3.   Landasan Neurosains

Neurosains merupakan salah satu lompatan keilmuan pendukung yang sangat memberikan  kontribusi  dalam  menelaah  dan  memahami  perkembangan  psikologis melalui kajian keilmuan tentang sel syaraf. Temuan yang dimaksud diantaranya dikemukakan  oleh  Wittrock  (dalam  Clack,  1983)  menemukan  bahwa  terdapat  tiga wilayah   perkembangan   otak   yang   semakin   meningkat   yaitu   serabut   dendrit, kompleksitas hubungan dendrit dan pembagian sel syaraf.

Berbagai  penelitian  telah  dilakukan  para  ahli  dimulai  dari  Binet-Simon  (1908-1911) hingga Gardner (1998) yang berbicara pada fokus yang sama yaitu fungsi otak yang terkait dengan kecerdasan.  Otak yang berada di dalam organ kepala memiliki peran yang sangat penting selain sebagai pusat sistem syaraf juga berperan penting dalam  menentukan  kecerdasan  seseorang.  Begitu  pentingnya  fungsi  otak  sehingga banyak ahli untuk meneliti dan menggali optimalisasi fungsi kerja otak dalam mengembangkan   sumber   daya   manusia.   Optimalisasi   kecerdasan   dimungkinkan apabila   sejak   usia   dini,   anak   telah   mendapatkan   stimulasi   yang   tepat   untuk perkembangan otaknya. Pada saat kelahiran, otak bayi mengandung 100 milyar neuron dan satu triliun sel glia yang berfungsi  sebagai perekat serta synap (cabang-cabang neuron) yang akan membentuk sambungan antar neuron. Sambungan-sambungan antar neuron inilah yang akan membentuk pengalaman yang akan dibawa anak seumur hidupnya.

Sesudah kelahiran, kegiatan otak dipengaruhi dan tergantung pada kegiatan neuron dan cabang-cabangnya  dalam membentuk  bertriliun-triliun  sambungan  antar neuron. Melalui persaingan alami, otak akan memusnahkan sambungan (sinapsis) yang jarang digunakan.  Pemantanpan  sambungan  terjadi  apabila  neuron  mendapatkan  informasi yang mampu menghasilkan letupan-letupan listrik. Letupan tersebut merangsang bertambahnya  produksi  myelin  yang  dihasilkan  oleh  zat  perekat  glial.  Semakin banyaknya  zat myelin  yang  diproduksi  maka  semakin  banyak  dendrit-dendrit  yang tumbuh,  sehingga  akan  semakin  banyak  synap  yang  berarti  lebih  banyak  neuron- neuron   yang   menyatu   membentuk   unit-unit.   Kualitas   kemampuan   otak   dalam menyerap   dan   mengolah   informasi   tergantung   dari   banyaknya   neuron   yang membentuk unit-unit. Synap ini akan bekerja secara cepat sampai usia anak lima-enam tahun.  Banyaknya  jumlah  sambungan  tersebut  mempengaruhi  kualitas  kemampuan otak sepanjang hidupnya. Pertumbuhan jumlah jaringan otak dipengaruhi oleh pengalaman   yang   didapat   anak   pada   awal-awal   tahun   kehidupannya,   terutama pengalaman yang menyenangkan. Pada fase perkembangan ini anak memiliki potensi yang luar biasa dalam mengembangkan berbagai kemampuannya yang meliputi kemampuan berbahasa, kognitif, motorik, sosialisasi dan sebagainya. Bila anak tidak mendapat lingkungan yang merangsangnya,  maka perkembangan otaknya tidak akan berkembang dan anak akan menderita. Penelitian terbaru menemukan bahwa apabila anak-anak  jarang diajak  bermain  atau jarang disentuh,  perkembangan  otaknya  20% atau 30% lebih kecil daripada ukuran normalnya pada usia itu.

4.   Landasan Sosio-Antropologi

Perkembangan  anak pada berbagai  dimensi perkembangan  tidak pernah terlepas dasi konteks  kehidupan  sosial dan kultural  yang melatar  belakanginya.  Lingkungan kehidupan sosial dan kultur yang ada di sekitar anak akan memberikan pengaruh pada proses belajar anak dan perubahan potensi sebagai hasil dari proses belajar itu sendiri. Kehidupan sosio-kultural yang paling dekat dengan anak adalah lingkungan keluarga, tetangga  dan  lembaga  sosial  serta  lembaga  kependidikan  lain  yang  mengasuhnya. Konteks sosio-kultural  dapat menyajikan  sejumlah pengetahuan,  keterampilan,  nilai- nilai dan pengalaman hidup yang beragam sehingga anak akan memiliki sejumlah preferency dalam  membangun  kebiasaan  dan  tingkah  lakunya  sendiri  atau  secara bersama-sama dengan orang lain. Pengalaman sosial dan kultural akan menjadi pengisi perspektif kehidupan anak dalam berbagai aspek potensi perkembangannya mencakup cara berbahasa, cara berpikir, kehidupan beragama dan bermoral dan kebiasaan mengendalikan  emosi serta kemandirian.  Pada dimensi  yang luas, kehidupan  sosial anak dibangun juga oleh kehadiran berbagai media masa, terutama TV, Video Games dan Film sebagai produk kultural manusia akan menjadi faktor lain yang dapat mempengaruhi            perkembangan          anak.    Kurikulum          yang dikembangkan harus mengakomodasi dan mempertimbangkan secara cermat berbagai kondisi sosio-kultural seperti itu. Seiring dengan pengalaman interaksional anak dengan kehidupan sosial dan kulturalnya, desakan untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan hak azasi anak juga  menjadi  salah  satu  koridor  yang  perlu  dan  mendesak  untuk  dipertimbangkan dalam menata serta mengembangkan kurikulum utuh untuk PAUD.

Share this post

Leave a Reply