Irma Sukma Dewi, Rosana Dewi Yunita, dan Yanti Dewi Purwanti
Sebuah sistem organisasi merupakan sebuah sistem yang memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan satu sama lain serta berkontribusi untuk mewujudkan visi. Visi memainkan peranan yang penting, tidak hanya pada masa awal pembentukan sebuah organisasi tetapi menjadi “nafas”sepanjang kehidupannya. Visi menjadi penunjuk arah yang mengarahkan semua orang untuk mengerti maksud dan tujuan dari sebuah organisasi.
Visi menggambarkan masa depan yang realistik, dapat dipercaya, dan menarik. Lebih jelasnya, visi merupakan pernyataan singkat, mudah diingat, pemberi semangat, dan obor penerang jalan untuk maju melejit menuju masa depan yang dicita-citakan. Visi adalah awal dari masa depan. Visi menyatakan apa yang ingin dicapai di masa depan dengan ;
• menggunakan pernyataan yang menggugah,
• disusun secara jelas,
• berdasarkan pada analisa yang mendalam mengenai situasi dan kondisi saat ini,
• bercermin pada keberhasilan dan kegagalan yang pernah terjadi di masa lampau,
sehingga pernyataan tersebut dapat dipercaya oleh semua elemen dalam organisasi dan juga dapat :
• menjadi inspirasi bagi seseorang untuk secara sukarela berkomitmen utuh untuk menjamin tercapainya masa depan yang lebih cerah, baik untuk diri sendiri, organisasi, maupun lingkup yang lebih luas,
• memaknai tugas secara yang lebih mendalam sehingga menyentuh ke esensi keberadaan seseorang, baik untuk dirinya sendiri maupun terhadap kehidupan orang-orang yang terlibat,
• menjaga standar kualitas dari kinerja organisasi dalam menghasilkan suatu karya,
• menjadi jembatan antara masa ini dan masa depan, menghubungkan apa yang sekarang harus dikerjakan untuk menjamin kejelasan apa yang akan dicapai di masa depan . (Burt Nanus, 1992, hal 16 – 18).
Pada suatu waktu di masa depan, visi bisa saja berubah, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh organisasi, baik secara internal maupun eksternal. Pada saat ini segala sesuatunya jadi berubah dan orang-orang di dalamnya harus siap menyadari kepentingan perubahan tersebut. Kesadaran ini termasuk datang dari pemimpin, yang idealnya justru menjadi pelopor perubahan tersebut karena keberadaan visi adalah suatu hal yang sangat penting bagi pemimpin.
Langkah-langkah untuk mencapai visi digambarkan dalam pernyataan-pernyataan yang berupa sasaran kerja. Pada umumnya, sasaran merupakan tujuan umum dari tim, maka sewajarnya dibatasi beberapa saja, mungkin lima atau enam. Ketika sasaran menjelaskan arah yang diambil tim, sasaran menjadi strategis dan harus dapat menjawab pertanyaan “Kemana tujuan kita?”. Selanjutnya sasaran akan dijabarkan secara lebih detai dalam terget-target kerja.
Pada umumnya ada kebingungan di dalam tim mengenai visi, sasaran, dan target karena arti dari masing-masing kata tersebut dapat berbeda untuk tiap organisasi. Sangat baik jika semua individu sepakat dan mengahayati visi, sasaran, dan target sehingga akan membawa organisasi ke sebuah perjalanan yang punya arah dan tujuan. Masa depan organisasi akan menjadi jelas, realistis, dan menarik.
Setelah tim terbentuk, berikutnya adalah menata atau mengorganisasi tim. Tahap ini seringkali tidak nyaman bagi setiap individu karena akan muncul konflik-konflik internal yang merupakan bagian dari pendewasaan tim. Selanjutnya akan terbentuk norma tim yang merupakan upaya penyelesaian konflik dan mengarahkan tim menjadi lebih stabil.
Dalam setiap pembentukan tim, selalu dilakukan pemilihan individu dengan karakter yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Tahap ini merupakan ujicoba bagi individu untuk memasuki lingkungan baru, bertanya pada diri sendiri “Bagaimana sebaiknya saya sebagai anggota tim?”
Kita mempunyai gambaran tentang diri kita sendiri yang sedikit banyak kita sadari. Gambaran diri kita ini berpengaruh dalam cara kita menjalani kehidupan pekerjaan kita.
Mereka yang menganggap dirinya malas, tergelincir masuk ke dalam kemalasan. Mereka yang berpikir bahwa mereka tidak dicitpkan untuk bahagia tak berani untuk mempercayai adanya kebahagiaan untuknya ketika ia mengalami kebahagiaan … mereka bahan menampilkan tindakan yang melawan kebahagiaan dan kemungkinan sekali bahkan merusak kebahagiaan itu.
Mereka yang menilai dirinya berlebihan baik akan melangsungkan proyek-proyek di luar kekuatan mereka … dan yang seringkali bertentangan dengan kemungkinan realistik yan ada pada mereka.
Mereka yang mempunyai gambaran-diri yang realistik menikmati menjadi dirinya sendiri, tidak melebihkan dan tidak mengurangi keberadaan dirinya.
Bagaimana gambaran-diri tersebut dapat dibentuk?
a. Dari caranya orang-orang lain memandang diri kita
• Melalui kontak kita dengan orang tua dan para edukator, kita belajar mengenali siapa diri kita. Hal ini terjadi melalui cara mereka memandang dari kita, dukungan-dukungan yang mereka berikan pada kita dan dari sikap-sikap mereka terhadap kita, serta harapan-harapan mereka atas diri kita.
• Barangkali, bahkan sekarang kita cenderung melihat diri kita hanya melalui mereka.
b. Dari kebutuhan-kebutuhan dan ambisi-ambisi kita.
• Dari kebutuhan kita akan pengakuan, kebutuhan kita untuk dimengerti, dicintai, diterima oleh lingkungan kita.
• Dari keinginan-keinginan kita untuk mengupayakan agar kita menjadi serupa dengan “penampilan diri” yang menurut kita merupakan harapa orang-orang lain terhadap diri kita. Keinginan-keinginan tsb dapat merupakan asal mula dari gambaran-diri kita yang kita bentuk dalam kehidupan kita.
Ketika kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan ini menjadi kuat bahkan tiranik, terciptalah suatu kesenjangan antara :
• “penampilan”, yaitu gambaran yang kita inginkan untuk diterima lingkungan kita.
• Siapa diri kita dalam realitanya, di tingkat identitas hakekat-diri kita.
c. Dari pengalaman pribadi tentang diri kita sendiri
• Kegiatan-kegiatan kita menampilkan apa yang mampu kita lakukan dan hal ini merupakan bagian dari siapa diri kita.
• Kontak langsung dengan diri kita melalui interiorisasi, juga memampukan kita untuk menemukan siapa diri kita.
Cara-cara tersebut berinteraksi satu sama lain secara berkeselarasan.
Recent Comments