cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________

Stimulasi  yang  tepat  atau  sesuai  dengan  perkembangan  anak  akan  merangsang anak untuk  belajar,  menumbuhkan  rasa ingin tahu, dan mengaktifkan  fungsi-fungsi otaknya. Berdasarkan pada pemahaman tersebut, gambaran mengenai bagaimana sebenarnya seorang anak belajar dan bagaimana pengaruh kinerja otak dalam proses pembelajarannya perlu dipahami secara utuh agar sekolah dapat menyediakan sarana prasarana, menyusun kurikulum, memilih teknik pembelajaran, menetapkan peraturan, menyesuaikan sistem administrasi demi memenuhi kebutuhan semua pihak.

Sementara itu, pemahaman mengenai inklusifitas akan meletakkan dasar yang netral dan tidak bias bagi pendidik maupun kepala sekolah sebagai unsur penting dalam pengambilan kebijakan sistem ketika akan menentukan bagaimana manajemen sekolah maupun manajemen kelas dijalankan.  Manfaat yang tampak dalam keseharian di Bintang Bangsaku dapat menjadi pijakan pertama dalam upaya menggugah kesadaran bahwa dalam lingkungan masyarakat inklusif kita harus siap untuk mengubah dan menyesuaikan sistem, lingkungan, dan aktivitas, serta mempertimbangkan kebutuhan semua orang.

Sistem PAUD Inklusi di Bintang Bangsaku yang dengan menggunakan pola B-bIO mentransformasi setiap elemen yang terkait dengan berdasarkan pada kesadaran, keterbukaan, ketersinambungan, keterbangunan, keterhayatan, dan keintegrasian.  Gerak dari sebuah sistem organisasi yang harmonis sesuai dengan standar tingkat pencapaian perkembangan dalam proses pembelajaran; standar penyediaan dan pengelolaan pendidik maupun tenaga kependidikan; serta standar sarana prasarana, pengelolaan, dan pendanaan.

Keenam kunci awesome dalam B-bIO tersebut memang sederhana pada penampilannya, tapi di balik itu mungkin tersimpan banyak aspek yang masih bisa digali. Contohnya untuk kunci pertama yang disebut dengan aware atau sadar. Aplikasi aware yang paling utama dalam sebuah sistem pembelajaran adalah penggunaan asesmen yang tepat agar guru dapat mengetahui gambaran besar mengenai kondisi siswanya.  Sedangkan secara umum, asesmen pada dasarnya dapat dilakukan oleh tenaga profesional, kader, orangtua ataupun pendamping anak di pusat-pusat pelayanan kesehatan, posyandu, sekolah ataupun dalam lingkungan keluarga.

Dengan desain pembelajaran yang matang, selaras dan memahami latar belakang anak maka akan tercipta sebuah bangunan kecerdasan dengan aksi refleksi yang terlatih juga terkonstruksi dengan irama dan harmoni yang indah sesuai dengan karakter yang terbangun sendiri oleh anak sesuai ketertarikannya. Sudah menjadi tugas para pembimbing, guru, pengasuh, konselor, dan orang-orang dewasa lain agar anak dapat membangunnya secara partisipatoris tanpa harus dipaksakan karena kemampuan mencerna dan menerima informasi tiap anak, bahkan yang normal sekali pun,  pasti berbeda-beda meski hanya beberapa millisecond, sebuah konsekuensi dari kinerja hamparan jejaring sel otak maupun sel-sel saraf lain yang terus berinteraksi dan berkembang menjadi cetak biru bagi olah pikir dan rasa dalam memahami sesuatu agar dapat memutuskan bentuk perilaku yang tepat.

Secara praktis, beberapa program kerja yang dapat dilakukan untuk membantu tugas guru, pendamping, pengasuh, konselor, maupun orang-orang dewasa lain yang secara praktis bersama anak-anak, baik yang normal maupun berkebutuhan khusus, untuk berproses mencapai eksistensi diri masing-masing maupun transformasi system pendidikan dalam masyarakat agar menjadi lebih mengendepankan kombinasi antara kebugaran fisik, kenyamanan emosi, keharmonisan hubungan social, keteraturan logika, dan kedalaman makna adalah sebagai berikut:

  1. mengingat acuan perkembangan anak usia dini masih mengacu pada literatur asing, sehingga ada kemungkinan tidak semuanya sesuai dengan tingkat perkembangan anak Indonesia. Setiap anak di setiap negara bahkan setiap daerah memiliki kultur dan budaya yang spesifik. Oleh karena itu langkah pertama dalam proyek penyusunan system PAUD berbasis asesmen ini maka perlu dilakukan kajian perkembangan anak Indonesia, baik yang bersifat umum maupun spesifik untuk setiap daerah agar dapat mejadi acuan standar perkembangan anak usia dini di Indonesia, standar proses pembelajaran, dan standar penilaian untuk tingkat PAUD.
  2. Mengingat pemahaman dan keterampilan praktisi PAUD mengenai sistem pendidikan inklusi masih terbatas, alangkah baiknya instansi yang terkait dengan penyelenggaraan lembaga PAUD menyelenggarakan pembekalan terstruktur dan berkesinambungan
  3. Mengingat kecenderungan masyarakat yang lebih memilih adanya segregasi berdasarkan pada perbedaan nyata yang menimbulkan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu, maka sebaiknya sosialisasi mengenai sistem pendidikan inklusi kepada masyarakat umum ditingkatkan, antara lain melalui seminar, pelatihan, serta media massa.

___________________________________

salam, Yanti D.P.

Share this post

Leave a Reply