Dalam lingkungan pendidikan inklusif, belajar dipusatkan pada kekuatan, kebutuhan, dan minat setiap murid.
Setiap individu dapat memiliki satu atau lebih kecerdasan , sehingga membutuhkan metode belajar dan pemahaman yang beragam. Sehingga penting bagi setiap pendidik untuk memahami esensi dari kecerdasan jamak ini untuk perkembangan anak dan kemajuan akademisnya, karena setiap anak memiliki potensi dan kapasitas yang berbeda-beda.
Pandangan ini perlu dicermati, sehingga pendidik dapat membantu murid-muridnya untuk mencapai yang terbaik.
Teori Kecerdasan Jamak (MI) yang diterangkan oleh Howard Gardner (1983) memberikan pedoman untuk memahami berbagai macam kecerdasan yang ada, antara lain linguistik, logika/matematika, spatial (ruang, daya bayang 3 dimensi), musikalitas, jasmani-kinestetik, intrapersonal, interpersonal, dan Kecerdasan naturalistik
Kecerdasan Jamak didasarkan pada fakta bahwa kecerdasan bukanlah suatu unsur tunggal yang merupakan “warisan” orang tua.
Manusia pada umumnya lahir dalam kondisi “penuh”, dan dapat dilatih untuk mempelajari segala hal, membuktikan bahwa manusia dapat belajar dalam metode atau lingkungan yang sesuai.
Menurut teori tersebut, kecerdasan terdiri dari berbagai unsur yang saling mandiri, dan setiap kecerdasan memiliki kekuatan dan keterbatasannya masing-masing, di mana tujuh Kecerdasan tersebut memungkinkan tidak hanya satu, tetapi tujuh metode belajar yang berbeda.
Pemikiran ini kemudian berkembang menjadi suatu pendekatan baru yang lebih dapat mengakomodir kebutuhan dan kapasitas murid yang berbeda-beda dalam satu lingkungan kelas.
Teori Kecerdasan Jamak ini juga mengarahkan pada “kemampuan paduan pengajaran”, yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan di mana murid-murid dengan berbagai macam variasi dapat belajar dan berproses untuk mencapai prestrasi bersama-sama.
Inti dari metode ini lebih menekankan pada penghargaan dan pemahaman terhadap adanya keanekaragaman dalam hidup.
Kecerdasan Jamak Howard Gardner
1. Kecerdasan Linguistik, terkait dengan keahlian dalam membaca, menulis, mendengarkan, berbicara
2. Kecerdasan Logika-Matematika, terkait dengan keahlian menyelesaikan persoalan logika, teka-teki, puzzle, mendapatkan bukti-bukti, melakukan perhitungan
3. Kecerdasan Spatial, terkait dengan keahlian daya ruang 3 dimensi, menentukan jarak dalam satu lingkungan, menentukan posisi benda
4. Kecerdasan Musikal, terkait dengan memainkan alat musik, menciptakan suatu nada, bernyanyi, atau mengarahkan nada. Lebih lanjut, Gardner yakin bahwa mekanik mesin dan ahli jantung memiliki jenis Kecerdasan ini tingkat tinggi karena mereka melakukan diganosis dengan mendengarkan secara cermat pola suara yang timbul (suara mesin mobil atau detak jantung).
5. Kecerdasan Jasmani-Kinestetik, terkait dengan keahlian menggunakan badan atau anggota badan untuk melakukan gerakan-gerakan terlatih tertentu atau melakukan kegiatan untuk maksud tertentu (contoh : penari, atlit, ahli bedah)
6. Kecerdasan Intrapersonal, terkait dengan keahlian dalam memahami diri sendiri, dan mendapatkan pencerahan atau ide-ide berdasarkan hasil pemikiran, tindakan, atau aktivitas emosional.
7. Fungsi Interpersonal, terkait dengan keahlian dalam memahami orang lain, dan hubungan antar individu, memiliki ketrampilan sosial yang tinggi (psikolog, guru, dan politikus pada umumnya memiliki jenis Kecerdasan ini dalam tingkat yang tinggi)
8. Kecerdasan Naturalistik, terkait dengan keahlian untuk memahami dan bekerja dengan efektif dalam lingkungan natural.
Yanti D.P. (Bintang Bangsaku)
Recent Comments