1. Bukan peristiwa, tetapi hubungan
2. Bukan peristiwa, tetapi perasaan
3. Bukan hal umum, tetapi hal spesifik
(Dr. Haim G. Ginott, Memesrakan Hubungan Anda dan Anak Anda, P.T. Gramedia, 1977)
Ulasan
Dalam menghadapi peristiwa emosional dengan anak, sebenarnya kerapkali jauh lebih baik apabila orang tua tidak mempersoalkan peristiwa itu sendiri, melainkan lebih memperhatikan hubungan antara anak dengan orang tua, menanggapi perasaan si anak sekitar pengalaman emosional tersebut, dan mengemukakan hal-hal spesifik yang tadinya tidak dilihat oleh si anak.
Contoh kasus :
Seorang anak pulang ke rumah dalam keadaan marah. Ia mengatakan bahwa gurunya baru saja mengatakan bahwa ia murid terbodoh dan termalas di kelasnya.
Contoh percakapan yang salah :
Anak : Ibu, kata guruku, aku pemalas. Aku bodoh.
Ibu : Kenapa gurumu berkata begitu?
Anak : Aku menulisnya lama. Nilaiku jelek.
Ibu : Ooo. Ya sudah belajar menulis yang cepat.
Anak : Aku tidak suka menulis.
Ibu : Kamu mau pintar nggak? Kalau mau pintar harus menulis.
Anak : Aku tidak mau pintar.
Ibu : Kalau tidak pintar mau jadi apa?
Anak : Tidak jadi apa-apa. Aku khan pemalas.
Ibu : Ibu tidak suka punya anak pemalas.
Anak : Khan yang bilang guruku.
Ibu : Terserah. Ibu tidak suka. Dan ibu mau kamu belajar menulis cepat.
Kesalahan :
1. membahas peristiwa kegagalan anak untuk menulis cepat
2. tidak membahas perasaan si anak, hanya perasaan si ibu
3. tidak membahas hal yang spesifik, yaitu faktor-faktor penyebab lambatnya anak menulis.
Contoh percakapan yang baik :
Anak : Ibu, kata guruku, aku pemalas. Aku bodoh.
Ibu : Aduh, sedih sekali dikatakan seperti itu.
Anak : Ah, aku marah.
Ibu : Marah ya? Kenapa marah? Bukan sedih?
Anak : Aku marah karena aku tidak bodoh.
Ibu : Iya, ibu tahu kamu pintar, makanya ibu sedih kalau kamu dibilang bodoh.
Anak : Aku bodoh karena menulisku lambat sekali.
Ibu : O ya?
Anak : Iya.
Ibu : Selain menulis, kamu bisa? Maksud ibu, kamu mengerti pelajaran dari guru?
Anak : Iya. Aku selalu bisa menjawab dengan benar.
Ibu : Hmm, kamu pintar kalau begitu, tidak bodoh.
Anak : Iya, makanya aku marah.
Ibu : Iya ya.
Anak : Aku hanya malas menulis.
Ibu : Malas?
Anak : Iya. Tulisannya panjang-panjang.
Ibu : Panjang ya?
Anak : Iya. Guruku mendikte panjang-panjang.
Ibu : Hmm. Ketika gurumu mendikte, kamu menulis?
Anak : Iya. Tetapi tidak selesai.
Ibu : O begitu. Menurut ibu, kamu bukan pemalas.
Anak : Kata guruku, aku malas.
Ibu : Menurut ibu, kamu belum bisa menulis dengan cepat, bukan malas.
Anak : Tapi aku memang malas menulisnya.
Ibu : Kamu menulis ketika gurumu mendikte?
Anak : Iya
Ibu : Anak yang malas tidak akan menulis. Jadi kamu tidak malas.
Anak : Iya ya.
Ibu : Iya. Kamu hanya harus belajar menulis dengan cepat.
Anak : Tapi capek.
Ibu : Iya, pasti capek. Ibu akan bantu memijat tanganmu jika kamu capek.
Anak : Kalau di sekolah?
Ibu : Ya kamu pijat sendiri dong. Anak ibu khan pintar katanya.
3 April 2008
Recent Comments