2.   Landasan Psikologis

Pendidikan  anak usia dini pada berbagai kelembagaan  sesungguhnya  merupakan proses interaksi antara pendidik dengan anak didik untuk membantu anak mencapai tugas-tugas   perkembangannya   dan/atau  memperoleh   optimalisasi   berbagai  ragam potensi perkembangan. Dalam konteks interaksi edukatif, ragam pemahaman kondisi psikologis pendidik dan anak didik menjadi konsep penting untuk memberikan acuan dalam penyusunan  dan pengembangan  kurikulum.  Kondisi  psikologis  pendidik  dan anak didik ini akan digambarkan dalam landasan psikologis. Landasan psikologis merupakan acuan konseptual akademis yang berisi kajian konsep psikologi yang memberikan pemahaman berbagai konsep tentang perkembangan anak (psikologi perkembangan  dan  perkembangan  anak).  Bagaimana  cara  anak  belajar  (psikologi belajar) dan faktor yang mempengaruhi belajar anak (psikologi pendidikan).

Dalam konteks psikologi perkembangan dan perkembangan anak, setiap anak didik memiliki karakteristik  dan tahapan perkembangan  normatif yang relatif sama sesuai dengan usia kalender  (cronological  ages). Standar normatif  perkembangan  ini akan menjadi kerangka  acuan dalam menyusun  standar kompetensi  perkembangan  sesuai dengan usia kelender masing-masing murid. Walaupun secara normatif anak memiliki standar perkembangan  yang relatif sama namun dalam proses pencapaiannya,  setiap anak memiliki  keunikan,  tempo dan irama  perkembangan  masing-masing.  Terdapat perbedaan kondisi psikologis (mental ages) yang telah dimiliki dan dicapai setiap anak didik dibandingkan  dengan standar perkembangan  yang sesuai dengan usia kalender (sesuai usia). Perbedaan tersebut dalam konsep perkembangan anak dipengaruhi oleh faktor heriditas (faktor bawaan), pengalaman interaksi anak dalam keluarga (termasuk kondisi   spiritual-keagamaan,   kondisi   ekonomi,   kondisi   sosial-antropologi   yang dimiliki       keluarga). Beberapa   konsep   generik   psikologi    perkembangan  dan perkembangan  anak yang dijadikan  landasan psikologis  dalam naskah akademik  ini diantaranya seperti berikut ini.

a.   Pemahaman  tentang  konsep  perkembangan  anak  didik  dapat  diperoleh  melalui studi  perkembangan,   baik  yang  bersifat   longitudinal,   cross  sectional (cross lateral), psikoanalitik, sosiologik maupun studi kasus. Studi longitudinal telah memperoleh sejumlah       informasi   tentang             perkembangan  individu          melalui pengamatan  dan pengkajian  perkembangan  sepanjang  masa perkembangan,  dari saat lahir sampai dengan dewasa, seperti yang pernah dilakukan oleh Williard C. Olson.   Metode   cross   sectional (cross   lateral)   melakukan   pengamatan   dan pengkajian terhadap berbagai kelompok selama suatu periode yang singkat. Hal ini pernah  dilakukan  oleh  Arnold  Gessel.  Ia  mempelajari  beribu-ribu  anak  dari berbagai    tingkatan  usia,    mencatat   ciri-ciri    fisik dan  mental, pola-pola perkembangan   dan   kemampuan   serta   perilaku   mereka.   Studi   psikoanalitik dilakukan oleh Sigmund Freud beserta para pengikutnya.  Studi ini lebih banyak diarahkan mempelajari perkembangan anak pada masa-masa sebelumnya, terutama pada masa kanak-kanak (balita). Menurut Freud, pengalaman yang tidak menyenangkan  pada  masa  balita  dapat  mengganggu  perkembangan  pada  masa- masa berikutnya. Metode sosiologik digunakan oleh Robert Havighurst yang mempelajari perkembangan anak dilihat dari tuntutan akan tugas-tugas yang harus dihadapi dan dilakukan dalam masyarakat.  Tuntutan akan tugas-tugas  kehidupan masyarakat ini oleh Havighurst disebut sebagai tugas-tugas perkembangan (developmental tasks). Ada seperangkat tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai individu dalam setiap tahap perkembangan. Metode studi kasus dilakukan dengan  mempelajari   kasus-kasus   tertentu,  para  ahli  psikologi  perkembangan menarik beberapa kesimpulan tentang pola-pola perkembangan anak. Studi seperti ini pernah dilakukan oleh Jean Piaget tentang perkembangan kognitif anak.

b.   Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan individu, yaitu pendekatan pentahapan  (stage approach),  pendekatan  diferensial  (differential  approach)  dan pendekatan   ipsatif   (ipsative   approach).      Menurut     pendekatan      pentahapan, perkembangan individu berjalan melalui tahap-tahap perkembangan. Setiap tahap perkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan tahap yang lainnya.  Pendekatan  diferensial  melihat  bahwa individu  memiliki  kesamaan  dan perbedaan.

Atas   dasar   persamaan   dan   perbedaan   tersebut,   individu   dikatagorikan   atas kelompok-kelompok  yang berbeda,  seperti kelompok  individu  berdasarkan  jenis kelamin, ras, agama, status sosial-ekonomi dan sebagainya. Selain itu, pendekatan ipsatif adalah suatu pendekatan yang berusaha melihat individu berdasarkan karakteristiknya.  Dari  ketiga  pendekatan  itu yang  banyak  dianut  oleh  para  ahli psikologi perkembangan adalah pendekatan pentahapan. Pendekatan ini lebih disenangi karena lebih jelas menggambarkan proses urutan perkembangan dan kemajuan individu.

Dalam  pendekatan  pentahapan,  dikenal  dua  variasi,  pertama,  pendekatan  yang bersifat menyeluruh  mencakup segala segi perkembangan,  seperti perkembangan fisik  dan  gerakan   motorik,   sosial,   intelektual,   moral,   emosional,   religi  dan sebagainya. Kedua, pendekatan yang bersifat khusus, yang mendeskripsikan salah satu   segi   atau   aspek   perkembangan   saja.   Dalam   pentahapan   yang   bersifat menyeluruh  dikenal  tahap-tahap  perkembangan  dari Jean Jacques  Rousseau,  G. Stanley Hall, Havighurst, dan lain-lain. Rousseau membagi seluruh masa perkembangan  anak atas empat tahap perkembangan,  yaitu masa bayi (infancy), usia 0-2 tahun merupakan tahap perkembangan fisik, masa anak (childhood), usia 2-12 tahun, masa perkembangan sebagai manusia primitif. Masa remaja awal (pubercence),      usia       12-15                     tahun,             masa      bertualang               yang    ditandai    dengan perkembangan intelektual dan kemampuan nalar yang pesat. Masa remaja (adolescence), usia 15-25 tahun, masa hidup sebagai manusia yang beradab, masa pertumbuhan seksual, sosial, moral dan kata hati. Stanley Hall adalah salah seorang ahli psikologi Perkembangan  penganut teori evolusi. Hall menerapkan teori rekapitulasi, salah satu konsep dalam teori evolusi, pada perkembangan anak. Menurut teori rekapitulasi, perkembangan individu merupakan rekapitulasi dari perkembangan spesiesnya (ontogeny recapitulates phylogeny).  Hall  membagi  keseluruhan  masa  perkembangan  anak  atas  empat tahap.  Masa  kanak-kanak   (infancy),   usia  0-4  tahun,  yang  merupakan   masa kehidupan sebagai binatang melata dan berjalan.  Masa anak (childhood), usia 4-8 tahun, masa manusia pemburu. Masa puer (youth), usia 8-12 tahun, masa manusia belum beradab. Masa remaja (adolescence), usia 12/13 tahun sampai dewasa, merupakan masa manusia beradab. Robert J. Havighurst menyusun fase-fase perkembangan  atas  dasar  problema-problema  yang  harus  dipecahkannya  dalam setiap fase. Tuntutan akan kemampuan memecahkan  problema dalam setiap fase perkembangan ini oleh Havighurst disebutnya sebagai tugas-tugas perkembangan (developmental tasks). Havighurst membagi seluruh masa perkembangan anak atas lima fase, yaitu masa bayi (infancy), dari 0-1/2 tahun, masa anak awal (early childhood) 2/3 – 5/7 tahun masa anak (late childhood) dari 5/7 – masa pubersen, masa  adolesen  awal  (early  adolescence)  dari  pubersen  ke  pubertas,  dan  masa adolesen (late adolescence) dari masa pubertas sampai dewasa. Untuk setiap fase perkembangan, Havighurst menghimpun sejumlah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai anak. Dikuasai atau tidaknya tugas-tugas perkembangan pada suatu fase berpengaruh bagi penguasaan tugas pada fase-fase berikutnya.

Dalam  pendekatan  pentahapan  yang  bersifat  khusus,  dikenal  pentahapan  dari Piaget, Erikson, dan sebagainya. Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap perkem- bangan  dari  kemampuan  kognitif  anak.  Dalam  perkembangan  kognitif  menurut Piaget, yang terpenting  adalah penguasaan  dan kategori konsep-konsep.  Melalui penguasaan   konsep-konsep   itu,  anak  mengenal  lingkungan  dan  memecahkan berbagai problema yang dihadapi dalam kehidupannya. Ada empat tahap perkembangan kognitif anak menurut konsep Piaget, yaitu sebagai berikut.

♦  Tahap sensorimotor, usia 0-2 tahun;

♦  Tahap praoperasional, usia 2-4 tahun;

♦  Tahap konkret operasional, usia 7-11 tahun;

♦  Tahap formal operasional, usia 11-15 tahun.

Tahap  sensorimotor  disebut  juga sebagai  masa descriminating and labeling. Pada masa ini kemampuan  anak terbatas pada gerak-gerak  refleks, bahasa awal, waktu sekarang dan ruang yang dekat saja. Masa praoperasional atau masa prakonseptual  disebut  juga sebagai  masa  intuitif  dengan  kemampuan  menerima perangsang   yang   terbatas.   Anak   mulai   berkembang   kemampuan   bahasanya, walaupun  pemikirannya  masih statis dan belum dapat berpikir  abstrak,  persepsi waktu dan tempat masih terbatas. Masa konkret operasional disebut juga masa performing  operation.  Pada tahap  ini anak sudah  mampu  menyelesaikan  tugas- tugas     menggabungkan,    memisahkan,             meyusun,  menderetkan,   melipat   dan membagi.   Masa  formal  operasional   disebut  juga  sebagai  masa  proportional thinking. Pada masa ini, anak sudah mampu berfikir tingkat tinggi. Mereka sudah mampu  berpikir  secara  deduktif,  induktif,  menganalisis,  menyintesis,  mampu berpikir abstrak dan berpikir reflektif serta memecahkan berbagai persoalan.

Erick   Homburger   Erikson   merupakan   salah   seorang   tokoh   psikoanalisis pengikut Sigmund Freud. Ia memusatkan studinya terhadap perkembangan psikososial. Ada delapan tahap perkembangan psikososial, yaitu :

♦  Tahap I : Basic Trust vs Mistrust (0 – 1 tahun)

Anak mendapat rangsangan dari lingkungan. Bila dalam merespon rangsangan anak  mendapat  pengalaman  yang  menyenangkan  akan  tumbuh  rasa  percaya diri, sebaliknya menimbulkan rasa curiga

♦  Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt (2 – 3 tahun)

Anak  sudah  harus  mampu  menguasai  kegiatan  meregang  atau  melemaskan seluruh  otot-otot  tubuhnya.  Bila  sudah  merasa  mampu  menguasai  anggota tubuh  bias  menimbulkan   rasa  otonomi,  sebaliknya  bila  lingkungan  tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menumbuhkan rasa malu dan ragu-ragu.

♦  Tahap 3 : Initiative vs Guilt (4 – 5 tahun)

Pada masa ini anak harus dapat menunjukkan  sikap  mulai lepas dari ikatan orang tua, anak harus dapat bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungannya.   Kondisi   lepas   dari   orang   tua   menimbulkan   rasa   untuk berinisiatif, sebaliknya menimbulkan rasa bersalah.

♦  Tahap 4 : Industry vs Inferiority ( 6 tahun – pubertas)

Anak harus dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan  tertentu dapat menimbulkan  rasa berhasil, sebaliknya bila tidak menguasai, menimbulkan rasa rendah diri.

♦  Tahap 5 : Identity & Repudiation vs Identity Diffusion (masa remaja)

Masa   remaja   adalah   masa   mencari   identitas   diri,   masa   mencari   dan mendapatkan   peran   dalam   masyarakat.   Seorang   remaja   akan   berhasil memperoleh identitas diri jika ia dapat memenuhi tuntutan biologis, psikologis dan sosial  yang ada dalam kehidupan.  Sebaliknya,  jika tidak berhasil  maka terburai identitasnya.

♦  Tahap 6 : Intimacy & Solidarity vs Isolation ( masa dewasa muda)

Orang yang berhasil mencapai integritas identitas diri akan mampu menjalin keintiman dengan orang lain maupun diri sendiri. Jika seorang dewasa muda masih takut kehilangan diri sendiri bila menjalin hubungan erat (intim) dengan orang lain, berarti ia belum mampu melebur identitas dirinya bersama orang lain. Hal ini menunjukkan ketidakmampuan  menumbuhkan keintiman dengan orang lain. Jika seseorang gagal menjalin hubungan yang bersifat intim, maka akan mengucilkan diri.

♦  Tahap 7 : Generativity vs Stagnation (masa dewasa)

Berperan sebagai orang dewasa yang produktif, yang mampu menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi masyarakat. Seseorang yang berhasil melaksanakan perannya  seperti yang dituntut oleh masyarakat,  dalam dirinya akan tumbuh perasaan   ingin   berkarya,   sebaliknya   jika   tidak   mampu   berperan   akan berkembang perasaan mandeg/stagnasi.

♦  Tahap 8 : Integrity vs Despair (masa tua)

Seseorang harus hidup dengan apa yang telah dijalaninya  selama ini. Secara ideal  seyogyanya  ia  telah  mencapai  integritas  diri.  Integritas  diri  adalah menerima segala keterbatasan yang ada dalam kehidupan, memiliki rasa bahwa ia  adalah  bagian  dari  sejarah  kehidupan.  Sebaliknya  bila  ia  merasa  tidak berbuat  apa-apa  dalam hidup,  menyesali  hidup, takut menghadapi  kematian, menimbulkan rasa putus asa.

Berbagai perkembangan yang terjadi pada anak usia dini diperoleh melalui kematangan dan belajar. Perkembangan karena faktor belajar dapat terjadi dalam berbagai situasi lingkungan dimana terjadi interaksi anak dengan manusia (orang dewasa, teman dan adik) dan dengan lingkungan alam sekitar. Pemahaman konsep tentang bagaimana anak belajar pada berbagai kondisi lingkungan tersebut dapat ditelaah   dan  digambarkan   melalui   psikologi   belajar.   Belajar   pada   dasarnya merupakan proses perubahan tingkah laku yang bersifat relatif permanen sebagai hasil  interaksi  individu  (anak)  dengan  lingkungannya.  Dalam  proses  interaksi dengan lingkungan, banyak konsep psikologi belajar memberikan penjelasan dari berbagai perspektif sesuai kajian para ahli, termasuk tentang bagaimana cara anak usia dini melakukan aktivitas yang dinamakan belajar tersebut. Menurut Morris L. Bigge dan Murice P Hunt (1980 : 226-227) ada tiga rumpun teori belajar yang memberikan  penjelasan tentang bagaimana belajar itu terjadi, yaitu teori disiplin mental, behaviorisme dan cognitive gestalt field.

1)  Menurut rumpun teori disiplin mental, dari kelahirannya atau secara herediter, anak telah memiliki potensi-potensi  tertentu. Belajar merupakan upaya untuk mengembangkan  potensi-potensi  tersebut. Ada beberapa teori yang termasuk rumpun   disiplin   mental   yaitu   :  disiplin   mental   theistic,   disiplin   mental humanistic, naturalisme dan apersepsi.

Teori disiplin  mental  theistic  berasal  dari psikologi  daya. Menurut  teori ini, individu atau anak mempunyai sejumlah daya mental seperti untuk mengamati, menanggap,   mengingat,   berpikir,   memecahkan   masalah,   dan  sebagainya. Belajar merupakan proses melatih daya-daya tersebut. Bila daya-daya tersebut terlatih maka dengan mudah dapat digunakan untuk menghadapi atau memecahkan  berbagai  masalah.  Teori  disiplin  mental  humanistic  bersumber pada psikologi humanisme klasik dari Plato dan Aristoteles. Teori ini hampir sama  dengan  teori  pertama  bahwa  anak  memiliki  potensi-potensi.  Potensi- potensi  perlu  dilatih  agar  berkembang.  Perbedaannya  dengan  teori  disiplin mental theistic, teori ini menekankan bagian-bagian, latihan bagian atau aspek tertentu. Teori disiplin mental humanistic lebih menekankan keseluruhan, keutuhan.  Pendidikannya  menekankan  pendidikan  umum (general eduation). Kalau seseorang menguasai hal-hal yang bersifat umum akan mudah ditransfer atau diaplikasikan kepada hal-hal lain yang bersifat khusus.

Teori naturalisme atau natural unfoldment atau self actualization. Teori ini berpangkal  dari psikologi naturalisme romantic dengan tokoh utamanya Jean Jecques   Rousseau.   Sama   dengan   kedua   teori   sebelumnya   bahwa   anak mempunyai sejumlah potensi atau kemampuan. Kelebihan dari teori ini adalah mereka berasumsi bahwa individu bukan saja mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan  untuk belajar dan berkembang  sendiri. Agar anak dapat berkembang dan mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya, pendidik atau guru perlu menciptakan situasi yang permisif, yang jelas. Melalui situasi demikian, ia dapat belajar sendiri dan mencapai perkembangan  secara optimal.

Teori belajar yang keempat adalah teori apersepsi, disebut juga Herbartisme, bersumber pada psikologi strukturalisme dengan tokoh utamanya Herbart. Menurut   aliran   ini   belajar   adalah   membentuk   masa   apersepsi.   Anak mempunyai kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Hasil dari suatu perbuatan belajar disimpan dan membentuk suatu masa apersepsi dan masa apersepsi ini digunakan   untuk   mempelajari   atau   mengasai   pengetahuan   selanjutnya. Demikian seterusnya, semakin tinggi perkembangan anak, semakin tinggi pula masa apersepsinya.

2)   Rumpun atau kelompok teori belajar yang kedua adalah Behaviorisme,  yang biasa disebut S-R Stimulus-Respon. Kelompok ini mencakup tiga teori yaitu S- R  Bond,  Conditioning,  Reinforcement. Kelompok  teori  ini  berangkat  dari asumsi bahwa anak atau individu tidak memiliki atau membawa potensi apa- apa dari kelahirannya. Perkembangan anak ditentukan oleh faktor-faktor yang berasal  dari  lingkungan.  Lingkungan,  apakah  lingkungan  keluarga,  sekolah atau           masyarakat,    lingkungan     manusia,     alam,     budaya,    religi      yang membentuknya.  Kelompok  teori  ini  tidak  mengakui  sesuatu  yang  bersifat mental.

Perkembangan  anak  menyangkut  hal-hal  nyata  yang  dapat  diamati,  dilihat. Teori S-R Bond bersumber dari psikologi koneksionisme atau teori asosiasi dan merupakan   teori   pertama   dari  rumpun   behaviorisme.   Menurut   teori  ini, kehidupan   ini   tunduk   kepada   hokum   stimulus   respon   atau   aksi-reaksi. Setangkai  mawar  merah  dapat  merupakan  suatu  stimulus  dan direspon  oleh mata dengan cara meliriknya. Kesan indah yang diterima individu dapat merupakan stimulus yang mengakibatkan terespon memetik bunga tersebut. Demikian  halnya  dengan  belajar,  terdiri  atas  rentetan  hubungan  stumulus respons.  Belajar adalah upaya untuk membentuk  hubungan  stimulus  respons sebanyak-banyaknya. Tokoh utama teori ini adalah Edward L. Thorndike. Ada tiga  hukum  belajar  yang  sangat  terkenal  dari  Thorndike  ini,  yaitu  Law  of readness,  Law of exercise or repetition  dan Law of effect (Bigge & Thurst,1980 : 273).

Menurut  hukum  kesiapan  (law  of  readness),  hubungan  antara  stimulus  dan respon akan terbentuk atau mudah terbentuk apabila telah ada kesiapan pada system  syaraf  individu.  Menurut  hukum  latihan  atau  pengulangan  (law  of exercise or repetition), hubungan antara stimulus dan respons akan terbentuk apabila sering dilatih atau diulang-ulang.  Selanjutnya, menurut hukum akibat (law of effect), hubungan stimulus dan respons akan terjadi apabila ada akibat yang menyenangkan.

Teori kedua dari rumpun behaviorisme adalah conditioning atau stimulus- response with conditioning. Tokoh utama dari teori ini adalah Watson. Belajar atau pembentukan hubungan antara stimulus dan respons perlu dibantu dengan kondisi tertentu. Contohnya, sebelum anak-anak masuk kelas dibunyikan bel, bunyi  bel  ini  merupakan   kondisioning   bagi  anak,  sehingga   setiap  anak mendengar bunyi bel berarti tandanya masuk kelas. Teori ketiga adalah reinforcement dengan  tokoh  utamanya  C.L.Hull.  Teori  ini berkembang  dari teori psikologi, reinforcement, yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori  S-R  Bond dan  conditioning. Bila  pada  teori  conditioning, kondisi diberikan  pada  stimulus,  maka  pada  reinforcement kondisi  diberikan  pada respons. Reinforcement dapat berupa angka tinggi, pujian, atau hadiah dengan maksud agar kegiatan yang dilakukan anak lebih giat dan sungguh-sungguh. Di samping reinforcement positif dikenal pula reinforcement negatif,  yaitu untuk mencegah  atau menghilangkan  suatu perbuatan  yang kurang baik atau tidak disetujui masyarakat. Reinforcement ini berupa : peringatan, teguran, ancaman, sanksi, atau berupa hukuman.

3)  Rumpun yang ketiga adalah cognitive gestalt field. Teori belajar dari rumpun ini  adalah  teori  insight. Aliran  ini  bersumber  dari  psikologi  gestalt  field. Menurut   teori   ini   belajar   adalah   proses   mengembangkan   insight atau pemahaman baru atau mengubah pemahaman lama. Pemahaman terjadi apabila individu  menemukan  cara  baru  dalam  menggunakan  unsur-unsur  yang  ada dalam lingkungan,  termasuk  struktur  tubuhnya  sendiri.  Gestalt  field  melihat bahwa belajar itu merupakan perbuatan yang bertujuan, eksploratif, imajinatif, dan kreatif. Pemahaman atau insight merupakan citra diri atau perasaan tentang pola-pola atau hubungan.

Selain  konsep  psikologi  perkembangan,  perkembangan  anak  dan  psikologi belajar, secara psikologi proses interaksi edukatif antara pendidik dan anak didik akan melibatkan kondisi psikologis lain seperti motivasi, minat, keberbakatan, kreatifitas,  proses  pembelajaran  dan  penilaian  kemajuan  anak  (perkembangan anak). Kondisi  psikologis  ini biasanya  dipelajari  dalam kajian konsep  psikologi pendidikan. Beberapa kesimpulan yang dapat diperoleh dari kajian landasan psikologis ini diantaranya adalah seperti berikut ini.

1) Perkembangan anak merupakan salah satu sasaran utama dalam kegiatan pendidikan   atau   pembelajaran   pada   berbagai   satuan,   jenis   dan   jenjang pendidikan.   Dalam   pelaksanaan   kegiatan   pendidikan   harus   diperhatikan berbagai aspek/dimensi, tahapan dan karakteristik perkembangan anak yang menjadi   subjek   didik.      Karakteristik   perkembangan   yang  perlu   menjadi perhatian adalah bahwa sepanjang rentang perkembangan anak usia dini, khususnya pada usia 3-6 tahun ditandai oleh masa-masa penting seperti masa peka, masa eksplorasi, masa bermain dan masa terjadinya aktivitas berlebihan atau over activity . Keseluruhan  masa tersebut diakui para ahli sebagai masa keemasan  atau  the  golden  ages pada  anak  usia  dini.  Masa  keemasan  ini merupakan  masa yang paling penting dan menjadi dasar bagi perkembangan anak selanjutnya sampai anak mencapai tingkat dewasa.

2)  Kerangka landasan psikologis lainnya yang menjadi dasar dalam kurikulum ini adalah tahapan perkembangan anak pada berbagai dimensi perkembangan. Tahapan dimensi perkembangan akan memberikan acuan bagi pendidik untuk memperhatikan dan penyesuaikan berbagai komponen program, metode, teknik dan  proses  pembelajaran  yang  sesuai  dengan  tahapan  perkembangan  pada aspek perkembangan  yang dialami  anak. Dengan demikian  guru akan selalu menyesuaikan strategi pmbelajaran sesuai dengan tahapan perkembangan anak sehingga dapat melaksanakan dan mengembangkan proses pembelajaran yang appropriate.

3)  Pada anak usia   dini,   karakteristik  perkembangan  anak yang perlu menjadi perhatian adalah terjadinya masa “over activity” , masa yang menunjukkan terjadinya aktivitas yang berlebihan pada anak. Anak cenderung menunjukkan aktivitas berlebihan pada berbagai waktu dan kesempatan serta aktivitas seolah tidak  mengenal  lelah,  bahkan  sekalipun  ia dalam  keadaan  sakit  secara  fisik biasanya anak akan tetap berusaha menunjukkan aktivitasnya terutama dalam melakukan   kegiatan   bermain.   Konsep   perkembangan   seperti   inilah   yang menjadi salah satu dasar pengembangan pembelajaran pada anak usia dini menggunakan konsep “moving class” atau kelas bergerak atau kelas  berpindah dengan waktu bermain (dan belajar) lebih lama, terutama kegiatan Halfday dan fullday school.

4)  Melalui kegiatan moving in class anak-anak menunjukkan keaktifannya dalam bermain dan belajar sehingga secara bertahap akan merasakan dan mengalami kebutuhan  langsung  terhadap  belajar.  Konsep  tersebut  juga  menjadi  dasar dalam   mengembangkan   model   pembelajaran    sentra   atau   area.   Model pembelajaran sentra memberikan kesempatan pada anak untuk belajar dengan cara berpindah (bergerak) dari satu sentra ke sentra lainnya. Melalui kegiatan sentra anak akan selalui menunjukkan keaktifannya dalam belajar

Share this post

Leave a Reply