PAUD sangat diperlukan

g.   Model-model Kurikulum PAUD

Pendidikan  anak usia dini (early childhood  education)  merupakan  suatu disiplin ilmu pendidikan yang secara khusus memperhatikan,  menelaah dan mengembangkan berbagai  interaksi  edukatif  antara  anak  usia  dini  dengan  pendidik  untuk  mencapai tumbuh  kembang  potensi  anak  secara  optimal.  Studi  literatur  menunjukkan  bahwa ilmu pendidikan anak usia dini menyajikan berbagai kajian akademik tentang berbagai model isi dan proses pendidikan yang dapat diberikan dan dikembangkan pada anak usia dini. Uraian pada bab 3 telah memberikan beberapa model yang dapat diterapkan dan dikembangkan  oleh para akademisi dan praktisi pendidikan anak usia dini pada berbagai seting kelembagaan.

Sebagai   rumpum   keilmuan,   pendidikan   anak   usia   dini   memiliki   kerangka ontologis, epistimologis  dan aksiologis yang merupakan dasar suatu ilmu. Kerangka ontologis  pendidikan  anak  usia  dini  mencakup  berbagai  interaksi  edukatif  pada wilayah situasi pendidikan  (keluarga,  masyarakat  dan sekolah). Kajian ontologis ini memberikan keluasan wilayah terapan dan pengembangan ilmu pendidikan anak usia dini  sehingga  akan  memiliki   nilai  guna  (aksiologis)   yang  luas  untuk  berbagai kepentingan dan tujuan. Pendidikan anak usia dini secara akademik dan praksis dapat dipelajari, ditelah dan diterapkan serta dikembangkan dalam seting keluarga. Interaksi edukatif antara anak usia dini dengan orang dewasa dalam keluarga merupakan salah satu  bentuk  kajian  khusus  yang  memberikan  gambaran  tentang  isi  dan    proses pendidikan yang dapat diterapkan dan dikembangkan dalam seting keluarga. Nilai aksiologis  dari gambaran  isi dan  proses  pendidikan  anak  usia  dini  dalam  keluarga dapat dijadikan  panduan  dan perbandingan  bagi orang tua maupun  calon orang tua untuk membimbing dan membina tumbuh kembang anak secara optimal dalam lingkungan keluarga.

Ilmu pendidikan anak usia dini juga memberikan gambaran akademis dan praksis tentang isi dan proses pendidikan yang terjadi antara anak usia dini dengan lingkungan masyarakat.  Pada lingkungan  masyarakat  ini sudah mulai muncul berbagai lembaga pendidikan non formal yang memberikan perhatian khusus pada pengembangan anak usia dini, seperti Bina Keluarga Balita, Posyandu, Taman Bermain, Sanggar Kreatvitas anak dan Taman Pengasuhan Anak. Lembaga semi formal ini sudah tentu perlu dan harus mempelajari dan menerapkan berbagai isi dan proses pendidikan pada anak usia dini dengan benar sesuai dengan rujukan akademis yang secara khusus mempelajari hal tersebut.

Di samping itu, rumpun ilmu pendidikan anak usia dini juga memberikan gambaran akademis  dan praksis tentang isi dan proses pendidikan  dalam seting persekolahan. Paradigma sekolah pada anak usia ini telah dipelajari, diteliti dan dikembangkan oleh para  ahli  dengan  menggunakan  kerangka  filosofis,  model  dan  pendekatan  yang beraneka ragam. Keragaman ini memberikan pilihan model untuk diterapkan dan dikembangkan  oleh  para  akademisi  dan  praktisi  pendidikan  anak  usia  dini  yang bekerja  pada  seting  sekolah  seperti  Taman  Kanak-kanak  dan  Sekolah  Dasar  Kelas awal (primary grade).

Dari sudut epistimologi,  kajian tentang metodologi  pembelajaran  anak usia dini telah  dikembangkan  dengan  acuan  filosofis,  pendekatan  dan  model  yang  beraneka ragam, termasuk didalamnya adalah kajian tentang model kurikulum untuk anak usia dini. Sesuai dengan kerangka landasar filsafat yang telah dibahas sebelumnya, pengembangan kurikulum anak usia dini secara garis besar dikelompokan dalam tiga model.

Pendekatan pertama dilakukan dengan model proses pematangan (maturitional models). Pendekatan ini didasarkan pada teori yang dikembangkan oleh Gessel, Freud dan Erikson. Pendekatan kedua dikenal dengan model tingkah laku-lingkungan  yang didasarkan pada teori Skinner, Baer, Bijou dan Bandura. Pendekatan ketiga dilakukan dengan   menggunakan   model   interaksi   yang   didasarkan   pada   teori   Piaget   dan Vygotsky.

Share this post

One Comment

  1. trims, atas info’y.. sy semakin mengetahui tentang ilmu PAUD nih..

    April 23, 2010

Leave a Reply