Kebijakan untuk menjadikan TK Bintang Bangsaku sebagai sebuah institusi pendidikan anak usia dini yang bersifat inklusif merupakan kelanjutan dari idealisme awal dari para pendiri sejak masih bernama Sanggar Kreativitas Bobo Cabang Penjernihan di tahun 2002. Idealisme yang tetap kami pertahankan sampai sekarang, yaitu “Pendidikan untuk Semua”.
Sejalan dengan kebijakan tersebut, Bintang Bangsaku tidak hanya menerima anak-anak biasa dari keluarga yang normal, tetapi juga menerima anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu maupun anak-anak penyandang predikat “Anak Berkebutuhan Khusus” yang sifatnya permanen, mulai dari tunarungu, low vision, down syndrome, bahkan sampai brain damage atau cerebral palsy. Tidak hanya itu, pintu gerbang Bintang Bangsaku juga terbuka lebar-lebar untuk anak-anak jalanan. Mereka, kami ajak bermain sembari menanamkan nilai-nilai moral dan etika dalam hidup bermasyarakat.
Saat ini, perjuangan kami untuk dapat membimbing anak-anak khusus tersebut tidaklah seberat tahun-tahun pertama. Pada saat itu, selain harus menghadapi si anak khusus, kami juga harus dapat menyakinkan orang tua siswa yang lain untuk juga dapat menerima anak-anak tersebut.
Tidak sedikit orang tua yang mendatangi penulis dan mengancam mengeluarkan anaknya jika si khusus masih tetap ditempatkan di kelas yang sama. Tidak jarang juga orang tua yang mengajukan kekhawatirannya mengenai perilaku si khusus yang mungkin akan ”menular” pada anaknya. Menular di sini dalam arti ditiru oleh anak-anak lain. Penulis, yang waktu itu sebagai kepala sanggar, mengatakan pada mereka bahwa SKB Penjernihan (sekarang TK Bintang Bangsaku) tidak pernah mengeluarkan siswa dengan alasan apa pun.
Saya jelaskan pada para orang tua bahwa dengan kehadiran si khusus, anak-anak yang normal justru berlatih nyata untuk dapat berempati dan mengasihi tanpa syarat. Mereka belajar membimbing. Mereka belajar berbagi. Mereka juga belajar mengalah. Sementara untuk si khusus, keberadaan mereka bersama teman-teman sebaya akan sangat membantu motivasinya untuk belajar bersosialisasi agar dapat diterima oleh teman-temannya. Pada orang tua murid tersebut, penulis juga menjelaskan bahwa dinamika yang terjadi di kelas menunjukkan bahwa rasa aman dan kehangatan sangat mewarnai suasana belajar. Si autis jadi bisa ikut bermain, si disphasia/aphasia mencoba untuk berkomunikasi dengan keterbatasan bahasanya, di speech delay dapat berbicara dengan normal, si ADHD/ADD dapat diingatkan untuk tidak sibuk, si down syndrome mulai belajar makan dan minum sendiri. Sementara anak-anak yang lain sibuk menjadi pengawal atau pembimbing si khusus.
Penulis memahami bahwa untuk memaknai, menghayati, dan menindaklanjuti kenyataan bahwa sekolah dengan pendekatan yang inklusif dapat menghasilkan lulusan yang berkarakter kuat memang tidaklah mudah. Diperlukan adanya kesadaran bahwa dalam lingkungan masyarakat inklusif, kita harus siap untuk mengubah dan menyesuaikan sistem, lingkungan, dan aktivitas yang berkaitan dengan semua orang lain serta mempertimbangkan kebutuhan semua orang.
Salah satu komponen dalam sistem yang menjadi kendala adalah tidak adanya metode atau program yang sangat lengkap sehingga cocok bagi semua peserta didik atau semua guru reguler ataupun guru pendidikan kebutuhan khusus. Sebenarnya, metode atau program tersebut merupakan kewajiban dan kebebasan profesional dari setiap guru dan guru pendidikan kebutuhan khusus untuk menciptakan dan mengembangkan khasanahnya sendiri untuk dipergunakan dalam membuat dan merevisi. Kewajiban dan kebebasan yang menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan sensitivitas dari seluruh elemen yang mendukung sekolah sebagai suatu sistem organisasi pembelajar yang terdiri dari berbagai macam komponen.
Salah satu inovasi pembelajaran yang dapat membantu guru-guru yang belum memiliki pengetahuan yang khusus mengenai pendidikan inklusi agar dapat keluar dari kebingungannya adalah dengan pembelajaran yang berdasarkan pada kinerja otak (Brain Based Learning/BBL), di mana pemahaman mengenai bagaimana cara otak manusia bekerja menjadi dasar bagi penyusunan kurikulum, metode pembelajaran, media dan sumber belajar, bahkan juga menjadi dasar bagi sistem penilaian hasil belajar peserta didik.
Pendekatan BBL sangat mudah dilakukan dan sekaligus sangat lentur, karena prinsipnya yang sederhana, yaitu semua manusia adalah pembelajar yang alami. Selain fleksibilitas tersebut, sistem pembelajaran BBL dapat menjadi pilihan karena pada dasarnya hampir semua sistem pembelajaran yang selama ini dikenal dapat secara efektif mengoptimalkan kemampuan belajar peserta didik ternyata dapat terjadi karena apa yang dilakukan sudah sesuai dengan tuntutan dari kinerja otak manusia.
Contohnya, pendekatan experiential learning (EL), yang mengutamakan adanya pengalaman langsung pada si pembelajar untuk dapat memahami suatu materi baru, dapat berhasil karena pada dasarnya otak manusia bersifat plastis dan selalu berubah peta jalur jejaringnya sejauh intensitas pengalamannya. Pendekatan Problem Based Learning (PBL) yang menekankan terjadinya proses tantangan untuk memecahkan masalah secara kolaboratif maupun individual, bagi otak seperti sedang melakukan senam aerobik (Jensen, 2009). Proses pemecahan masalah akan menyebabkan pembentukan sinaps, mengaktifkan neurotransmitter, dan meningkatkan aliran darah. Konsekuensinya, pendekatan dengan sistem PBL akan menyebabkan proses terjadinya penambahan jalur dalam jejaring neuron dalam otak. Selain EL dan PBL, pendekatan hypnoteaching yang dikenalkan oleh pakar Neuro Linguistic Programme (NLP) sejalan dengan kenyataan bahwa seluruh proses berpikir, emosi, dan bahkan spiritual terletak pada upayanya dalam memanfaatkan berbagai gelombang yang ditimbulkan oleh kinerja dari masing-masing jejaring peta neuron tersebut. Mirip dengan hypnoteaching, pendekatan terbaru yang disebut Power Teaching dengan Micro Lecturer ternyata dapat berhasil karena memanfaatkan Basic Rest Activity Cycle yang terdapat di otak manusia.
Beragam pendekatan yang ternyata berujung pemanfaatan kinerja otak untuk mengefektifkan proses pembelajaran, menimbulkan keyakinan pada diri penulis bahwa pemahaman mengenai diri pembelajar dapat dijembatani melalui pemahaman mengenai kinerja otak manusia. Pemahaman tersebut yang menjadi dasar dalam menyusun program pendidikan yang fleksibel sehingga dapat sesuai untuk masing-masing peserta didik, baik secara individual maupun kelompok, dan baik yang berkebutuhan khusus maupun yang normal.
Berdasarkan pada pemahaman tersebut, gambaran mengenai bagaimana sebenarnya seorang anak belajar dan bagaimana pengaruh kinerja otak dalam proses pembelajarannya perlu dipahami secara utuh dan mendalam agar sekolah benar-benar dapat menyediakan sarana prasarana, menyusun kurikulum, memilih teknik pembelajaran, menetapkan peraturan, menyesuaikan sistem administrasi demi memenuhi kebutuhan semua pihak. Sementara itu, pemahaman mengenai inklusifitas akan meletakkan dasar yang netral dan tidak bias bagi pendidik maupun kepala sekolah sebagai unsur penting dalam pengambilan kebijakan sistem ketika akan menentukan bagaimana manajemen sekolah maupun manajemen kelas dijalankan.
Berdasarkan berbagai pemikiran dan upaya menjawab tantangan untuk dapat menyediakan wadah bagi ramah pembelajaran bagi semua kalangan, maka, aplikasi pendidikan inklusi berdasarkan pada prinsip kerja otak di Bintang Bangsaku adalah sebagai berikut: bermakna dan berdasarkan realita, aktif, menyenangkan, dan dapat diaplikasi walaupun dalam bentuk simulasi; multimodalitas, terintegrasi dan bertema; bersifat multi-kultural dan bebas bias; menggunakan umpan balik yang positif; memperhitungkan waktu yang tepat, sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan masing-masing anak. Sementara itu, secara umum, sebagai sebuah sistem, sebaiknya sekolah berpegang pada beberapa pedoman berikut ini untuk menciptakan lingkungan inklusif dan menggunakan pembelajaran yang berbasis kinerja otak, yaitu ;
• Kebijakan sekolah dan dukungan administrasi yang memiliki visi dan misi yang mengisyaratkan tentang pendidikan inklusif, ramah terhadap pembelajaran, dan tidak bias sehingga anak dari beragam latar belakang dan kemampuan mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar serta mengekspresikan dirinya di kelas maupun di sekolah.
• Kurikulum secara fleksibel dapat dimodifikasi dan diadaptasikan menurut tingkat dan gaya belajar yang berbeda.
• Lingkungan sekolah yang memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam dan memberikan berbagai pengalaman dengan orang tua, masyarakat, dan guru-guru dari sekolah lain.
• Orang tua dan masyarakat sekitar mengetahui keberadaan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah pembelajaran serta dapat mengajukan gagasan.
• Guru dan karyawan menghayati beberapa rambu, yaitu :
1. Bekerja sama dengan tim, yaitu dengan cara: menggunakan sebanyak-banyaknya referensi dari para guru dan terapis yang terkait, psikolog, dokter anak serta dokter lain yang terlibat; mendiskusikan tujuan pembelajaran siswa dan manajemen kelas dengan pihak terkait.
2. Beberapa hal yang harus dilakukan saat perencanaan: mempelajari dengan seksama kurikulum dan perangkat lain yang sudah berlaku dan menjadi SOP di sekolah serta memahami rutinitas harian, baik dalam kelas maupun di sekolah; memperhatikan detail segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan fisik kelas dan sekolah
3. Beberapa hal yang harus dilakukan saat pelaksanaan: menunjukkan rasa hormat pada siswa, orang tua, sesama guru, dan para pihak yang terkait/berkepentingan dengan sekolah; berusaha untuk dapat selalu sistematis, dan terorganisir dalam bekerja; menggunakan reward, bukan hukuman, yaitu menghargai perilaku baik yang ditunjukkan oleh semua pihak; jika diijinkan, libatkan teman-teman sekelas untuk membantu siswa yang berkebutuhan khusus; membangun hubungan yang positif, mendorong bukan mengendalikan; menggunakan pertanyaan untuk melibatkan siswa, bukan menggunakan kalimat perintah; menggunakan contoh-contoh dari pengalaman siswa, bukan pengalaman guru karena guru bukan yang terbaik, hanya sedang menuju menjadi lebih baik.
Salam,
Yanti D.P.
Recent Comments