Pendahuluan

Bahasa (language) mencakup setiap sarana komunikasi dengan menyimbolkan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan makn kepada orang lain, termasuk di dalamnya perbedaan bentuk komunikasi yang luas, seperti : tulisan, bicara, bahasa simbol, ekspresi muka, isyarat, pantomime dan seni. Kartono (1990) menambahkan bahwa bahasa dapat menjadi :

  1. Alat untuk mengngkapkan pikiran dan maksud tertentu.
  2. Untuk alat berkomunikasi dengan orang lain.
  3. Dipakai untuk membuka lapangan rohaniah yang lebih tinggi tarafnya.
  4. Bahasa juga dipakai untuk mengembangkan fungsi-fungsi tanggapan, perasaan, fantasi, intelek, dan kemauan.

Menurut Hurlock (1978) komunikasi berarti suatu pertukaran pikiran dan perasaan. Pertukaran tersebut dapat dilaksanakan dengan setiap bentuk bahasa seperti : isyarat, ungkapan emosional, bicara, atau bahasa tulisan, tetapi komunikasi yang paling umum dan paling efektif dilakukan dengan bicara.

Komponen Bahasa

Elliot, Kratochwill, Littlefield, dan Travers (1999) membagi bahasa menjadi empat komponen, yaitu :

  1. Phonology (bunyi) : penggunaan bunyi untuk membentuk kata.
  2. Syntax (tata bahasa) : sistem yang digunakan untuk meletakkan kata-kata secara bersamaan dan membentuknya menjadi kalimat.
  3. Semantics (arti) : arti dari kata-kata: hubungan antara ide dengan kata-kata.
  4. Pragmatics (penggunaan) : kemampuan untuk berpartisipasi dalam percakapan, menggunakan bahasa yang oleh masyrakat dianggap benar.

Tabel 1.

Urutan perkembangan Bahasa pada Bayi

Bahasa Usia
Menangis (crying)

Mendekut (cooing)

Mengoceh (babbling)

Kata-kata tunggal (single words)

Dua – kata frase (two-word phrases)

Frase yang lebih panjang (longer phrases)

Kalimat singkat dan pertanyaan

Sejak lahir

2 – 4 bulan

4 – 6 bulan

12 bulan

18 bulan

2 tahun

2 – 3 tahun

Tangis bayi dan anak juga merupakan bentuk bahasa, yaitu bahasa yang pertama-tama dipakai untuk menyampaikan isi kehidupan batiniahnya. Seiring dengan semakin bertambahnya umur anak, maka bahasanya pun makin berkembang pula, antara lain juga dengan menggunakan onomatopee, yaitu memberikan nama pada benda-benda/hewan, dengan menyebutkan bunyinya (onoma : nama : poiein : membuat, menirukan bunyi). Umpamanya saja, anak memberikan nama “tut-tut” pada kereta api, “ngak-ngak” untuk angsa, “meong” untuk menyebutkan kucing, dan lain sebagainya. Selanjutnya secara berangsur-angsur anak akan memahami bahwa bahasa merupakan symbol dari benda dan pengertian tertentu.

Chomsky (dalam elliot dkk., 1999) mengemukakan bahwa sejak semula anak sudah mempunyai pengetahuan dasar mengenai bahas (LAD = Language Acquisition Device) serta melakukan akuisisi bahasa. Menurutnya, hal ini sama seperti adanya kemampuan dasar anak untuk berjalan. Tidak ada seorang pun yang harus mengajarkan pada mereka bagaimana berjalan atau bicara. Mereka melakukan kedua hal tersebut tanpa sadar bagaimana melakukannya.

Penguasaan bahasa pada anak akan berkembang menurut hokum alami, yaitu mengikuti bakat, kodrat, dan ritme perkembangan yang alami, namun perkembangan tadi sangat dipengaruhi oleh lingkungan atau oleh stimuli ekstern (pengaruh lingkungan).

Bahasa dan Struktur Kognitif

Penelitian Piaget (dalam Elliot dkk, 1999) mengenai bahasa dan pikiran anak (the language and thought of the child) diawali dengan mempertanyakan kebutuhan apa yang ingin dipenuhi oleh seorang anak ? Piaget menjawab pertanyaan ini dengan menghubungkan bahasa dengn struktuk kognitif dan kemudian membedakan fungsi bahasa ke dalam empat level kognitif.

Piaget mengidentifikasi dua kategori bicara pada anak pra operasional (usia 6 tahun), yaitu :

  1. Egocentric speech : anak terasuk dalam kategori ini bila mereka tidak peduli pada siapa mereka bicara, atau apakah orang lain mendengarkan mereka atau tidak. Ada tiga tipe dari egocentric speech, yaitu : repetition, monologue (anak berbicara pada dirinya sendiri seolah sedang mengatakan pada setiap orang apa yang dipikirkannya), monologue collective.
  2. Socialized speech : anak termasuk kategori ini bila mereka saling bertukar pandangan dengan pihak lain, saling mengkritik satu sama lain, mengajukan pertanyaan, memberikan jawaban, dan bahkan perintah atau ancaman.

Dia menyatakan bahwa meskipun kebanyakan anak-anak mulai mengkomunikasikan pikirannya pada usia antara 7 – 8 tahun, namun pengertian mereka mengenai satu sama lain masih terbatas. Penggunaan dan kompleksitas bahasa berkembang pesat setelah anak melampaui empat tahap perkembangan kognitif. Piaget yakin bahwa pertumbuhan kemampuan verbal yang menyolok tidak muncul secara terpisah sebagai fenomena perkembangan, namun merefleksikan perkembangan stuktur kognitif.

Stimulus – Respon dan Belajar Sosial

Skinner dan Bandura (dalam Haditono, Knoers, dan Monks, 1992) mempunyai pandangan yang empiris dan mendasarkan diri pada teori belajar untuk menjelaskan perkembangan bahasa. Pandangan ini bertitik tolak pada pendapat bahwa anak dilahirkan dengan tidak membawa kemampuan apa-apa. Anak masih harus banyak belajar, termasuk juga belajar berbahasa yang dilakukannya melalui imitasi, belajar model, dan belajar dengan reinforsemen. Skinner menggunakan teori stimulus-respon dalam menerangkan perkembangan bahasa, misalnya anak  mengucapkan kata yang diharapkan oleh orang tua (stimulus), dan orang tua memberikan pujian berupa tepuk tangan (respon sekaligus sebagai reinforcement), maka anak akan cenderung mengulang kata tersebut agar mendapatkan pujian dari orang tuanya.

Bandura mencoba menerangkannya dari sudut pandang teori belajar social. Ia berpendapat bahwa anak belajar bahasa karena menirukan suatu model. Tingkah laku imitasi ini tidak mesti harus menerima reinforcement, sebab belajar model dalam prinsipnya lepas dari reinforcement luar.


Dorongan Penggunaan Bahasa

Menurut Karl Buhler (dalam Kartono, 1990) terdapat tiga dorongan utama dalam penggunaan bahasa, yaitu :

  1. Kundgabe (pengumuman, maklumat, pemberitahuan) : ada dorongan yang merangsang anak untuk memberitahukan isi kehidupan batiniahnya, yaitu pikiran, perasaan, kemauan, harapan, fantasi diri, dan lain-lain kepada orang lain.
  2. Auslosung (pelepasan) : ada dorongan yang kuat pada anak untuk melepaskan kata-kata dan kalimat-kalimat sebagai hasil dari peniruan.
  3. Darstellung (pengungkapan, penyampaian, pemaparan) : anak ingin mengungkapkan keluar segala sesuatu yang menarik hati dan memikat perhatiannya.

Perkembangan Bahasa Menurut Stern

Suami istri Clara dan William Stern (dalam Kartono, 1990) membagi perkembangan bahasa anak yang normal dalam empat periode perkembangan , yaitu :

  1. Prastadium. Pada tahun pertama : meraban, dan kemudian menirukan bunyi-bunyi. Mula-mula menguasai huruf hidup, kemudian huruf mati, terutama huruf-huruf bibir. Lalu berlangsung proses reduplikasi atau pengulangan suku kata seperti : ma – ma, pa – pa, mam – mam, uk – uk, dan lain sebagainya.
  2. Masa pertama (kurang lebih 12 -18 bulan) : stadium kalimat-satu-kata. Satu perkataan dimaksudkan untuk mengungkapkan satu perasaan atau satu keinginan. Umpama kata “mama”, dimaksudkan untuk : “Mama, dudukkanlah saya di kursi itu! Mama, saya minta makan.”
  3. Masa kedua (kurang lebih 18-24 bulan) : anak mengalami stadium-nama. Pada saat ini timbul kesadaran bahwa setiap benda mempunyai nama. Jadi ada kesadaran tentang bahasa. Anak mengalami peristiwa “lapar-kata” : yaitu mau menghafal secara terus menerus kata-kata baru, dan ingin memahami artinya. Perbendaharaan kata anak menjadi semakin bertambah dengan cepatnya dan anak selalu merasa “haus-tanya” dengan jalan mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya. Pada saat anak mulai meninggalkan kalimat-satu-kata, lalu menggunakan dua atau tiga kata-kata sekaligus. Mula-mula ia mengucapkannya dengan tergagap-gagap : lambat laun kalimatnya terungkapkan lebih lancar. Mulailah muncul kata-kata benda dan kata-kata kerja, yang disusul dengan kata sifat. Baru sesudah anak berusia 3 tahun, anak mulai menguasai kata-kata penghubung.
  4. Masa ketiga(kurang lebih 24-30 bulan) : anak mengalami stadium-flexi (flexi, flexico = menafsirkan, mengakrabkan kata-kata). Lambat laun anak mulai menggunakan kata-kata kerja yang ditafsirkan, yaitu kata-kata yang sudah diubah dengan menambahkan awalan, akhiran, dan sisipan. Bentuk kalimat-kalimat masih tunggal. Kemudian anak mulai menggunakan kata-kata seru, kalimat bertanya, dan kalimat penjelasan. Lalu bisa merangkaikan kalimat-kalimat pendek. Biasanya bentuk pertanyaan ditujukan pada pengertian nama benda-benda, letak benda (di mana), dan apakah benda itu.
  5. Masa keempat (mulai usia 30 bulan ke atas) : stadium anak kalimat. Anak mulai merangkaikan pokok pemikiran anak dengan penjelasannya, berupa anak kalimat. Pertanyaan anak kini sudah manyangkut perhubungan waktu (kapan, bila), dan kaitan sebab – musabab (mengapa).

Ciri khas bahasa untuk mengungkapkan perasaan dan keinginan anak sendiri, terutama berlangsung pada masa kedua, ketiga, dan keempat. Kemudian anak mampu menyatakan pikiran dan perasaan mengenai suatu benda di luar dirinya. Oleh pemahaman yang masih sederhana dan penguasaan bahasa yang masih “miskin”, seringkali cerita-cerita anak itu berupa “kibulan”, yang kita kenal sebagai pseudo-dusta atau kebohongan semu. Dengan cerita “kibulan” ini anak bukan bermaksud untuk berdusta betul-betulan, akan tetapi hal itu disebabkan oleh penguasaan bahasa anak yang masih “primitive” sederhana.

Besar kecilnya perbendaharaan bahasa anak sangat bergantung pada lingkungan budayanya, yaitu faktor orang tua, sekolah, dan milieu. Sehubungan dengan hal ini, sungguhpun bahasa anak-anak itu bengkang-bengkok dan tersendat-sendat, sebaiknya orang tua tidak usah ikut-ikutan menggunakan bahasa kacau ini dan tetap mengajarkan bahasa yang halus dan indah pada anak.

Kerancuan Bicara masa Kanak-Kanak yang Umum

Pada periode belajar bahasa tersebut, seringkali anak mengalami kerancuan bicara yang sifatnya umum. Hurlock (1978) membagi kerancuan bicara masa kanak-kanak menjadi empat, yaitu :

  1. Lisping berarti penggantian bunyi huruf. Pengganti yang paling umum adalah th untuk s, seperti dalam “thimple thimon” dan w untuk r, seperti dalam “wed wose”. Lisping biasanya disebabkan oleh kesalahan bicara kebayi-bayian. Hilangnya gigi depan mungkin menyebabkan gangguan temporer. Lisping pada orang dewasa biasanya timbul karena adanya ruangan di antara gigi atas depan.
  2. Slurring adalah bicara yang tidak jelas akibat tidak berfungsinya bibir, lidah, atau rahang dengan baik. Kadang-kadang slurring disebabkan oleh kelumpuhan organ suara atau karena otot lidah kurang berkembang. Apabila emosi terganggu atau merasa gembira, anak mungkin berkata tergopoh-gopoh tanpa mengucapkan setiap huruf dengan jelas. Slurring paling umum terjadi selama tahun-tahun pra sekolah sebelum bicara menjadi kebiasaan.
  3. 3. Stuttering (menggagap) adalah keragu-raguan, pengulangan bicara disertai dengan kekejangan otot kerongkongan dan diafragma. Stuttering timbul dari gangguan Pernafasan yang sebagian atau seluruhnya diakibatkan oleh tidak terkoordinasinya otot bicara. Hal ini mirip dengan seorang yang berada dalam keadaan takut yang menyebabkan ia seolah kehilangan kata-kata. Biasanya disertai dengan gemetaran, terhentinya bicara, dan sewaktu-waktu pembicara tidak sanggup mengeluarkan bunyi. Kemudian, apabila ketegangan otot berlalu, kata-kata membanjir ke luar dan kemudian diikuti dengan kekejangan yang lain. Stuttering dimulai pada waktu anak berusia 2, 5 dan 3,5 tahun. Normalnya stuttering menurun pada saat anak dapat melakukan penyesuaian rumah dan social yang lebih baik.
  4. 4. Cluttering adalah berbicara dengan cepat dan membingungkan, yang sering keliru disamakan dengan stuttering. Biasanya terjadi pada anak yang pengendalian motorik dan perkembangan bicaranya terlambat. Cluttering merupakan kesalahan bicara berlebihan yang dilakukan oleh orang normal. Tidak seperti stuttering, cluttering dapat diperbaiki jika orang memperhatikan benar hal-hal yang ingin dikatakan.

Kondisi yang Menimbulkan Perbedaan dalam Belajar Berbicara

Telah disebutkan beberapa kali bahwa kemampuan anak dalam berbicara tidak sama antara satu anak dengan anak yang lain. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain dipengaruhi oleh beberapa kondisi (Hurlock, 1978), yaitu :

  1. Kesehatan

Anak yang sehat, lebih cepat belajar berbicara ketimbang anak yang tidak sehat, karena motivasinya lebih kuat untuk menjadi anggota kelompok social dan berkomunikasi dengan anggota kelompok tersebut.

  1. Kecerdasan

Anak yang memiliki kecerdasan tinggi akan belajar berbicara lebih cepat dan  memperlihatkan penguasaan bahasa yang lebih unggul ketimbang anak yang tingkat kecerdasannya rendah.

  1. Keadaan sosial ekonomi

Anak dari kelompok yang keadaan sosial ekonominya tinggi akan lebih mudah belajar berbicara, mengungkapkan dirnya lebih baik, dan lebih banyak berbicara ketimbang anak dari kelompok yang keadaan social ekonominya lebih rendah. Penyebab utamanya adalah bahwa anak dari kelompok yang lebih tinggi, lebih banyak didorong untuk berbicara dan lebih banyak dibimbing untuk melakukannya.

  1. Jenis kelamin

Dibandingkan dengan anak perempuan, anak laki-laki lebih tertinggal dalam belajar berbicara. Pada setiap jenjang umur, kalimat anak lelaki lebih pendek dan kurang betul tata bahasanya, kosa kata yang diucapkan lebih sedikit, dan pengucapannya kurang tepat ketimbang anak perempuan.

  1. Keinginan berkomunikasi

Semakin kuat keinginan untuk berkomunikasi dengan orang lain, maka akan semakin kuat motivasi anak untuk belajar berbicara, dan ia akan semakin  bersedia menyisihkan waktu dan mengeluarkan usaha yang lebih besar untuk belajar.

  1. Dorongan

Semakin banyak anak didorong untuk berbicara dengan mengajaknya bicara dan didorong dengan menanggapinya, maka akan semakin awal mereka belajar berbicara dan semakin baik kualitas bicaranya.

  1. Ukuran keluarga

Anak tunggal atau anak dari keluarga kecil biasanya berbicara lebih awal dan lebih baik ketimbang anak dari keluarga besar, karena orang tua dapat menyisihkan waktu yang lebih banyak untuk mengajar anaknya berbicara.

  1. Urutan kelahiran

Dalam keluarga yang sama, anak pertama lebih unggul ketimbang anak yang lahir kemudian. Hal ini disebakan orang tua dapat menyisihkan waktunya yang lebih banyak untuk mengajar dan mendorong anak yang lahir pertama dalam belajar berbicara ketimbang untuk anak yang lahir kemudian.

  1. Metode pelatihan anak

Anak-anak yang dilatih secara otoriter yang menekankan bahwa “anak harus dilihat dan bukan didengar” merupakan hambatan untuk belajar, sedangkan pelatihan yang memberikan keleluasaan dan demokratis akan mendorong anak untuk belajar.

10.  Kelahiran kembar

Anak yang lahir kembar umumnya terlambat dalam perkembangan bicaranya terutama karena mereka lebih banyak bergaul dengan saudara kembarnya dan hanya memahami logat khusus yang mereka miliki. Hal ini melemahkan motivasi mereka untuk belajar berbicara agar orang lain dapat memahami mereka.

11.  Hubungan dengan teman sebaya

Semakin banyak hubungan anak dengan teman sebyanya dan semakin besar keinginan mereka untuk diterima sebagai anggota kelompok sebaya, akan semakin kuat motivasi mereka untuk belajar berbicara.

12.  Kepribadian

Anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderung mempunyai kemampuan bicara lebih baik, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif, ketimbang anak yang penyesuaian dirinya jelek. Kenyataannya, bicara seringkali dipandang sebagai salah satu petunjuk anak yang sehat mnental.

DAFTAR PUSTAKA

Elliot, S.N., Kratochwill, T.R., Littlefield, J., Travers, J.F. 1999. Educational Psychology : Effective TeachingEffective Learning. Second Edition. Madison : Brown & Benchmark Publishers.

Hurlock, E.B. 1978. Perkembangan Anak : Jilid 1. Edisi Keenam. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Kartono, K. 1990. Psikologi Perkembangan. Bandung : Penerbit Mandar Maju

Monks, F.J., Knoers, A.M.P., Haditono, S.R., 1992. Psikologi Perkembangan : Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Cetakan ke-8 Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Share this post

Leave a Reply