Orang tua selalu saja berusaha dan mengakses informasi tentang anak dengan harapan yang pada dasarnya bisa dikatakan baik, mungkin sudah mulai memberikan perlakuan kepada anaknya sejak dalam kandungan seperti memperdengarkan musik klasik, mengajaknya berkonversasi, menepuk perut ibu, maupun hingga kedua orangtuanya tidak boleh ini dan itu.
Meski kadang aneh dan lucu namun itu semua adalah harapan untuk menjadikan onggokan daging dan darah itu menjadi sesuatu yang bermakna, mandiri, dan menjadi manusia yang sejuta harap serta cita akan ditumpukan kepadanya.
Namun apakah semua pengorbanan dan perlakuan tersebut pas dan bisa diterima, ada banyak kata sakti dan bijak untuk menjawabnya memang bahwa manusia dilahirkan sesuai titahnya, dan akan berkembang sesuai dengan lingkungan dan pendidikan yang diterimanya, jika itu gagalpun nantinya masih ada kata sakti yaitu setelah dewasa dia akan bisa menemukan dirinya sendiri.
Memang terlepas dari semuanya sebagai individu dan mahluk sosial seseorang akan memiliki nilai yang dibangunnya sendiri, namun jangan lupa ketika nilai-nilai itu dibangun membutuhkan pondasi dasar yang kuat seperti penerimaan, aware, bla.. bla.. bla, tentunya tanpa meninggalkan sesuatu yang sangat berarti yaitu eksistensi dirinya sendiri.
Di mana nilai-nilai universal kemanusiaan memang harus ditanamkan secara indah sehingga bisa diterima dengan wajar, seirama dengan perkembangan kemanusiaannya.
Bukan soal ketika lulusan sekolah ini akan menjadi orang seperti anu, dan lulusan sekolah itu akan menjadi seseorang dengan kepintaran tertentu. Semuanya bisa dilakukan dengan mudah, meski harus dibayar dengan pengorbanan tertentu.
Adalah menjadi tugas para pembimbing dan guru agar peserta didik dapat menemukan kebenaran secara partisipatoris, tanpa harus dipaksakan karena kemampuan mencerna dan menerima informasi tiap individu kadang berbeda meski hanya beberapa milisecond.
Dari hamparan 400 trilyun simpul syaraf yang harus berinteraksi dan berkembang sejak usia 3 tahun, meski semuanya memiliki namun ada banyak variabel yang ikut serta didalamnya. Hingga tahun ke lima adalah masa emas dimana informasi yang diterima dan diolah seakan menjadi template (cetak biru) bagi olah berpikir dan memahami sesuatu seterusnya.
Dengan konstruksi pengajaran yang matang, selaras dan memahami latar belakang anak maka akan bisa menghindari trauma-trauma pada trilyunan syaraf tersebut, untuk terciptanya sebuah bangunan kecerdasan dengan aksi refleksi yang terlatih juga terkonstruksi dengan irama dan harmoni yang indah dan perspektif matang sesuai dengan karakter yang nanti akan dibangun sendiri oleh peserta didik sesuai ketertarikannya sendiri-sendiri.
Bagaimanapun juga ‘masa-masa emas’ umur anak hingga 8 tahun memang harus diisi dengan pembelajaran-pembelajaran yang secara sadar tidak menumpas kreatifitas pengembangan diri anak sehingga terjadi hentakan pada reaksi milyaran syaraf-syaraf halus di kepalanya yang akan dibawanya sampai mati.
Anak sebagai subjek dan pembimbing sebagai pemberi stimulan maupun respon yang bisa dipertanggungjawabkan, seyogyanya memang harus digarisbawahi bahkan ada kontrak belajar bagi anak secara jelas untuk menciptakan nuansa atau setidaknya sesuatu yang didapatkan oleh anak adalah sesuatu yang bisa dipakai untuk kehidupannya.
Disini pulalah kehati-hatian ekstra dalam kunci constructnya mbak Depe itu harus mutlak dipahami untuk dilaksanakan.
Bukan hanya memahami latar belakang karakter, atau kecenderungan anak sebagaimana yang dilontarakan oleh Alfred Adler tentang anak kembar, anak sulung, anak bungsu dll, namun juga pemahaman akan serious, conscientious, directive, goal-oriented, aggressive, rule-conscious, exacting, conservative, organized, responsible, jealous, fearful, high achieving, competitive, high in self-esteem, dan anxious, dimana mungkin setiap individu memiliki memilikinya.
Juga aspek-aspek dari Ki Hadjar Dewantara yang kondang dengan “Niteni, Niroake lan Nambahake” – menandai, meniru, dan menambahkan – sangat perlu diperhatikan, mungkin agak abstrak namun bagaimanapun pendidik dan pembimbing memiliki tempat tertentu di benak masing-masing anak.
Banyak contoh dan metode bagus yang bertebaran di dunia ini, namun tidak tertutup kemungkinan juga inovasi-inovasi baru akan muncul seiring dengan kebutuhan dan perkembangan dunia yang mencengangkan ini, dimana anak-anak baru terlahir dari benih-benih yang semakin hari dibebani banyak persoalan sehingga mungkin bisa mengubah komposisi-komposisi dalam kromosom maupun tentunya memori kolektif yang potensial dibawa oleh janin.
Masih merupakan misteri meskipun semuanya bisa dinafikan dengan reproduksi-reproduksi ilmu pengetahuan dan metode-metode baru untuk menciptakan robot-robot yang diinginkan oleh kekuasaan maupun rejim pendidikan yang selalu saja hadir tanpa permisi.
Ketika menyadari keenam kunci B-Bio tersebut memang diperlukan sosok manusia pembimbing yang berhati nurani, memiliki imajinasi, dan update terhadap perkembangan peserta didiknya. Meski bisa diatasi dengan pengarahan-pengarahan tertentu,
alangkah indahnya ketika semua itu bisa terlaksana bukan hanya ketika anak bernyanyi ‘heli, guk.. guk.. guk…, kemari.. guk.. guk. guk.. ayo lari-lari’ yang dipahami hanyalah bermain dan berlari dengan ‘Heli’ yang bisa ‘guk.. guk .. guk’, namun ada banyak ranah yang bisa di tunjukkan..
hmm.. dan itupun semua tergantung konteks dan suasana saat itu pula yang bisa disikapi dengan arif, bijak dan bermanfaat buat atendan disitu membuka sebuah cakrawala yang luas dibalik ‘Heli’, ‘guk.. guk .. guk’ dan ‘ayo lari-lari.
Di mana pendidik dan masing-masing peserta didik dengan eksistensi dirinya bisa mengejawantah menjadi sesuatu dalam perspektif dan tujuan luhur cita-cita B-bio, baik sadar maupun tidak sadar, namun nyaman, senyaman-nyamannya.
Antok
Recent Comments