Pendahuluan

Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir. Gejala pertama perilaku emosional ialah keterangsangan umum terhadap stimulasi yang kuat. Keterangsangan yang berlebih-lebihan ini tercermin dalam berbagai aktivitas pada bayi yang baru lahir. Kemampuan mengekspresikan emosi pada manusia adalah kemampuan yang harus dipelajari, oleh karena itu stimulasi emosi yang tepat dan akurat terhadap konteks perlu diajarkan pada anak-anak agar mereka dapat beremosi dengan tepat semasa berhubungan dengan dunia sekitarnya.

Pengertian Emosi

Drever (1986) mengartikan emosi sebagai suatu keadaan yang kompleks dari organisme yang menyangkut perubahan jasmani yang luas sifatnya (dalam pernafasan, denyut, sekresi kelenjar, dan sebagainya) dan pada sisi kejiwaan, suatu keadaan terangsang yang ditandai oleh perasaan yang kuat dan biasanya merupakan suatu dorongan ke arah suatu bentuk tingkah laku tertentu. Emosional menurut Drever (1986) merupakan istilah yang dipakai dalam pengertian semi teknis untuk :

  1. Suatu bias kecenderungan, yang disebabkan attitude (sikap), yang emosional dalam melihat atau menafsirkan fakta.
  2. Expression, yang menunjukkan berbagai perubahan motor dan kelenjar yang menyertai rangsangan emosi, terutama yang menimbulkan suatu gambaran yang sedikit banyak bersifat khusus dan dapat diamati dari luar.
  3. Pattern (pola) dalam pengertian yang praktis sama, akan tetapi dengan tekanan khusus pada pengelompokkan riil dari reaksi motor dan kelenjar.

Kondisi yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi

Sejumlah studi tentang emosi anak telah menyingkapkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung sekaligus pada faktor pematangan (maturation) dan faktor belajar, dan tidak semata-mata bergantung pada salah satunya. Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal masa kehidupan tidak berarti tidak ada. Reaksi emosional itu mungkin akan muncul di kemudian hari, dengan adanya pematangan dan system endokrin. Hurlock (1999) menjabarkan peran kedua faktor tersebut sebagai berikut :

  1. Peran pematangan

Perkembangan kelenjar endokrin penting untuk mematangkan perilaku emosional. Bayi secara relatif kekurangan produksi endokrin yang diperlukan untuk menopang reaksi fisiologis terhadap stress. Kelenjar adrenalin yang memainkan peran utama pada emosi mengecil secara tajam segera setelah bayi lahir. Tidak lama kemudian kelenjar itu mulai membesar lagi, dan membesar dengan pesat sampai anak berusia 5 tahun. Pembesarannya melambat pada usia 5 sampai 11 tahun, dan membesar lebih pesat lagi sampai anak berusia 16 tahun. Pada usia 16 tahun kelenjar tersebut mencapai kembali ukuran semula seperti pada saat anak lahir. Hanya sedikit adrenalin yang diproduksi dan dikeluarkan sampai saat kelenjar itu membesar. Pengaruhnya penting terhadap keadaan emosional pada masa kanak-kanak.

  1. Peran belajar

Lima jenis kegiatan belajar turut menunjang pola perkembangan emosi pada masa kanak-kanak. Terlepas dari metode yang digunakan, dari segi perkembangan anak harus siap untuk belajar sebelum tiba saatnya masa belajar. Sebagai contoh, bayi yang baru lahir tidak mampu mengekspresikan kemarahan kecuali dengan menangis. Dengan adanya pematangan sistem saraf dan otot, anak-anak mengembangkan potensi untuk berbagai macam reaksi. Pengalaman belajar mereka akan menentukan reaksi potensial mana yang akan mereka gunakan untuk menyatakan kemarahan.

Ciri Khas Emosi Anak

Adanya pengaruh faktor pematangan dan faktor belajar terhadap perkembangan emosi menyebabkan emosi anak kecil seringkali sangat berbeda dari emosi anak yang lebih tua atau orang dewasa. Orang dewasa yang belum memahami hal ini cenderung menganggap anak kecil sebagai tidak matang. Sangat tidak logis bila orang dewasa menuntut agar semua anak pada usia tertentu mempunyai pola emosi yang sama. Perbedaan individu tidak dapat dielakkan, karena adanya perbedaan taraf pematangan dan kesempatan belajar. Terlepas dari adanya perbedaan individu, ciri khas emosi anak membuatnya berbeda dari emosi orang dewasa. Ciri khas tersebut antara lain :

  1. Emosi yang kuat

Anak kecil bereaksi dengan intesitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang serius. Anak pra remaja bahkan bereaksi dengan emosi yang kuat terhadap hal-hal yang tampaknya bagi orang dewasa merupakan soal sepele.

  1. Emosi seringkali tampak

Anak-anak seringkali memperlihatkan emosi yang meningkat dan mereka menjumpai bahwa ledakan emosional seringkali mengakibatkan hukman, sehingga mereka belajar untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang membangkitkan emosi. Kemudian mereka akan berusaha mengekang ledakan emosi mereka atau bereaksi dengan cara yang lebih dapat diterima.

  1. Emosi bersifat sementara

Peralihan yang cepat pada anak-anak kecil dari tertawa kemudian menangis, atau dari marah ke tersenyum, atau dari cemburu ke rasa sayang merupakan akibat dari 3 faktor, yaitu :

  1. Membersihkan sistem emosi yang terpendam dengan ekspresi terus terang.
  2. Kekurangsempurnaan pemahaman terhadap situasi karena ketidakmatangan intelektual dan pengalaman yang terbatas.
  3. Rentang perhatian yang pendek sehingga perhatian itu mudah dialihkan. Dengan meningkatnya usia anak, maka emosi mereka menjadi lebih menetap.
    1. Reaksi mencerminkan individualitas

Semua bayi yang baru lahir mempunyai pola reaksi yang sama. Secara bertahap dengan adanya pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai berbagai macam emosi semakin diindividualisasikan. Seorang anak akan berlari keluar dari ruangan jika mereka ketakutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis dan anak lainnya lagi mungkin akan bersembunyi di belakang kursi atau di balik punggung seseorang.

  1. Emosi berubah kekuatannya

Dengan meningkatnya usia anak, pada usia tertentu emosi yang sangat kuat berkurang kekuatannya, sedangkan emosi lainnya yang tadinya lemah berubah menjadi kuat. Variasi ini sebagian disebabkan oleh perubahan dorongan, sebagian oleh perkembangan intelektual, dan sebagian lagi oleh perubahan minat dan nilai.

  1. Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku

Anak-anak mungkin tidak memperlihatkan reaksi emosional mereka secara langsung, tetapi mereka memperlihatkannya secara tidak langsung melalui kegelisahan, melamun, menangis, kesukaran berbicara, dan tingkah yang gugup, seperti menggigit kuku dan mengisap jempol.

Pola Emosi yang Umum pada kanak-Kanak

Beberapa bulan setelah bayi lahir, muncul berbagai macam pola emosi, antara lain (Hurlock, 1999) :

  1. Rasa takut

Rangsangan yang umumnya menimbulkan rasa takut pada masa bayi ialah suara yang keras, bintang, kamar yang gelap, tempat yang tinggi, berada seorang diri, rasa sakit, orang yang tidak dikenal, tempat, dan obyek yang tidak dikenal. Anak kecil lebih takut kepada benda-benda dibandingkan dengan bayi atau anak yang lebih tua. Usia antara 2 sampai 6 tahun merupakan masa puncak bagi rasa takut yang khas di dalam pola perkembangan yang normal. Alasannya karena anak kecil lebihmampu mengenal bahaya dibandingkan dengan bayi, tetapi kurangnya pengalaman menyebabkan mereka kurang mampu mengenal apakah suatu bahaya merupakan ancaman pribadi atau tidak.

  1. Rasa marah

Rasa marah adalah ekspresi yang lebih sering diungkapkan pada masa kanak-kanak jika dibandingkan dengan rasa takut. Alasannya ialah karena rangsangan yang menimbulkan rasa marah lebih banyak, dan pada usia yang dini anak-anak mengetahui bahwa kemarahan merupakan cara yang efektif untuk memperoleh perhatian atau memenuhi keinginan mereka. Sebaliknya, reaksi takut semakin berkurang karena kemudian anak-anak menyadari bahwa umumnya perasaan itu tidak perlu. Frekuensi dan intensitas kemarahan yang dialami setiap anak berbeda-beda.

  1. Rasa cemburu

Rasa cemburu adalah reaksi normal terhadap kehilangan kasih saying yang nyata atau ancaman kehilangan kasih saying. Rasa cemburu timbul dari kemarahan yang menimbulkan sikap jengkel dan ditujukan kepada orang lain. Pola rasa cemburu seringkali berasal dari rasa takut yang dikombinasikan dengan rasa marah. Ada tiga sumber utama yang menimbulkan rasa cemburu, dan kadar penting masing-masing sumber bervariasi menurut tingkatan umur, yaitu :

  1. Rasa cemburu pada masa kanak-kanak umumnya ditumbuhkan di rumah, artinya timbul dari kondisi yang ada di lingkungan rumah. Karena bayi yang baru lahir meminta banyak waktu dan perhatian ibu, maka anak yang lebih tua menjadi terbiasa menerima rasa diabaikan, dan kemudian ia merasa sakit hati terhadap adik yang baru, serta ibunya.
  2. Situasi sosial di sekolah juga merupakan sumber pelbagai kecemburuan bagi anak-anak yang berusia lebih tua. Kecemburuan yang berasal dari rumah sering dibawa ke sekolah  dan mengakibatkan anak-anak memndang setiap orang di sana, yaitu para guru atau teman sekelas sebagai ancaman bagi keamanan mereka. Rasa cemburu secara normal hilang apabila anak-anak berhasil melakukan penyesuaian yang baik di sekolah, tetapi dapat berkobar kembali apabila guru memperbandingkan seorang anak dengan teman sekelasnya atau kakaknya.
  3. Dalam situasi di mana anak merasa diterlantarkan dalam hal pemilikan benda-benda seperti yang dimilki temannya, anak itu akan cemburu kepada temannya. Jenis kecemburuan ini berasal dari rasa iri, yaitu keadaan marah dan kekesalan hati yang ditujukan kepada orang yang memiliki benda yang diirikan.
    1. Dukacita (sedih)

Dukacita adalah trauma psikis, suatu kesengsaraan emosional yang disebabkan oleh hilangnya sesuatu yang dicintai. Dalam bentuk yang lebih ringan keadaan ini dikenal sebagai kesusahan atau kesedihan. Anak-anak merasa sedih karena kehilangan segala sesuatu yang dicintai atau yang dianggap penting bagi dirinya, apakah itu orang, binatang, atau benda mati seperti mainan. Secara khas anak mengungkapkan kesedihannya dengan menangis dan dengan kehilangan minat terhadap kegiatan normalnya, termasuk makan.

  1. Kegembiraan, keriangan, dan kesenangan

Kegembiraan adalah emosi yang menyenangkan, yang juga dikenal dengan keriangan, kesenangan, atau kebahagiaan. Anak-anak merasa gembira karena sehat, situasi yang tidak layak, bunyi yang tiba-tiba atau yang tidak diharapkan, bencana yang ringan, membohongi orang lain dan berhasil melakukan tugas yang dianggap sulit. Anak mengungkapkan kegembiraannya dengan tersenyum dan tertawa, bertepuk tangan, melompat-lompat, atau memeluk benda atau orang yang membuatnya gembira.

  1. Kasih sayang

Kasih sayang adalah reaksi emosional terhadap seseorang, binatang, atau benda. Hal itu menunjukkan perhatian yang hangat, dan mungkin terwujud dalam bentuk fisik atau kata-kata (verbal). Anak-anak belajar mencintai orang, binatang, atau benda yang menyenangkannya. Ia mengungkapkan kasih sayaing secara lisan bila sudah besar, tetapi ketika masih kecil anak menyatakan secara fisik dengan memeluk, menepuk, dan mencium obyek kasih sayangnya.

  1. Keingintahuan

Maw dan Maw menerangkan tentang anak yang penuh keingintahuan dengan cara berikut :

  1. Bereaksi secara positif terhadap unsure-unsur yang baru, aneh, tidak layak, atau misterius dalam lingkungannya dengan bergerak kea rah benda tersebut, memeriksanya, atau mempermainkannya.
  2. Memperlihatkan kebutuhan atau keinginan untuk lebih banyak mengetahui tentang dirinya sendiri dan atau lingkungannya.
    1. Mengamati lingkungannya untuk mencari pengalaman baru.
    2. Bertekun dalam memeriksa dan atau menyelidiki rangsangan dengan maksud untuk lebih banyak mengetahui seluk beluk unsur-unsur tersebut.

Anak mempunyai rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang baru dilihatnya, juga mengenai tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain. Reaksi pertama adalah dalam bentuk penjelajahan sensomotorik, kemudian sebagai akibat dari tekanan sosial dan hukuman, ia bereaksi dengan bertanya.

Attachment (Perilaku Lekat)

Bowlby (dalam Atkinson dkk, 1996) menyatakan bahwa attachment adalah hubungan perasaan yang kuat, yang mengikat seseorang yang merupakan orang lain. Lebih jauh Bowlby juga menjelaskan bahwa attachment atau perlekatan memberikan  rasa aman yang diperlukan anak untuk mengeksplorasi lingkungannya, dan perlekatan ini membentuk dasar untuk hubungan interpersonal bertahun-tahun kemudian. Telah diduga bahwa kegagalan untuk membentuk perlekatan yang kokoh dengan satu atau beberapa orang utama di dalam tahun-tahun awal berkaitan dengan ketidakmampuan untuk mengembangkan hubungan pribadi pada masa dewasa (Bowlby dalam Atkinson dkk, 1996).

Metode Belajar yang Menunjang perkembangan Emosi

  • Belajar secara coba dan ralat

Belajar secara coba dan ralat (trial and error learning) terutama melibatkan aspek reaksi. Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa kanak-kanak awal dibandingkan dengan sesudahnya, tetapi tidak pernah ditinggalkan sama sekali.

  • Belajar dengan cara meniru

Belajar dengan cara meniru (learning by imitation) sekaligus mempengaruhi aspek rangsangan dan aspek reaksi. Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi tertentu pada orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati. Sebagai contoh, anak yang peribut mungkin menjadi marah terhadap teguran guru. Jika ia seorang anak yang popular di kalangan teman sebayanya, maka teman-teman yang lain juga akan ikut marah kepada guru tersebut.

  • Belajar dengan cara mempersamakan diri

Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification) sama dengan belajar secara menirukan, yaitu anak menirukan reaksi emosional orang lain dan tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru. Metode ini berbeda dari metode menirukan dalam dua segi. Pertama, anak hanya menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. Kedua, motivasi untuk menirukan orang yang dikagumi lebih kuat dibandingkan  dengan motivasi untuk menirukan sembarang orang.

  • Belajar melalui pengkondisian

Pengkondisian (conditioning) berarti belajar dengan cara asosiasi. Dalam metode ini obyek dan situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Metode ini berhubungan dengan aspek rangsangan, bukan dengan aspek reaksi. Pengkondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan karena anak kecil kurang mampu menalar, kurang pengalaman untuk menilai situasi secara kritis, dan kurang mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka. Setelah lewatnya masa kanak-kanak awal, penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.

  • Pelatihan

Pelatihan (training) atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi. Kepada anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika sesuatu emosi terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengendalikan lingkungan apabila memungkinkan.

Kondisi yang Ikut Mempengaruhi Emosi Dominan

  • Kondisi Kesehatan

Kesehatan yang baik mendorong emosi yang menyenangkan menjadi dominan, sedangkan kesehatan yang buruk menyebabkan emosi yang tidak menyenangkan menjadi dominan.

  • Suasana Rumah

Jika anak-anak tumbuh dalam lingkungan rumah yang lebih banyak berisi kebahagiaan dan apabila pertengkaran, kecemburuan, dendam, dan perasaan lain.

Share this post

3 Comments

  1. dora

    tolong dituliskan daftar pustaka nya donk… butuh untuk tugas akhir. makasih…

    November 16, 2009
  2. vivi

    minta daftar pustaka nya ya..
    thx

    November 20, 2009
  3. cika

    minta daftar pustakanya dumm buat tugas akhir niii.,.,plisss

    mohon maaf karena saya tidak punya asisten untuk mengirimkan email satu per satu … jadi langsung ke sini atau ke sini ya …

    salam, Yanti D.P.

    March 14, 2010

Leave a Reply