dari semalam sepertinya saya mendapat kisah2 yang bisa dijadikan refleksi …

dan saya perhatikan di berbagai status FB maupun notes, sebenarnya banyak sekali kisah2 inspiratif itu …

herannya (atau yang membuat saya heran), walaupun banyak kisah-kisah seperti itu, koq tetap saja ya seperti angin lalu?

sepertinya semua itu hanya menjadi wacana belaka, atau lebih tepatnya hanya masuk di tataran kognitif, yang parahnya, masuk ke dalam short term memory …

masyarakat kita (minimal yang terekspose di media massa) masih cenderung meng”gampang”kan segala sesuatunya sekaligus me”rumit”kan masalah-masalah pribadi dan berusaha menyeret orang lain untuk menanggung bersama kesalahan atau kerugian …

orang-orang kita (minimal yang terlihat di tv, tertulis kisahnya di berbagai media cetak, terdengar suaranya di radio) masih cenderung mengejar eksklusifitas, minimal dari segi materi sampai ke status (sebagai orang terpandang, sebagai orang alim, sebagai orang pintar, sebagai orang berkuasa, dlsb)

psikolog-psikolog yang “jualan”, dokter yang “mahal”, guru yang “sambilan”, dosen yang “teoritis”, ortu yang “instan”, politisi yang “selebritis”, polisi yang “ilusionis”, mahasiswa yang “hedonis”, dan lain sebagainya

hmm …

jangankan mereka yang memang jarang menggunakan “term” surgawi, yang antara lain; ikhlas, sabar, hakiki, spiritual, dan lain-lain

saya sendiri menemukan masih banyak (sekali) orang2 yang “berjualan” hal-hal “surgawi”, mulai dari buku-buku yang harganya selangit, training-training yang tak terjangkau khalayak banyak, atau sekedar patokan biaya “transportasi dan akomodasi sebagai pembicara”

mungkin memang pelatihan atau pendidikan yang menjadi jawaban agar orang2 indonesia bisa kembali ke akarnya sebagai orang “timur” yang lebih mengedepankan “hati” dibandingkan “materi” dan dapat lebih menghargai “hidup” dibandingkan “sukses”  …

namun …

sungguh tidak pantas ketika “ikhlas” dan “spiritual” dijual …

sungguh menyesakkan … ketika hanya orang-orang yang mampu saja yang dapat kesempatan emas untuk bisa memanfaatkan ilmu dan teknologi untuk memahami apa itu “ikhlas” dan apa itu keseimbangan “emosi dan spiritual” agar dapat benar-benar hidup dalam kehidupan ini

beneran deh, secara pribadi saya prihatin … dan

sungguh … saya berdoa agar B-bIO tidak menjadi komoditas … tetapi bisa menjadi sebuah pandangan mengenai suatu metode yang bermanfaat bagi masyarakat banyak, khususnya bagi bangsa Indonesia yang saya cintai ini …

salam, Yanti D.P.

Share this post

4 Comments

  1. keikhlasan dan penerimaan ternyata adalah barang murah yang super mewah :D

    January 25, 2010
  2. Yanti D.P.

    bener mas … lha jan-jane ndak perlu beli (atau malah tidak bisa dibeli) tho ya?

    January 26, 2010
  3. riana

    aku malah dah cape tuh melihat apa yang terjadi di dunia ini….seperti mengejar bayangan aja … sia2 belaka, btw apa hubungannya ya ama lagu Haruka? heheheheheh

    January 26, 2010
  4. Yanti D.P.

    kata2nya itu lho say … sangat inspiratif … hehehe …

    January 26, 2010

Leave a Reply