A.  Kajian Dokumen

Dokumen yang dikaji dalam kegiatan ini mencakup :

1.   Kurikulum 2004 Standar Kompetensi PAUD TK/RA (Puskur, 2004)

2.   Kurikulum 2004 Standar Kompetensi TK/RA (Direktorat TK/SD, 2005).

3.   Acuan Menu Pembelajaran Generik (Direktorat PAUD, 2002).

4.   Standar Perkembangan Dasar PAUD (Draft PAUD 2006)

5.   Standar Perkembangan Anak Lahir s/d 6 Tahun (Draft 17 Nop 2006).

6.   Kerangka Dasar Kurikulum PAUD (Draft 17 Nop 2006)

7.   Pedoman Pengembangan Silabus di TK/RA (2005).

8.   Pedoman Pembelajaran di TK/RA (2005)

9.   Pedoman Penilaian di TK (2005).

10. Dokumen PKB TK (1994)

Hasil  kajian  terhadap  masing-masing   dokumen  tersebut  dapat  digambarkan  sebagai berikut.

1.   Dokumen  Standar Kompetensi PAUD  TK & RA (Dokumen 1,2 dan 10)

Secara  umum  isi  dokumen  ini  hanya  dapat  dipertimbangkan   sebagai  salah  satu alternatif dalam merumuskan standar kompetensi lulusan dan standar isi untuk PAUD dan beberapa konsep dapat dijadikan dasar untuk standar proses. Dokumen ini hanya ditujukan untuk lembaga PAUD jalur formal (TK dan RA) sesuai dengan direktorat teknis yang menghasilkannya.  Hampir 80% isi standar kompetensi  TK/RA tersebut mengadopsi  standar  perkembangan   dalam  GBPKB  TK  1994  hanya  saja  terjadi beberapa perubahan nama dan pengelompokan kemampuan, misalnya dalam GBPKB TK 1994 dikenal pengembangan sikap/perilaku (disiplin, moral Pancasila, sikap beragama, perasaan/emosi dan kemasyarakatan) dan dalam standar kompetensi dikelompokkan  menjadi  dua,  yaitu  bidang  pengembangan  moral-agama dan  sosial emosi. Selain dua bidang pengembangan  tersebut, terdapat 4 bidang pengembangan lainnya, yakni bidang pengembangan bahasa, kognitif, fisik-motorik dan seni.

Dokumen   No.  2  merupakan   penyempurnaan   dari  dokumen   No.1  maka   secara keseluruhan substansinya sama, seperti terlihat pada pendahuluan yang meliputi rasional, pengertian, fungsi dan tujuan, ruang lingkup, standar kompetensi lintas kurikulum,   standar kompetensi TK dan RA, pendekatan pembelajaran dan penilaian, dan rambu-rambu. Pada kedua dokumen tersebut ruang lingkup kurikulum TK dan RA meliputi 6 (enam) aspek perkembangan,  yaitu: Moral dan nilai-nilai Agama; Sosial, Emosional dan Kemandirian; Berbahasa; Kognitif; Fisik/motorik dan Seni.

Kompetensi dasar, hasil belajar, dan indikator juga sama, hanya ada sedikit perbedaan pada     rumusan      indikator    dan             peristilahan              dalam     mengelompokkan    aspek perkembangan. Aspek perkembangan dikelompokkan menjadi dua kelompok. Pada dokumen No.1, aspek perkembangan Moral dan nilai-nilai Agama; Sosial, Emosional dan Kemandirian  dikelompokkan  ke dalam pembentukan  perilaku  dan pembiasaan; pada dokumen No.2 kedua aspek tersebut dikelompokkan ke dalam bidang pengembangan   pembiasaan.  Sedangkan  aspek  perkembangan  berbahasa,  kognitif, fisik/motorik,  dan seni pada kedua   dokumen dikelompokkan  ke dalam kemampuan dasar.

Secara khusus dokumen tersebut belum memberikan  gambaran pada masing-masing bidang  pengembangan,  terutama  tentang  makna,  tujuan,  prinsip  pengembangan  dan ruang lingkup  standar  perkembangannya.  Dalam dokumen  ini juga terdapat  standar kompetensi yang tumpang tindih atau overlap antara isi KD, HB dan Indikator pada bidang pengembangan fisik motorik (khususnya motorik kalus) dengan pengembangan seni  (halaman  23-25  dan  34-35).  Rumusan  kompetensi  dasar  pada  masing-masing bidang pengembangan belum memperhatikan tata cara dan syarat dari rumusan kompetensi yang benar karena terdapat satu rumusan mengandung dua atau lebih kompetensi yang diinginkan. Cakupan aspek dari suatu dimensi perkembangan yang diakomodasi oleh hasil belajar (HB) belum mencerminkan aspek yang sesuai dengan kajian akademik pada bidang tersebut (misalnya bidang Bahasa mencakup aspek mendengar/menyimak,  berbicara, pra-membaca  dan pra-menulis).  Dalam bagian lain di setiap bidang pengembangan  terdapat urutan kompetensi,  HB dan indikator yang belum tertata secara gradatif, terutama pada pengembangan kognitif (matematika) dan seni (motorik halus).

Dalam   dokumen   ini   masih   ditemukan   kurang   lengkapnya   aspek-aspek   standar kompetensi  kurikulum 2004, padahal kurikulum ini merupakan penyempurnaan  dari kurikulum sebelumnya. Kurikulum 2004 baru diperuntukkan bagi TK yang hanya menjangkau anak-anak usia 4 – 6 tahun. PAUD yang dipandang mengakomodasi kebutuhan anak usia sejak lahir sampai dengan 6 tahun (khusus lahir – 4 tahun) belum terakomodasi dalam kurikulum ini. Untuk itu perlu ada kajian mendalam tentang tugas perkembangan anak Indonesia untuk usia lahir – 4 tahun.

Dokumen Kurikulum 2004 Standar Kompetensi, Pedoman Pengembangan Silabus, Pedoman Pembelajaran dan Pedoman Penilaian belum terintegrasi secara menyeluruh, nampak dokumen ini masih terpisah-pisah (mungkin dibuat oleh Tim yang tersendiri). Untuk  itu  keempat  dokumen  tersebut  perlu  disinkronisasi.  Untuk  memberi  contoh kepada  guru,  model  pembelajaran  dan  penilaian  dibuat  merujuk  satu  SK  tertentu sehingga         menyatu.

Bidang            pengembangan    pembiasaan             sebagai                  aspek         yang dikembangkan guru masih sulit untuk diukur, hal ini karena kriteria penilaian dalam bidang pengembangan pembiasaan ini belum ada. Selain bidang pengembangan pembiasaan, bidang pengembangan kemampuan dasar,   yaitu kemampuan berbahasa, kognitif,  fisik-motorik  dan  seni  perlu  diperjelas  indikator-indikatornya  agar  sesuai dengan tahap perkembangan dan kebutuhan anak.

Selain  dokumen  Kurikulum  2004  Standar  Kompetensi   juga  dianalisis  dokumen penyerta   lainnya,   yaitu:  dokumen   Pedoman   Pengembangan   Silabus   di  TK/RA, Pedoman  Pembelajaran  di TK/RA  dan Pedoman  Penilaian  di TK/RA.  Hasil  kajian dokumen tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

i.       Dokumen Pedoman Pengembangan Silabus di TK/RA

Silabus merupakan bentuk penjabaran kurikulum ke dalam bentuk program pembelajaran  yang  lebih  konrkit.  Oleh  karena  itu  esensi  silabus  yang  perlu diberikan, sedangkan format silabus boleh beragam. Selain itu, dokumen silabus baru diperuntukkan bagi TK/RA belum menjangkau PAUD. Di dalam dokumen ini diuraikan  tentang  dua  model  pembelajaran  TK,  namun  belum  jelas  bagaimana

pelaksanaannya. Contoh SKH dan SKM dalam pedoman pengembangan silabus ini belum jelas sehingga guru-guru mengalami kesulitan dalam membuat program pembelajaran.  Selain  itu, pemetaan  program  semester  yang  ada  hanya  program pembiasaan saja, sedangkan program pengembangan kemampuan dasar belum terpetakan secara jelas.

ii.      Dokumen Pedoman Pembelajaran di TK/RA

Pedoman  pembelajaran  ini  baru  diperuntukkan  bagi  TK/RA  usia  4  –  6  tahun, belum menjangkau  PAUD.  Dalam dokumen  ini ditemukan  terlalu  banyak  buku pedoman  sehingga  cukup  menyulitkan  kerja  guru  di  lapangan.  Secara  umum metode-metode pembelajaran untuk anak TK bisa saja diadaptasikan untuk pembelajaran   anak-anak   TB/KB,   namun   harus   dilakukan   secara   hati-hati mengingat  tingkat  perkembangan  mereka  berbeda.  Untuk  TB/KB  pengalaman belajar lebih penting dibanding hasil belajarnya. Pembelajaran yang mengundang rasa ingin tahu anak dan mengajak anak untuk terlibat aktif dalam pembelajaran sangat diharapkan.  Pemanfaatan  potensi alam di sekitar satuan pendidikan  perlu dioptimalkan agar anak belajar dari konteks kehidupan kesehariannya.

iii.       Dokumen Pedoman Penilaian di TK/RA

Dokumen pedoman penilaian di TK/RA ini juga baru diperuntukkan bagi anak usia 4 – 6 tahun belum menjangkau PAUD. Dalam pedoman ini ada beberapa hal yang perlu           diperbaiki.             Di                 lapangan            guru    cukup    mengalami    kesulitan    dalam melaksanakan   penilaian   karena   dipandang   terlalu   banyak   format   instrumen penilaian yang harus dibuat dan dilaksanakan,  selain itu, guru belum memahami seutuhnya penilaian seperti apa yang dimaksudkan dalam pedoman ini. Banyaknya format penilaian dipandang menyulitkan dan contoh-contoh penilaian yang dituangkan dalam pedoman tersebut seringkali dianggap sebagai sebuah ketentuan atau suatu keharusan yang harus diikuti. Selain penjelasan penggunaan format tersebut,  esensi  penilaian  menjadi  amat  penting  untuk  dipahami  guru.  Teknik- teknik penilaian otentik yang lebih banyak menggunakan  observasi  dan antibias lebih penting untuk  dipahami guru ketimbang format-format tersebut.

2.   Standar Perkembangan Dasar PAUD

Acuan perkembangan anak usia dini masih mengacu pada literatur asing, sehingga ada kemungkinan  tidak semuanya  sesuai dengan  tingkat perkembangan  anak Indonesia. Setiap anak di setiap negara bahkan setiap daerah memiliki kultur dan budaya yang spesifik.  Teori ekologis  memperkuat  hal litu, di mana pola pikir dan perilaku  anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan spesifiknya. Anak-anak di daerah pantai di Papua umumnya sudah biasa main air dan berenang di laut sejak kecil. Anak-anak di hutan pedalaman lebih mengenal berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Oleh karena itu perlu kajian perkembangan anak Indonesia, baik yang bersifat umum maupun spesifik untuk setiap  daerah  agar  dapat  mejadi  acuan  standar  perkembangan  anak  usia  dini  di Indonesia.

3.   Acuan Menu Pembelajaran Generik pada PAUD

Dokumen Acuan Menu Pembelajaran  Generik merupakan  salah satu dokumen yang dikembangkan oleh Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini yang dipergunakan dalam lingkup PAUD non formal. Dokumen ini memberikan penjelasan tentang standar perkembangan  dan proses  pembelajaran  yang  disarankan  untuk  anak  usia dini.  Ide

mengembangkan  menu  pembelajaran  generik  cukup  baik  terutama  sebagai  acuan minimal  bagi  kegiatan  pembelajaran  untuk  anak  usia  dini.  Namun  demikian  perlu diberi pemahaman pada guru PAUD bahwa menurut DAP (NAEYC, 1998) mengacu pada  dua  hal  yaitu  kelompok  usia  dan  kebutuhan  individual.  Menu  pembelajaran generik merupakan konsep dasar pembelajaran yang masih harus diadaptasikan dengan kebutuhan  anak  pada  rentang  usia  tertentu  dan  dengan  kebutuhan  individual  anak. Oleh  karena  itu,  perlu  ada  contoh-contoh  penerapan  menu  pembelajaran  generik tersebut  dalam  pembelajaran.   Dalam  dokumen   ini,  standar  perkembangan   telah disusun secara bergradasi  berdasarkan  tahapan  usia anak walaupun  dalam beberapa aspek perkembangan belum tertata secara jelas perbedaan standar perkembangan dari satu tahapan usia ke tahapan usia berikutnya.  Beberapa indikator kemampuan  suatu bidang pengembangan tidak memperlihatkan  karakteristik kompetensi perkembangan melainkan menggambarkan program atau stimulasi perkembangan (halaman 30).

4.   Kerangka Dasar Kurikulum PAUD

Dokumen  ini memberikan  gambaran  tentang beberapa konsep yang dapat dijadikan bahan kajian dalam dokumen KTSP PAUD, baik terkait dengan standar isi, standar proses, standar pengelolaan, standar penilaian dan standar pendidik. Dalam dokumen ini belum dirumuskan tujuan pengembangan dokumen secara jelas (halaman 3). Selain itu,  penjelasan  tentang  landasan  PAUD  masih  belum  menyentuh  esensi  berbagai landasan dalam menyelenggaraan PAUD. Pada landasan filosofis belum memberikan pilihan alternatif filosofis yang dapat diadopsi dan diadaptasi oleh para penyelenggara PAUD. Disamping  itu, landasan keilmuan PAUD seharusnya lebih ditekankan pada kajian ilmu pembelajaran yang sesuai (appropriate) dengan anak usia dini. Landasan keilmuan  ini sebaiknya  dipisahkan  dengan landasan  psikologis  yang akan dijadikan landasan  isi  perkembangan  dan  proses  pembelajaran  pada  anak  usia  dini.  Dalam dokumen  ini  terdapat  penjelasan  yang  masih  rancu  antara  bidang  pengembangan dengan materi pembelajaran (halaman 13-15).

5.   Standar Perkembangan Dasar PAUD

Judul  ini  dinilai  masih  rancu  karena  belum  ditemukan  peristilahan  perkembangan dasar. Oleh karena itu, istilah umum yang harus dipertimbangkan adalah Standar Kompetensi Perkembangan atau Standar Perkembangan. Dalam dokumen ini, terdapat isi  rasional   pada  bab  Pendahuluan   seharusnya   memberikan   dan  menjadi   dasar pemikiran pemilihan aspek perkembangan serta isi perkembangan yang menjadi fokus pembahasan didalamnya. Selain itu, beberapa sub bab juga tidak sesuai ditempatkan dalam dokumen ini, misalnya tentang prinsip dan kurikulum). Istilah Standar Perkembangan Akhir Usia (SKAU) dapat dijadikan pilihan istilah untuk memadankan dengan istilah Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Konsep SKAU akan menjadi dasar dalam  penyusunan  Standar  Isi  Perkembangan (SIP)  yang  dijabarkan  lagi  menjadi Standar Kompetensi Perkembangan (SKP) dan kompetensi perkembangan (KP).  SKP merupakan padanan istilah Standar kompetensi  dan KP (kompetensi  perkembangan) menjadi padanan dari kompetensi dasar (KD).

B.  KAJIAN LAPANGAN

Komponen-komponen yang terkait dengan kajian lapangan adalah hal-hal yang terkait dengan  Kurikulum  2004  Standar  Kompetensi,   Pedoman  Pengembangan   Silabus, Pedoman  Pembelajaran,  dan  Pedoman  Penialian  termasuk  alat  dan  cara  penilaian, tema, SKM, SKH, program pembelajaran  di taman penitipan anak, dan penanganan

anak  berkebutuhan  khusus.  Berikut            ini  digambarkan  hasil  kajian  pelaksanaan  di lapangan berbagai dokumen.

1.   Kurikulum 2004 Standar Kompetensi

Dalam  pelaksanaan  Kurikulum  2004  pada  umumnya  guru  kurang  memahami setiap  indikator  yang  telah  ditentukan,  selain  itu,  guru  juga  kurang  memahami empat kegiatan dalam pembiasaan yaitu: kegiatan rutin, spontan, teladan dan terprogram. Para praktisi juga mengalami kesulitan dalam menghubungkan antara standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dengan tema-tema kehidupan ke dalam silabus pembelajaran maupun rencana pelaksanaan pembelajaran. Disamping itu, para guru juga mengalami kesulitan dalam menjabarkan dan memetakan  susunan  standar  kompetensi,  kompetensi  dasar,  hasil  belajar  dan indikator karena belum diperhatikan gradasi perkembangannya.

2.   Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran terbagi dalam dua aspek, pertama bidang pengembangan pembiasaan   dan   kedua   pengembangan   kemampuan   dasar   yang   terdiri   atas kemampuan berbahasa, kognitif, sain, fisik-motorik, dan seni

Dalam pelaksanaan kegiatan bidang pengembangan pembiasaan di lapangan guru masih mengalami  kesulitan  mengukur atau melakukan  penilaian terutama dalam kegiatan spontan dan tauladan. Selain itu, pembiasaan-pembiasaan  yang diberikan atau dilakukan di sekolah tidak berkesinambungan  dengan pelaksanaan di rumah. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang permasalahan anak menjadi aspek lain yang perlu mendapat perhatian karena perlakuan guru di sekolah perlu disesuaikan dengan apa yang dilakukan orang tua di rumah.

Dalam pengembangan kemampuan dasar berbahasa, guru masih mendominasi pembicaraan  dan kurang  memberi  kesempatan  pada anak untuk mengemukakan pendapatnya  secara  lisan.  Kurangnya  pemahaman  guru  dan  orang  tua  tentang aspek-aspek   yang   harus   dikembangkan   dalam   berbahasa   serta   kurangnya pemahaman guru tentang metode-metode pembelajaran berbahasa membuat kemampuan berbahasa anak masih belum berkembang dengan baik.

Dalam pengembangan kemampuan kognitif, guru masih minim menguasai konsep- konsep tentang matematika untuk anak, tahapan perkembangan kognitif anak, minimnya pemahaman guru tentang 7 jalur matematika (bentuk, bilangan, ukuran, pola, estimasi, statistik dan geometri). Akibatnya pembelajaran belum berkembang secara optimal.

Dalam pengembangan kemampuan dasar sains, guru kurang mengakomodasi kebutuhan anak khususnya dalam mengeksplorasi lingkungan sekitar anak. Selain itu penyajian yang kurang kreatif, menarik dan tidak ada unsur sain dalam pembelajaran menjadikan anak masih minim dalam kemampuan sainsnya.

Dalam  pengembangan  kemampuan  dasar  fisik  motorik,  masih  banyak  sekolah yang  tidak  mempunyai   lahan  bermain  yang  luas  sehingga  kemampuan   dan kebutuhan anak dalam fisik motorik belum berkembang optimal.

Dalam pengembangan  kemampuan  dasar seni, guru kurang memahami  tahapan- tahapan motorik halus anak, selain itu guru juga kurang memberikan kesempatan pada anak untuk berekspresi.

Dalam    proses    kegiatan     belajar    mengajar/pembelajaran,   masih    ditemukan kurangnya dukungan orang tua dan masyakarat atau lingkungan sekitar bagi pengembangan model-model pembelajaran yang inovatif, mereka cenderung sulit menerima   perubahan   pembelajaran   yang  dilakukan   guru.  Selain  itu,  adanya tuntutan  atau target  pencapaian  yang  berlebihan  dari orang  tua dan masyarakat khususnya  Sekolah  Dasar  (SD)  tertentu  yang  mensyaratkan  tamatan  TK  sudah mampu membaca, menulis dan berhitung (calistung). Kenyataan di lapangan ditemukan  banyak  SD  yang  memperioritaskan   kemampuan  calistung  sebagai syarat awal masuk SD. Model pengelolaan proses pembelajaran di lapangan hanya terbatas  pada model sudut atau area kegiatan  (untuk PAUD formal)  dan model pembelajaran BCCT (untuk PAUD non formal).

3.   Alat dan Cara Penilaian

Dalam  alat  dan  cara  penilaian,  ditemukan  adanya  format-format  evaluasi  yang kurang efektif untuk dilakukan  di lapangan  mengingat  keterbatasan  kemampuan guru dalam melakukan penilaian. Guru mengehendaki format penilaian yang disederhanakan   dan   memudahkan   membuat   rekapitulasi   perkembangan   anak dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan.

4.   Tema

Dalam pengembangan tema-tema pembelajaran, masih ditemukan kurangnya pemahaman guru dalam mengembangkan subtema yang sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing. Disamping itu, para guru juga mengalami kesulitan menghubungkan tema dengan indikator (dari Hasil Belajar dan Kompetensi Dasar) bidang pengembangan. Terlebih lagi jika acuan yang dipergunakan dalam mengembangkan tema adalah acuan menu pembelajaran yang belum memberikan ilustrasi pengembangan silabusnya.

5.   Satuan Kegiatan Mingguan (SKM)

Dalam menyusun Satuan Kegiatan Mingguan (SKM), guru masih mengalami kesulitan    dalam  penyusunan rencana    pembelajaran,   guru    belum    mampu menentukan  atau membuat  kegiatan-kegiatan  yang bervariatif  sehingga  kegiatan dirasakan  membosankan  bagi anak.  Selain  itu, dalam perencanaan  SKM  belum dicantumkan kolom media/referensi yang dapat mendukung tema secara detail.

6.   Satuan Kegiatan Harian (SKH)

Dalam menyusun Satuan Kegiatan Harian (SKH), guru-guru masih mengalami kesulitan  dalam  memilih  metode-metode   yang  tepat  bagi  pelaksanaan   suatu kegiatan. Selain itu, kurangnya kemampuan guru dalam membuat perencanaan pembelajaran  yang  menarik  dan  terintegrasi.  Disamping  itu,  para  guru  juga mengalami  kesulitas  dalam  mengembangkan   SKH  (RPP)  yang  menggunakan berbagai model yang variatif.

7.   Program Pembelajaran di Taman Penitipan Anak

Untuk program pembelajaran di Taman Penitipan Anak, kurikulum PAUD belum tersosialisasikan  dengan  baik  di  lapangan.  Hal  ini  menuntut  kemampuan  guru untuk mempelajarinya.  Masih banyak tenaga-tenaga pengajar PAUD yang belum memiliki ijazah atau berlatar belakang PAUD. Ketidakjelasan  konsep dan aturan bagi  sasaran  PAUD  menimbulkan  masalah  saling  tarik  menarik  peserta  didik. PAUD  menganggap  anak  usia  0-8 tahun  sebagai  sasaran  pendidikan  sementara pada   jalur   formal   TK/RA   menganggap   usia   4-6   tahun   menjadi   sasaran pendidikannya.

8.   Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus

Penanganan   anak  berkebutuhan   khusus  belum  dilakukan  secara  memadai  di lapangan. Ditemukan anak-anak berkebutuhan khusus belum mendapatkan layanan yang maksimal.         Kurangnya      kemampuan       guru        dalam membimbing    anak berkebutuhan khusus dan masih rendahnya kepedulian dan pemahaman orang tua tentang   anak  berkebutuhan   khusus   menjadi   belum  tepatnya  pendidikan   dan pelayanan yang diberikan kepada mereka.

Share this post

Leave a Reply