5.   Hakikat Anak Usia Dini

a.   Keunikan Anak Usia Dini

Setiap  anak  bersifat  unik,  tidak  ada dua anak  yang  sama  sekalipun  kembar siam. Setiap anak terlahir dengan potensi yang berbeda-beda; memiliki kelebihan, bakat  dan  minat  sendiri.         Ada  anak  yang     berbakat  menyanyi,  ada  pula  yang berbakat  menari,  matematika,  bahasa,  dan  adapula  yang  berbakat  olah  raga. Kenyataan menunjukkan  bahwa setiap anak tidak sama, ada yang sangat cerdas, ada yang biasa saja, dan ada yang kurang  cerdas.  Perilaku  anak juga beragam, demikian pula langgam belajarnya. Oleh karena itu para pendidik anak usia dini perlu mengenal pembelajaran untuk anak yang berkebutuhan khusus. Dengan memahami kebutuhan khusus setiap anak diharapkan para guru mampu mengembangkan potensi anak dengan baik.

Ki Hadjar  Dewantara(1957)  merangkum  semua  potensi  anak  menjadi  cipta, rasa,  dan karsa.  Teori  Multiple  Intelligencies (Kecerdasan  Ganda)  dari Gardner (1998) menyatakan ada delapan tipe kecerdasan. Biasanya seorang anak memiliki satu  atau  lebih  kecerdasan,  tetapi  amat  jarang  yang  memiliki  secara  sempurna delapan kecerdasan tersebut. PAUD bertujuan membimbing dan mengembangkan potensi  setiap anak   agar  dapat  berkembang  secara   optimal  sesuai  tipe kecerdasannya. Oleh karena itu guru harus memahami kebutuhan khusus dan kebutuhan  individual  anak.  Memang  disadari  ada  faktor-faktor  pembatas,  yaitu faktor-faktor  yang  sulit  atau  tidak  dapat  diubah  dalam  diri  anak  yaitu  faktor genetis. Oleh karenanya PAUD diarahkan untuk memfasilitasi setiap anak dengan lingkungan belajar dan bimbingan belajar yang tepat agar anak dapat berkembang sesuai kapasitas genetisnya.

Anak usia dini sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang paling pesat. Pertumbuhan dan perkembangan telah dimulai sejak prenatal, yaitu sejak dalam kandungan. Pembentukan sel syaraf otak, sebagai modal pembentukan kecerdasan, terjadi saat anak dalam kandungan. Setelah lahir tidak terjadi lagi pembentukan sel syaraf otak, tetapi hubungan antar sel syaraf otak (sinap) terus berkembang. Begitu pentingnya usia dini, sampai ada teori yang menyatakan  bahwa pada usia empat tahun 50% kecerdasan   telah tercapai,  dan 80% pada usia delapan tahun.

Anak usia dini juga sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik fisik   maupun   mental   yang   sangat   pesat.   Sel-sel   tubuh   anak   tumbuh   dan berkembang  amat cepat. Tahap awal perkembangan  janin   sangat penting untuk pengembangan sel-sel otak, bahkan pada saat lahir jumlah sel otak tidak bertambah lagi. Selanjutnya setelah lahir terjadi proses mielinasi dari sel-sel syaraf dan pembentukan hubungan antar sel syaraf, dua hal yang sangat penting dalam pembentukan  kecerdasan.  Makanan  bergizi  dan seimbang  serta stimulai  pikiran sangat  diperlukan  untuk  mendukung  proses  tersebut.

Selain  pertumbuhan  dan perkembangan  fisik  dan  motorik,  perkembangan  moral  (termasuk  kepribadian, watak,  dan akhlak),  sosial,  emosional,  intelektual,  dan bahasa  juga berlangsung amat pesat. Oleh karena itu usia dini (usia 0-8 tahun) juga disebut tahun emas atau golden  age.  Oleh  karena  itu  jika  ingin  mengembangkan  bangsa  yang  cerdas, beriman dan bertaqwa, serta berbudi luhur hendaklah dimulai dari PAUD. Itulah sebabnya negara-negara maju amat serius mengembangkan PAUD, tidak dianggap sebagai  pelengkap,  tetapi sama  pentingnya  dengan  pendidikan  SD atau sekolah menengah.

b.  Cara Belajar Anak Usia Dini

Anak usia dini belajar dengan caranya sendiri. Bermain erupakan cara belajar yang sangat penting bagi anak usia dini. Sering guru dan orangtua mengajarkan anak  sesuai  dengan  jalan  pikiran  orang  dewasa,  seperti  melarang  anak  untuk bermain. Akibatnya apa yang diajarkan orangtua sulit diterima anak dan banyak hal yang disukai oleh anak dilarang  oleh orangtua;  sebaliknya  banyak hal yang disukai orangtua tidak disukai anak. Untuk itu orangtua dan guru anak usia dini perlu  memahami  hakikat  perkembangan  anak  dan  hakikat  PAUD  agar  dapat memberi pendidikan yang sesuai dengan jalan pikiran anak.

Berbagai  teori belajar  pada anak seperti teori Piaget, Vygotsky,  Montessori, Bandura, Case, Bruner, dan Smilansky menjelaskan cara belajar anak dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Oleh karena itu teori belajar tersebut perlu dipilih dan disesuaikan dengan karakteristk anak serta materi ajarnya. Modalitas belajar anak juga berbeda-beda, sehingga cara anak belajar berbeda pula. Anak tipe auditif, misalnya, berbeda cara belajarnya dengan tipe visual dan kinestetik. Untuk itu guru dan  orangtua  perlu  memahami  karakteristik  anak  agar  dapat  memberi  bantuan belajar yang paling tepat..

Share this post

Leave a Reply