Kali ini saya ingin bercerita tentang berbagi.

Di sekolah, salah satu rutinitas yang diajarkan pada anak-anak adalah berbagi, bukan sekedar meminta atau memberi.  Terbayang bagaimana sulitnya bukan?

Jangankan anak-anak, kita yang dewasa-pun seringkali “tidak rela” untuk melepaskan sebagian yang telah kita genggam untuk membantu orang lain.  Ada saja justifikasi bagi kita untuk menghindari “lepasnya” sesuatu yang telah kita miliki.

  • “Ah, itu pengemis khan diorganisir, bukan orang-orang yang benar-benar perlu”
  • “Ah, anak-anak jalanan itu kalau dikasih uang malah dipakai buat yang nggak-nggak.”
  • “Ah, hutang masih numpuk, pastinya hitungan zakat nggak bakal kena ni.”

dan masih banyak lagi alasan bagi kita untuk membenarkan tindakan kita untuk tidak berbagi.

Hmm …

Saya punya kisah tentang prinsip berbagi ini …

Dua tahun yang lalu, tepatnya sepulang umroh (cuma cerita kronologis lho, bukan menyombong), saya memutuskan untuk mulai menyisihkan 2.5% dari pendapatan sekolah, apapun itu, untuk dialokasikan dalam “dana untuk sesama”.

Awalnya terjadi perdebatan yang cukup alot karena pendiri sekolah ini tidak berasal dari agama yang sama dan staf keuangan menyatakan bahwa kondisi keuangan sekolah juga tidaklah berlebih, alias pas-pasan.  Namun setelah mempertimbangkan bahwa masih banyak orang di luar sana yang kondisinya jauh lebih memprihatinkan dan membutuhkan pertolongan, maka kesepakatan untuk menyisihkan sebagian pendapatan – pun diperoleh. Alokasi sebagian pendapatan untuk DUS akhirnya disetujui bersama.

Beberapa bulan berselang dan tibalah saatnya untuk pesta akhir tahun ajarah, kami semua sibuk dan mulai terlupa akan pengawasan terhadap uang DUS tersebut.

Cobaan pertama muncul.  Terjadi kecelakaan maut yang membuat saya harus menjual mobil untuk menutupi kerugian banyak pihak.

Cobaan belum teratasi dengan baik, terjadi cobaan berikutnya.  Bruk!!!!!!!!! Rumah alias gedung sekolah tiba-tiba ditemukan dalam kondisi mengenaskan.  Seluruh bagian atap rumah habis dimakan rayap dan sangat membahayakan.

Ambruk.

Habis.

Semula saya memperkirakan biaya yang diperlukan untuk perbaikan rumah adalah 40jt.  Hmm … masih bisalah teratasi dengan tabungan yang ada.  Ternyata … habis lebih dari 100jt dan saya terpaksa mengijinkan staf keuangan untuk menggunakan dana yang ditinggalkan oleh almarhumah mBak Dewanti sebagai dana talangan darurat.

Lha mau dari mana lagi?  Pendapatan sekolah otomatis menjadi nol besar karena sekolah terpaksa diliburkan padahal seluruh karyawan harus tetap mendapat gaji tho?

Nah, pada suatu hari …

Ketika uang di brankas hanya tinggal 2.5 juta sementara yang di Bank sudah kosong melompong, datanglah oknum kecamatan yang menghentikan proses renovasi.  Alasannya?  Kami merombak total gedung, terbukti dari ketiadaan atap gedung.

Halah!

Merombak bagaimana?

Sudah dijelaskan bahwa atap ambruk sehingga otomatis atap tidak ada dan harus diganti dengan rangka yang baru.  Oknum tersebut tidak mau peduli dan tetap akan menyegel gedung.  Tapi, dengan kata-kata berbelit, akhirnya keluar juga “angka” untuk menghindari penyegelan.

Oh … ternyata …

Sementara saya bernegosiasi dengan si oknum, staf keuangan juga sedang bernegosiasi dengan penagih material yang minta dibayar keesokan harinya.

Masya Allah …

pusing …

Hmm …

Entah kenapa, hari itu saya jadi iseng bertanya pada staf keuangan.  “Kamu masih menyisihkan uang setiap bulan khan? Terakhir kamu kasih ke siapa?”

“Yah … nggak mbak … uang kita pas-pasan, saya nggak pernah nyisihkan uang lagi”

Seperti disambar petir, saya kaget.  “Ya Allah, jadi selama ini udah nggak pernah nyisihkan lagi?  Sudah hutang berapa lama? Sekarang hitung dan keluarkan uangnya”

“Tapi mbak … uang kita cuma tinggal 2.5jt … nanti kalau dikeluarkan, kita nggak punya uang lagi …” kata staf saya

“Percaya deh, ikhlaskan aja.  Uang itu memang jatahnya orang lain.  Nanti kita dapat gantinya.” kata saya

“Tapi mbak … nanti mbak yang tanggungjawab ya” sahut staf saya

“Ya. Dah sana hitung terus dikeluarkan ya, kamu keliling aja daerah sekitar sini, pasti ada panti asuhan atau tempat ibadah yang memerlukannya”

Tidak berapa lama, setelah staf saya menghitung, ternyata uangnya pas sekali dengan jumlah yang ia pegang saat ini.  Sekitar 2.5jt-an.  Hari itu juga ia berkeliling menjadi Sinterklas yang bagi-bagi rejeki.

Setelah ia pulang, kami berdua bengong karena hari sudah semakin malam dan kami tidak memegang uang sepeserpun untuk membungkam si oknum dan membayar tagihan material kayu.  Saya minta ia pulang dan beristirahat dulu.

Keesokan paginya, entah kenapa, tiba-tiba staf saya mengajak untuk membongkar isi brankas dengan lebih teliti.  Hal yang sudah kami lakukan setiap hari selama proses renovasi gedung.

Tuhan Maha Baik.

Satu demi satu amplop kami buka, dan lembar demi lembar uang berhasil kami temukan.  Sebagian besar di antaranya adalah lembar seribuan dan lima ribuan.

Tuhan Maha Besar.

Sekantung plastik besar yang berhasil kami temukan.

Tuhan Maha Tahu.

Jumlah uang itu …. sama persis dengan yang kami perlukan.  Sekitar 10jt rupiah. Alhamdulillah …

Gusti Allah mboten sare … percayalah …

Salam berbagi,

Yanti D.P.

Share this post

One Comment

  1. [...] Hal ini tidak saya pungkiri karena memang pada kenyataannya banyak sekali institusi pendidikan yang kondisinya sangat memprihatinkan, jauh lebih mengharukan jika dibandingkan dengan TK yang saya pimpin. Tak ada kata lain yang terucap kecuali “Gusti Allah mboten sare”. [...]

    February 3, 2010

Leave a Reply