Berikut ini adalah jawaban saya untuk komentar yang ada di website sekolah Bintang Bangsaku. Untuk menghindari kesalahan persepsi, saya juga letakkan jawaban saya di blog yang khusus artikel ini. Semoga dapat memberikan gambaran mengenai pendekatan di Bintang Bangsaku

1.a. Rutinitas keagamaan

Saya asumsikan Anda bukan orang tua murid sehingga Anda tidak tahu bahwa Bintang Bangsaku tidak meminta anak untuk menghapalkan doa/kalimat, kami hanya membiasakannya dalam kegiatan belajar dan bermain sehari-harinya.

Kalimat doa yang kami biasakan merupakan kalimat yang telah disepakati oleh keluarga besar Bintang Bangsaku, yang waktu itu masih bernama Sanggar Kreativitas Bobo Cabang Penjernihan. Kebetulan keluarga kami terdiri dari kelima agama yang diakui, yaitu Islam, Kristen Katholik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha.

Kalimat doa yang disepakati adalah sebagai berikut :

  1. Doa memulai kegiatan : “Tuhan, bimbinglah kami dalam bermain dan belajar pada hari ini. Amin”
  2. Doa sesudah kegiatan : “Tuhan, terima kasih atas waktu yang telah Kau berikan pada kami hari ini. Amin”
  3. Doa sebelum makan : “Tuhan, berkahilah makanan dan minuman kami pada hari ini. Amin” (kata berkahilah ternyata sulit diucapkan anak-anak sehingga diganti menjadi berkati)
  4. Doa sesudah makan : “Tuhan, terima kasih atas rezeki yang Kau berikan pada kami hari ini. Amin”

Sementara untuk sikap berdoa disesuaikan dengan agama masing-masing

Menurut saya dan teman-teman yang menyepakati kalimat doa tersebut, kata-kata yang kami pilih memiliki makna yang dapat dipahami oleh anak-anak.

Pada pelaksanaannya, karena di Bintang Bangsaku anak bebas berekspresi, pada anak-anak yang sudah diajarkan kalimat-kalimat doa di rumah, maka kalimat di atas akan ditambahkan sendiri oleh anak tersebut dengan bimbingan dari kakak-kakaknya.

Biasanya juga, untuk memanggil anak-anak berdoa, kami tidak menggunakan kalimat “Teman-teman duduk dulu, berdoa.” atau “Ayo, duduk kita berdoa” atau “Duduk yang manis karena kita mau berdoa”.

Alih-alih, untuk memancing mereka duduk dengan rapi, kami menarikan dan menyanyikan lagu berikut :

  • “Aku jadi pohon, aku jadi rumah, aku bisa terbang, aku duduk rapi” atau
  • “Di hutan ada rumah. Didiami pelanduk. Datang seekor kelinci. Mengetuk Pintu. Pelanduk-pelanduk tolonglah. Aku mau ditembak. Kelinci-kelinci masuklah. Silakan duduk”

1.b. Doa dan pengenalan agama

Secara khusus, pelajaran agama di Bintang Bangsaku diajarkan di kelas Gesit (TK-A) dan Tangkas (TK-B) dengan alokasi waktu seminggu sekali selama 1 jam. Pada saat ini anak-anak berkumpul sesuai agamanya masing-masing dan mendapatkan bimbingan dari guru yang beragama yang sama dengan mereka.

Benar bahwa kami baru mengajarkan do’a dalam bahasa Arab pada saat mereka di kelas Tangkas (TK-B), namun jika anak sudah diajarkan di rumah maka kami akan membiasakan si anak melafalkan doa sesuai dengan yang didapatnya di rumah, bahkan sejak ia masih di kelas Lincah (KB-A).

Secara umum, kami tidak pernah meminta anak-anak menghapalkan. Kami mengenalkan konsepnya dan membiasakan anak-anak dengan konsep tersebut. Kami mulai dengan mengenal Tuhan, Nabi dan Rasulnya, dan terakhir adalah ibadahnya.

Secara khusus, untuk yang beragama Islam, kami mulai mengenalkan iqra jika anak sudah dapat membaca dalam bahasa Indonesia dengan baik. Kami tidak bermaksud untuk mengedepankan tulisan latin dibandingkan dengan tulisan arab, tetapi lebih pada tingkat kematangan perkembangan kognisi anak.

Pendekatan yang mengedepankan perkembangan anak adalah pendekatan yang kami pilih untuk mendidik anak-anak di Bintang Bangsaku. Kami tidak ingin memaksa mereka melampaui tahap perkembangan mereka, kami hanya memastikan bahwa setiap tahap yang dilaluinya dapat berlangsung dengan baik dan diisi dengan ilmu maupun keterampilan yang tepat untuknya.

2. Budi pekerti dan akhlak.

Hmm … justru ini yang kami tekankan di Bintang Bangsaku. Tidak dengan berpatokan pada salah satu ajaran agama tertentu karena kami adalah sekolah yang universal, namun dengan berdasarkan pada konsep nilai/moralitas yang berlaku secara umum dan mudah dipahami oleh anak.

Pengajaran mengenai budi pekerti/akhlak ada dalam target pelajaran anak-anak, yang kami masukkan dalam kategori rutinitas. Artinya, kami tidak meminta anak untuk menghapalkan kalimat-kalimat dogmatis, tetapi melakukannya dalam kegiatannya sehari-hari.

3. Penggunaan bahasa yang sopan.

Hmm … Kakak-kakak di Bintang Bangsaku selalu berbahasa Indonesia yang dapat dimengerti oleh siswa dan berada dalam batas kesopanan. Kalaupun ada anak-anak yang menggunakan kata-kata yang tidak pantas dan terdengar oleh kakak-kakaknya, pada saat itu juga anak akan diajak berdiskusi mengenai pilihan kata-katanya. Biasanya kami menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai referensi dalam mengartikan kata-kata yang diucapkan oleh anak-anak.

Salam,

Yanti D.P.

Share this post

Leave a Reply