cuplikan makalah yang akan dipresentasikan dalam Kongres Nasional Ikatan Psikolog Klinis di UGM

_______________________________________________________
Secara praktis,  sistem PAUD Inklusi yang diterapkan oleh Bintang Bangsaku dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Komponen Peserta Didik:
    1. Pembagian kelompok berdasarkan pada usia kronologis untuk anak normal dan pada usia mental untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) sehingga ada sebuah instrumen asesmen standar yang digunakan untuk mengetahui tingkat perkembangan masing-masing anak saat pertama kali mengikuti program pembelajaran.  Bintang Bangsaku juga menggunakan beberapa instrumen lain yang biasa digunakan untuk mengetahui tingkat kesulitan yang dialami oleh ABK dalam proses pembelajarannya. Hasil dari asesmen ini yang akan menjadi referensi utama bagi guru dalam penyusunan desain pembelajaran yang khas untuk masing-masing anak.
    2. Kapasitas kelas perlu dibatasi demi terwujudnya dinamika kelas yang mendorong pertumbuhkembangan masing-masing peserta didik, yaitu :

(1)   untuk usia 2 – 4 tahun, dibatasi hanya 9 anak dengan dibimbing oleh 2 atau lebih guru,

(2)   untuk usia 4 – 5 tahun, dibatasi hanya 8 anak dengan dibimbing oleh 1 atau lebih guru,

(3)   untuk usia 5 – 6 tahun, dibatasi hanya 12 anak dengan dibimbing oleh 1 atau lebih guru.

  1. Komponen Kurikulum, berpedoman bahwa program pembelajaran harus terstruktur dan dapat memenuhi kebutuhan masing-masing anak dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut ini, yaitu:
    1. Desain kurikulum berdasarkan pada azas :

(1)   Pemanfaatan Kinerja Sistem Aktivasi Retikular, yaitu mempertahankan perhatian dengan cara mengkaitkan materi atau keterampilan yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari.

(2)   Pemanfaatan Kinerja Otak Emosi, yaitu dengan memberi umpan balik yang positif, spesifik, tepat,  dan nyaman.

(3)   Pemanfaatan Kinerja Peta Koneksi, yaitu menggunakan pra-pemaparan, memanfaatkan materi/ keterampilan yang sebelumnya, melatih pemecahan masalah secara mandiri, serta mendorong pembelajar untuk menetapkan tujuan belajar yang konkret, spesifik, dan mempunyai rentang waktu tertentu.

(4)   Pemanfaatan Kinerja Siklus Otak, yaitu: menggunakan aktivitas yang bervariasi dalam suatu rentang waktu, menjaga agar suasana tetap hidup dan tidak monoton, mengijinkan anak untuk beristirahat, dan mendorong pembelajar untuk turut berbagi pengetahuan maupun keterampilannya.

Kesesuaian ini didasarkan pada berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa otak anak sudah terikat kuat dengan 80 persen dari segala sesuatu yang pernah ia ketahui dan semua pertumbuhan neural berikutnya dibangun dari jalur-jalur tersebut (Dennison, 2008). Artinya, bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Perkembangan dan kebutuhan otak tersebut yang menyebabkan masa kanak-kanak dari usia 0 – 8 tahun diistilahkan sebagai periode emas dan hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan otak anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan.

  1. Silabus disusun berdasarkan indikator dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan dari Departemen Pendidikan Nasional yang telah dimodifikasi menjadi lebih terperinci agar dapat diadaptasikan dengan kondisi siswa yang beragam. Indikator-indikator tersebut kemudian diolah dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan pencapaiannya sehingga menjadi sebuah matriks target pencapaian.  Matriks tersebut yang menjadi landasan dalam perencanaan pembelajaran untuk setiap semester, bulan, minggu, bahkan harian.
  2. Materi dalam kurikulum memiliki kaitan erat dengan kehidupan sehari-hari semua peserta didik yang mengintegrasikan baca, tulis, hitung dan kecakapan hidup di seluruh tema materi dan saling berhubungan satu sama lainnya.
  3. Alur maupun skenario dari kegiatan pembelajaran disusun dengan mempertimbangkan berbagai karakteristik dasar dari kinerja otak

Secara khusus, alur dalam desain kegiatan pembelajaran menggunakan awesome sebagai pedomannya. Melalui proses pembelajaran yang dialami selama 90 menit, anak akan menyadari apa yang ia pelajari melalui berlatih, bereksperimen, dan mengenal lebih jauh ketika panca inderanya diberikan peluang untuk mengenal lingkungan dan dirinya sebagai satu kesatuan dalam proses belajar di mana anak membangun pengalaman secara otomatis sehingga terintegrasi ke dalam dirinya.

Jika hal demikian dapat berlangsung terus-menerus selama proses tumbuh kembangnya maka langkah-langkah ini akan secara sadar masuk ke dalam benaknya secara otomatis bahkan ketika menghadapi sesuatu yang baru karena semuanya sudah terangkum dalam bawah sadarnya. Secara terperinci, penjelasan masing-masing konsep dari awesome dalam desain pembelajaran adalah sebagai berikut:

(1) Aware.  Konsep aware merupakan kesadaran awal. Materi belajar akan lebih mudah dipelajari jika siswa telah menyadari apa yang akan dipelajarinya. Kesadaran siswa dapat dibangun pada kegiatan pra-paparan yang dikerjakan di rumah serta diskusi yang disampaikan guru sebelum dan setelah kegiatan belajar.

(2)   Expose yang berarti memberikan ragam stimulus optimal pada seluruh indra sensori siswa yang merangsang munculnya seluruh kemampuan anak sebagai modal belajarnya. Karenanya aktivitas belajar sehari-hari haruslah melibatkan tidak hanya kemampuan verbal atau koginitif tapi juga motorik halus dan kasar.

(3)   Synchronize Banyak penelitian dalam pendidikan yang telah dengan sangat meyakinkan menunjukkan bahwa proses belajar akan lebih mudah dan efektif jika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Misalnya, alih-alih menggunakan papan kancing untuk melatih motorik halus anak lebih baik melatih anak mengkancingkan bajunya sendiri. Karena kegiatan itu tidak hanya melatih motorik halus, tapi juga sekaligus melatih kemandirian bahkan dengan bonus belajar matematika, dengan menghitung jumlah kancing bajunya yang harus dipasangnya.

(4)   Construct . Semua aktivitas, tata ruang kelas, mainan yang disediakan, alat bantu belajar yang digunakan bahkan instruksi yangn diberikan dalam proses belajar disiapkan untuk anak dan dirancang dengan tujuan yang jelas dengan hasil yang dapat diukur. Kegiatan yang dirancang juga haruslah meliputi lingkup belajar anak seperti sains, bahasa dan matematika. Dengan kata lain kegiatan haruslah tersusun sistematis dengan capaian yang terarah.

(5)   Automize . Konsep ini diaplikasikan pada pelaksanaan kegiatan rutin di sekolah seperti cuci tangan sebelum makan, membereskan mainannya sendiri dan lain sebagainya, sedang untu guru berupa peraturan di sekolah. Tujuannya agar anak dan seluruh elemen sekolah terbiasa pada kebiasaan-kebiasaan baik, sehingga perilaku positip menjadi hal spontan yang dilakukan siswa dan guru dalam keseharian.

(6)   Integrated. Konsep ini teraplikasi dalam lingkungan belajar yang inklusi. Tidak hanya menggabungkan anak berkebutuhan khusus dengan anak normal dalam satu ruang belajar namun juga menciptakan atmosfer yang terpadu, memenuhi kebutuhan dan melibatkan semua anggota kelas

  1. Secara khusus, bagi ABK yang dari hasil asesmennya ternyata memerlukan pendekatan yang berbeda maka akan dibuatkan suatu program pendidikan yang sifatnya individual.
  2. Media belajar, baik yang berupa lembar kerja maupun alat peraga, diupayakan sendiri pengadaannya demi memenuhi beragam kebutuhan.
  3. Interpretasi subjektif diminimalisir dengan menggunakan sensory based report berdasarkan pemantauan secara terus menerus, dalam berbagai konteks, dan berdasarkan apa yang dapat dikerjakan dan dihasilkan anak secara terus menerus bersamaan dengan kegiatan pembelajaran. Berbagai teknik dan instrumen asesmen, seperti catatan anekdot (anecdotal record), catatan narrative (narrative record), catatan cepat (running record), sample kegiatan (event sampling), dan dengan portofolio digunakan untuk memantau perkembangan anak.
  4. Proses modifikasi perilaku diberlakukan dengan cara kontrak belajar yang berdasarkan pada prinsip token ekonomi.
  5. Komponen Sarana & Prasarana dikelola dengan memperhatikan kebutuhan ruang masing-masing anak untuk dapat bergerak bebas dan dirancang sedemikian rupa agar dapat menimbulkan kesan yang tidak monoton, aman, dan memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam.
  6. Komponen Pengelolaan Organisasi menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas yang dilakukan dengan cara:
    1. Berpedoman pada visi dan misi yang mengisyaratkan tentang pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan tidak bias.  Visi, misi, dan tujuan lembaga dijadikan cita-cita dan upaya bersama agar mampu memberikan inspirasi, motivasi dan kekuatan pada semua pihak yang berkepentingan.
    2. Mematuhi sistem dan prosedur kerja yang jelas dan tidak saling tumpang tindih sesuai dengan struktur organisasi dan maksud jabatan, di mana elemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan wajib untuk:

(1) Secara pribadi menguasai keenam kunci dari awesome, yaitu AWare (spending ten minutes in silence and see the potential), Expose (involve all the sensory), Synchronize (feel the body, touch the emotion, hear the thought, make the connection), cOnstruct (build the experience and be talented), autoMize (skip the thinking part and be spontaneous), intEgrate (blend it all and become one with The Source)

(2)   melaksanakan pendidikan inklusif dan ramah terhadap pembelajar

(3)   mengidentifikasi dan menghindari adanya bias-bias dalam kurikulum, lingkungan sekolah, dan proses pembelajaran

(4)   mengikuti secara aktif berbagai lokakarya, pelatihan, dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi

(5)   fokus pada kerja tim bukan prestasi individual

  1. Memiliki program kerja yang menunjukkan adanya kemauan untuk terus berkembang dan meningkatkan kemampuan organisasi untuk memenuhi kebutuhannya maupun kebutuhan seluruh elemen pendukungnya.  Salah satu bentuk program kerja yang terlihat nyata adalah memfasilitasi peningkatan kemampuan karyawan melalui pendidikan lanjutan yang sesuai dengan arah pengembangan karirnya.
  2. Komponen Pendanaan dikelola dengan pedoman:
    1. Dana yang diperoleh dari orang tua siswa hanya digunakan untuk biaya operasional. Biaya investasi, diperoleh dengan menggunakan berbagai macam cara untuk dapat memperoleh dana, salah satunya adalah dengan menyenggarakan berbagai workshop untuk umum.
    2. Seluruh transaksi keuangan dibukukan secara terpadu, cermat dan transparan untuk menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program kerja tahunan dan dilaporkan kepada pihak-pihak yang berwenang secara jujur.
  3. Hubungan dengan masyarakat dilakukan menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak yang terkait dengan mengupayakan adanya pertemuan rutin orang tua murid, pelatihan-pelatihan yang terbuka untuk umum, dan juga dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, yaitu dengan diterbitkannya berbagai artikel tentang PAUD di website sekolah.  Keberadaan website tersebut juga sangat bermanfaat untuk mensosialisasikan aplikasi pendidikan inklusif di tingkat PAUD.

___________________________________

salam, Yanti D.P.

Share this post

Leave a Reply