Belajar di sekolah … duluuuuuuuuuuuuuuuuu banget … bertujuan untuk dapat mengetahui, memahami, dan menguasai keterampilan-keterampilan untuk dapat mengarungi kehidupan dengan lebih baik … sekarang … it’s merely a transfer of words … pfiuh …
Hmm … Hari Sabtu kemarin benar2 membuat keyakinan pada diri saya bahwa ada sesuatu yang salah dalam sistem pendidikan kita … mungkin bukan peraturannya tetapi aplikasinya di tingkat akar rumput … alias di tingkat pelaksana …
Selama ini hanya pemerintah yang terus menerus digoyang dan dicerca tetapi coba amati perundang-undangan yang berlaku, pasal demi pasal … walaupun belum sempurna tetapi terlihat adanya usaha untuk selalu memperbaiki diri … toh kesempurnaan itu hanya milik-Nya …
Tetapi bagaimana dengan para pelakunya sendiri? Ada unsur birokrat (yang tentu berlapis-lapis, dari tingkat nasional sampai ke tingkat kelurahan), ada unsur manajemen sekolah (yang tentunya juga berlapis-lapis, dari yayasan sampai ke bidang umum), ada unsur sosial (yang tentunya juga berlapis-lapis, dari masyarakat global sampai ke perbedaan pendapat antara ayah dan ibu), dan yang pasti adalah unsur peserta didik itu sendiri.
Entah bagaimana, hubungan antara berbagai unsur itu tidak berlangsung secara harmonis yang dapat menghargai perbedaan dan keunikannya dari berbagai pihak. Masing-masing mempunyai kepentingan dan parahnya saling “meninggikan” kepentingannya masing-masing.
Contohnya … Ketika saya mengikuti training sebagai asesor calon kepala sekolah yang akan dilaksanakan di seluruh penjuru nusantara … Tools yang kami pakai adalah asesmen yang bersifat kualitatif, yang sebenarnya berusaha melihat sejauh mana seorang guru (yang akan menjadi kepala sekolah) bisa berpikir secara sistematis, kritis, kreatif, dan analitis dalam mengambil keputusan.
Benturan yang “relatif” keras terasa sepanjang proses workshop itu sendiri … perdebatan yang sepertinya berakhir dengan sikap “apatis” antara kelompok kualitatif dengan kelompok pemuja kuantitatif. Kelompok kualititatif bersikeras dengan mengatakan “suka atau tidak suka, asesmen ini sudah disetujui dan akan berlaku tahun depan” sementara kelompok kuantitatif dengan ringannya berujar “Ah … selesai kontrak kita ganti saja model asesmennya …”
Nah lho …
Apa kaitannya cerita saya tentang asesmen itu dengan keruwetan hubungan yang tidak harmonis dari berbagai unsur?
Well … kemarin ada sedikit diskusi antara saya dengan seorang sahabat yang sedang menempuh pendidikan master di salah satu perguruan tinggi. Rekan saya itu kebetulan juga sedang meneliti tentang kemampuan berpikir kritis pada siswa. Ia datang ke sekolah untuk berdiskusi mengenai asesmen yang tepat agar dapat mengetahui kemampuan tersebut. Tentu saja, karena saya juga sedang mengembangkan asesmen dengan topik yang sama namun dengan sasaran yang berbeda, maka diskusi itu saya sambut dengan hangat.
Hmm …
dari diskusi yang semula direncanakan singkat akhirnya molor jadi berjam-jam … karena adanya perbedaan pandangan …
Saya menganut aliran bahwa kemampuan berpikir kritis tidak bisa diukur hanya melalui tes yang bersifat kuantitatif, dalam hal ini dengan menggunakan pilihan berganda. Menurut saya, model pengukuran yang seperti itu jelas salah kaprah karena dengan menyediakan pilihan jawaban maka pemikiran kritis datangnya dari assessor, bukan dari assessee …
Sayangnya … pemikiran seperti itu (yang tentu saja didukung oleh beberapa textbook dan jurnal) dimentahkan oleh oknum2 dosen (yang sudah profesor dan doktor) yang meluluskan beberapa alat pengukuran kemampuan berpikir kritis berbentuk pilihan ganda …
Apa alasannya mereka meluluskan?
Ternyata … (duh sedihnya) … karena mereka sendiri tidak menguasai metode penelitian kualitatif apalagi metode triangulasi … sehingga mencari gampangnya saja …
Nah …
Jika doktor maupun profesor yang mendidik calon2 pendidik ternyata menggampangkan dan mengambil cara pintas dalam mendidik para calon master itu … bisa terbayang bagaimana kualitas para guru yang merupakan hasil didikan para master … dan lebih jauh lagi … bisa terbayang bagaimana kualitas anak-anak yang merupakan hasil didikan para guru?
Hmm …
Anak-anak itu akan tumbuh besar dan menjadi dewasa (?) dengan pengetahuan yang terbatas … kalau tidak mau dikatakan sebagai manusia yang gagal menjadi dewasa … hanya mengetahui tanpa memahami …
Manusia-manusia yang terjebak dengan hal2 instan, mudah, cepat, dan terukur (materi) …
Akibatnya?
well … look around … nilai sendiri bagaimana kualitas hidup kita …
salam hangat,
Yanti D.P.
Recent Comments